
"apa kau terkejut " ucap pangeran sanjev yang terdengar mengejek.
". . . . . " Raja mahender terlihat mengeram menahan amarah yang berkobar
" maharaja " tegur pabglima bagwandas saat melihat rajanya termenung karena terpancing emosi, jangan sampai rajanya itu menjadi goyah hanya karena rasa cemburu.
"bagaimanapun caranya aku akan membuatnya menjadi milikku "
"itu tidak akan terjadi selama aku masih bernafas " ucap Juho menegaskan
"ha ha ha ha , kalian sudah kalah jumlah . Hanya ada kehancuran dan kekalahan suryavans "
Juho tiba tiba menggangkat tangannya dan memberikan perintahnya dari jauh , beberapa orang maju dari setiap barisan di depan dan mengibarkan bendera merah.
"Mahender Chawala , kau mendapatkan tahta mu dengan tidak sah !!! Jika kau merasa layak !!! Hadapi aku dalam pertarungan hidup dan mati , buktikan bahwa kau memang layak untuk mereka ikuti " teriak Juho lantang
Panglima bagwandas meremas kekang kudanya menahan amarah .
"kau mencoba menghindari kekalahan yang sudah ada di depan mata " ucap Bagwandas
"Aku tidak berbicara padamu panglima Bagwandas !! ini adalah tradisi di tanah bharat. Aku tidak mengira panglima besar sepertimu bahkan tidak bisa menghormati nya "
Dalam tradisi mereka semua memang ada hal seperti itu , menantang raja dari musuh ataupun orang yang di pilih untuk berduel hingga salah satu dari mereka tiada .
Untuk menentukan kemenangan meski tanpa memecahkan perang yang akan merenggut banyak nyawa nantinya.
Akan tetapi keputusan itu tidak bisa di putuskan sendiri oleh pihak yang menerima tantangan. Saat ini persetujuan dari raja raja lain di bawahnya juga akan menentukan terjadi tidaknya duel itu karena melibatkan banyak kerajaan .
"Hmm aku tidak yakin mereka akan menerima tantangan mu anak muda , sedangkan kemenangan sudah pasti ada di pihak maharaja mahender " ucap panglima Bagwandas
"kita lihat saja bagaimana keputusan mereka "
Panglima lalu memanggil seluruh raja yang berada di bawa bpanji ketajaan Madraka.
saat mereka semua berhadapan satu barisan di depan barisan kerajaan suryavans.
"Aku ingin melawan Mahender chawala dalam pertarungan hidup dan mati , perang besar hari ini bukan hanya akan mengakibatkan korban yang tidak sedikit . melainkan akan membawa kehancuran yang tidak perlu "
__ADS_1
Masing masing dari mereka kemudian saling memandang dan diluar dugaan mereka setuju, Raja Mahender sedikit terkejut dengan sikap mereka namun ia juga tidak bisa langsung menghabisi raja raja yang menyetujui duel itu.
jikabia berani membunuh mereka bukan tidak mungkin jika pasukan mereka akan memberontak karena melihat rajanya di habisi dengan keji di depan mata kepala mereka .
selain itu jika dia menolak maka itu bisa di artikan sebagai penghinaan atas adat leluhur yang berarti mengaku kalah ataupun merasa gentar pada musuh .
Mahender Chawala tentu tidak merasa gentar namun ada sedikit keraguan di sana .
Meski begitu mahender juga harus memperhatikan prinsip yang di pegang teguh oleh seluruh bawahanya yang menjunjung tinggi tradisi itu.
"Baikalah , aku akan meminta panglima bagwandas untuk mewakili ku " Ucap Mahender Chawala akhirnya
Mendengar keputusan itu mau tidak mau Panglima Bagwandas harus menerima titah Raja .
"Baiklah aku bersedia yang mulia " ucap panglima Bagwandas akhirnya.
Mendengar itu Juho sedikit menyeringai, target sebenarnya adalah panglima Bagwandas , dialah yang harus segera di robohkam .
akhirnya semua orang mundur karena pertempuran antara Juho dan panglima Bagwandas akan segera berlangsung.
Dari awal pertarungan Juho langsung mengerahkan kemampuan terbaiknya , panglima bagwandas cukup kesulitan melayangkan serangan karena Juho menyerangnya dengan membabi buta.
meski begitu dia berhasil melukai lengan Juho dengan pedangnya, Mahender Chawala bisa melihat pertarungan itu tampak berimbang.
Kemampuan panglima Bagwandas memang tidak perlu di ragukan lagi , akan tetapi yang mengejuykan adalah bagaimana mungkin ada orang yang bisa melawan panglima bagwandas .
Selama ini tidak ada yang sebanding dengan panglima Bagwandas selain Panglima Darshwana Kakkar dan lihatlah bagaimana anak muda itu berhasil mengimbanggi bahkan memberikan serangan pada P. Bagwandas .
"Akan ku pastikan hari ini kepalamu tidak akan berada di tempatnya lagi , sudah cukup kehancuran yang kau sebabkan Panglima Bagwandas ." UcaP Juho di sela pertarungannya
"Kau cukup Jeli anak muda , sayang sekali jika kita harus bersebrangan "
"Aku tidak tertarik bergabung dengan iblis seperti mu "
"Maka aku tidak akan membiarkan mu menang "
"Coba saja " Juho melompat hingga bisa menendang dada kiri P. Bagwandas hingga membuat pria yang tak lagi muda itu memegang dadanya yang terasa begitu sakit
__ADS_1
Juho kemudian kembali menyerang namun panglima itu berhasil menghindar .
Kubu Suryavans terlihat sedikit tegang , pangeran sanjev berdoa semoga adiknya tidak berakhir menjadi seorang janda begitu cepat . semoga Juho bisa menumbangkan panglima perkasa itu.
Tuan Darshwana Kakkar tidak mengalihkan perhatianya sedikitpun dari anak muridnya itu, tidak ada yang bisa ia lakukan selain percaya pada kemampuanya . Meski lawanya bukanlah orang yang mudah untuk di atasi .
Panglima Bagwandas terus mencobq menyerang Juho .
Juho berhasil menghindari sabetan pedang dari musuhnya dan Trassssssss.
Dalam hitungan detik Juho memanfaatkan sedikit celah hingga ia bisa melancarkan seranggan pamungkasnya. Dengan pemukulkan gagang pedangbke bahu lawan hingga kehilangan sedikit keseimbangan.
Selagi menghindar Juho berhasil mengayunkan pedangnya hingga mampu menebas leh*r panglima Bagwandas dan membuat kepalanya menggelinding di tanah.
Sorak sorei pasukan suryavans terdengar manakala melihat pertunjukan tidak biasa itu, Raja Madraka seakan tercekal saat melihat panglima kebanggaanya meregang nyawa di depan matanya sendiri.
"Hancurkan Suryavanssss " Teriak Mahender lantang namun hanya prajurit kerajaan Madrakalah yang maju sedangkan kerajaan taklukannya tidak bergerak sama sekali .
Mereka begitu menghormati budaya leluhur dan tidak berniat menodainya seperti yang dilakukan Mahender Chawala saat ini.
Meskipun sudah kalah duel dia tetap menyerang musuh , dan itu bukanlah kebanggaan seorang kesateia melainkan suatu kenistaan yang memalukan .
Sebelumnya mereka tunduk karena sumpah yang mereka ucapkan tetapi bagaimana mungkin sekarang mereka akan mengikuti manusia seperti Mahender yang sudah mencoreng adat istiadat sakral kepercayaan mereka.
Mahender tetap menyerang meski kerajaan lain tidak membantunya ,lagipula tanpa merekapun jumlah pasukanya masih cukup untuk menggempur dan meratakan kerajaan Suryavans .
Dia akan menggurus para pembangkang itu nanti setelah memenangkan pertempuran ini , sungguh percaya diri sekali bukan ?
Dengan satu aba aba Panheran Sanjev memerintahkan pasukanya untuk melemparkan pelontar khusus yang akan meledak setelah berada dalam jarak tertentu.
Dan senjata ini tidak sengaja di ciptakan oleh juho dan Tuan Darshwana saat mereka berlatih strategi perang dulu.
Peluru lontar itu meledak tepat di atas pasukan Madraka dan menyebarkan serbuk putih di sana.
Perlahan pasukan itu merasa keanehan sebelum berhasil menyentuh suryavans , berkali kali pelontar di ledakkan .
Akhirnya ke dua kubu bertemu
__ADS_1