Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Misi Selesai


__ADS_3

Wildan menutup ponselnya dan langsung menoleh pada sang atasan. Dia baru saja menyelesaikan panggilan yang berasal dari Nona Briana. Dan ya, misi selesai. Anak mafia itu masuk perangkap. Hehe.


"Seperti yang kita harapkan, Tuan. Nona Briana mengamuk dan berkata ingin mencincang dada wanita itu!" lapor Wildan sambil menahan tawa.


"Benar-benar kekasihku. Reaksinya sangat sesuai dengan yang aku mau," sahut Gavriel seraya meng*lum senyum. Setelah itu Gavriel menunduk sambil menempelkan tangan di kening, merasa lucu saat membayangkan betapa sialnya nasib wanita itu jika sampai bertemu dengan Briana. "Untung saja kita tidak tahu di mana wanita itu tinggal, Wil. Kalau tahu, di jamin hari ini juga wanita itu pasti akan kalang kabut di hadang oleh Briana. Atau malah akan babak belur di hajar olehnya. Hmmm,"


"Tuan, saya rasa Anda sebaiknya jangan senang dulu. Mungkin kita tidak bisa memberitahunya tentang tempat tinggal wanita itu, tapi Anda jangan lupa kalau Nona Briana punya Julia dan Nyonya Jenny. Dengan kekuatan mereka, saya rasa tidak butuh waktu lama untuk bisa mendapatkan apa yang Nona Briana mau. Apalagi jika Nyonya Jenny sampai meminta bantuan dari anak buahnya Tuan Hendar. Di jamin wanita itu akan segera tamat!"


Senyum di bibir Gavriel langsung lenyap begitu Wildan mengingatkan tentang deking yang berada di belakang Briana. Jakunnya nampak bergerak cepat, panik karena lupa kalau Briana adalah anak mafia.


"Siapa Nyonya Jenny?"


Erzan yang sejak tadi hanya diam mendengarkan percakapan antara Wildan dengan kakaknya mendadak jadi merasa penasaran dengan nama Nyonya Jenny. Siapa wanita ini?


"Nyonya Jenny adalah ibunya Briana," jawab Gavriel. Biarlah Erzan mengetahui hal ini, Gavriel sudah memikirkan dampak baik dan buruknya. "Tapi masih abu-abu. Aku dan Wildan belum menemukan bukti akurat kalau dia adalah benar orangtuanya!"


"Oh." Erzan berdehem. "Kak, kau serius membiarkan Briana menemui wanita berdada kol itu? Apa kau tidak khawatir Briana akan membunuhnya? Jangan lupa, Kak. Kekasihmu itu spek tentara militer, kekuatannya hampir sama dengan kekuatan banteng. Wanita itu bukan tandingannya!"


"Itu sudah resiko yang harus di terima wanita itu karena dia lancang mengganggu kekasih dari wanita lain. Mungkin jika dia hanya sekedar bicara saja, aku tidak akan mungkin memberitahukan hal ini pada Briana. Akan tetapi dia lancang mengedit fotoku hingga terlihat sangat menjijikkan. Jadi jangan salahkan aku kalau aku membiarkan Briana mengetahui hal ini," sahut Gavriel masa bodo.

__ADS_1


"Haihh, tidak laki-laki tidak perempuannya. Kenapa sih kalian berdua itu suka sekali dengan yang namanya menyiksa orang. Kasihan, Kak!"


Gavriel acuh. Selama bukan Briana dulu yang memulai, maka Gavriel akan diam saja. Lagipula apa salahnya sih meminta perhatian dari kekasih sendiri. Rasanya sangatlah menyenangkan saat pasangan kita sedang bersikap posesif.


Ah, bagaimana aku bisa lupa soal ini. Erzan kan tidak punya pasangan, jelas dia tidak tahu seperti apa rasanya di kekang oleh gadis yang kita sukai. Kasihan, hemmm.


"Tuan Gavriel, Anda belum makan siang. Ingin makan di kantin atau memesan online?" tanya Wildan yang baru teringat kalau dia dan atasannya belum makan. Karena terlalu tegang akibat bertemu Julia, mereka sampai lupa dengan cacing yang tinggal di dalam perut.


"Kita makan di kantin saja. Kebetulan aku sedang ingin melihat-lihat perusahaan ini," jawab Gavriel kemudian mengajak Wildan keluar dari ruangan Erzan.


Sepeninggal kakaknya, Erzan diam-diam memikirkan satu keanehan yang dirasakannya. Sikap sang kakak sangat aneh.


"Kenapa ya aku merasa kalau Kak Gavriel itu sebenarnya sudah sembuh, tapi pura-pura masih sakit karena sedang menutupi sesuatu hal? Ini aku yang salah menilai atau karena memang seperti itu adanya sih. Ya ampun, kepalaku pusing!"


***


"Aku dan Jenny saling kenal setelah dia tak sengaja menyelamatkan aku dari ancaman kematian. Tak lama setelah itu kami menikah, tapi hubungan kami di tentang oleh keluargaku. Aku tidak peduli dan tetap membawa Jenny masuk ke keluarga Origan. Dia wanita yang sangat luar biasa sekali. Dia pantang menyerah mengambil hati semua orang. Hingga tak lama setelah itu Jenny mengumumkan kalau dirinya sedang mengandung. Kedua orangtuaku pun akhirnya luluh. Mereka akrab, akur layaknya mertua dan menantu. Pada hari di mana Kellen lahir, tiba-tiba saja terjadi masalah di perusahaan. Dengan sangat terpaksa aku meninggalkan Jenny yang sedang berjuang melahirkan anak kami di rumah sakit. Dan ....


"Dan Kellen akhirnya di culik?" ucap Gavriel melanjutkan perkataan Tuan Hendar. Sedikit banyak dia sudah mulai menemukan titik terang dari penyebab mengapa Briana bisa mempunyai dua nama.

__ADS_1


Hendar mengangguk. Raut wajahnya terlihat muram sekali.


"Pagi sebelum kejadian naas itu terjadi, sebenarnya Jenny sudah melarangku agar tidak pergi. Tapi aku dengan keras kepalanya menolak dan lebih memilih pekerjaan ketimbang menghabiskan waktu dengan Jenny dan Kellen. Tepat setelah aku memenangkan tender, anak buahku melaporkan kalau Kellen telah di culik. Aku bergegas pulang, tapi semuanya sudah terlambat. Putra kami hilang tak tahu kemana. Menggunakan segala koneksi yang kupunya, aku berusaha mencari Kellen kesana kemari. Namun nihil, kami tetap tidak bisa menemukan makam ataupun jasadnya Kellen. Sejak saat itu sikap Jenny berubah drastis. Entah karena merasa sedih atau karena marah, Jenny mendiamkan aku selama dua puluh tahun. Lalu dua bulan kemarin dia tiba-tiba saja mau bicara denganku dan mengajakku pergi ke tempat di mana Kellen hilang. Kemudian kita bertemu. Itu sepenggal kisah menyedihkan yang di alami oleh istriku!" ucap Hendar seraya menghela nafas berat. Dia lalu mengusap wajahnya kasar, masih menyesal atas apa yang terjadi. "Kalau saja waktu itu aku lebih memilih untuk bersama mereka, saat ini Kellen pasti masih hidup. Dan aku juga tidak perlu dirundung kesedihan melihat istriku menanggung beban mental. Secara fisik dia sehat, tapi secara batin, istriku benar-benar sangat kasihan sekali!"


Wildan dan Gavriel saling lirik setelah mendengar keseluruhan cerita tentang Nyonya Jenny. Garis besar telah mereka dapatkan, tinggal menariknya saja dari ujung ke ujung. Setelah itu barulah mereka bisa membongkar teka-teki yang ada.


"Tuan Hendar, apa Anda merasa keberatan jika seandainya waktu itu Nyonya Jenny melahirkan seorang anak perempuan?" tanya Wildan. Dia sudah sangat penasaran sekali ingin menanyakan tentang hal ini.


"Omong kosong. Mau itu bayi laki-laki atau perempuan, bahkan banci sekalipun, anaknya Jenny adalah anakku juga. Aku tidak mungkin merasa keberatan untuk merawat mereka. Sudah gila apa!" jawab Hendar merasa tersinggung akan pertanyaan yang Wildan lontarkan.


"Berarti Anda sama sekali tidak menolak?"


Mata Hendar menyipit sebelah. Mendadak dia jadi berkeinginan menjahit mulut pria lancang ini. "Wildan, apa sebenarnya tujuanmu bertanya seperti itu padaku, hah? Oke aku memang seorang mafia. Tapi aku bukan pria kejam yang tega menolak darah dagingku sendiri hanya karena dia terlahir sebagai seorang perempuan. Jenny istriku, dan aku sangat mencintainya. Anaknya adalah anakku, dan kesedihannya adalah kesedihanku juga. Paham?!"


Sadar kalau emosi Tuan Hendar mulai terpancing, Gavriel segera melerai. Dia dengan sopan meminta maaf dan berjanji tidak akan mengungkit soal ini lagi.


"Kalian jangan kelewat batas. Harusnya kalian bersyukur karena aku memberikan izin untuk kalian mengetahui masalah di keluargaku!" tegur Hendar masih dengan emosi yang menyelimuti pikiran.


"Sekali lagi kami minta maaf, Tuan Hendar. Kami terpaksa menanyakan hal ini karena memang ada alasan kuat yang mendasarinya. Tapi yang pasti alasan tersebut tidak merujuk pada tindakan yang buruk. Sungguh!" sahut Gavriel mencoba sabar. Biar bagaimanapun Tuan Hendar adalah calon ayah mertuanya jika nanti Gavriel berhasil membuktikan kalau Briana adalah anak mereka.

__ADS_1


Hendar menarik nafas panjang beberapa kali kemudian mengangguk. Walaupun emosi, tapi dia bisa merasakan kalau Wildan dan Gavriel tidak bermaksud buruk. Setelah itu Hendar pun memberikan izin pada mereka yang ingin berbicara dengan Jenny. Tak lupa juga Hendar mengingatkan agar bicara dengan santai karena kondisi mental istrinya sedang tidak baik-baik saja.


***


__ADS_2