Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Mengintai


__ADS_3

"Sana masuk!"


"Tidak, kau saja."


"Yakk!"


"Aku malu, Julia. Bagaimana kalau nanti keluarganya Lu berpikir kita datang untuk meminta sumbangan? Kan tidak lucu," ucap Briana sambil terus bersembunyi di belakang tubuh Julia. Matanya yang memiliki lengkungan seperti bulan sabit nampak tak berhenti menyipit menyaksikan betapa besar dan megah bangunan rumah yang adalah kediaman keluarga Anderson.


Raut wajah Julia langsung terlihat buruk begitu mendengar ucapan Briana. Gadis ini benar-benar ya. Walaupun mereka bukan berasal dari keluarga kaya dan tidak mengenakan pakaian mahal, bukan berarti mereka layak di sebut sebagai peminta-minta juga. Astaga.


"Jul, sudah sana cepat masuk ke dalam dan tanyakan bagaimana keadaan Lu sekarang. Sana!" desak Briana sambil mendorong tubuh Julia agar bergerak maju.


"Bri, aku tanya padamu sekarang!" sahut Julia frustasi. "Tadi siapa yang kebakaran jenggot saat tahu kalau Lu menghilang?"


"Aku,"


"Lalu siapa yang memaksa untuk datang kemari tanpa menghiraukan keadaan cafe yang masih seperti kapal pecah?"


"Aku juga," sahut Briana dengan polosnya.


"Kalau begitu seharusnya yang masuk ke dalam itu kau, bukan aku. Lagipula Lu itukan kekasihmu. Jangan sampai ya aku terpikir untuk merebutnya darimu!"


Plaaakkk


Satu pukulan kuat mendarat tepat di bokong Julia begitu dia selesai bicara. Dan panasnya pukulan itu membuat Julia meringis kesakitan. Apa salahnya coba? Diakan hanya bicara fakta. Juga siapalah wanita yang tidak mungkin tertarik pada pria setampan dan sekaya Lu. Termasuk dirinya juga. Benar 'kan?


"Sekali lagi aku mendengarmu bicara melantur, jangan salahkan aku kalau aku akan langsung mematahkan tulang ekormu. Huh!" omel Briana sambil melayangkan tatapan bengis pada sahabatnya. Enak sekali wanita ini. Sampai sekarang saja antara dia dengan Lu masih belum ada kejelasan, sesuka hati saja berkata ingin merebutnya. Cari mati. Huh.


"Apa-apa langsung mengancam. Padahal itu salahmu sendiri karena tidak sat-set dalam bergerak," sungut Julia. "Ingat ya, Bri. Di dunia ini ada peraturan yang menyebut siapa yang lebih cepat dialah yang akan dapat. Jadi meskipun aku tertarik pada Wildan, tidak menutup kemungkinan kalau aku akan berbelok menyukai Lu jika seandainya ada kesempatan. Mengerti?"


"YAKKK!"


Tin tin


Briana dan Julia sama-sama berjengit kaget saat sebuah mobil menyorot wajah mereka sambil membunyikan klakson. Posisi mereka yang sedang menempel di dinding sontak membuat keduanya malu setengah mati begitu melihat siapa yang datang.

__ADS_1


"B-bagaimana ini, Julia. Erzan sepertinya menyadari keberadaan kita," bisik Briana kepanikan.


"Jelas dia menyadari keberadaan kita di sinilah. Secara, kita inikan bukan jin ataupun makhluk tak kasat mata. Wajar kalau dia melihat kita dengan jelas. Bagaimana sih!?" sahut Julia mengomeli Briana yang baru saja berucap nyeleneh.


"Lalu sekarang kita harus apa?"


"Menghilang dengan jurus seribu bayangan!"


"Sialan!"


"Hehee,"....


Erzan yang baru kembali dari luar bergegas menghampiri dua orang wanita yang tubuhnya melekat di dinding seperti seekor cicak. Dia lalu menaikkan sebelah alis matanya melihat mereka yang diam tak bergeming begitu dia sampai.


"Briana, Julia. Kalian berdua kenapa diam saja. Kalian belum mati 'kan?" tanya Erzan agak khawatir.


"Jadi kau masih bisa melihat kami?" kaget Julia. Yang benar saja. Padahal dia dan Briana sudah meramalkan doa untuk menghilang, tapi kenapa Erzan masih bisa melihat keberadaan mereka? Gagalkah?


"Kenapa aku harus tidak bisa melihat kalian? Memangnya apa yang sedang kalian lakukan? Bertingkah seperti cicak yang sedang mengintai mangsa. Ingin mencuri apa bagaimana?"


"Kita lupakan dulu tentang mengapa kami bisa bertingkah seperti tadi. Sekarang kau jawab pertanyaanku dengan seyuyur-yuyurnya. Oke?" ucap Briana galak. "Dimana Lu? Bagaimana dia bisa menghilang? Kalian mem-bullynya atau bagaimana?"


Erzan mengerungkan kedua alisnya saat di cecar seperti itu oleh Briana. Apa-apaan ninja warrior ini, seenaknya menuduh orang tanpa bukti. Tak mau kalah, Erzan dengan berani bersedekap tangan dan melayangkan pandangan yang tak kalah galak.


"Dengar ya Nona Briana si wanita terkuat di muka bumi. Kak Gavriel itu adalah kakakku, juga adalah anak Ayah dan Ibuku. Jadi bagaimana mungkin kami tega untuk mem-bullynya di saat kami baru saja berkumpul setelah dua bulan terpisah? Ayolah, jangan bercanda. Keluarga kami tidak seburuk yang kau pikir. Tahu?"


"Kalau benar begitu lalu kenapa Lu-ku bisa hilang? Tahu tidak. Selama dua bulan hidup bersamaku Lu tak pernah sekalipun berada di situasi seperti ini. Walaupun lupa ingatan tapi dia tidak pernah hilang. Tolong jelaskan!"


Julia langsung menatap tak percaya pada Briana yang baru saja berkata kalau Lu tidak pernah hilang selama tinggal bersamanya. Aneh. Wanita ini sedang amnesia apa bagaimana sampai melupakan fakta pernah meninggalkan Lu sendirian di tengah jalan hingga membuatnya kocar-kacir kebingungan karena tak tahu arah jalan pulang. Benar-benar ya. Orang kalau sedang jatuh cinta di matanya manusia lainlah yang bersalah. Sedang dirinya sendiri adalah yang paling benar. Haihhh.


"Briana, tolong berhenti menuduh kami yang tidak-tidak. Saat Kak Gavriel pergi, aku dan Wildan sedang berada di luar untuk mengurus pekerjaan. Dan menurut cerita Ayahku Kak Gavriel hanya berada di dalam kamar saja setelah melakukan terapi. Jadi tidak ada yang tahu dengan jelas kapan dan dengan siapa dia pergi melarikan diri. Tahu kau!" kesal Erzan mulai habis kesabaran.


"Rumah sebesar ini mana mungkin tidak ada kamera pengawasnya. Jangan bilang kalian tidak punya uang ya untuk memasang CCTV!" sindir Briana kekeh menuduh kalau Erzan dan keluarganya telah lalai menjaga Lu.


"Astaga, tentu saja di rumahku ada banyak sekali kamera pengawas. Sudah, masalah ini tidak akan pernah selesai kalau kita terus beradu otot leher. Lebih baik sekarang kau dan Julia masuk ke dalam rumah saja karena Wildan dan Kak Gavriel sedang dalam perjalanan pulang kemari!" sahut Erzan menyudahi perdebatan dengan Briana. Otaknya seperti mengeluarkan asap. Memang benar apa kata orang kalau berdebat dengan wanita tidak akan pernah bisa menang. Haihhh.

__ADS_1


"Erzan!"


Julia melongok ke belakang tubuh Erzan saat mendengar seseorang memanggilnya. Seorang pria tua yang wajahnya masih sangat tampan. Mungkin pria tua ini adalah ayah Erzan dan Lu. Tak mau di anggap calon istrinya Wildan yang tidak sopan, dengan cepat Julia mendorong Erzan ke samping kemudian membungkuk hormat di hadapan pria tua tersebut.


"Halo, Tuan. Selamat malam. Perkenalkan, saya Julia. Sahabat dekatnya Lu dan Briana,"


"Oh, Nona Julia ternyata. Wahhh, salam kenal kembali. Panggil Paman Dary saja ya," sahut Dary sambil tersenyum senang begitu tahu siapa wanita yang sempat dia anggap maling karena terus mengintai kediamannya.


"Hehe, baik Paman."


Erzan berbalik. Meninggalkan Briana yang sedang diam mematung sambil menatap syok ke arah sang ibu yang terlihat gugup menutupi wajahnya dengan tangan.


"Bu, Ibu kenapa. Ayo kemari. Aku akan memperkenalkan Ibu pada Briana dan Julia, orang yang telah menolong Kak Gavriel," ucap Erzan terheran-heran akan sikap sang ibu.


"A-apa? I-Ibu?"


"Ya, wanita cantik itu adalah Ibuku dan Ibu Kak Gavriel. Kenapa memangnya? Iri ya?"


"Omong kosong kau!"


Karena sudah terlanjur ketahuan, mau tidak mau akhirnya Helena menghampiri Briana. Dia lalu meringis sambil menggaruk pinggiran telinga melihat Briana menatapnya garang.


"Hehehe, hai Briana,"


"Oh, sekarang aku tahu. Jadi waktu itu Bibi sengaja bersimpati padaku kemudian memberikan provokasi agar aku menghubungi Lu lebih dulu. Iya?" tanya Briana langsung melayangkan tuduhan. Curang sekali wanita ini. Dan dia sangat bodoh karena tidak sadar sedang di intai oleh calon mertua sendiri. Eh, calon mertua? 🤔


"Briana, sopan sedikit. Kau itu sedang bicara dengan orangtuanya Lu. Jangan galak-galak!" tegur Julia dengan lembutnya. Apapun yang terjadi imagenya tidak boleh rusak di hadapan keluarga ini.


"Julia, kau kenapa jadi nyanya-nyenye begitu. Menggelikan sekali!"


Erzan, Tuan Dary dan Nyonya Helena kompak membelalakkan mata saat Julia dengan cepat membungkam mulut Briana. Dan mereka hanya bisa mengangguk saja ketika Julia meminta izin untuk masuk ke dalam rumah dengan tujuan ingin menyelamatkan Briana dari kerasukan.


Kau benar-benar sialan, Julia. Awas saja ya! Huh.


***

__ADS_1


__ADS_2