Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Siapapin yang mengusikku, harus mati.


__ADS_3

Dalam ruangan.


"Sudah datang?" Dav menggoyangkan segelas wine sambil menatap datar laki-laki yang berniat untuk membunuh istri tercintanya itu, siapa lagi kalau bukan Deril yang saat ini sudah berada di dalam ruangan yang sedikit gelap itu.


Deril tersenyum mengejek, jika bukan karena ancaman Sam tadi, mungkin dia tidak akan datang ke tempat ini.


"Katakan! Untuk apa kau memintaku datang kemari?" Tanya Deril berusaha untuk meredam amarahnya ketika ia mengingat kematian adiknya. "Sepertinya ini waktu yang tepat untuk membalaskan dendam adikku." Batin Deril sambil mengepalkan tangannya kuat.


Dav terkekeh pelan, ia mulai meneguk segelas wine itu secara perlahan. "Duduklah dulu, nanti kau juga akan tahu tujuanku meminta kau datang kemari." Perintah Dav sambil menaruh gelas yang sudah kosong itu di atas meja.


Deril menurut, ia segera duduk berhadapan langsung dengan Dav. "Katakanlah, sekarang."Ucap Deril tidak sabaran. "Setelah kau mengatakannya, maka aku akan menghabisi nyawamu saat itu juga." Batinnya dengan tekad yang kuat.


"Bukankah kau tahu siapa aku?" Pertanyaan itu membuat Deril semakin ingin melepaskan senjata tajamnya yang berada dalam saku celananya saat itu juga.


"Tentu saja aku tahu, kau adalah Dav Jonathan William's, pemilik perusahaan William's Group, perusahaan terbesar di negara ini." Jawab Deril di iringi dengan senyuman mengejeknya. "Sekaligus orang yang sudah membunuh adikku Satu-satunya." Batin Deril sambil menatap tajam Dav pembunuh adiknya.


"Aku tidak mau basa-basi, cepat katakan! Untuk apa tuan Dav yang TERHORMAT memintaku datang kemari?" Tanya Deril menekankan kata terhormat di tengah kalimatnya.


"Jangan terburu-buru, karena masih ada seseorang yang harus mengetahui maksud dan tujuanku." Ucap Dav membuat Deril mengerutkan keningnya penasaran. Siapa orang yang di maksud oleh Dav itu.


"Siapa.... " Ucapan Deril terhenti ketika Dav kembali membuka mulutnya saat ia melihat Sam dan juga Alisha sedang berjalan ke arahnya.

__ADS_1


"Ah Sepertinya orang yang kita tunggu sudah datang." Ucap Dav dengan seringai yang sangat menyeramkan.


"Dav! Aku sangat merindukanmu." Alisha langsung mempercepat langkah kakinya menghampiri Dav. Ia tidak menyadari jika di dalam ruangan itu masih ada seorang laki-laki yang sedang menatapnya terkejut.


"Alisha... " Panggil Deril membuat Alisha langsung menoleh ke sumber suara.


"De,,, Deril. Kenapa kamu ada di sini?" Tanya Alisha sambil mengerutkan keningnya bingung sekaligus terkejut.


"Kamu sendiri ngapain di sini?" Deril berbalik nanya, sepertinya ada yang tidak beres. Ia harus segera pergi membawa Alisha dari tempat itu.


Alisha terdiam, ia kembali mengalihkan pandangannya kepada Dav. "Dav! Apa maksudmu? Kenapa dia ada di sini?" Tanya Alisha meminta penjelasan dari mantan kekasihnya itu.


"A,,, aku memang mengenalnya, Dav. Ta,, tapi hanya sebatas rekan kerja saja." Jawab Alisha gugup. "Apakah Dav sudah mengetahui rencanaku dengan Deril? Ah tidak mungkin, tapi... Kenapa Deril juga datang kesini?" Batin Alisha bertanya-tanya.


Dav terkekeh pelan, ia kembali menuangkan wine ke dalam gelasnya, lalu meraih gelas itu dan menggoyangkannya secara perlahan. Dav tidak berbicara, ia hanya diam membuat suasana ruangan itu semakin mencekam.


Deril yang melihat keterdiaman Dav pun seketika bangkit dari tempat duduknya, lalu menghampiri Alisha. "Alisha. Sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini." Bisik Deril sambil menarik tangan Alisha membuat Alisha sedikit terkejut.


"Lepas! Deril. Kalau kamu mau pergi, pergi saja sendiri." Ucap Alisha sambil berusaha untuk melepaskan tangannya dari Deril.


"Alisha... "

__ADS_1


"Tidak ada yang bisa pergi dari sini kecuali pergi ke neraka!" Sela Dav dengan nada yang begitu dingin juga sorot mata yang sangat menyeramkan.


"A,,, apa maksudmu, Dav?" Tanya Alisha gugup.


"Alisha, Alisha.. Apa kamu pikir aku tidak tahu rencana busukmu dengan dia heh!" Dav meneguk winenya dengan santai, namun tatapan matanya masih tak lepas dari dua manusia yang berniat untuk melenyapkan istri kesayangannya itu.


"A,,, aku ti,,,,tidak mengerti dengan ucapanmu, Dav."


"Jangan pura-pura bodoh, Alisha." Dav kembali menaruh gelas yang sudah kosong itu di atas meja. "Kau berniat untuk melenyapkan istriku, bukan?" Pertanyaan itu sukses membuat Alisha dan juga Deril terkejut. Kini keduanya di selimuti rasa khawatir sekaligus takut.


"Jangan asal nuduh, jika kau tidak memiliki bukti." Tegas Deril berusaha untuk tetap tenang.


"I,, iya, Dav. Aku tidak sejahat itu percayalah." Alisha berusaha untuk menutupi kegugupannya. "Dia pasti hanya asal menebak saja. Tidak mungkin dia mengetahui rencanaku dengan Deril." Batin Alisha gelisah.


Dav tertawa, tawanya begitu mengerikan membuat Alisha kembali mundur beberapa langkah. "Oh! Jadi maksudmu aku hanya asal bicara?" Dav menatap Deril, tatapannya semakin menyeramkan membuat Deril harus meneguk salivanya kasar. "Sepertinya kalian tidak tahu siapa aku bukan?"


"Dav...."


"Alisha. Sepertinya aku harus memberi tahu kamu tentang jati diriku yang sesungguhnya." Dav bersidekap menatap Alisha yang terlihat takut sekaligus bingung. Karena selama ini Alisha hanya tahu, Dav adalah seorang pemilik perusahaan terbesar di negaranya. "Dengarkan baik-baik. Aku adalah Dav Jonathan William's, pemilik perusahaan William's sekaligus pemimpin geng Strongest Demon, mafia nomor satu di negara ini. Siapa pun yang berani mengsusik ketenanganku, maka dia harus mati." Tegas Dav membuat kedua manusia itu terkejut.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2