Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Membuatnya Sesak


__ADS_3

Dav sudah berdiri di depan pintu kamar Elena, tangannya mulai mengetuk pintu itu pelan. "Elen, apa kamu baik_baik saja?" Tanyanya lembut. Namun tidak ada jawaban sama sekali sehingga membuat Dav kembali mengetuk pintu kamar Elena sedikit keras. "Elen, apa kamu di dalam?"Dav kembali bertanya dengan intonasi yang sedikit tinggi. Namun hingga beberapa menit pun, Elena tidak menjawab ataupun membuka pintu kamarnya. "Elen, buka pintunya."Suara Dav semakin keras, ketika ucapannya tak di gubris sama sekali. Dav terlihat begitu khawatir, ia berusaha untuk membuka pintu kamar Elena, namun sayangnya, pintu itu terkunci dari dalam sehingga membuat Dav tidak dapat membukanya. "Sial, pintunya di kunci."Dengus Dav sambil mengusap wajahnya frustasi.


"Pak Udin, ambilkan kunci cadangan kamar Elena, sekarang."Teriak Dav dari atas membuat para pelayan yang berada di lantai bawah berjingkat kaget.


"Baik, tuan."Jawab pak Udin cepat. Kemudian pak Udin langsung bergegas pergi untuk mengambil kunci cadangan kamar Elena.


Dav kembali mengetuk pintu kamar Elena dengan keras. Ia semakin khawatir dengan keadaan Elena saat ini. "Sebenarnya ada apa dengan dirinya? Bukankah tadi sebelum aku pergi, dia baik_baik saja."Batin Dav sambil terus mengetuk pintu kamar Elena. "Elena, jangan sampai kamu kenapa_kenapa." Dav kembali membatin khawatir. Perasaannya saat ini campur aduk antara khawatir, takut, juga penasaran dengan apa yang terjadi kepada Elena, sehingga membuat Elena menangis seperti yang di ucapkan oleh si bibi tadi.


"I, ini, tuan, kuncinya."Ucap pak Udin dengan nafas yang tak beraturan seperti habis lari maraton.

__ADS_1


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Dav langsung mengambil kunci yang di berikan oleh pak Udin, kemudian ia segera membuka pintu kamar Elena dengan tidak sabaran, sementara, pak Udin langsung pergi meninggalkan tuannya yang terlihat sangat mengkhawatirkan gadisnya.


Setelah pintu itu terbuka, Dav langsung melangkahkan kakinya memasuki kamar Elena, matanya menelisik setiap sudut kamar mencari keberadaan Elena. Namun ia tidak dapat menemukan keberadaan Elena sama sekali.


"Kenapa dia tidak ada di kamarnya? Apa mungkin dia sedang di dalam kamar mandi?"Dav bertanya_tanya sendiri, ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Tok...tok...tok...


"Elen...."Panggil Dav sambil berjalan cepat menghampiri Elena yang tengah menutup kedua bola matanya di dalam bathtub. Sepertinya Elena kelelahan sehabis menangis tadi, sampai dia tertidur di dalam bathtub.

__ADS_1


"Ternyata dia ketiduran."Ucap Dav setelah memeriksa keadaan Elena. Dav bernafas lega, ketakutannya mulai hilang ntah kemana. Dav segera mengangkat tubuh polos Elena, kemudian ia membawanya keluar dari kamar mandi itu, dan membaringkannya di atas tempat tidur.


Dav langsung menyelimutinya dengan selimut, kini tongkat saktinya sudah berdiri tegak ketika melihat tubuh polos itu. "Sial. Jangan berpikir macam_macam, Dav. Ingatlah sebentar lagi kau akan merasakannya."Batin Dav sambil menetralkan pikirannya yang sudah melayang ntah kemana. "Elena, kamu benar_benar membuatku gila. Tunggu sampai kamu bangun, aku akan meminta pertanggung jawabanmu, baby."Ucap Dav sambil menatap lekat wajah cantik Elena yang masih terlelap dalam tidurnya. Perlahan Dav mencium kening Elena lembut, kemudian ia mengelus wajah cantik itu.


"Sepertinya aku harus menenangkan kepalaku dulu. Baby, selain kamu sudah membuatku khawatir, kamu juga sudah membuat tongkat sakti ku berdiri tegak. Aku sangat ingin memakanmu sekarang, tapi aku tidak akan melakukannya. Karena kamu adalah perempuan yang harus aku jaga dan aku hormati, tunggu sampai kita menikah, baru aku akan memakanmu sampai habis." Ucap Dav dengan suara beratnya.


Dav segera pergi meninggalkan Elena, ia tidak ingin berlama_lama di dalam sana, bisa_bisa, Dav gila beneran karena harus menahan hasratnya yang kian memuncak. Bayangan tubuh polos Elena selalu saja menghantui dirinya hingga membuat Dav berkali_kali menelan salivanya sambil mengusap wajahnya kasar.


Sebelum Dav memasuki kamarnya, ia memanggil si bibi terlebih dahulu, dan memintanya untuk memakaikan pakaian Elena. Setelah itu, Dav langsung masuk ke dalam kamarnya, ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Ia harus membuang pikirannya yang kotor, dan menenangkan tongkat saktinya yang semakin membuatnya sesak.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2