
Deon kembali menyunggingkan senyumannya, ia menatap Elena penuh dengan cinta, lalu berkata. "Ya, aku memang sudah gila, Elena. Gila karena terlalu mencintaimu." Deon berdiri tangannya mulai meraih segelas air putih yang berada di atas nakas, kemudian ia meneguknya secara perlahan, setelah gelas itu kosong, Deon pun kembali menaruhnya di atas nakas, matanya kembali menatap Elena dengan tatapan yang sangat sulit di artikan membuat Elena merasa tidak nyaman.
"Meskipun kamu tidak mau pergi, aku akan tetap membawamu pergi bersamaku, mengerti." Deon kembali berkata, suaranya masih terdengar lembut seperti sebelumnya.
"Deon! Mengapa kamu jadi seperti ini? Kemana Deon yang dulu, yang begitu baik dan pengertian itu? Kenapa sekarang kamu berubah menjadi sosok yang tidak aku kenal?" Lirih Elena sambil menatap kecewa kepada laki-laki yang pernah singgah di hatinya dulu. "Aku mohon.. Lepaskan aku, lupakan aku, Deon. Aku yakin kamu pasti dapat menemukan perempuan yang jauh lebih baik daripada aku."
"Cukup, Elena. Aku tidak ingin mendengar kata-kata menyebalkan itu lagi." Bentak Deon dengan tatapan mata yang mulai menajam membuat Elena langsung terdiam. "Kau hanya perlu menuruti ucapanku, sayang. Dan kita akan hidup bahagia, mengerti." Kini nada suara Deon kembali seperti semula, halus dan lembut.
"Aku harus mencari cara untuk keluar dari tempat ini, tapi bagaimana caranya?" Batin Elena sambil menelisik setiap sudut kamar yang di tempatinya saat ini. Elena tersenyum ketika ia melihat jendela yang ada di kamar itu, "mungkin aku bisa memanfaatkan jendela itu untuk kabur dari sini." Batinnya sambil memikirkan cara agar Deon mau keluar dari kamar itu. Namun Elena sama sekali tidak menyadari bahwa gerak geriknya tak luput dari pandangan Deon saat ini.
__ADS_1
"Jendela itu tidak bisa di buka, jadi kamu tidak bisa kabur lewat jendela itu, sayang." Ucap Deon menebak isi hati Elena dengan benar sekaligus membuat Elena mendengus kesal. "Jangan memasang wajah seperti itu sayang, bukankah dulu kamu selalu tersenyum setiap kali melihatku?" Sambung Deon dengan kedipan mata nakalnya semakin membuat Elena kesal.
"Deon! Kenapa kamu berubah seperti ini?"
"Kamu pasti tahu bukan kenapa aku jadi seperti ini." Deon menghembuskan nafasnya panjang, ia menatap Elena dengan tatapan sendu. "Andai kamu tidak menolakku, mungkin aku tidak akan menculikmu seperti ini, andai kamu tidak menikah dengannya, mungkin aku tidak akan merasakan sakit yang begitu menyakitkan seperti ini, Elena kenapa kamu harus menikah dengannya? Bukankah kamu menyukaiku?" Deon berjongkok, tangannya menggenggam erat tangan Elena, tatapan matanya terlihat begitu menyedihkan. "Elena! Mari kita pergi dari sini, mari kita.... "
"Cukup, Deon! Apakah kamu tidak mengerti juga, sekarang aku sudah menikah, aku tidak akan pergi kemanapun." Sentak Elena sambil melepaskan tangan Deon dengan kasar. "Jika kamu memang benar mencintaiku, maka lepaskanlah aku, biarkan aku hidup bahagia bersama suamiku."
Elena sangat terkejut mendengar ucapan Deon barusan, bagaimana bisa Deon tahu tentang jati diri suaminya yang seorang bos mafia itu? Apakah Deon menyelidiki tentang jati diri suaminya? Atau mungkin ada seseorang yang sengaja membocorkan rahasia suaminya kepada Deon? Dengan memikirkannya saja membuat Elena pusing.
__ADS_1
"Lalu memangnya kenapa jika suamiku seorang bos mafia berdarah dingin? Dan bagaimana kamu bisa tahu jika suamiku seorang bos mafia? Apakah kamu sudah menyelidikinya?" Tanya Elena dengan tenang.
"Elena! Apakah kamu tidak takut sama sekali? Suamimu itu sangat berbahaya, Elena... "
"Aku tahu dan aku tidak takut sama sekali, karena apa? Karena dia adalah suamiku, Deon." Tegas Elena membuat Deon tertegun menatap tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Elena barusan. "kamu tahu suamiku berbahaya, lalu mengapa kamu masih menculikku? Atau mungkin, kamu juga memiliki rahasia yang sama dengan suamiku?" Tanya Elena sambil menatap Deon penuh selidik.
Deg... Deg... Deg.. .
Detak jantung Deon berpacu dengan sangat cepat, pertanyaan Elena barusan sungguh membuatnya merasa takut, takut jika Elena tahu tentang jati dirinya yang sesungguhnya. Deon menghembuskan nafas beratnya, ia tidak mungkin mengakui dirinya yang seorang mafia yang sama berbahayanya dengan Dav.
__ADS_1
Bersambung.