Tawanan Cinta Sang Mafia

Tawanan Cinta Sang Mafia
Suamiku


__ADS_3

Dav menatap Alisha datar, ia sebenarnya sangat malas meladeni mantan kekasihnya itu. "Terima kasih, kalau tidak ada keperluan lain, silahkan pergi." Ucap Dav membuat hati Alisha terasa di remas_remas. Namun Alisha tetap memperlihatkan wajahnya yang tenang, bahkan senyuman manis itu masih terukir di bibirnya.


"Apa kamu sebegitu membenciku, Dav?" Alisha menatap Dav, sorot matanya mampu membuat siapa saja yang melihatnya akan merasa iba, namun tidak dengan Dav.


"Aku tidak membencimu, Alisha. Tapi jika tidak ada lagi yang ingin kamu bicarakan. Silahkan keluar." Ucap Dav mulai kesal. Elena yang merasakan kekesalan suaminya pun seketika mengelus punggung suaminya. Adegan itu tak luput dari pandangan Alisha. Alisha semakin yakin jika Elenalaha yang menggoda mantan kekasihnya itu.


"Dav, beri aku waktu untuk berbicara denganmu berdua. Ada hal penting yang harus aku sampaikan sama kamu." Alisha menatap Dav, ia berharap Dav mau meemberinya waktu walau hanya satu menit. "Elena, bolehkah aku pinjem Dav sebentar? Aku ingin membicarakan sesuatu dengannya." Ucap Alisha kepada Elena. "Lihat saja, Elena. Aku pasti akan merebut Dav kembali." Batin Alisha sambil menatap Elena penuh kebencian.


"Dia istriku. Sebaiknya kau berbicara di sini saja." Ucap Dav sambil merangkul tubuh sang istri. "Sayang, jika kamu berani mengizinkannya untuk berbicara berdua denganku, maka akan aku pastikan malam ini kamu tidak dapat tidur satu detikpun. Mengerti." Bisik Dav di telinga Elena. Membuat bulu kuduk Elena meremang seketika.


"Dasar mesum. Bisa_bisanya dia mengancamku dengan kata_kata sialan itu." Elena membatin kesal. Ia menatap suaminya dengan tajam.


"Elena, apa kamu tidak mendengar ucapanku?" Alisha kembali bersuara, nadanya terdengar tidak sabaran juga terkesan dingin di telinga Elena.


"Maaf kak Alisha, sepertinya yang di ucapkan suamiku benar. Aku adalah istrinya sekarang, jadi menurutku tidak baik jika suamiku berbicara berdua dengan mantan kekasihnya sendiri. Jadi jika ada yang ingin kak Alisha bicarakan, silahkan bicarakan di sini saja." Tegas Elena membuat laki_laki di sampingnya kegirangan. Namun berbeda dengan Alisha. Alisha terlihat sangat marah, bahkan kedua tangannya mengepal dengan sempurna. Ia tidak menyangka jika Elena dapat berbicara seperti itu kepadanya. Bukankah selama ini ucapan Alisha selalu Elena dengar dan turuti? Lalu mengapa sekarang Elena tidak mendengar dan menurutinya? Benar_benar sangat menyebalkan. Pikir Alisha.


"Jadi apa yang ingin kamu katakan, Alisha?" Tanya Dav tanpa menatap lawan bicaranya.

__ADS_1


Alisha menghembuskan nafasnya kasar, ia berusaha untuk menenangkan dirinya supaya tidak terpancing oleh ucapan istri dari mantan kekasihnya itu. "Sepertinya lain kali saja aku membicarakannya. Aku tidak ingin mengganggu waktu kalian berdua. Sekali lagi, aku ucapkan selamat ya, semoga pernikahan kalian berdua langgeng sampai tua." Ucap Alisha penuh keterpaksaan. "Sialan. Awas kamu Elena. Suatu saat nanti, aku pasti akan membunuhmu. Berbahagialah sekarang, kalian. Karena kebahagiaan kalian tidak akan bertahan lama." Batin Alisha penuh dendam.


"Aku pergi dulu." Pamit Alisha kemudian bergegas pergi melangkahkan kakinya dengan dendam dan juga amarah yang kian memuncak. Dav hanya berdehem pelan, sementara Elena hanya menatapnya tanpa mau membalas ucapan Alisha.


***


"Sayang..." Dav memanggil istrinya dengan manja, ia terus tersenyum membuat Elena geli dan juga bingung dengan sikap suaminya saat ini.


"Hmm.."


"Coba ulang lagi." Pinta Dav masih berkelakuan manja seperti anak kecil.


"Ck... Bukan itu, sayang." Ucap Dav sambil melepaskan rangkulannya membuat Elena semakin bingung.


"Terus apa?" Tanya Elena lalu berjalan dan duduk di atas sofa.


"Yang tadi, sayang." Dav berjalan kemudian duduk di samping istrinya.

__ADS_1


"Yang tadi hmmm?"


"Bukan yang itu, sayang." Dav mulai mengacak rambutnya frustasi.


"Yang mana, Dav?"


"Ulang kata suamiku." Ucap Dav sambil menatap lekat wajah cantik istrinya.


Elena terdiam sejenak, ia mengingat apakah dirinya pernah mengucapkan kata suamiku atau suaminya itu sedang berhalusinasi. "Astaga.... Apa yang tadi aku katakan?  Aku, aku benar_benar memanggilnya suamiku! Apa aku sudah tidak waras?" Batin Elena ketika ia mengingat ucapannya kepada Alisha tadi. Pantas saja, si mafia bucin itu berprilaku manja seperti anak kecil. Ternyata dia sedang bahagia karena untuk pertama kalinya, istrinya itu memanggil dirinya suamiku. Itu berarti Elena sudah menerimanya sebagai suami tulus dari dalam hatinya.


"Sayang. Kenapa malah diam?" Dav melambaikan tangannya di hadapan wajah Elena yang kian merona. "Ayo, aku mau dengar kata itu lagi." Pinta Dav sambil menyentuh wajah cantik Elena.


"Emm, tadi aku hanya ingin membuat kak Alisha pergi. Makannya aku memanggilmu suamiku."


"Tidak apa_apa, sayang. Mulai sekarang kamu panggil aku suamiku. Mengerti."


"Itu terlalu berlebihan, Dav."

__ADS_1


"Aku tidak menerima penolakkan. Mengerti." Tegas Dav dengan sorot matanya yang dalam. Elena hanya mengangguk pasrah. Tidak ada salahnya juga jika dirinya memanggil Dav dengan sebutan suamiku. Memang pada kenyataannya Dav adalah suaminya.


Bersambung.


__ADS_2