Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Jatuh Cinta Sejuta Rasanya


__ADS_3

📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜



***


“Permisi, Tuan. Bolehkah aku meminta nomor ponselmu?” tanya seorang wanita dengan wajah yang sedikit merona. Dia malu.


Lu yang tengah menata makanan di atas meja hanya tersenyum saja saat pengunjung café meminta nomor ponselnya. Setelah itu Lu dengan sopan merespon pertanyaan wanita yang terlihat malu-malu kucing sambil menundukkan kepala.


“Maaf, Nona. Bukan maksudku tidak mau membagi nomor ponselku kepadamu, tapi masalahnya adalah aku tidak punya ponsel,” ucap Lu dengan jujur.


“Ha? Kau tidak punya ponsel?”


Si wanita nampak terkejut mendengar pengakuan Lu. Wanita itu kemudian saling melempar pandangan dengan wanita yang duduk di sebelahnya. Kedua orang ini terlihat tidak mempercayai pengakuan Lu. Hingga salah satunya memberanikan diri untuk bertanya alasan mengapa Lu bisa tidak memiliki ponsel.


“Tuan, sekarang ini zaman sudah sangat canggih. Mustahil ada orang yang tidak memiliki ponsel.”


“Tapi aku memang benar-benar tidak memilikinya, Nona,” sahut Lu meyakinkan si wanita. Ekor matanya kemudian melirik Briana yang baru saja keluar dari arah dapur. Lu kemudian tersenyum.


Untuk apa aku memiliki ponsel kalau aku selalu berada di dekat wanita yang kusukai. Bahkan kami tinggal di bawah atas yang sama. Jadi mempunyai ponsel ataupun tidak itu sama sekali tidak penting untukku. Yang terpenting Briana selalu berada dalam jarak pandang mataku. Hmmm.


“Em kalau begitu kau mau tidak kalau aku membelikanmu satu buah ponsel? Bukan maksud apa-apa, aku hanya ingin lebih mudah jika ingin mengetahui tentangmu. Apa kau keberatan, Tuan?” tanya si wanita menawarkan diri untuk membelikan ponsel. Tatapannya menyiratkan betapa dia sangat berharap kalau pelayan tampan ini tidak akan menolak niat baiknya.


“Maaf, Nona. Tapi aku tidak tertarik untuk memiliki ponsel. Terima kasih banyak atas niat baikmu,” jawab Lu dengan sopan menolak tawaran si wanita tersebut.


Tak ingin meladeni, Lu memutuskan untuk pergi dari sana. Dia lalu berjalan menghampiri Briana yang sedang duduk bersama Julia. Sambil meletakkan nampan di atas meja, Lu bertanya apakah masih ada pekerjaan lain yang perlu dia lakukan atau tidak.

__ADS_1


“Bri, apa masih ada pesanan yang perlu kuantarkan?”


“Tidak. Pesanannya sudah di antar semua,” jawab Briana cetus. Tubuhnya serasa dibakar api neraka setelah melihat Lu tebar pesona pada dua orang wanita yang menjadi pengunjung café ini. Sangat menjengkelkan.


“Oh, begitu ya. Em, kau sudah makan siang belum? Kalau belum, mau aku siapkan tidak?” tanya Lu agak bingung melihat sikap Briana yang terkesan acuh kepadanya. Sambil menunggu Briana menjawab, Lu mengingat-ingat apakah dia telah melakukan kesalahan atau tidak. Namun, sekeras apapun dia berusaha mengingat, Lu tetap tidak menemukan dimana letak kesalahannya. Dia kebingungan melihat Briana yang tiba-tiba bersikap cetus seperti ini.


“Aku sudah kenyang.”


“Kenyang? Memangnya tadi kau makan apa?”


“Makan hati!” hardik Briana sambil memelototkan mata ke arah Lu.


Julia mati-matian menahan tawa melihat Briana yang mengamuk setelah melihat Lu berbincang dengan wanita lain. Sungguh lucu sekali menyaksikan sahabatnya merajuk karena cemburu. Kalau saja Julia tak takut di banting oleh Briana, sekarang juga dia pasti akan langsung mengejeknya. Tapi demi keamanan rumah tangga Lu dan Briana, Julia memutuskan untuk tidak mengganggu pertengkaran mereka dulu. Menjadi penonton jauh lebih asik bukan? Hahaha.


“Briana, apa kau marah karena tadi aku berbicara dengan dua wanita itu?” tanya Lu mencoba menebak penyebab Briana marah kepadanya.


“Cihhhh, kenapa juga aku harus marah karena kau berbicara dengan mereka. Mulut-mulutmu, tidak ada hubungannya denganku!” jawab Briana semakin kesal. Dia lalu melipat tangan di depan dada sambil melihat ke arah lain. Dia enggan menatap Lu. Dongkol.


“Yaaakkkk!”


Para tamu yang sedang makan di café langsung menoleh ke arah Briana saat dia tiba-tiba berteriak. Sontak saja hal ini membuat Briana merasa sangat kikuk. Segera dia meminta maaf dan beralasan kalau tadi jantungnya di gigit nyamuk. Lu dan Julia yang mendengar alasan tak masuk akal Briana hanya tertawa saja saat para tamu terlihat kebingungan. Jelas bingunglah. Mana ada nyamuk yang bisa menggigit jantung. Benar tidak?


“Ekhmmm, Briana. Kalau kau cemburu ya sudah akui saja. Tidak perlulah sampai bicara melantur di hadapan para pengunjung café. Menggelikan sekali,” ledek Julia sambil menyeringai tipis. Segera dia menyambar nampan lalu dia gunakan untuk melindungi kepalanya dari Briana hendak melakukan penyerangan.


Panggggg


“Auwwhhhh!” pekik Briana kesakitan setelah memukul nampan dengan sangat kuat.

__ADS_1


“Bri, hati-hati!”


Lu langsung menarik tangan Briana kemudian memeriksa telapak tangannya yang sudah memerah. Dia kemudian menarik nafas perlahan sebelum menatap Briana dengan ekpresi yang begitu khawatir. “Rasanya pasti sakit sekali. Aku bantu meniupnya ya?”


Bak kerbau yang di colok hidungnya, Briana dengan patuh menganggukkan kepala. Dan pipinya mulai merona saat Lu dengan begitu hati-hati meniup telapak tanganya yang memang terasa lumayan panas setelah menggeplak nampan. Julia yang menyaksikan pemandangan manis ini nampak terkejut melihat betapa pedulinya Lu pada Briana. Benar-benar pria idaman. Julia berani jamin kalau jantungnya Briana pasti sedang jedag-jedug kegirangan sekarang.


Tak mau menjadi kambing congek yang di tinggal bermesraan, iseng-iseng Julia bertanya tentang obrolan Lu bersama dua wanita pengunjung café. Lumayanlah untuk memanaskan keadaan. Hehe. “Lu, tadi wanita itu bertanya apa padamu? Apa mereka komplain tentang makanan yang di sediakan café kita?”


“Tidak. Mereka tidak mengatakan apa-apa tentang café ini. Mereka meminta nomor ponselku,” jawab Lu sambil mengusap-usap tangan Briana yang masih agak memerah. Dia kemudian mendongak, menatap seksama ke arah Briana yang juga tengah menatapnya. “Tadi mereka menawarkan untuk membelikanku ponsel baru, tapi aku tolak. Aku pikir aku tidak terlalu memerlukannya karena selama aku tetap bersama Briana, maka aku tidak membutuhkan apapun lagi. Iyakan, Bri?”


Blussshhhh


Wajah Briana langsung memerah seperti buah tomat setelah mendengar penuturan Lu. Hatinya tiba-tiba saja melayang entah kemana begitu mendengar pengakuan Lu yang menyebut kalau selama Lu bisa bersamanya, maka Lu tidak membutuhkan apapun lagi. Sebagai seorang wanita normal, pengakuan seperti ini jelas sangat memporak-porandakan perasaannya. Dan itulah yang sedang terjadi pada Briana sekarang.


Kenapa di dalam perutku seperti ada ratusan kupu-kupu yang sedang beterbangan ya?Rasanya geli sekali, dan… kenapa hatiku berbunga-bunga? Apa Tuhan menyulap perutku menjadi sebuah taman yang sedang bersemi?


“Haihhhh, aku mencium aroma musim semi dimana bunga-bunga sedang mekar dengan indahnya. Aku juga bisa mencium aroma pepohonan yang basah karena tersiram air hujan. Jatuh cinta sungguh berjuta rasanya. Benar tidak, Bri?” goda Julia sambil menoel dagu Briana yang sedang berbalas tatapan dengan Lu.


“Iya, kau benar. Jatuh cinta memang berjuta rasanya,” sahut Briana begitu saja. Namun sedetik kemudian Briana langsung tersadar kalau dia barusaja salah bicara. Dia dengan cepat menarik tangannya yang masih di pegang oleh Lu kemudian pergi melarikan diri ke dapur.


“Hahahahahaha. Ciyeeee malu karena ketahuan sedang jatuh cinta. Ciyeee!” teriak Julia dengan tengilnya menyoraki Briana. Setelah itu dia tertawa terbahak-bahak, mengabaikan Lu yang tengah tersenyum-senyum tidak jelas. “Hahahaha, lucu juga ya melihat orang yang sedang kasmaran. Briana-Briana, kau ini kenapa menggemaskan sekali sih. Iyakan Lu, Briana menggemaskan sekali bukan saat sedang bertingkah malu-malu begitu?”


“Ya. Dia terlihat sangat menggemaskan saat sedang malu-malu,” jawab Lu mengiyakan. “Briana juga terlihat sangat manis saat sedang salah tingkah seperti tadi. Aku menyukainya.”


Seketika tawa Julia terhenti saat dia mendengar perkataan Lu. Setelah itu Julia menepuk bahunya pelan. “Semangat. Taklukkan perawan galak itu dengan pesonamu. Buat dia tak berdaya di bawah kuasamu. Ingat Lu, Briana masih perawan ting-ting. Lakukanlah yang terbaik untuknya. Oke?”


“Pasti.”

__ADS_1


“Nah, begini baru lelaki. Hehe!”


***


__ADS_2