Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Mahluk itu


__ADS_3

Elena menghela nafasnya kasar, ia teringat akan isi pesan yang di sampaikan oleh sabatnya Sindy tadi yang memintanya untuk bertemu di salah satu cafe favoritnya.


Yang ada dalam benak Elena saat ini adalah, apakah suaminya itu akan memberinya izin? Atau justru melarangnya, karena Elena sangat tahu betul jika suaminya itu sangat amat posesif.


"Sayang! Ada apa?" Tanya Dav sambil mengelus lembut pucuk kepala istrinya.


"Emm tidak ada apa-apa sayang." Jawab Elena sambil menatap suaminya memberikan senyuman manis di bibirnya. "Gimana ini? Apakah aku harus meminta izin sekarang?" Batin Elena.


"Tapi barusan kamu menghela nafas! Pasti ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan." Ucap Dav lembut sambil menyenderkan kepala istrinya di bahu miliknya. Dav memang sangat amat peka, ia selalu saja mengetahui kegelisahan istri kecilnya itu. "Katakanlah, sayang. Jangan menyimpan beban sendirian." Sambung Dav tetap mengelus pucuk kepala istrinya.


"Emm sebenarnya tadi saat di kantor, Sindy memberiku pesan. Dia ingin bertemu denganku di cafe favoritku." Tutur Elena sambil mendongak menatap wajah suaminya dari bawah. "Emm apakah kamu akan mengizinkan aku untuk bertemu dengannya?"Tanya Elena sedikit ragu ketika ia mendengar helaan nafas berat suaminya itu.


"Suruh temanmu datang ke mansion saja. Jangan bertemu di luar, sayang. Sangat berbahaya untukmu." Ucap Dav tegas.


"Tapi..."


"Jika dia tidak mau, maka kamu jangan pergi untuk menemuinya. Mengerti." Tegas Dav sambil mengelus lembut wajah sang istri. "Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi sendirian, Elena. Apalagi besok aku harus pergi ke markas.  Sangat membahayakan jika kamu keluar tanpa diriku. Meskipun ada pengawal, tapi tetap saja aku merasa khawatir." Batin Dav sambil mencium mesra istrinya.


"Baiklah, aku akan menyuruh Sindy untuk datang ke rumah."

__ADS_1


"Istriku sangat penurut sekali." Dav kembali melayangkan kecupannya, ia sangat bahagia karena istrinya mau menuruti ucapannya tanpa harus berdebat terlebih dahulu. "Jadi kemana sekarang kita pergi, sayang? Bukankah tadi bilang kamu ingin pergi ke suatu tempat?" Tanya Dav sambil merangakul Elena dan membawa istrinya ke atas pangkuannya.


"Sayang! Turunkan aku." Pinta Elena kesal.


"Tidak."


"Sayang! Kita di mobil ini bukan cuma berdua. Ada asistenmu di depan. Cepat turunkan aku." Bisik Elena meraaa tidak nyaman duduk di pangkuan suaminya. Apalagi saat ini ada Sam yang sedang memegang setir kemudinya, tidak menutup kemungkinan jika si jomblo sejati itu melihat kelakuan tuannya melalui kaca spionnya.


"Biarkan saja. Anggap saja di tidak ada." Jawab Dav santai kayak di pantai membuat si jomblo sejati itu mendengus kesal. Ah rasanya Sam ingin segera keluar dari dalam mobil bosnya itu, namun ia tidak berani melakukannya. Sam hanya dapat berkhayal menutup mulut manis bosnya dengan lakban.


"Tapi aku tidak nyaman, sayang. Turunkan aku ya." Mohon Elena sambil bergerak membuat sesuatu di bawah bokongnya mengeras. "Eh... Apaan ini." Batin Elena bertanya-bertanya. Ia belum menyadari jika benda milik suaminya sudah berdiri tegak karena ulahnya.


"Itu salahmu sendiri yang mendudukkanku di atas pangkuanmu. Kenapa malah aku yang haru bertanggung jawab!" Dengus Elena sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Tapi juniorku bangun gara-gara kamu yang bergerak terus sayang. Jadi kamu harus bertanggung jawab."


"Ish tidak mau." Dengus Elena sambil menatap kesal suaminya itu.


"Harus mau." Ucap Dav sambil mencubit gemas hidung mancung sang istri

__ADS_1


"Tidak, ya tidak."


"Tidak ada penolakan." Tegas Dav.


"Terserah kamu. Malas berdebat dengan kamu. Lagian aku sedang haid, tidak mungkin aku ..."


"Bisa menggunakan tanganmu." Ucap Dav dengan santai tanpa beban membuat Elena memelotokan kedua bola matanya dengan sempurna.


"Mesuuummmm." Teriak Elena dengan wajah yang memerah seperti tomat.


Dav terkekeh pelan, menggoda istrinya suatu kesenangan bagi dirinya sendiri, karena dengan begitu, ia dapat sejenak melupakan beban berat yang di pikulnya selama ini. Menjadi bos mafia juga seorang pengusaha, tentu saja Dav harus memikul dua beban sekaligus.


"Mesum sama istri sendiri tidak masalah sayang. Jadi kamu tidak perlu berteriak seperti itu." Ucap Dav sambil membawa sang istri menyender di dada bidangnya.


Elena hanya dapat menghembuskan nafasnya kasar, ia tidak menanggapi ucapan suaminya itu, ia sudah sangat malas meladeni ucapan suaminya yang tidak akan pernah selesai.


"Astaga.... Apakah mobil ini bisa jalan sendiri? Kalau bisa aku ingin segera meninggalkan dua mahluk di belakang itu. Kenapa ucapan mereka menyakiti telingaku? Dasar gak punya hati." Batin Sam sambil tetap fokus dengan setir kemudinya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2