Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Ingin Di Jodohkan


__ADS_3

Pagi ini di kediaman keluarga Anderson terlihat berbeda dari biasanya. Nampak di sana Nyonya Helena, si nyonya rumah, sibuk bersama para pelayan di dapur. Nyonya rumah ini dengan penuh semangat memasukkan bumbu ke dalam sayuran yang tengah dimasaknya. Sesekali dia juga melempar candaan dengan para pelayan, membuat suasana dapur jadi terasa jauh lebih hangat.


"Menurut kalian Briana cocok tidak jika menjadi nyonya di rumah ini?" tanya Helena sembari menuangkan sedikit kuah ke dalam sendok. Setelah itu dia mencoba rasa dari masakan yang hampir matang. "Hummm, enak sekali. Briana pasti suka dengan masakan yang aku buat."


"Menurut kami Nona Briana sangat cocok jika di pasangkan dengan Tuan Gavriel, Nyonya. Meskipun wajahnya terlihat garang, tapi sepertinya dia mempunyai kepribadian yang cukup baik. Karena jika tidak, Nona Briana tidak mungkin datang ke rumah ini saat tahu kalau Tuan Gavriel menghilang," jawab salah satu pelayan.


"Kalian benar sekali. Garis wajah Briana memang terlihat seperti dewi perang. Akan tetapi dia mempunyai hati yang begitu baik. Walaupun hidup dalam keterbatasan ekonomi, dia masih bersedia untuk menampung seseorang yang notabennya sedang sakit. Briana merawat putraku dengan sangat baik. Aku berhutang budi padanya."


"Kalau begitu adakah kemungkinan Nyonya akan segera menikahkan mereka?"


Helena menghela nafas. Tentu saja itu sangat mungkin. Akan tetapi dia juga tidak mau memaksakan. Saat ini kondisi Gavriel masih belum pulih sepenuhnya. Helena takut ketika Gavriel sembuh nanti, putranya itu akan lupa pada Briana. Kan bisa repot nanti jika mereka sudah menikah. Ya kali putranya menjadi duda muda.


"Kita lihat bagaimana ke depannya nanti. Kalau dari aku dan suami sih tidak masalah mereka menikah. Kami malah senang karena rumah ini akan bertambah semakin ramai jika Briana dan Julia menjadi bagian dari keluarga Anderson," ucap Helena berandai-andai memiliki dua menantu sekaligus. Pasti rasanya menyenangkan sekali bisa menghabiskan waktu bersama dua gadis berkepribadian garang dan berisik itu. Xixixixi.


"Nona Julia? Memangnya Tuan Gavriel akan langsung memperistri dua orang ya, Nyonya?" tanya pelayan seraya menampilkan mimik wajah kebingungan. Mereka tidak paham akan perkataan sang nyonya yang baru saja menyebut kalau Nona Briana dan Nona Julia menjadi bagian keluarga dari rumah ini.


"Hei, kalian ini bicara apa. Gavriel itu hanya menyukai Briana. Dia mana mungkin mau menikah dengan wanita sejenis Julia. Mustahil itu!" jawab Helena menepis pemikiran menyimpang dari para pelayan.


"Lalu Nona Julia?"


"Hmmm, aku berencana menjodohkannya dengan Erzan. Mereka itukan sama-sama tidak laku, jadi ya sudah aku pasangkan saja sekalian. Lumayanlah untuk mempersingkat waktu agar aku dan suamiku bisa segera mendapatkan cucu. Pasti seru sekali jika Erzan dan Gavriel berlomba-lomba menghamili istri mereka. Benar tidak?"


Praanngggg


Semua orang yang berada di dapur dikejutkan oleh suara benda jatuh yang berasal dari arah pintu. Mereka kemudian menoleh, menatap heran pada dua anak manusia yang tengah terdiri dengan ekpresi aneh di wajah keduanya.

__ADS_1


Erzan dan Julia. Mereka yang ingin masuk ke dapur bagai tersambar geledek mendengar keinginan sang nyonya rumah yang berniat menjodohkan mereka. Bayangkan. Ingin menjadikan mereka pasangan suami istri. Sungguh, kata-kata ini merupakan kata terburuk yang pernah di dengar oleh Erzan dan Julia. Di jodohkan? YA TUHAAANNNN!!


"Erzan, jangan kau pikir mentang-mentang aku sedang berada di wilayahmu lalu kau bisa seenak jidat memaksa untuk menikah denganku ya? Walaupun kau kaya, aku tidak akan pernah sudi menikah dengan laki-laki kasar sepertimu. Sudah ada pria lain di hatiku, jadi jangan harap perjodohan ini bisa berlanjut. Paham kau?" ucap Julia setelah tersadar dari kekagetannya. Dia kemudian menoleh, menatap sinis pada pria yang tengah menatapnya sambil memelototkan mata. "Apa? Tidak terima? Mau berduel, hem?"


"Yakk Julia, sebenarnya kau itu punya otak tidak sih. Bagaimana bisa kau terpikir kalau aku begitu ingin menikah dengan gadis sepertimu? Astaga. Dibunuh pun aku akan lebih memilih mati daripada harus menjadikan katak berisik sepertimu sebagai pendamping hidupku. Jangan berkhayal kau!" amuk Erzan tak terima akan tuduhan yang dilayangkan oleh gadis di sebelahnya. Enak saja. Bahkan dalam mimpi pun tak pernah terbersit niat untuk menikahi Julia. Membuat kesal saja. Huh.


"Apa kau bilang? Katak berisik? YAKKKK!"


"Sudah bertengkarnya?"


Helena menatap seksama ke arah Erzan dan Julia yang hendak melakukan baku hantam setelah saling tuduh. Sambil membawa centong pengaduk sayur, Helena berjalan menghampiri mereka. Setelah itu dia berkacak pinggang, menatap jengkel pada putranya yang terlihat kesal.


"Harus berapa kali Ibu bilang kalau Ibu itu tidak suka melihat pria bersikap kasar pada wanita. Perlukah Ibu memotong tanganmu agar kau bisa bersikap sedikit lebih sopan, Erzan?"


"Diam kau!" Erzan menghardik.


"Erzan!"


"Ibu, kenapa Ibu jadi lebih membela Julia sih. Yang anak kandung Ibu itukan aku, seharusnya aku yang Ibu bela. Bukan katak berisik ini!" protes Erzan tak terima dianaktirikan oleh sang ibu. Tidak Briana tidak Julia. Sekalinya datang kedua wanita ini langsung menggeser posisinya sebagai anak bungsu di rumah ini. Menjengkelkan.


"Cihh, begitu saja merajuk. Lemah!"


"Kau!"


"Haihh, makin dilihat kelakuan kalian malah semakin cocok saja. Sepertinya niat Ibu sudah benar ingin menjodohkan kalian berdua. Bagaimana, kalian setuju tidak?"

__ADS_1


Mulut Erzan dan Julia langsung terkatup rapat begitu wanita di hadapan mereka kembali berucap hendak melakukan perjodohan. Sungguh pemaksa sekali. Sudah tahu mereka bagaikan anjing dan kucing, bagaimana bisa terpikir untuk menjodohkan. Apa tidak kiamat besar namanya jika mereka dipersatukan dalam ikatan pernikahan? Ada-ada saja.


"Nah, diamkan kalian. Berarti fiks ya kalian setuju untuk Ibu nikahkan!" goda Helena merasa gemas melihat tingkah Erzan dan Julia yang langsung membeku diam begitu dia mengancam akan menjodohkan keduanya.


"Bibi Helena, permisi sebentar. Tiba-tiba saja usus di dalam perutku keseleo, jadi aku perlu kembali ke kamar untuk mengobatinya. Aku pamit dulu ya," ucap Julia tak kuat menahan kekesalan. Menggunakan jurus seribu bayangan, secepat kilat dia sudah menghilang dari sana. Satu tujuan Julia, bersembunyi di bawah selimut tebal kemudian mengumpat sesuka hati. Benar-benar ya ibunya Erzan. Membuat orang hampir kena serangan jantung saja.


Sepeninggal Julia, Erzan dan ibunya hanya diam sambil saling menatap. Ingin marah, tapi pelakunya adalah pemegang kasta tertinggi di rumah ini. Jadilah Erzan hanya bisa terus menghela nafas, mencoba untuk meredam emosinya agar tidak meledak.


"Julia cukup cantik. Ibu suka." Helena membuka suara setelah beberapa menit terdiam. Dia terlalu kaget melihat prilaku Julia yang tidak ada jaim-jaimnya. Gadis itu bahkan seperti tak peduli dengan nama baiknya sendiri. Membuat Helena jadi semakin yakin untuk menjadikannya sebagai calon mantu.


"Dia wanita, sudah pasti akan terlihat cantik," sahut Erzan malas-malas. "Tapi mau secantik apapun Julia, di mataku Ibu tetap menjadi pemenangnya. Di dunia ini tidak ada satupun wanita yang bisa mengalahkan kecantikan bidadari yang telah melahirkan dan membesarkan aku hingga sekarang. Kau yang terbaik, Ibu."


"Jangan memaksakan diri kalau sedang kesal, Erzan. Ibu tahu kok kalau kau tidak benar-benar mengatakannya dari dasar hati. Iya 'kan?"


"Hmmm," ....


Mata Erzan terpejam. "Tolong buang jauh-jauh niatan Ibu yang ingin menjodohkan aku dengan Julia. Aku mohon!"


"Kalau Ibu menolak?" Helena menantang. Putranya ini tak pernah sekalipun terlibat dengan yang namanya wanita. Jadi Helena berniat mendoktrin pikiran Erzan dengan terus memancing kekesalan setiap kali nama Julia di sebut. Ada seseorang yang pernah berkata kalau cinta hadir karena terbiasa. Dan dia akan membiasakan telinga Erzan untuk mendengar nama Julia. Hehehe.


"Bisakah kita jangan berdebat wahai wanita cantik? Kasihanilah aku karena sebentar lagi aku sudah harus bertempur dengan dewa kematian di kantor. Ya?" rengek Erzan.


Helena terbahak. Dia kemudian mengangguk, setuju untuk tidak menambah beban putranya. Tapi itu hanya berlaku untuk sekarang saja ya. Besok-besok ... tentu saja tidak. Haha.


***

__ADS_1


__ADS_2