
Pangeran Sanjev memacu kereta kudanya perang itu dengan begitu cepat. Raja Balraj Kumar tampak mulai tak sadarkan diri.
Dalam pertempuran lain juga terjadi hal yang serupa , ada yang berhasil di lukai . adapula yang tidak.. Satu demi satu berhasil di lumpuhkan, seringai Raja Madraka kian lebar. Rencananya ternyata bisa berjalan mulus....
Jika kalian ingin tau pendapatku.. sekali licik maka akan tetap licik, saat sudah seringkali menghalalkan segala macam cara dan menuai keberhasilan . Maka dia akan selalu kembali pada cara yang kiranya memiliki peluang terbesar meski bertentangan dengan norma , tradisi , bahkan mengorbankan kehormatan. Seperti sebuah penyakit yang sudah mendarah daging, sulit di sembuhkan.
Memang tidak semua orang begitu, hanya saja sekarang sangat sedikit yang memilih jalan berat dan penuh penderitaan . Mereka sering kali memilih jalan pintas , yang tentunya banyak resiko di dalamnya. Selalu ada harga untuk setiap hal yang kita lakukan , baik ataupun buruk.
Pangeran Jeet singh tampak terkapar tak berdaya, menghadapi Raja Mahender memang sulit. Dia cukup tangkas . beberapa prajurit terlihat tengah mengarahkan pedang di leher sang pangeran dan memaksanya untuk menyerah.
"Aku tidak akan menghabisimu sekarang, tidak saat ini... Bawa dia..." Ucap Raja Mahender memberikan perintah .
Raja Avenash yang menyadari serangan dari belakang itu berhasil menghindar , bahkan sempat melayangkan serangan balasan hingga musuhnya tak berdaya. Panglima Bagwandas bahkan ikut terkejut dengan serangan yang di tujukan untuk membantunya itu.
Cih , lagi lagi serangan seperti ini di lancarkan. Menikam dari belakang ??? siapa lagi yang mampu memberikan perintah kotor ini jika bukan Mahender Cawala, Rajanya sendiri.
Dia merasa kesal juga , kenapa harus menggunakan rencana licik itu. Sebagai ksatria sejati dia tentu tidak setuju dengan itu , Jika bukan karena sumpahnya untuk setia pada Raja , maka dia tidak akan berada di sisi ini.
" Pengecut , inikah cara yang kalian lakukan untuk bisa mengalahkan kami ??? dimanakah sikap kesatria mu selama ini Bagwandas ???... " Ucap Raja Avenash seraya mengacungkan pedangnya.
" Ini bukan rencanaku ,... aku yakin bisa menang tanpa menggunakan cara itu... "
"Kebenaran itu sudah semakin menjauh dari mu , dari kalian semua.." Raja Avenash melihat sekelingnya .. Beberapa orang telah mengelilingi mereka berdua .
Melihat satu persatu pemimpinnya goyah membuat pasukan menjadi gentar , mereka sudah kalah dalam perang ini . Kalah karena berbagai kecurangan yang bahkan membuat mereka terkejut karena musuh benar benar menghalalkan segala cara.
Pedang dan semua senjata mereka di lucuti , wajah yang tertunduk mengisyaratkan kekecewaan . Perjuangan selama ini harus gagal dan berhenti sampai di sini.
Entah kapan mereka akan menang dari Raja Madraka itu ?? apakah tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan untuk menghentikan kekejaman dan kebrutalannya ??
Semoga saja suatu saat nanti akan ada yang nisa menghentikan bencana ini, agar mereka bisa mendapatkan kedamaian lagi . Mereka akan menunggu sampai hari itu tiba.
Dimana akan ada seorang yang bisa melengserkan Raja Mahender Cawala yang penuh angkara murka , dan membangun kembali pemerintahan dengan penuh cinta .Tapi kapan hal itu akan tiba.... entahlah , mereka hanya bisa berharap .
π€―π€―π€―π€―π€―π€―π€―π€―
Matahari mulai terbenam, hari yang terang benderang perlahan berubah menjadi gelap.
Ratu entah mengapa perasaanya mendadak menjadi tidak nyaman , tanpa alasan rasanya sedikit gelisah . Apa yang sebenarnya terjadi , meskipun dia tidak sepenuhnya mencintai Raja Balraj Kumar . Tapi dia tetaplah suaminya , ayah dari putra putrinya.
" Ibu... ada apa " Putri Jhanvi menghampiri ibu mertuanya yang tampaknya sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Jhanvi ,, kau di sini ?? bagaimana dengan Anjum dan pangeran ?..."
"Mereka barusaja tertidur ... Zara ada bersamanya .."
Ratu tersenyum dengan ucapan Putri Jhanvi , setidaknya saat bersama keponakan keponakannya , Zara sejenak bisa melupakan semua beban fikiranya , segala masalah yang dia miliki bisa sedikit berkurang.
"Ibu hanya hawatir , belum ada kabar apqpun dari medan pertempuran . Semoga semua baik baik saja ..."
"Ibu menghawatirkan Ayah dan Sanjev ...?? semoga saja bu,... semoga mereka bisa kembali dengan selamat ." Putri Jhanvi mencoba menghibur mertuanya meski dirinyapun merasakan hal yang sama.
Panglima Kakkar membuka sebuah pesan singkat dari seberang membuatnya terkejut, Taemin melihat sorot mata ayahnya yang berubah kelam .
"Taemin... apa yang kita takutkan benar benar terjadi , bawa ibu dan anak istrimu pergi dari sini sebelum mereka sampai . Sekarang..."
"Ayah , apa Raja Madraka sudah memenangkan perang ?? ..."
"Hmnnnnn..... mereka menang dengan cara yang memalukan ?!!?... selamatkan mereka ..."
"Kapal terakhir sudah berangkat kemarin , kita hanya bisa membiarkan mereka bersembunyi di dalam hutan . .."
"............Berjagalah di sini ..." Tuan kakkar lalu pergi dari sana , dia berencana menemui Ratu.
Tok
Tok
Tok
Pintu kamar di ketuk beberapa kali , si sana memang tidak ada penjaga yang bertugas, karenabmereka semua sedang ada di luar untuk berjaga jaga.
Mengetahui siapa yang datang , Ratu kemudian mempersilahkannya masuk ke dalam.
"Darshwana... bagaimana ?? apa ada kabar baru ?....."
"Kalian harus meninggalkan istana saat ini juga, ..."
Mendengar itu Ratu dan Putri Jhanvi terkejut... pantas saja perasaan mereka tidak enak ...ternyata...
"Raja terluka, tapi masih bisa di selamatkan . Begitu juga dengan putra mahkota . Kalian patut bersyukur dengan kenyataan ini selepas kita menang atau kalah....."
" H hhh aku akan bertahan di sini Darshwan...."
__ADS_1
"Ratu ,, ....."
Ratu dan Putri Jhanvi menolak untuk pergi meninggalkan istana, mereka lebih memilih menunggu .Tuan Darshwana hanya bisa menerima keputusan itu, dia tidak bisa memaksa .
Tuan Darshwana juga memberitahu keinginan Raja Madraka untuk menikahi Putri Zara, mengetahui itu mereka jadi terkejut dan sangat hawatir .? ....
Putri Jhanvi melangkah meninggalkan ruangan itu untuk memanggil Zara, dia harus di beri tahu dan mereka harus memutuskan saat itu juga langkah apa yang akan di ambil .
Zara terlihat sedang memperbaiki letak selimut Putri Anjum karena si kecil yang tadi sesikit bergerak gerak saat sedang tidur.
"Kakak..."
"Ikut kakak sekarang...."
π’π’π’π’π’π’π’π’........
Tuan Darshwana Kakkar telah menjelaskan semua situasinya pada mereka bertiga , sedangkan dia akan membiarkan para wanits itu yang akan mengambil keputusan.
"Zara.... pergilah dari sini...masadepan mu masih panjang , Ibu tidak rela jika kau harus menikah dengan Raja Madraka itu...."
"Ibuuu...."Zara terlihat sedih , apalagi ini ??? kenapa ujian hidup tak henti hentinya datang ke padanya, tapi manamungkin dia tega membiarkan seluruh keluarganya di sini sedang dia menyelamatkan diri sendirian
Tapi dia juga tidak sudi jika harus menikahi Raja Madraka itu , memikirkannya saja sudah membuarnya merasa jijik. Apalagi jika harus menikah dengannya...
Tidak mungkin !!!? Zara tidak akan sudi.... ia lebih memilih tiada daripada itu harus terjadi.
"Ikutlah Taemin... kecuali jika putri ingin tetap di sini dan menerima pinangan itu..." Ucap Tuan Darshwana Kakkar kemudian
"Bagaimana dengan Keluargaku di sini ??..."
"Percayalah mereka akan baik baik saja... saat ini juga , kita harus pergi dari sini... Mereka semua juga dalam perjalanan kemari...jangan membuang waktu lagi putri . ...."
Setelah memeluk ibu dan kakak iparnya bergantian , mereka akhirnya pergi meninggalkan istana itu .
Zara memutuskan untuk ikut bersama Tuan Kakkar , dia lebih memilih melarikan diri . Jika tidak Raja Mahender pasti akan memasukkannya kedalam sangkar emas.
Pasukan yang di bawa Tuan Kakkapun turut pergi dari sana, tidak ada gunanya lagi mereka di sana. Mereka harus pergi.....
Ratu melihat kepergian Putri kesayangannya , ia harus rela melepaskan sang putri. Mereka sudah memikirkan cara untuk menghadapi Raja Mahender ...
Dia pasti akan sangat murka saat mengetahui Zara tidak ada di sana..... Semoga saja dia tidak melakukan hal gila lainnya.
__ADS_1
πππππππππππππ