Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Khawatir


__ADS_3

Elena menghapus air matanya, ia berdiri dan meninggalkan sarapannya begitu saja. Hatinya sangat sakit, rasa rindunya terhadap kedua orang tua nya kini mulai menghantui dirinya. Ucapan Alisha tadi mampu membuatnya kembali teringat akan kejadian yang menimpah kedua orang tua nya, lima tahun lalu.


Air mata Elena kembali menetes membasahi pipinya, susah payah ia berusaha untuk melupakan kejadian mengerikan itu, namun siapa sangka, Alisha yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri, tega merobek luka lamanya tanpa rasa bersalah sedikit pun. Benar_benar keterlaluan.


"Kenapa dia sangat jahat sekali kepadaku? Kenapa harus mengungkit kematian orang tuaku?"Batin Elena sambil melangkahkan kakinya menaiki anak tangga. "Mama, papa, kenapa nasib kita harus seperti ini? Aku sangat merindukan kalian." Elena kembali membatin, ingatan mengerikan itu terus menerus menghantuinya.


"Nona, tidak apa_apa?" Tanya si bibi menghampiri Elena.


Elena menghentikan langkah kakinya, tanpa menatap si bibi ia pun menjawab. "Aku tidak apa_apa, bi." Suara Elena terdengar bergetar, bahkan isak tangisnya dapat di dengar oleh si bibi, membuat si bibi khawatir.

__ADS_1


"Nona, Elena. Menangis? Ada apa, non? Cerita sama bibi."Ucap si bibi berdiri di hadapan Elena.


"Aku tidak apa_apa, bi. Hanya butuh istirahat."Jawab Elena berusaha untuk memperlihatkan senyumannya. "Bibi tidak perlu khawatir."Ucapnya kembali, kemudian berjalan melewati si bibi.


"Tidak mungkin non Elena baik_baik saja. Pasti sudah terjadi sesuatu. Aku harus melaporkannya kepada tuan."Batin si bibi sambil menatap kepergian Elena. Si bibi langsung menghubungi Dav, ia memberitahukan keadaan Elena saat ini. Sementara itu, Dav yang mendapat kabar tentang Elena pun segera menyuruh Sam untuk mengantarnya kembali ke mansionnya. Dav tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada gadis yang sangat di cintainya itu.


***


"Mah, pah, aku rindu kalian. Kenapa kalian harus pergi meninggalkanku? Kenapa Tuhan tidak adil kepadaku. Kenapa harus aku yang di cintai uncle, Dav. Andai saja perempuan yang di cintai uncle Dav bukan aku, mungkin kak Alisha tidak akan mengungkit kematian kalian, mungkin kak Alisha tidak akan membenciku sampai seperti ini." Ucap Elena di iringi dengan Isak tangisnya. "Jelas_jelas ini bukan salahku, kenapa aku yang harus di salahkan?" Elena berjalan menuju pintu kamar mandi, air matanya terus saja menetes membasahi wajah cantiknya.

__ADS_1


"Aku harus kuat, aku tidak boleh menangis lagi, aku tidak ingin membuat mama dan papa bersedih. Ayo Elena, lupakan semua ucapannya yang menyakitkan itu. Anggap saja semuanya hanya angin berlalu." Ucap Elena sambil menatap dirinya dari balik cermin yang berada di kamar mandi. Elena kembali menghapus air matanya, meskipun ia menguatkan dirinya, namun tetap saja hatinya masih terasa sakit dan hancur.


***


Dav sudah tiba di mansionnya, ia segera membuka pintu mobilnya, kemudian turun, lalu bergegas masuk dengan tidak sabaran. Langkah kaki Dav terhenti ketika ia melihat si bibi tengah berjalan munuju dapur. "Dimana Elen?"Tanya Dav sedikit lantang membuat si bibi terkejut.


"Di kamarnya, tuan."Jawab si bibi sopan.


Dav kembali melangkahkan kakinya dengan sangat cepat, pikirannya saat ini hanya tertuju pada Elena sosok perempuan yang sudah membuatnya tergila_gila. "Jangan sampai kamu kenapa_kenapa, Elen."Batinnya sambil mempercepat langkah kakinya menaiki anak tangga.

__ADS_1


Si bibi tersenyum sambil menatap kepergian majikannya yang terlihat begitu khawatir, ini adalah pertama kalinya Dav memperlihatkan raut wajah seperti itu kepada orang lain. "Sepertinya tuan sangat mencintai nona, Elena. Semoga nona Elena dapat membalas cintanya tuan, Dav."Batin si bibi berharap agar Elena dapat membalas cinta Dav yang begitu dalam.


Bersambung.


__ADS_2