
Gauri lalu melihat dari arah jendela , terlihat para prajurit mulai memberikan perlawanan .
Pasukan pemanah yang berjaga di gerbang utama tampak memanah penjaga gerbang dan yang lainnya membuka kan pintu .
Mereka tampak saling serang antar pasukan madraka , terjadi kebingungan di antara mereka . Bagaimana tidak , saat ini mereka terlihat saling serang antar pasukan madraka .
Sebenarnya mereka bukannya bertarung antar sesama , hanya saja anak buah Tuan Kakkar memang sengaja menyusup dan memakai pakaian layaknya prajurit madraka .
Saat melihat gerbang telah terbuka maka pasukan tuan Kakkar segera menerobos masuk dan mulai menyerang musuh .
Dalam istana ini ada 3 macam pasukan
yang pertama adalah pasukan asli dari kerajaan ini yang terpaksa tunduk pada raja Mahender agar Raja Balraj dan keluarga kerajaan lainya tidak di habis!
yang ke dua adalah pasukan asli kerajaan madraka yang setia pada Mahender Cawala
3 .Dan yang ketiga adalah pasukan dari kubu Juho .
Karena musuh juga memakai pakaian yang sama seperti mereka maka tak ayal lagi membuat mereka kelimpungan .
Sehingga saat penyerangan mereka bisa menghabisi musuh dan tidak di curigai , mendengar suara keributan akhirnya raja Mahender dan panglima Bagwandas datang bersama beberapa prajurit di belakangnya .
Terlihat banyak korban telah jatuh , suara pedang beradu , teriakan kesakitan telah memenuhi tempat itu
Mereka terkejut saat melihat ada serangan musuh , Panglima Bagwandas segera mencabut pedangnya dan menyerang tuan .
Sementara Raja Mahender juga mencabut senjatanya dan berniat ikut melawan musuh , akan tetapi ia kemudian justru berubah pikiran . Dia segera pergi meninggalkan tempat itu karena pasukan yang datang bersamanya tentu akan membantunya.menahan serangan musuh agar tidak bisa mengikutinya .
Sejenak Mahender menatap tajam ke arah sekeliling lalu berjalan pergi , ia telah memiliki rencana lain . Kedatangan musuh yang tiba tiba ini pasti memiliki tujuan khusus hingga berani menerobos masuk .
Mahender berjalan ke arah kediaman raja Balraj Kumar , musuh datang setelah ia memproklamirkan akan menghabisi Raja Balraj Kumar .
Mereka tentu datang untuk menyelamatkan pria tua itu , senyum licik Mahender terlihat jelas di wajahnya . Ia sudah cukup bersabar. jika tidak bisa dengan cara yang halus untuk membuat Zara keluar terpaksa dia akan menempuh cara kasar .
__ADS_1
Jika mendengar ayahnya tiada tentu gadis itu akan segera menampakkan diri ke hadapannya mau tidak mau , sebelumnya dia ingin sedikit menarik simpati Zara dengan membuat keluarganya tetap hidup .
Tetapi sepertinya cara itu tidak membuahkan hasil , jadi apa boleh buat . Bagaimanapun caranya dia harus bisa memiliki gadis itu .
๐ฃ๐ฃ๐ฃ
Di sebuah ruangan tampak beberapa wanita berkumpul karena merasa takut , mereka adalah istri istri Mahender Chawala .
Beberapa orang berjaga untuk melindungi mereka , Juho kini sedang memanjat dinding untuk bisa masuk ke sebuah kamar yang ia yakini sebagai kamar Raja Balraj Kumar .
Entahlah , padahal dia bisa saja ikut menerobos dari depan , kenapa juga malah memilih cara yang sulit .
Juho akhirnya sampai dan tanpa banyak berfikir langsung menendang jendela hingga hancur , dia lalu menerobos masuk .
Dan Taraaaaaaaaa
Bukanya Raja Baraj kumar dan Ratu yang di jumpainya , dia justru melihat ada banyak wanita di sana yang menatapnya dengan tatapan aneh .
Ternyata Mahender Chawala menjadikan kamar itu sebagai kamar istrinya , astagaaaa .
Bukanya ketakutan saat melihat Juho , beberapa dari mereka justru terkesima saat melihan pria itu .
Juho segera mencabut pedangnya karena prajurit musuh telah masuk untuk melindungi para wanita itu .
Juho tau mereka adalah pasukan madraka yang asli sehingga dia sama sekali tidak akan melepaskan seorang pun .
" Di mana kamar Raja Balraj Kumar ? Katakan pada ku !! " Ucap Juho seraya mengacungkan pedangnya pada salah satu wanita di sana.
Bukanya berniat kasar , Juho tentu saja tidak akan untuk melukai mereka . Dia hanya mencoba menggertak saja , bahkan Juho merasa risih karena tatapan para wanita itu "
"Dia tampan sekali " ucap seorang selir yang terus menatap Juho dari atas sampai bawah
" Sepertinya orang asing ...."
" Lihat dia , astaga . Tuan bisa kau bawa aku pergi bersamamu ?? Mahender sudah memaksa ku untuk menjadi istri ke 2 nya , aku rela meninggalkannya untuk mu "
" ( Rupanya mereka istri istri nya,,, ahh buang buang waktu ) " Juho lalu segera pergi meninggalkan mereka , ia tidak boleh membuang waktu lebih banyak lagi
" Hei mau kemanaaa , kembali..hei...."
"Ana purna , hentikan ! ! ! dan kalian , apa kalian tidak malu dengan sikap kalian itu ? bisa bisanya menggoda pria sedangkan kalian sudah memiliki suami "
"Jika bukan karena Mahender memaksa kami , kami tentu tidak sudi menikahinya " Ucap Ana purna kesal , memang faktanya sebagian besar dari mereka di nikahi bukan atas dasar cinta , melainkan terpaksa .
Mereka dinikahi agar posisi Mahender menjadi semakin kuat pada kerajaan yang tunduk padanya , secara otomatis maka putranya akan menjadi pewaris di masing2 tempat tinggal mereka . Memang strategi yang licik dan
__ADS_1
men ji jikkan .
" Kak Ana purna benar "
" Lagi pula Raja sering kali tidak adil pada kami , shhh benar benar sial "
" Ruhi ... Jaga bicara mu , bagaimanapun dia adalah suami mu juga "
"Ya , suami yang tidak kami harapkan " Ucap Ruhi kesal
Apalagi yang mereka harapkan ? Cinta ? jangan memimpikan hal seindah itu dari Mahender Cawala , setelah mereka memiliki putra maka dia seakan tidak perduli .
Sebagai Istri pertama Amrita tentu yang paling mengenal suaminya itu , mungkin dia juga yang paling beruntung diantara mereka semua karena pernah benar benar di cintai oleh Mahender .
Tapi mungkin kini posisinya akan segera tergantikan oleh Putri Zara , melihat bagaimana suami mereka benar benar di buatnya bertekuk lutut .
Bahkan saat bersama mereka dalam keadaan yang intim bukanya nama istrinya yang di sebut justru nama wanita lain yang kini entah ada di mana , sungguh menjijikkan dan membuat sakit hati .
Perdebatan antar wanita itu terus berlangsung , Juho bahkan sengaja mengunci mereka agar tidak bisa keluat dari ruangan itu , entah apa alasannya .
Kini Raja Mahender tengah berjalan menuju kamar Raja Balraj , dia bisa melihat prajurit yang di tempatkan nya untuk berjaga di sana masih dalam posisi siap .
Ke dua prajurit itu melihar Raja Mahender yang berjalan mendekat ke arah mereka seraya membawa pedang .
Apa yang harus mereka lakukan ? Jika langsung menyerang maka akan berbahaya . Penyamaran mereka bisa ketahuan , sedang Raja tirani itu bukanlah lawan mereka .
Di luar keadaan semakin kacau , akhirnya pasukan yang di pimpin Chanso tiba .
Pangeran Sanjev seger berteriak pada pasukan Surya vans agar membantunya untuk merebut kembali kerajaan , melihat pemimpin mereka telah kembali maka prajurit Suryavans yang semula ikut melawan musuh menjadi berbalik memerangi prajurit asli Madraka.
Keadaan semakin berpihak pada Juho , Raja Avenash mulai mencabut pedangnya dan bertarung .
" Darshwana ? " Raja Aveenash melihat Darswana Kakkar melawan Bagwandas, dia berhasil memojokkan panglima itu .
" Raja Aveenash " mereka berdua melawan Bahwandas bergantian
" Aku akan mengurusnya , pergilah selamatkan putri mu " Ucap tuan Kakkar memberi saran , dia memang sudah cukup untuk menghadapi Bagwandas
" Dimana Mahender ,?? "
" Dia mungkin menemui Balraj Kumar " Ucap tuan Kakkar seraya mengayunkan pedngnya hingga berhasil membuat lengan Panglima Bagwandas terluka.
Mendengar itu raja Aveenash segera berlari mencari Mahender , kunci kemenangam pertempuran ini adalah Mahender .
Jika berhasil menemukannya tentu pertarungan ini akan segera berakhir .
__ADS_1
๐๐๐