Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Sangat lelah


__ADS_3

Ciuman panas itu berlangsung selama sepuluh menit, hingga akhirnya Dav melepaskan bibir yang sudah menjadi candunya itu. Dav menatap lekat wajah cantik nan menggoda yang berada di bawah kukungannya itu, wajah yang memerah seperti kepiting rebus, dengan nafas yang naik turun tak beraturan, sungguh pemandangan yang begitu menggoda bagi Dav yang kini sudah di selimuti kabut gairah.


Dav memberikan kecupan hangat penuh cinta di seluruh permukaan wajah cantik istrinya, tangannya mulai menelusuri leher jenjang sang istri, mengelusnya dengan lembut, memberikan sensasi yang begitu memabukkan bagi Elena.


"Emmh..." ******* yang begitu menggoda keluar dari mulut manis istrinya membuat Dav semakin bersemamgat juga semakin bergairah di buatnya. Bahkan tongkat saktinya sudah berdiri tegak seperti tiang listrik siap untuk bertempur.


Ciuman Dav mulai turun ke leher putih sang istri, memberikan beberapa tanda kepemilikan di area sana. "Emmmh... Sa,, sayang.." Elena kembali mendesah, matanya masih terpejam menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh suaminya itu.


"Aku mencintaimu, Elena." Bisik Dav di sela-sela aktifitasnya, "Sangat-sangat mencintamu." Bisiknya kembali sambil menatap lekat wajah menggoda istri kesayangannya itu.


"A,,, aku juga mencintaimu, Dav. Selamanya akan mencintaimu." Jawab Elena dengan wajah yang masih memerah menahan gejolak yang ada dalam dirinya.


Dav tersenyum, kemudian setelah itu mereka pun kembali melakukan aktifitasnya seperti malam kemarin.

__ADS_1


***


Setelah mereka menyelesaikan aktifitas panjangnya, Dav langsung menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh sang istri, perasaannya benar-benar sangat bahagia, apalagi pada saat ******* tadi istrinya mendesahkan namanya begitu panjang, benar-benar membuat Dav tidak ingin melepaskan penyatuannya hingga esok hari. "Terima kasih sayang." Bisiknya dengan nafas terengah-engah akibat pertempuran yang di lakukannya tadi.


Elena tidak menyahut, ia masih berusaha untuk menormalkan deru nafasnya yang tak beraturan, malam ini benar-benar sangat melelahkan, bahkan seluruh tubuhnya terasa remuk, namun meskipun begitu, Elena sangat menikmatinya, bahkan pertempuran malam ini jauh lebih nikmat di banding malam pertamanya yang terasa menyakitkan itu.


"Sayang! Apakah kamu sangat lelah?" Tanya Dav sambil memeluk tubuh polos istrinya dari samping.


"Emmh... Apa kamu tidak merasa lelah?" Lirih Elena sambil menatap wajah suaminya yang terlihat sangat bahagia itu.


"Tidak, sayang! Tubuhku serasa hancur akibat ulahmu tadi." Sela Elena sambil menatap tajam suaminya.


"Tapi sangat nikmat bukan."

__ADS_1


Wajah Elena kembali memerah, ucapan suaminya itu benar-benar tidak bisa di saring sedikitpun, dan sialnya yang di ucapkan oleh suaminya itu memang benar adanya, sehingga membuat wajah Elena semakin memerah karena menahan rasa malu. "Ja,,, jangan mengungkitnya lagi." Ucap Elena sambil melepaskan tangan suaminya yang melingkar di perut ratanya.


"Baiklah, aku tidak akan mengungkitnya lagi." Dav kembali memeluk tubuh istrinya, "Sebaiknya kita tidur sekarang sayang."


"Emm aku mau ke kamar mandi dulu sayang, rasanya gak enak banget."


"Tidak perlu sayang, besok saja ke kamar mandinya bareng aku."


"Tapi... "


"Tidak ada tapi-tapian, sayang. Ayo kita tidur." Ucap Dav lembut namun penuh penekanan. Elena hanya dapat menghembuskan nafasnya kasar, ia tidak lagi memberontak, ia membiarkan suaminya memeluk tubuhnya yang polos itu. "Semoga buah hati kita segera tumbuh dalam rahimmu, aku sungguh tidak sabar menantikan kehadirannya sayang." Dav mengelus perut rata sang istri, ia memang sangat menantikan kehadiran buah hatinya yang ntah kapan akan tumbuh dalam rahim istri kesayangannya itu.


"Ya. Semoga saja sayang." Jawab Elena sambil memejamkan kedua bola matanya secara perlahan, "Ayo kita tidur, good night sayang." Ajak Elena dengan mata terpejam membuat suaminya gemas.

__ADS_1


"Good night, semoga mimpi indah sayang. I love you." Bisik Dav mesra. Dav memberikan kecupan mesranya di kening sang istri, lalu setelah itu, ia pun mulai memejamkan kedua bola matanya secara perlahan menyusul sang istri ke dalam mimpi indahnya.


Bersambung.


__ADS_2