
"Nona, anda sangat cantik sekali. Suami anda pasti sangat beruntung bisa memiliki istri secantik anda." Ujar sang perias sambil menatap Elena kagum.
Elena tersenyum, bayangan dirinya yang berada di balik cermin, sangat berbeda jauh dari biasanya. Gaun pengantin yang begitu indah sangat cocok dengan dirinya. Make up natural, namun dapat membuat wajahnya berbeda. Sangat cantik.
"Semua ini berkat anda miss."Jawab Elena melirik sekilas mis Key yang sudah membuat dirinya berubah.
"Anda bisa saja, nona." Ucap mis Key, kemudian merapikan beberapa make up yang sudah selesai ia gunakan. "Sepertinya acaranya akan segera di mulai, nona." Mis Key menatap Elena, Elena terlihat murung, ntah apa yang di pikirkan oleh Elena saat ini. "Ada apa, nona? Kenapa wajah anda tiba_tiba murung seperti itu?" Tanyanya penasaran.
Elena menghela nafasnya pelan, ia mulai tersenyum sambil menatap mis Key. "Tidak apa_apa. Aku hanya merindukan kedua orangtuaku, saja."Jawab Elena pelan.
"Apa kedua orangtua nona tidak menghadiri pernikahan, nona?" Tanya mis Key sangat penasaran.
"Mereka tidak hadir, tapi aku sangat yakin, mereka pasti menyaksikan pernikahanku di atas sana."Lirih Elena menahan rasa sedih juga rindunya kepada kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Jangan bersedih lagi, nona. Sebaiknya nona bersiap_siap. Maafkan saya, karena sudah...."
"Aku tidak bersedih, kau tidak perlu meminta maaf."Sela Elena menatap mis Key yang terlihat merasa bersalah karena sudah mengungkit orangtuanya.
***
Dav sudah berdiri di atas altar. Ia sangat tidak sabar untuk bertemu dan melihat seberapa cantiknya calon istrinya itu. Senyumannya selalu menghiasi wajah tampannya. Membuat seluruh tamu perempuan yang hadir di pestanya terpesona.
Para perempuan itu berharap jika ini adalah mimpi buruk bagi mereka. Mereka tidak ingin menerima kenyataan bahwa laki_laki yang mereka kagumi sebentar lagi resmi menjadi milik perempuan lain.
"Pengantin perempuannya sangat cantik."
"Pantas saja tuan Dav langsung menikahinya, ternyata calonnya sangat cantik."
__ADS_1
"Aku sangat iri sama perempuan itu, kenapa dia sangat beruntung sekali."
"Mereka sangat cocok."
Sebagian bisikan_bisikan para tamu terdengar di telinga perempuan itu yang tak lain adalah Elena. Elena merasa sangat gugup, juga merasa terbebani dengan tatapan para perempuan yang hadir di pesta pernikahannya. Para perempuan itu menatap Elena sinis, ada juga yang menatapnya dengan kebencian, kekaguman dan juga kecemburuan.
Dav mengulurkan tangannya ketika Elena sudah berada tidak jauh darinya. Dengan sedikit gugup, Elena menerima uluran tangan itu. "Kamu sangat cantik sekali, baby."Bisik Dav ketika Elena sudah berdiri di sampingnya. "Aku sangat beruntung memilikimu, sayang."Dav kembali berbisik, membuat Elena langsung menatapnya.
"Aku tahu kalau aku cantik, dan kamu memang sangat beruntung bisa menikahiku. Meskipun dengan cara paksa." Ucap Elena setengah berbisik.
"Gadis nakal ini, sudah bisa memprovokasi aku sekarang. Tapi aku akan membiarkannya kali ini, karena hari ini adalah hari yang paling spesial untukku."Batin Dav menatap gemas Elena yang sudah berani mengungkit masalah pernikahan paksanya.
"Ekhmm... Apa kalian sudah siap?" Tanya pak pendeta menatap Elena dan juga Dav secara bergantian.
__ADS_1
Dav menganggukkan kepalanya, begitupun juga dengan Elena. Mereka sudah siap untuk melakukan janji suci yang akan mengikat keduanya hingga seumur hidupnya.
Bersambung.