
"Baiklah, kali ini aku akan melepaskanmu, tapi ingat! Nanti malam jangan harap kamu bisa lepas dariku." Ucap Dav sambil mengusap lembut wajah cantik sang istri.
Iya, iya. Aku akan mengingatnya, sayang." Jawab Elena di iringi dengan kekehannya. "Ekhemm... sebaiknya kamu suruh asistenmu masuk, kasihan dia harus menunggu lama sendirian di depan pintu ruanganmu."
"Biarkan saja, daripada dia melihat kita bermesraan, nanti dia bakalan nangis." Ucap Dav membuat Elena menggelengkan kepalanya pelan. Suaminya itu memang tidak punya perasaan.
Tok... Tok... Tok....
Pintu kembali di ketuk oleh, Sam. Kali ini ketukkannya cukup keras sehingga membuat Elena sedikit terkejut.
"Masuk." Perintah Dav dengan intonasi yang tinggi.
Pintu ruangan itu terbuka, tak lama kemudian, Sam pun masuk ke dalam, ia berjalan dan berdiri di hadapan sang bos yang terlihat sedang menatapnya dengan tajam. Ah sepertinya Sam tidak melakukan kesalahan. Lalu! Untuk apa si mafia bucin itu menatapnya dengan pandangan yang begitu tajam?
"Sam! Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu dengan pelan? Kau tahu, kalau perbuatanmu itu sudah membuat istriku terkejut?" Ucap Dav sambil bersidekap menatap asistennya dengan tajam. "Apa kau mau aku memotong gajimu heh!" Sambung Dav membuat Sam harus menelan salivanya susah payah. Ternyata bosnya itu marah karena istrinya terkejut mendengar ketukkan pintu tadi. Pantas saja auranya sangat menakutkan.
__ADS_1
"Maafkan saya, bos. Saya pikir anda tertidur tadi, jadi... "
"Minta maaf sama istriku, SEKARANG." Sela Dav menekankan kata terakhirnya.
"Sayang, kamu jangan berlebihan begitu dong. Bagaimanapun juga, Sam tidak salah." Ucap Elena sambil mengelus lengan sang suami.
"Sayang, tapi dia tadi sudah membuatmu terkejut, jadi dia harus minta maaf sama kamu." Tutur Dav sambil mengelus wajah cantik sang istri.
Elena mencubit gemas hidung mancung suaminya, lalu berkata."Aku tidak apa-apa, sayang. Hanya terkejut sedikit saja tidak akan membuat jantungku copot."
"Tetap saja dia sudah membuat istriku terkejut, jadi dia.... " Ucapan Dav tercekat di tenggorokkan ketika Elena memanggilnya penuh dengan penekanan.
Dav menghela nafas beratnya, jika sang istri sudah memanggilnya seperti itu, maka ia tidak bisa berkata apa-apa lagi, atau dia akan kehilangan jatahnya nanti malam.
"Bawa berkas-berkas itu, antar kita pulang. Sekarang." Perintah Dav kepada Sam yang sedari tadi menikmati drama pasangan romantis itu.
__ADS_1
"Baik, bos." Jawab Sam dengan cepat. Sam langsung berjalan menuju meja kerja bosnya, ia mengambil tumpukkan berkas yang belum Dav tanda tangani.
"Sayang, mari kita pulang." Ajak Dav dengan nada bicara seperti biasanya, halus dan lembut.
Elena tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan, "Ayo." Jawabnya sambil menggenggam tangan suaminya dan berniat untuk melangkahkan kedua kakinya.
"Jangan bergerak, sayang. Biarkan aku menggendongmu."
"Aku bisa.... "
Ucapan Elena terhenti ketika sang suami mengangkat tubuhnya dengan cepat.
"Menurut ya, sayang. Karena aku tidak ingin kakimu bertambah sakit. Mengerti." Ucap Dav membuat Elena menghela nafasnya panjang. suaminya itu benar-benar sangat berlebihan, padahal kaki Elena hanya terasa sakit sedikit saja. Ah benar-benar mafia bucin tingkat dewa.
Dav mulai berjalan melangkahkan kedua kakinya, sementara Elena, hanya pasrah sambil mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.
__ADS_1
Sam yang melihat pemandangan romantis itu pun hanya dapat menghela nafasnya panjang, ia juga mulai melangkahkan kedua kakinya mengekori bosnya. "penderitaanku sudah di mulai. Nasib-nasib." Ucap Sam dalam hati.
Bersambung.