
Alisha merogoh ponselnya yang berada di dalam tas kecil miliknya, kemudian ia menghubungi kekasihnya yang saat ini sedang berada di luar kota tanpa memberitahu dirinya.
"Ada apa Alisha?"Tanya Dav terkesan datar.
"Kenapa kamu tidak bilang, kalau kamu pergi ke luar kota, Dav?"
"Aku lupa."
"Kapan kamu pulang?"
"Besok siang aku sudah pulang."
"Padahal aku sedang berada di mansionmu sekarang."
"Untuk apa kamu datang ke mansionku?"
"Aku merindukanmu, Dav. Aku pikir kamu berada di mansionmu."Jawab Alisha tetap lembut walau sebenarnya dirinya sangat kecewa dengan sikap dingin Dav kepadanya."Untunglah Elena masih tinggal bersamamu. Jadi aku bisa mengajaknya jalan_jalan."Sambung Alisha membuat Dav mendengus kesal di seberang telpon sana.
"Aku tidak mengizinkannya pergi kemanapun."Ucap Dav dingin. "Kalau kamu mau jalan_jalan, aku bisa menyuruh Sam untuk menemanimu pergi."
"Ayolah, Dav. Aku hanya ingin pergi bersama Elena. Kamu jangan terlalu mengekangnya, Dav. Kasian dia."
"Jangan membantahku, Alisha. Aku bilang dia tidak pergi berarti dia tidak boleh pergi. Apa kamu mengerti."
"Dav, dia pergi bersamaku, bukan dengan orang lain, jangan terlalu berlebihan. Elena tidak akan kenapa_kenapa bersamaku."
__ADS_1
"Tetap saja aku tidak mengizinkannya."
"Terserah. Tapi aku akan tetap membawa Elena bersamaku." Tegas Alisha membuat Dav semakin marah.
Alisha langsung memutuskan sambungannya, ia kembali menaruh ponselnya ke dalam tas. "Apa dia pikir aku akan mencelakai Elena, sampai_sampai dia tidak mengizinkanku untuk mengajak Elena pergi bersamaku. Kenapa Dav sangat posesif sekali terhadap Elena? Apakah dugaanku benar?"Alisha bertanya_tanya sendiri. Ia tidak bisa membayangkan jika Dav benar_benar sudah jatuh cinta kepada Elena yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
"Bagaimana kalau Dav memang benar_benar sudah jatuh cinta kepada Elena? Apa yang harus aku lakukan?"Batin Alisha sambil menahan sesak di dalam dadanya. Ia tidak sanggup jika harus kehilangan Dav, laki_laki yang sangat ia cintai dari dulu hingga sekarang.
***
Dav mengepalkan kedua tangannya erat, ia sangat marah ketika mendengar Alisha akan mengajak Elena untuk pergi jalan_jalan. "Untuk apa Alisha mengajak Elena jalan_jalan? Bukankah dia biasa pergi dengan teman_temannya?" Ucap Dav kesal. Dav segera menghubungi nomor ponsel Elena. Ia tentu saja tidak akan membiarkan Elena pergi bersama kekasihnya itu.
"Ada apa uncle?"Tanya Elena dari seberang telpon sana.
"Elen, aku sudah bilang bukan, jika aku tidak mengizinkanmu pergi kemanapun. Jadi aku harap kamu tidak membantah ucapanku. Mengerti."Ucap Dav sedikit lembut.
"Ya. Dan aku tidak mengizinkanmu pergi. Lebih baik kamu turuti ucapanku, jangan membantah."
"Bahkan aku pergi bersama kak Alisha pun uncle tidak mengizinkannya?"
"Ya. Sebaiknya kamu tidak membangkang dan turuti saja perintahku. Ini semua demi kebaikanmu, Elen." Jawab Dav membuat Elena menghela nafasnya kasar.
"Uncle, please...."
"Turuti ucapanku, atau kamu akan menanggung sendiri akibatnya. Mengerti."Ucap Dav dingin, Dav paling tidak suka jika Elena sudah membantah ucapannya. Dav hanya ingin Elenanya menurut dan bersikap manis kepadanya. Elena hanya boleh menuruti perintahnya. "Satu lagi. Bersiap_siaplah dengan hukuman yang akan menantimu, Elena."Sambung Dav terdengar begitu menyeramkan di telinga Elena dan seketika membuat bulu kuduk Elena meremang.
__ADS_1
"Aku tidak mengerti dengan hukuman yang uncle maksud. Tapi aku merasa aku tidak melakukan kesalahan apapun."
"Kau melupakan panggilanmu, baby. Jadi tidak ada lagi toleransi untukmu dan bersiaplah untuk menerima hukuman dariku." Ucap Dav di iringi dengan seringai di wajah tampannya. "Ingat Elen. Aku tidak mengizinkanmu pergi, itu artinya kamu tidak boleh pergi. Mengerti." Dav mengulang ucapannya dengan tegas.
Karena kesal, Elena langsung menutup panggilannya secara sepihak. Dav yang tidak terima pun kembali melakukan panggilannya, namun sayangnya nomor Elena sudah tidak aktif membuat amarah dalam diri Dav seketika meluap. "Sial. Sengaja tidak di aktifkan."Dav melempar ponselnya ke atas tempat tidur, Dav menarik nafasnya dalam, lalu membuangnya secara perlahan, ia berusaha untuk meredam emosinya yang semakin meledak. "Kamu sudah berani denganku gadis nakal, lihat bagaimana aku akan menghukummu nanti."Ucap Dav sambil mengepalkan kedua tangannya erat.
Setelah meredam amarahnya, Dav memutuskan untuk menghubungi para pengawal yang bertugas untuk mengawasi dan menjaga Elena.
"Apa Alisha sudah pergi?"Tanya Dav tanpa basa_basi.
"Non, Alisha baru saja pergi, tuan."
"Apa Elena ikut bersamanya?"
"I,, iya tuan."
"Kenapa kalian membiarkan mereka pergi, hah?"
"Ta, tadi non Alisha bilang, tuan sudah mengizinkannya. Ja..."
"Dasar, bodoh. Sekarang kalian ikuti mobil Alisha. Jangan sampai kehilangan jejak, atau kalian akan menerima akibatnya. Mengerti."Perintah Dav dingin. Dav benar_benar tidak menyangka jika Elena akan mengabaikan ucapannya, padahal jelas_jelas Dav sudha memperingatinya, namun gadis itu tetap saja membangkang."Dasar gadis pembangkang, sepertinya kamu akan terus membantahku jika aku membiarkanmu begitu saja. Kali ini aku akan membuatmu merasakan akibat dari membantah ucapanku."Dav berjalan keluar dari kamarnya.
"Lucas, kau urus semuanya. Aku harus pergi untuk memberi pelajaran seseorang yang sudah berani mengabaikan perintahku." Ucap Dav
"Tapi, bos. Bukannya bos..."
__ADS_1
"Lakukan saja perintahku. Mengerti."Tegas Dav dingin membuat Lucas tidak dapat berkata_kata lagi. Setelah itu Dav langsung berjalan menuju pintu keluar.
Bersambung.