
📢📢📢 MINTA DUKUNGANNYA YA BESTIE UNTUK NOVEL INI YANG SEDANG MENGIKUTI LOMBA #100%KEKASIH IDEAL 💜
***
Julia terus memperhatikan Briana yang terlihat sangat bersemangat sejak datang ke café pagi tadi. Dia heran, sebahagia itukah sahabatnya hanya karena berhasil menjauhkan Lu dari sekelilingnya?
“Hahhhh, akhirnya aku bisa bekerja dengan tenang juga. Sungguh melegakan,” ucap Briana sambil mendudukkan bokongnya di atas kursi. Setelah itu dia menoleh, heran karena ternyata Julia tengah menatapnya. “Kau kenapa, Julia. Terpesona padaku ya?”
“Issh issh isshh. Tidak tahu malu sekali kau bertanya seperti itu padaku,” sahut Julia seraya bergidik geli. Dia lalu menyipitkan sebelah matanya saat akan melayangkan pertanyaan pada Briana. “Hei, kau kemanakan si Lu? Kau tidak mungkin menjualnya kepada para tetanggamu bukan?”
Plaaakkkk
Julia memekik kaget saat Briana tiba-tiba menggeplak lengannya. Brutal sekali. Lengan Julia sampai terasa kebas karenanya.
“Kau yang benar saja berpikir kalau aku telah menjual Lu pada tetanggaku. Sejahat-jahatnya aku, aku lebih baik berhutang pada bank daripada harus memperjualbelikan manusia. Sembarangan!” tegur Briana bersungut-sungut mendengar tuduhan tidak manusiawi yang dilayangkan oleh Julia. Benar-benar ya anak ini.
“Ya mana aku tahu kau menjual Lu atau tidak. Dan menurutku adalah hal yang wajar jika aku bertanya seperti itu karena aku tidak melihat keberadaan Lu. Biasanya kan Lu akan datang bersamamu ke café, tapi sekarang tidak. Jadi jangan salahkan aku kalau aku berpikir kau telah menjualnya,” sahut Julia tak kalah kesal.
“Sialan kau.”
Briana mendengus. Setelah itu dia menyeringai, bahagia saat teringat kalau mulai hari ini dia akan terbebas dari semua kesialan yang dibawa oleh Lu. Meski terkesan agak kejam, tapi Briana memberikan hukuman adalah agar pria idiot itu mau membagi tenaga untuk meringankan bebannya. Dipikir tidak lelah apa masih harus mengurusi pekerjaan rumah sebelum pergi bekerja? Jika biasanya Briana tidak mengeluh akan hal ini, hal berbeda dia rasakan setelah Lu datang. Bagaimana tidak berbeda. Jumlah pakaian yang harus Briana cuci jadi bertambah, kamar yang biasanya hanya kasur saja yang dia bereskan mendadak jadi seluruh lantai harus dia bersihkan karena Lu cukup aktif saat sedang berada di rumah. Belum lagi dengan beban mental dimana emosi Briana banyak terkuras akibat memikirkan ulahnya Lu yang selalu saja mengundang masalah. Jadi tidak apa-apa bukan kalau Briana memintanya untuk membersihkan rumah mereka? Hehe.
“Bri, tolong jawab dengan jujur pertanyaanku. Sebenarnya Lu ada dimana. Walaupun dia idiot, tapi hati nuraniku masih bersedia untuk mengasihaninya. Cepat beritahu aku dimana Lu. Sekarang!” desak Julia.
__ADS_1
“Dia ada di rumah,” jawab Briana seraya memutar bola matanya. Dia jengah karena Julia terus saja membahas tentang Lu.
“Di rumah?”
“Ya. Aku menghukumnya menggantikan tugasku untuk membersihkan tempat tinggal kami. Dia itukan sudah kuberi makan dan tempat tinggal secara cuma-cuma, jadi tidak ada salahnya kan kalau aku menggunakan tenaganya untuk meringankan beban?”
Julia ternganga. Agak sulit dipercaya kalau Briana tega menghukum Lu menjadi pembantu di rumahnya. Akan tetapi jika di pikir-pikir lagi, tidak ada salahnya juga sih jika Briana melakukan hal ini. Kalian tahu sendirikan betapa Briana itu sangat irit dan juga keras kepala? Jadi Julia berusaha untuk memaklumi keputusan Briana yang meminta Lu untuk membantu membersihkan rumah yang mereka tempati.
Saat Briana tengah menikmati waktu berbincang dengan Julia, mereka berdua di kagetkan oleh kemunculan sekelompok orang yang datang ke café. Andai kelompok orang itu bukan orang yang di kenal oleh Julia dan Briana, mereka pasti tidak akan sesyok ini. Akan tetapi masalahnya yang datang adalah Lu. Ya, pria idiot itu datang dengan di antar oleh para tetangga yang tinggal di sekitar rumah Briana. Kalian bayangkanlah sendiri seperti apa reaksi yang muncul di wajah Julia dan Briana ketika melihat kemunculan Lu di sana.
“Bibi, terima kasih sudah mengantarkan aku kemari. Kalian semua baik sekali,” ucap Lu seraya tersenyum manis kepada para tetangga yang dengan begitu baiknya bersedia mengantarkan Lu ke tempat Briana bekerja.
“Ah, kau tidak perlu sungkan, Lu. Kalau begitu ayo kita duduk di sana. Ada hal penting yang ingin kami bicarakan denganmu. Ayo!”
Meski sebenarnya Lu sudah sangat ingin menghampiri Briana, dia tak kuasa menolak ajakan ibu-ibu ini yang sudah lebih dulu menyeret tangannya dan mencari tempat duduk di dalam café. Sambil mendengarkan ibu-ibu ini bicara, ekor mata Lu selalu melirik ke arah Briana. Dan jantungnya Lu tidak bisa berhenti berdebar karena ternyata Briana terus memperhatikannya. Bahagia, itu sudah pasti. Lu sampai tidak menyimak pembicaraan ibu-ibu ini dan hanya menganggukkan kepala saja saat dia ditanya.
“Aku sih setuju-setuju saja. Lagipula putrikulah yang paling cantik jika di bandingkan dengan putri kalian, jadi sudah pasti Lu akan menjadi menantuku,” sahut salah satu tetangga dengan begitu percaya diri.
“Apa kau bilang? Cihhh, dasar tidak tahu malu. Lebih baik kau simpan omong kosongmu itu karena undian ini masih belum di tentukan. Bisa sajakan kalau Lu lebih tertarik pada gadis yang berpenampilan sederhana? Tidak masalah kalah cantik karena putriku sendiri adalah jenis wanita karir yang good rekening. Jangan lupa ya kalau perut kita tidak akan kenyang jika hanya makan kecantikan, kita membutuhkan makanan yang semuanya dibeli dengan uang. Benar tidak?”
Sialan. Berani sekali para lebah betina ini menjadikan Lu sebagai bahan undian. Tidak bisa di biarkan.
Tak terima Lu menjadi bahan undian, Briana memutuskan untuk menggagalkan rencana licik para tetangganya. Dia benar-benar tak habis pikir mengapa orang-orang ini bisa begitu terobsesi pada Lu yang nyata-nyata hanyalah seorang pria idiot yang tidak bisa mengingat tentang siapa dirinya. Menyusahkan saja.
__ADS_1
“Kalau begitu sekarang kita ….
BRAAAKKKKK
“Astaga. Yakkk Briana. Apa-apaan kau. Ingin membuat kami mati jantungan apa bagaimana?” teriak salah seorang wanita sambil memegangi dadanya.
“Kalian itu yang apa-apaan!” sahut Briana balas berteriak dengan kuat. Dia tak peduli dengan keberadaan para pengunjung yang sedang makan di café. Briana sedang sangat marah, seluruh tubuhnya terasa sangat panas seperti sedang di panggang di dalam oven. “Woaaahhhh, para Nyonya sekalian. Kalian sebenarnya sadar tidak kalau Lu ini adalah manusia. Bisa-bisanya ya kalian menjadikannya sebagai barang arisan. Kau juga Lu. Kau bisu atau bagaimana hah! Harusnya itu kau menolak saat ingin dijadikan sebagai piala bergilir oleh orang-orang. Dasar idot kau.”
Suasana café menjadi sangat hening gara-gara Briana yang mengamuk. Bahkan mulut para pengunjung dan juga Julia sampai terbuka lebar saking kagetnya mereka melihat kebar-baran Briana yang dengan begitu berani memarahi Lu dan para tetangganya dengan begitu kejam. Julia tentu tahu kalau Briana sangat galak, tapi dia tidak menyangka kalau Briana akan bersikap sebrutal ini di hadapan para tetangganya sendiri. Sungguh gadis yang sangat berbahaya sekali.
“Kalian semua sekarang dengarkan aku baik-baik. Angkat kaki dari sini atau aku akan mematahkan kaki kalian semua agar kalian tidak bisa pulang ke rumah. CEPAT JAWAB!” teriak Briana dengan penuh emosi. Saking emoisnya, dada Briana sampai bergerak nair-turun dengan cepat.
“Ayo cepat pergi. Gadis galak ini kerasukan,” bisik salah seorang wanita ketakutan sambil mendorong temannya agar segera pergi dari cafe.
“Yakkk, aku dengar apa yang sedang kalian bisikkan ya!” sindir Briana. Dia terus memelototkan matanya sampai semua orang pergi dari sana.
Setelah mengusir para tetangganya dari café, kini giliran Lu yang menjadi sasaran Briana. Lu hanya diam sambil mengerjap-ngerjapkan mata saat Briana menatapnya dengan begitu bengis. Mirip seekor harimau yang sedang kelaparan dan siap untuk menerkam mangsa.
“Lu, kau ….
“Tadi aku meminta bantuan mereka untuk mengantaran aku kemari, Bri. Di rumah sangat sepi,” ucap Lu dengan santainya menyela perkataan Briana.
Reaksi Briana? Jangan di tanya lagi. Kesal melihat Lu yang malah menjelaskan alasannya bisa sampai di café, Briana memekik kuat sambil menghentak-hentakkan kedua kakinya ke lantai. Dia benar-benar sangat frustasi sekarang.
__ADS_1
ARRGGGHHHH Lu, aku benar-benar akan gila karenamu. Ya Tuhan, aku tidak tahan lagi!!
***