
Pangeran Mahkota kini sedang bersama Juho dan chilsok, sementara para pengawalnya ikut berjaga di dekat mereka.
Melihat ada Putra Mahkota di sana membuat mereka semua terkejut hingga semua langsung memberikan penghormatan dengan bersimpuh.
"Yang mulia Putra Mahkota , terimalah hormat kami "
"Berdirilah.." ucap Pangeran Ji Yong , mereka kemudian perlahan berdiri .
Pria paruh baya itu mendekat ke arah Juho yang kini sedang di obati chilsok lengannya yang terluka gores, para penjaga memberikan isyarat agar tidak terlalu dekat. dia terlihat membawakan minuman untuknya. dia tidak sendirian melainkan datang dengan beberapa orang temannya yang menemani .
"Tuan , ..." Mendengar ada yang mendekat Juho menengadahkan wajahnya
"Ya , ada yang bisa ku bantu ? " Tanya Juho kemudian.
"Kau , kau orang yang tadi bukan ?? " Chilsok bisa mengenali pria paruh baya yang tadi sempat di tolong Juho dan membuatnya celaka. Juho menatap Chilsok seolah mengatakan untuk berhenti bicara.
"Aku datang untuk berterimakasih pada tuan karena tadi sudah menolong ku dari bahaya, jika tidak mungkin saat ini aku sudah kehilangan nyawa ku."
"Juho , panggil aku Juho . Tidak perlu berterimakasih itu sudah menjadi kewajiban ku"
"Aku sedang sedikit tidak sehat jadi tadi waktu tuan Juho memperingatkan ku tidak terlalu memperhatikan. aku minta maaf ." Pria itu menunduk merasa sangat bersalah pada Juho karena kelalaiannya sudah membuat orang lain celaka.
Dia merasa takut akan di keluarkan dari proyek itu karena sudah lalai . Badanya sedang tidak sehat saa ini , sehingga dia bekerja dan hanya fokus pada pekerjaannya saja tanpa memperdulikan sekitar Larena mencurahkan seluruh tenaga untuk berusaha tetap bekerja meski badannya sedang tidak dalam kondisi yang baik.
" hmn , ya tidak apa apa . yang penting kita semua bisa selamat itu sudah lebih dari cukup, jika sedang tidak sehat paman seharusnya istirahat dulu jangan memaksakan diri "
"tolong jangan pecat aku tuan, aku sangat membutuhkan pekerjaan ini "Pria itu terlihat begitu cemas .
__ADS_1
"Iya tuan , kami juga bersalah karena menumpuk batu terlalu tinggi maafkan kami " mereka semua ikut memohon belas kasih Juho
"memecat ?? tidak paman aku tidak akan melakukan itu pada mu tidak usah hawatir. Kalian mulai sekarang jangan memaksakan diri, kalian bisa meminta istirahat beberapa hari jika sedang sakit dan bekerja lagi kalau sudah sembuh ." Mendengar ucapan Juho membuat mereka semua senang , tidak biasanya mereka bertemu orang yang bermurah hati seperti itu.
Jika orang lain tentu akan marah marah dan langsung memecat mereka , bahkan mungkin akan membuat perhitungan karena membuat celaka . Terkadang para tuan justru meminta ganti rugi ,jikapun tidak mampu mereka akan di pekerjakan tanpa di bayar sampai menurut orang kaya itu cukup untuk membayar kerugiannya. Sungguh kejam dan tidak berperi kemanusiaann.
Dimana yang kaya sering kali menindas yang miskin, padahal mereka sudah cukup menderita. orang orang itu menampakkan wajah cerianya karena tidak di pecat padahal sudah melakukan kesalahan yang bahkan sudah membuat tuan Juho terluka.
"Kalian dengar sendirikan ? jadi tidak perlu hawatir .kalian bisa pergi dan melanjutkan istirahat kalian" ucap chilsok terlihat dingin pada mereka
"Tuan sungguh murah hati , em..i iniβΊβΊ " paman itu dengan ragu memberikan cawan air pada Juho. Juho melirik Chilsok seraya tersenyum ,Chilsok memahami maksud sang pangeran kemudian menerimanya dan memberikan pada Juho.
"Terimakasih paman.. kalian bisa kembali " Ucap Juho seraya tersenyum , mereka semua kemudian pergi kembali dengan hati gembira.
Ini adalah waktu para pekerja istirahat untuk makan siang , mereka beristirahat bergantian dengan kelompok lain sehinggga selain pekerjaan terus berlangsung. Para dayang istana juga tidak terlalu repot dengan terlalu banyaknya antrian pekerja yang mengambil jatah makan dan minuman.
Putra mahkota kemudian berdiri .
"Aku akan kembali ke istana , ku harap kita bisa bertemu disana . Aku menantikan saat hari itu tiba , aku pergi dulu kak "
"hmn... hati hati di jalan "
Rombongan kecil Putra Mahkota mulai pergi meninggalkan tempat itu. Juho perlahan meminum minuman yang tadi di bawa oleh pekerja. Chilsok melihatnya terkejut.
"Yang mulia , anda tidak boleh sembarangan menerima.."
"haisttttt... ini hanya air ,mereka tidak mungkin meracuni ku . Orang orang bahkan tidak tau siapa aku ... jangan berlebihan "
__ADS_1
" (aku kan hanya hawatir... hhh yang mulia pangeran benar benar .... )"
"Kenapa ? tidak perlu menghawatirkan ku. Sebaiknya kau istirahat atau kembali ke pos mu.. dan ya.. terimakasih obatnya.."
"baiklah aku pergi ... aku memang sedikit lapar" Chilsok lalu mohon diri dan pergi meningalkan tempat itu lagi , kini hanya tinggal Juho di sana seorang diri . Dia berniat melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.
Karna lengan kirinyalah yang terluka maka tidak mempengaruhi pekerjaannya, Juho melirik buku agendanya dan perlahan membukanya. Jemarinya berhenti di lukisan Putri Zara , di elusnya lukisan itu perlahan . Seolah olah sedang meraih wajah gadis itu , tentu saja dia sangat merindukan pujaan hatinya.
Semakin lama semakin besar pula rasa rindunyaπππ , Juho kemudian membuka lembaran kosong dan mulai menuliskan sesuatu di sana. Kegiatanya menulis dan melukis itu masih menjadi kebiasaannya, dia menceritakan seluruh pengalaman hidupnya yang dirasanya menarik dan di torehkannya di sana.
Dan di setiap buku agenda miliknya tentu terdapat satu atau beberapa lukisan Putri Zara , apalagi jika bukan sebagai penyemangat dan obat rindu. Cinta , terkadang membuat bahagia , sedih , marah .
Suatu rasa yang telah lama mengalahkan seorang pangeran tangguh Seperti Pangeran Seong Jun , entah bagaimana akhir kisah merekaπ€π€ . Juho masih belum berhenti berharap , gadis itu masih berhutang penjelasan padanya dan cepat ataupun lambat Juho akan segera menemuinya .Ya mungkin saja dia akan berbuat nekat jika ada yang tidak sesuai dengan harapannya , bisa saja .
πππππππππππππππ
Sekembalinya orang orang itu bekerja mereka masih sempat menceritakan perihal Tuan Juho pada sesamanya , banyak yang terkejut dan tidak menyangka dengan sikap murah hatinya.
Mereka juga menceritakan bahwa mungkin Tuan Juho adalah tangan kanan atau orang kepercayaan Putra Mahkota karena melihat mereka bersama dan tampak begitu akrab, mereka memuji sikap welas asih Tuan Juho.
Dalam sekejab berita itu tersebar di kalangan pekerja, mereka jadi tidak hawatir lagi akan mendapat perlakuan tidak adil di tempat itu.Beberapa dari merwka bahkan bercerita bahwa Tuan Juho terkadang ikut membantu para pekerja yang kesulitan.
Terkadang membantu saat ada yang menarik gerobak bahan maka sesekali Juho ikut mendorongnya , membantu mengangkatkan air sesekali . Juho terkadang memang menggunakan penyamaran , tapi dia juga sering berpakaian biasa layaknya pengawas seperti Chilsook sehingga mereka bisa mengenali Juho dengan mudah meski tetap memakai janggut dan kumis palsu.
Mereka percaya jika Tuan Juho adalah orang di balik kemakmuran di sini, mungkin saja bukan ? mereka juga sering melihat para penjaga begitu menghormati Tuan Juho. Bekerja di sana selain mendapat upah yang bisa membantu memperbaiki hidup mereka juga tidak hawatir akan kelaparan atau rasa haus.
Perlahan lahan Juho mendapatkan tempat di hati rakyat , entah bagaimana sikap mereka nanti jika mengetahui identitas asli pria itu.
__ADS_1
π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€