
ππ Hai readers jangan lupa like n comeent ya.... tarik jempolnya siss, sebelum baca jangan lupa ,,, dukungannya.β¨β¨β¨β¨
Back to Story
"Sekarang kalian bisa menggunakan tempat ini ,kalian benas melakukan apapun " Lall Sing menunjukan sebuah Rumah baru.
Tepatnya rumah bekas gudang miliknya untuk ditempati Juho dkk, tempat itu terletak tidak jauh dari rumah Lall sing. Memang butuh waktu untuk membersihkannya, dan setelah kembali dari kota tempat itu ternyata sudah siap.
" Paman Lall aku benar2 berterimakassih padamu " Ucap Juho tulus.
"Apa yang kau katakan, ini tidak seberapa denggan pertolongganmu waktu itu. Jika tidak ,mungkin sekarang aku sudah sampai nirwana "
Juho dkk memang membutuhkan tempat itu, tentusaja sebelumnya Lall Sing sudah menolaknya. Karna rumah mereka masih cukup luas untuk menampung mereka ber 4, hanya saja Juho tetap bersikeras.
Akhirnya tuan Lall menyerah juga , tentu bukannya tidak ada alasan mereka mau pindah. Juho dkk akan lebih leluasa dalam melakukan apapun, masalah masak memasak tidak perlu hawatir karena mereka sudah memiliki koki sendiri.
"Semua peralatan yang kalian butuhkan sudah ada disini semua" Bahkan nyonya Damini sudah menyiapkan bahan2 di dapur, dia benar-benar baik hati.
"Sekarang aku tau kenapa hanya aku yang di suruh belajar memasak , rupanya kau inggin menjadikan ku tukang masak di rumah ini"
Temin terlihat lesu, tentu saja semenjak tinggal denggan Lall sing dia lebih sering bersama Damini di dapur daripada latihan. Chilsuk yang mendengarnya hanya terkekeh,masih lebih beruntung dirinya yang disuruh belajar ilmu penggobatan daripada harus belajar memasak yang notabennya adalah pekerjaan perempuan.
"Bersemangatlah itu tidak terlalu buruk " Chanso menimpali keluhannya
" Kalau begitu kenapa bukan Tuan Chanso saja yang menggantikanku..."
"Lalu siapa yang akan melatih Juho "
"Tidak apa2 anak muda, sesekali jika istriku sakit aku juga biasa memasak untuknya. Nah , nanti kaukan juga bisa membantu istrimu saat kau sudah menikah " Ucap tuan Lall Sing menyemangati.
" Disini memang tidak ada yang memperhatikan perasaanku, aegyo . Betapa malangnya nasib ku ini "
"Tidak sepantasnya seorang prajurit menggeluh " Juho tersenyum melirik Taemin.
"Iya, prajurit di dapur. Bukanya memegan pedang , aku justru harus bermain main dengan pisau dan penggorengan setiap saat "
"Ha ha hha haaa ha ha..." mereka semua puas sudah membuat Taemin kesal"
ππππ.......ππππππππ
Chorong memakan daging yang telah disiapkan juho, sementara Juho berlatih bela diri denggan tuan Kakkar pria bertubuh tinggi besar itu terus melatih Juho dengan keras , peluh membasahi tubuh mereka.
"Perkuat kuda-kuda mu "
" Hya, hya , hya " Juho berteriak sambil berlatih,
Tuan Kakkar melatih Juho denggan sanggat kerasdan tanpa ampun layaknya seorang guru yang kejam, tapi ini demi membentuk jiwa dan raga pemuda itu. Tuan Kakkar sebenarnya benar- benar salut dengan semangat Juho yang pantang menyerah serta ulet.
Berbeda denggan Chanso yang masih merasa kasihan dan segan pada Juho, Kakkar tidak berbelas kasih. Serangan2 Juho semakin cepat dan tepat di bawah didikan kakkar dan Chanso.
Hari demi hari di lewati Juho denggan banyak berlatih, berpedang, memanah, berburu , berenang , dan di saat saat itu Chorong selalu menemaninya berlatih. Kucing itu kian hari bertambah besar dengan cepat . Ya , mau sebesar apa itu tetaplah seekor kucing lucu bagi Juho.π€π€π€π€π
Sesekali mereka berburu ke hutan, memanah di sana dan melakukan banyak hal. Perlahan mereka sudah hafal setiap jalan di sana, Chanso juga terus melatih Juho. Selain bela diri juga strategi perang , Chanso juga membawakannya buku buku penting milik kerajaan mereka sendiri yang sengaja di dapatnya secara diam diam alias rahasia .
__ADS_1
Pangeran Seong Jun nantinya akan membutuhkan seluruh pengetahuan itu. Dia yakin, suatu hari nanti mereka akan kembali ke kerajaan saat juho siap...
"Apa yang membuatmu pergi jauh dari kerajaan mu ?? apakah terjadi sesuatu yang buruk hingg kau mau tinggal di sini ???" Tuan Kakkar meminum minumanya.
Mereka baru saja menyelesaikan latihan, tuan Kakkar preman pasar yang diberi pekerjaan untuk melatih Juho atas rekomendasi Lall Sing. Mereka telah lama bersahabat.
"........" Juho masih terdiam tidak memberikan jawaban apapun
" Aku bukan orang bodoh yang bisa kau perdaya , aku tau mereka bertiga bukanlah keluargamu. Tapi penjaga yang selalu menjagamu " Juho tersenyum kecut mendengar perkataan tuan Kakkar yang memang tepat sasaran.
"Sekarang hanya mereka keluarga yang ku miliki, dan lagi memang tidak ada lagi tempat yang bisa ku tinggali di sana . Jadi kuputuskan untuk mengembara "
"Melihat bagaimana mereka sampai mengikutimu kemari, kau pasti bukan anak biasa. Aku yakin keluargamu memiliki kedudukan yang bagus, apa mungkin saja kau sebenarnya dari keluarga kaya atau bahkan dari bangsawan?."
" Ya bisa dibilang begitu, tapi apa pentingnya itu sekarang ?? hanya masalalu "
" ya ya ya, kau anak yang cukup pemberani. Apa tujuanmu melakukan semua ini? "
"Guru, aku harus bertambah kuat agar bisa melindunggi diriku sendiri dari bahaya. Tidak selalu bergantung pada mereka, itu sangat menyedihkan bukan ??"
"Aku tidak keberatan terus melatihmu asal kau menggunakanya untuk hal yang benar "
"Apa badanku juga bisa jadi sepertimu?.."
"Untuk itu kau harus berlatih dengan keras setiap hari, em tapi bukankah tubuh mu sudah mulai terlihat kokoh berisi . Jangan seperti Lall Sing yang terlihat seperti kurang makan ha ha ha hah "
mereka tertawa bersama tiba2 chorong melompat kepangkuan Juho, hanya saja tidak sampai naik karena badannya yang sudah cukup besar. Hanya Kaki depannya saja yang berhasil naik.
l~"Chorongggg " Juho membelainya sesekali dia meroar, tuan Kakkar terkekeh.
Tuan Kakkar kemudian menyerahkan sebilah pedang yang baru pertama kali Juho lihat , pedang ini begitu unik karena bentuknya yang lentur.
"apa ini.. ..."
" URUMI , itu pedang khusus. Bisa kau gunakan untuk menghalau puluhan anak panah yang menyerangmu sekaligus."
"Nanti aku akan mengajarkan pada mu bagaimana cara menggunakan pedang ini, kau bisa memperhatikan ku terlebih dahulu " Tuan Kakkar juga membawa uruminya sendiri.
Kemudian berjalan ke depan menjauhi Juho, lalu mulai memperagakan cara menggunakan urumi itu . Juho memperhatikannya dengan seksama, dia merasa kagum. Pedang lentur itu layaknya menari di tanggan Tuan Kakkar.
(ini dia penampakannya tuan Darshwana Kakkar)
...
"Kau benar2 menakjubkan guru, aku tidak salah memilih mu "
" ah , Juho Jika bukan karena uang mana mungkin dia mau melatih mu" Lall Sing yang datang lansung berseloroh
"Lidahmu tidak jauh lebih tajam dari pedang ini Lall.. " Tuan Kakkar menghentikan pertunjukannya saat melihat Lall Sing datang ke arah mereka.
__ADS_1
" O o o, jangan ketus seperti itu Kakkar , aku sudah tidak takut lagi pada wajah mu yang dari dulu tidak pernah ramah itu, menakutkan , ah aku bahkan sudah terbiasa dan jujur saja sudah mulai sedikit bosan "
"Kau hanya mengganggu latihan ini.."
"Ck cck ck ck, jangan terlalu keras pada Juho. Dia masih muda, alau kau jemur di bawah sinar matahari terus. Kulitnya yang putih ini akan cepat menghitam ".
"Kalau begitu sembunyikan saja dia di dalam kamar dan jangan biarkan Juho keluar "
"ada apa paman lall...?..."
"Hampir lupa, aku kesini hanya mau bilang. Lukisan mu sudah laku terjual, ada yang membelinya dengan harga yang pantas kau untung banyak . Ini uang mu kau berhak memiliki semuanya " Tuan Lall memberikan tiga kantung uang pada Juho.
"Melukis? kau bisa melukis ? " Tuan Kakkar tidak percaya itu
"Hanya salah satu kesenanganku guru ."
"Tentu saja dia bisa, tidak mungkin aku kan ?? pertama kali saat aku melihat dia melukis. Ku pikir itu mungkin akan laku jika di jual , lukisannya hampir sama persis dengan aslinya. Jadi kutawarkan untuk dibawa kepasar , dan ternyata benar laku juga denganbharga mahal
"......."
"Aku juga bisa melukis guru kalau guru mengizinkannya "
" Ehemmmm " Kakkar berdehem
" Ya , lukislah dia. Dengan wajah tersenyum tentunya jika tidak , jangankan membeli, orang orang justru akan merasa takut saat melihat gambarnya ha ha ha ha"
" Lallll " Tuan Kakkar melirik Lall Sing tajam
" Sebaiknya segera aku pergi sekarang , tidak baik disini lama lama . Gurumu ini mungkin akan menendangku pergi, berlatihlah dengan baik dan selanjutnya. Buatlah lebih banyak lukisan supaya aku bisa menjualnya lagi . Aku pergi dulu " Lall Sing kemudian pergi dari sana
"Guru, kalian sudah lama bersahabat. apa paman Lall memang selalu senang menggoda mu "
"Biarkan saja dia, dia memang selalu begitu , dia orang yang baik Juho "
Tuan Kakkar kemudian teringgat saat pertama x bertemu dengan sahabatnya Lall Sing dia mulai menceritakannya pada Juho kejadian di masalalunya.
Waktu itu Kakkar bermaksud merampok pedagang untuk mendapatkan uang, istrinya sedang sakit. dia membutuhkan banyak uang untuk pengobatannya , sa at sedang merampok Lall putranya berlari menghampiri dirinya.
Dia lalu berkata kalau keadaan ibunya bertambah parah dan saat ini sedang tidak sadarkan diri di rumah, mendengar itu Lall Sing justru menawarkan diri untuk memeriksanya.
" Tuan, aku seorang tabib. Kalau boleh aku ingin melihatnya kau tidak perlu membayarku ." Lall yang masih di cengkram Kakkar mulai berkomentar.
"Ayah ayo cepat..."
"Ayo ikut aku " Kakkar melirik Lall Sing .
Mereka lalu pergi kerumah kakkar, sesampainya di sana terlihat seorang wanita tergolek lemah tak sadarkan diri di atas ranjangnya. Lall langsung memeriksanya dengan seksama.
" keadaanya sanggat lemah, kalian seharusnya segera membawanya berobat. Sudah berapa lama dia terbaring seperti ini"
" Dua hari paman, ibu juga selalu memuntahkan makanan yang baru di makannya " Anak muda itu menyahut
"Sebentar, akan kubuatkan obatnya. Kebetulan aku membawa beberapa bahan obat yang kita butuhkan " Lall mulai meracik ramuan yang dibawanya, kemudian menyuruhnya untuk meminumkan pada wanita itu saat ini juga.
__ADS_1
Setelah dirawat dan diberi ramuan Lall sing, keadaan istri Tuan Kakkar semakin membaik hingga akhirnya bisa di sembuhkan . Dan dari sanalah persahabatan mereka dimulai.
πππππ#######ππππππππ