Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Berbaik Hati


__ADS_3

Plaaakkkk


Seorang wanita dengan pakaian yang sangat luar biasa seksi hanya bisa menangis pasrah saat pipinya di tampar oleh seseorang yang tak di kenalinya. Dia yang kala itu sedang asik menari di sebuah klab malam tiba-tiba saja di seret keluar oleh dua orang pria berbadan kekar lalu membawanya pergi tak jauh dari lokasi klab berada.


“Kau … apa maksudmu memfitnah Gavriel kalau kalian pernah tidur bersama hah? Ingin menguras hartanya atau karena ada seseorang yang mempekerjakanmu untuk menjelekkan namanya? Cepat jawab!” teriak Jenny sambil menelan ludah menyaksikan bagaimana sepasang gunung Himalaya itu hampir meloncat keluar dari balik pakaian wanita tersebut. Mengerikan sekali. Bulu kuduknya sampai berdiri semua. Sungguh


Baru kali ini aku melihat langsung ada gunung yang besarnya hampir melebihi buah kelapa. Aku jadi penasaran berapa ukuran bra yang di pakai oleh wanita ini. Hiii.


“Hiksss, Nyonya. S-saya memang benar adalah kekasihnya Gavriel dan kami pernah tidur bersama. Saya tidak bohong,” jawab si wanita. Dia menangis sesenggukan sambil memegangi pipinya yang terasa kebas.


“Masih tidak mau mengaku ternyata. Baiklah. Karena kau begitu gigih mempertahankan kebohonganmu, maka jangan salahkan aku kalau aku akan menjambak rambutmu sampai botak!”


“Ta-tapi Nyonya, Anda tidak boleh melakukan kekerasan kepada saya. Anda bisa ….


“Bisa apa?”


Hendar menyela. Segera dia datang mendekat kemudian memeluk Jenny. Lancang sekali wanita ini mengancam istrinya. Selama ada Hendar, apapun yang dilakukan oleh Jenny tidak akan ada yang berani menuntut. Heh.


“Nona, pria yang sedang coba kau ganggu adalah kekasih dari anak kami. Sebagai orangtua yang baik, kami jelas tidak akan tinggal diam. Gara-gara editan fotomu yang jelek itu istri dan anakku sampai merasa terlukai. Karenanya kau terimalah saja hukuman yang akan istriku berikan jika kau tetap menolak untuk membuka mulut. Mengerti?!” ancam Hendar dengan penuh intimidasi.


Tubuh Jenny menegang kaku saat Hendar menyebut Briana sebagai anak mereka. Jauh di dalam lubuk hati, ada rasa keterharuan mendengar pengakuan tersebut. Sayang sekali itu hanya demi membuatnya merasa senang saja. Andai Hendar benar-benar bisa menerima kondisi Briana yang terlahir sebagai seorang wanita, Jenny pasti akan menjadi orang paling bahagia di muka bumi ini.


“A-apa? J-jadi Gavriel adalah kekasih dari anak kalian?”


“Iya. Kenapa memangnya? Tidak suka?” sahut Jenny sinis. Dia melepaskan diri dari pelukan Hendar kemudian berjongkok di hadapan wanita si pemilik gunung Himalaya. “Jika di bandingkan dengan putriku, kau jelas tidak ada apa-apanya. Dan satu-satunya hal yang menonjol dari dirimu hanyalah tentang ukuran buah dadamu itu. Kau terlalu banyak menyuntikkan silikon ke dalamnya, Nona. Itu jadi terlihat mengerikan kalau kau mau tahu!”


Di ejek seperti itu membuat si wanita meradang. Reflek dia mengangkat tangan hendak menampar wanita yang baru saja mengejeknya. Namun belum juga tangannya menyentuh target, rambutnya sudah lebih dulu ditarik dari belakang. Sontak hal itu membuat kepalanya jadi terdongak kemudian tubuhnya limbung dan ambruk ke samping.

__ADS_1


“Awwhhhhhh!”


Jenny menghela nafas. Yang menarik rambut wanita ini adalah seorang penjaga. Mungkin penjaga melakukannya karena takut wanita ini akan mengancam keselamatannya. Tapi mlihat wanita itu yang terus menggumam kesakitan membuat Jenny jadi merasa tidak tega. Dia bingung apakah harus memaafkan wanita tersebut atau malah mengeksekusinya sesuai rencana awal. Dilema, Jenny memutuskan untuk menjauh dari sana.


“Sayang, kau bilang ingin menjambak rambut wanita itu sampai botak. Lakukan saja, jangan takut. Selama ada aku, tidak akan ada siapapun yang berani menuntut ataupun membalas dendam padamu. Oke?" ucap Hendar kurang senang melihat raut tak nyaman di wajah istrinya. Tangan Hendar sebenarnya sudah gatal dari tadi. Akan tetapi dia masih berusaha menahannya karena tak mau mengganggu kesenangan Jenny.


"Apa tidak apa-apa kalau aku menyiksanya?" bisik Jenny. "Aku takut di kutuk Tuhan."


"Lalu apa yang kau inginkan sekarang? Beritahukan saja padaku dan biar aku saja yang melakukan. Kutukan Tuhan aku yang akan menanggungnya untukmu," sahut Hendar santai. Tangannya terulur mengelus puncak kepala Jenny, merasa senang karena hati wanita ini tidak sepenuhnya berubah brutal. Jenny masih mau bergantung padanya. "Jangan khawatir. Oke?"


"Ummm bisa tidak kau paksa wanita ini supaya mau buka mulut saja. Aku tidak tega jika harus benar-benar membotaki kepalanya. Kasihan!"


"Benar kau hanya menginginkan hal itu?"


Jenny mengangguk. Tekadnya sudah bulat kalau dia tidak akan menyiksa wanita tersebut.


Segera Hendar berjongkok di samping wanita itu lalu mencekiknya tidak terlalu kuat. Setelahnya dia berbisik, mengancam dengan gaya yang biasa dia lakukan ketika menghadapi musuh.


"Istriku sudah berbaik hati untuk tidak membotakimu, tapi aku tidak sebaik itu. Lebih baik sekarang kau ceritakan kebenarannya sebelum aku meminta anak buahku untuk membunuh dan memotong-motong tubuhmu menjadi beberapa bagian. Ingat, yang telah kau singgung adalah kekasih dari putriku. Jadi kalau kau masih menolak untuk bicara jujur, maka ucapkanlah selamat tinggal pada dunia malam ini juga. Bagaimana?"


Peluh tampak membanjir membasahi wajah wanita itu begitu Hendar selesai berbisik. Sadar kalau dirinya telah menyinggung orang yang salah, dengan cepat wanita itu mengatupkan tangan di depan dada. Bibirnya tampak gemetar ketika ingin berbicara, yang mana membuat Hendar tersenyum sinis mengejeknya.


"T-Tuan, N-Nyonya. S-saya sebenarnya t-tidak pernah mengenal ataupun berpacaran dengan Gavriel. Waktu itu seseorang membayar saya untuk melakukan semua ini guna mencari tahu kebenaran tentang Gavriel yang katanya menghilang karena sakit keras. O-orang ini juga berjanji akan menikahi saya jika berhasil menduduki jabatan sebagai Presdir di Under Group. Makanya saya diminta datang ke sana lalu berpura-pura mengaku sebagai kekasihnya. Saya bahkan diberi sebuah foto yang di dalamnya ada saya dan Gavriel sedang dalam kondisi tidak berpakaian. Sungguh, saya hanya diminta untuk berbohong saja, Tuan, Nyonya. Tolong jangan sakiti saya!"


Hendar menoleh. Dia menghela nafas panjang melihat Jenny yang malah sibuk merekam pengakuan wanita ini. Ada-ada saja sih. Jangan bilang Jenny sedang membuat bukti yang nanti akan diserahkan pada Briana ya. Astaga.


"Jadi benar ya kau dan Gavriel tidak pernah saling kenal sebelumnya?" tanya Jenny memastikan. Dia lega sekali mendengarnya.

__ADS_1


"Benar, Nyonya. Saya bahkan baru sekali ini mendengar tentang Gavriel. Sungguh!"


"Ya sudahlah kalau begitu. Karena kau bersedia mengaku, maka sekarang kau sudah boleh pergi. Tapi ingat, jangan coba-coba lagi mengganggu hubungan percintaan putriku. Karena jika aku sampai mengetahui kau kembali membuat ulah, maka aku tidak akan berbaik hati lagi seperti sekarang. Paham?!"


"P-paham, Nyonya."


"Kembalilah bersenang-senang dengan temanmu yang lain. Dan maaf tadi aku sudah menamparmu. Aku kesal karena kau tidak mau bicara jujur. Harus dimaafkan ya. Karena jika tidak, Tuhan pasti akan sangat marah padamu!"


Setelah berkata seperti itu Jenny langsung mengajak Hendar untuk masuk ke dalam mobil. Teringat akan janjinya, dia berniat mengajak Hendar untuk bermalam di hotel saja.


"Menginap di hotel?" pekik Hendar sambil menelan ludah.


Kenapa Jenny jadi mesum begini ya? Apa mungkin ini juga di sebabkan oleh Briana dan Julia? Ya ampun istriku kenapa jadi seperti ini.


"Kau tidak mau?" tanya Jenny heran melihat reaksi kaget di diri Hendar. Aneh sekali. Bukankah itu artinya mereka bisa menghabiskan malam dengan suasana yang jauh lebih tenang ya?


"Mau, tentu saja aku sangat mau, sayang," Hendar menjawab dengan sangat cepat. Dia lalu memerintahkan penjaga agar mengantarkannya pergi ke sebuah hotel paling top di kota ini. Setelah itu Hendar merapatkan pelukan ke tubuh Jenny sambil dia berbisik romantis. "Tolong nanti jangan memintaku untuk berhenti ya. Aku akan menagih dari jam ke jam setelah dua puluh tahun lebih kau anggurkan!"


"Apa kau ingin membuatku mati kelelahan?"


"Kalau begitu kita akan mati bersamaan."


Jenny tergelak. Dia lalu menggelengkan kepala saat melihat senyum aneh di bibir Hendar.


Semua pria sama saja. Hmm.


***

__ADS_1


__ADS_2