
"Jangan pergi " Ucap Zara yang kini berdiri di depan jendela memandang ke arah luar ,Juho menghela nafasnya . Ia sudah menduga jawaban Zara.
"Zara , ku mohon " Juho meraih pundak Zara membuat wanita itu harus menatap suaminya.
"Apa mereka meminta mu menikahi ibu pangeran mahkota dan istri istri mendiang raja dahulu ? Aku tidak mengijinkannya , sampai kapanpun aku tidak akan rela berbagi " Ucap Zara , pandangan matanya mulai berembun karena mulai merasa sedih.
"Aku tidak akan melakukan hal itu , sudah ku bilang tidak . Kau harus percaya pada ku " Ucap Juho mencoba meyakinkan Zara lagi
"Tapi "
"Hanya sebentar ,aku akan segera kembali untuk mu . Aku janji "
Setelah berbicara banyak hal akhirnya Zara dengan berat hati mengizinkan Juho pergi.
Malam ini Juga Juho , pangeran Sanjev ,pangeran Yuvraj dan paman Darshwana pergi ke kerajaan madraka.
Ratu sengaja menemani putrinya yang tampak masih belum rela melepas suaminya pergi.
"Zara , kau tidak boleh seperti ini "
"Aku hanya merasa takut bu t, aku lebih merasa takut saat Juho pergi ke madraka daripada melepasnya untuk berperang " Zara mencoba menceritakan kegundahannya .
"Ibu tau, tapi suami mu memang terlalu hebat hingga semua orang menginginkannya . Tapi kau juga harus percaya pada Juho, Zara kau bukan anak kecil lagi" Ratu mencoba memberi pengertian pada putrinya , ia mengerti apa yang sebenarnya Zara hawatirkan.
Ia takut saat pulang nanti Juho datang bersama istri barunya , berbagi cinta adalah hal tersulit yang tidak semua wanita bisa menerima hal itu .
"Bagaimana jika mereka bisa memaksa Juho sehingga . . . " Zara tidak mampu lagi melanjutkan kata katanya.
"Zara, ibu tidak mau menakuti mu tapi kau harus selalu siap dengan hal paling buruk sekalipun . Kau harus mengerti "
Zara termenung , Ratu memang pernah menasihatinya. Bahkan rakyat jelata pun bisa memiliki lebih dari dua istri apalagi kalangan bangsawan.
Dan Juho telah masuk kedalam incaran banyak orang, Zara tidak bisa mengelak fakta itu. Suaminya adalah pahlawan perang .
Dan itu juga bukan kesalahan mereka karena siapapun berhak mencintai ataupun membenci orang lain.
__ADS_1
Jikapun Juho ingin menikah lagi maka itu juga bukan suatu dosa atau kesalahan, dia berhak akan hal itu.
"Kau harus bisa mengendalikan perasaan mu sendiri , jangan lupa apa yang kau fikirkan akan mempengaruhi kandungan mu . Ibu tidak ingin terjadi hal buruk pada kalian " Ratu memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang ia mengerti perasaan putrinya itu.
Diapun hingga kini masih belum bisa menerima bahwa bukan hanya dia yang menjadi istri Raja Balraj Kumar.
Tapi dia juga tidak bisa melakukan apapun , Zara berusaha tabah. Ibunya berkata benar ia harus bisa mengontrol emosi karena bisa mempengaruhi kandungannya.
Hari demi hari Zara terus menunggu kepulangan Juho, ini sudah lebih dari sembilan hari tapi belum ada kabar apapun dari suaminya.
Zara menghabiskan waktu dengan nerjalan jalan di taman bersama Anjum, kadang bermain dengan putri kecil itu atau hanya sekedar menemaninya .
Terkadang ia membaca buku seharian , Zara juga sudah pandai menulis dan berbicara bajasa asli negri asal Juho .
Sesekali Zara juga mendapatkan surat dari ibu mertuanya, selain itu permaisuri Myung hee juga mengiriminya beberapa hadiah seperti cincin batu giok hijau.
permaisuri bahkan membuatkan baju khas seorang putri padanya , sepasang dengan milik juho.Bahkan beliau juga memberikan kain khusus untuk calon bayi mereka jika sudah lahir.
Zara juga kerap menuliskan surat pada mertuanya itu , meski belum pernah bertemu secara langsung tapi mereka bisa saling mengenal melalui surat.
Tapi ternyata mertuanya sangat baik dan mau menerimanya dengan baik , mereka bahkan tak segan menceritakan masa kecil Juho secara diam diam di belakangnya.
Namun sampai detik ini , Zara bahkan belum mengetahui identitas Juho yang sebenarnya karena Juho melarang permaisuri untuk menceritakanya . Juho ingin memberi Zara kejutan saat mereka nanti sampai di istana yang sudah di persiapkan Juho.
Dia akan menceritakan semuanya saat mereka kembali ke kaisaran .
Malam ini Zara tidak bisa tidur , ia sangat gelisah . Perutnya juga sering kali merasa sakit , ini seringkali terjadi dan tabib bilang itu hal wajar saat sudah mendekati waktu persalinan.
Shagun juga sengaja di minta Ratu agar menemani putri Zara selama Juho tidak ada , hadis itu ikut panik saat melihat sang putri yang merintih kesakitan.
"Putri , tunggu sebentar aku akanbmeminta prajurit untuk memanggil tabib " Shafus segera berlari keluar dan menemui salah seorang prajurit yang berjaga di luar
"Cepat panggil tabib istana, sepertinya putri akan segera melahirkan " Ucap Shagun , ia lalu segera kembali menemui Putri Zara, ia tidak boleh membiarkannya sendirian .
Prajurit itu segera berlari menemui tabib istana , semwntara prajurit lain pergi memberitahukan keadaan tuan putri pada yang mulia ratu.
__ADS_1
Dalam sekejap kamar Zara sudah di penuhi banyak orang, shagun, tabib wanita dan dua dayang pembantu persalinan ada di sana.
Raja , ratu ,dan putri jhanvi menunggu di luar. Mereka harap harap cemas saat mendengar Zara yang berteriak kesakitan.
Menurut tabib Zara sudah waktunya melahirkan , air ketubanya juga sudah pecah . Ini lebih cepat dua minggu dari permiraan lahir.
Sejak kepergian Juho ke madraka Zara memang menjadi lebih gelisah dan banyak berfikir ,munggkin karena stres yang Zara alami hingga mempengaruhi janin yang ia kandung hingga lahir lebih awal.
Zara merasakan kesakitan yang luar biasa ,ia belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya, ia merasa di cabik cabik.
Keringat tampak membasahi wajahnya , sesekali Shagun melap keringat Zara.
"Putri anda harus kuat " Ucap Shagun mencoba menyemangati Putri Zara
Tanpa Zara ketahui saat ini Juho sedang memacu Chorong dan sudah memasuki istana.
"Panglima , putri Zara " Prajurit langsung berlari menyongsong Juho.
"Ada apa dengan Istri ku katakan " Juho segera melompat dari atas tubuh Chorong.
Mulanya prajurit itu takut pada singa putih itu , meski sering kali melihatnya ia tetap merasa takut.
"Putri Zara akan segeta melahirkan " ucapnya kemudian
Mendengar itu juho segera berlari menuju kediamanya bersama Zara , Chorong juga ikut berlari mengikuti tuanya . Mungkin ia juga bisa merasakan kecemasan tuannya.
Juho bisa melihat mertuanya yang cemas menunggu di luar kamar ,ia bahkan bisa mendengar suara istrinya yang kesakitan.
"Juho kau sudah kembali " Ucap Ratu saat melihat Juho yang berjalan tergesa gesa ke arah mereka.
"Ibu aku akan masuk "
"Tapi Juho , sebaiknya kau menunggu di luar bersama kami " Ucap Ratu
"Tidak , apapun yang terjadi aku akan tetap masuk . Aku sudah berjanji pada Zara akan menemaninya saat melahirkan "
__ADS_1
"Tapi Juho "