Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Club Star.


__ADS_3

Club star.


Seorang perempuan cantik tengah duduk manis di salah satu kursi yang berada tepat di hadapan bartender club. Perempuan itu terlihat sangat asik menikmati minuman yang di berikan oleh bartender itu. Menikmati setiap tetes minuman itu, lalu menggoyangkan gelasnya secara perlahan dengan jari jemari yang lentik itu.


Perempuan itu kembali menikmati minumannya, kali ini ia meneguknya hingga tak tersisa setetes pun di dalam gelasnya, kemudian ia taruh kembali gelas yang sudah kosong itu di atas meja. Perempuan itu tersenyum kecut, terlihat kristal bening mulai jatuh membasahi pipi mulusnya.


"Tambahkan lagi minumannya."Pinta si perempuan itu sambil mendorong gelas yang kosong itu kepada bartender yang sedang meracik minumannya.


Bartender itu tidak menjawab, ia segera mengisi gelas kosong milik perempuan cantik itu, lalu kembali memberikannya kepada perempuan cantik itu.


"Sendirian?" Tanya seorang laki_laki sambil duduk di samping perempuan cantik itu.


Perempuan itu hanya meliriknya sekilas, ia sama sekali tidak menggubris pertanyaan laki_laki barusan, membuat laki_laki itu kembali membuka mulutnya.


"Boleh aku temani?" Tanyanya dengan tatapan mata yang tak lepas dari wajah cantik perempuan yang berada di sampingnya.


"Tidak perlu." Jawab si perempuan itu dingin.


"Tapi tidak baik bagi seorang perempuan berada di tempat seperti sendirian, jadi biarkan aku menemanimu."


"Aku bilang tidak perlu. Apa kau tidak mengerti." Ucap perempuan itu setengah berteriak. Jujur saja perempuan itu sangat terganggu oleh kehadiran laki_laki itu.


Sepertinya laki_laki itu kesal mendapat penolakan dari perempuan yang duduk di sampingnya itu, terlihat jelaa dari raut wajahnya yang mulai memerah menahan amarahnya.

__ADS_1


"ja...." Ucapan laki_laki itu tercekat di tenggorokkannya ketika temannya datang dan berkata.


"Jangan mengganggunya, Er. Sebaiknya kita per...."Ucapan teman laki_laki itu terhenti, ketika ia melihat wajah perempuan itu yang begitu di kenalinya. "Alisha...." Panggil laki_laki itu berjalan mendekati perempuan itu untuk memastikan penglihatannya benar atau salah. "Ternyata benar, kau Alisha." Laki_laki itu kembali berucap, raut wajahnya terlihat sangat bahagia ketika dirinya bertemu dengan perempuan itu.


"Kau..... Apakah kau Deril?" Tanya perempuan itu sambil menunjuk wajah laki_laki yang bernama Deril itu.


"Ya. Aku Deril, ternyata kamu masih mengenaliku."


Alisha tersenyum, namun senyuman itu menyimpan seribu kesedihan yang dapat Deril lihat. "Apa kamu sedang ada masalah?" Tanya Deril sangat penasaran.


"Hmm... Kapan kau pulang?" Alisha tidak mengindahkan pertanyaan Deril, ia justru berbalik nanya.


"Baru kembali." Ucap Deril lalu meminta bartender itu untuk menuangkan minumannya. "Sepertinya kamu sedang ada masalah."


"Apakah kamu masih mencintainya?"


"Tentu."


"Meskipun dia sudah di miliki perempuan lain?"


"Ya. Aku akan merebutnya dari perempuan itu, aku akan membuat perempuan itu membayar atas rasa sakit hatiku ini. Jika perlu aku akan membunuhnya." Ucap Alisha sambil mengepalkan kedua tangannya kuat. "Dav itu hanya milikku, hanya akulah yang boleh berada di sampingnya. Akulah satu_satunya perempuan yang pantas untuknya..... Aku sangat mencintainya kenapa dia malah tega meninggalkanku, kenapa,,, kenapa.... Apakah aku kurang cantik? Apakah aku tidak menarik? Dimana letak kekuranganku? Kenapa dia..."


"Di mataku kamu sangatlah cantik juga sangat menarik. Dia yang menyakitimu adalah laki_laki buta. Dia tidak pantas mendapatkan cintamu, Alisha." Sela Deril sambil menghapus air mata Alisha. Alisha hanya terdiam, kepalanya mulai pusing akibat beberapa gelas minuman tadi. Namun beberapa menit kemudian, Alisha kembali meracau, dia terus menerus menyebut nama Dav juga Elena, ketika menyebut nama Dav dia akan tersenyum sorot matanya menyimpan kerinduan yang begitu mendalam, namun ketika dia menyebut nama Elena, sorot matanya berubah seratus delapan puluh derajat celcius, membuat Deril yakin jika nama Elena lah yang merebut kekasih Alisha itu.

__ADS_1


"Alisha... Sebaiknya aku antar kamu pulang, ya." Ucap Deril saat melihat Alisha kembali meminta minuman kepada bartender itu.


"Tidak! Aku ingin tetap di sini, Dav..." Jawab Alisha sambil menatap Deril yang terlihat seperti mantan kekasihnya. "Dav... Kamu di sini, aku sangat merindukanmu, Dav." Sambung Alisha sambil menelusuri permukaan wajah tampan Deril dengan jari jemari lentiknya.


"Sadarlah, Alisha. Lihat baik_baik, aku adalah Deril bukan Dav. Sebaiknya aku antar kamu pulang, sepertinya kamu sudah mabuk berat, Alisha." Ucap Deril sedikit kesal karena Alisha menyebut dirinya sebagai Dav. "Dav, apakah dia Dav Jonathan William? Alisha aku pasti akan memberinya pelajaran karena sudah berani menyakitimu hingga seperti ini."Batin Deril kemudian memapah tubuh Alisha membawanya keluar dari club itu.


"Hey... Kau kenal dengan perempuan itu." Teriak laki_laki tadi yang tak lain adalah Erik teman dekat Deril. Deril tak menggubrisnya, ia terus melangkahkan kakinya keluar meninggalkan club tersebut.


***


Elena menatap suaminya yang sedang fokus dengan setir kemudinya, tatapan matanya begitu dalam, membuat sang suami menjadi salah tingkah. Meskipun dirinya fokus menatap jalanan di depannya, namun ia juga dapat merasakan tatapan yang di berikan oleh istrinya itu.


"Ekhmmm.... Sudah puas menatapnya, sayang?" Dav melirik istrinya tangannya yang satu mulai terulur membelai lembut wajah sang istri. "Kalau belum puas, kamu boleh menatapku sampai kamu benar_benar puas, sayang." Sambung Dav membuat kedua pipi Elena memerah seketika. Elena sendiri baru menyadari jika dirinya sedari tadi terus memandang wajah tampan suaminya itu. Bahkan ketika Dav mengajak dirinya ngobrol pun, Elena tak menghiraukannya.


"Astaga... Apa yang ku lakukan? Ini sangat memalukan." Batin Elena sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Emm... Siapa yang menatapmu, aku hanya..."


"Hanya apa, sayang?" Dav memarkirkan mobilnya ketika dirinya sudah tiba di mansionnya. Mereka baru saja pulang dari restauran tempat makan favorit Elena. Dav memang sengaja ingin menyetir mobil sendiri, ia tidak ingin waktu berduanya terganggu oleh siapapun termasuk sopir pribadinya.


"Kita sudah sampai, sayang." Dav mengecup kening istrinya mesra, kemudian ia turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk sang istri. "Ayo turun istriku." Ucapnya sambil mengulurkan tangannya kepada sang istri.


"Emm.. Terima kasih."


"Sudah kewajibanku, sayang. Kamu tidak perlu berterima kasih." Ucap Dav sambil merangkul pinggang sang istri. "Ayo kita masuk." Ajaknya yang mendapat anggukkan kepala dari istri tercintanya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2