
Sembari menunggu Briana bangun, Lu mencuci pakaian dan juga membersihkan tempat tinggal mereka. Dan tadi saat Lu kembali dari membeli obat si bibi tetangga dengan baiknya datang mengantarkan makanan untuknya dan Briana. Ya meskipun hal tersebut hanyalah modus agar si bibi bisa mengenalkan anak gadisnya, Lu dengan sopan merespon niatan bibi tetangga seramah mungkin. Biar bagaimanapun karena orang inilah Lu bisa membelikan obat untuk Briana. Jadi sangat tidak mungkin sekali bukan jika Lu sampai mengacuhkan orang yang telah membantunya?
“Kenapa Briana lama sekali bangunnya ya? Dia tidak mati ‘kan?” gumam Lu sambil memperhatikan wajah Briana yang sudah tidak sepucat pagi tadi.Berkat obat yang diminumnya, panas di tubuh Briana pun sudah berangsur-angsur menurun. Hal ini tentu saja membuat Lu merasa sangat lega. Namun, sudah hampir lima jam terlewat tapi Briana tak kunjung bangun juga. Lu takut Briana mati overdosis karena dia salah memberikan dosis obat yang tadi diminumnya.
Tak mau menganggu tidur Briana, Lu memutuskan untuk makan siang sendiri saja. Perutnya sudah lapar karena sejak pagi tadi Lu belum sempat memakan apapun. Dia terlalu fokus merawat Briana dan juga membersihkan rumah sampai lupa kalau perutnya masih belum terisi apa-apa.
Kira-kira Briana marah tidak ya kalau dia tahu semua makanan ini adalah pemberian Bibi tetangga? Julia bilang Briana kan sangat anti dengan belas kasihan dari orang lain. Hah, semoga saja nanti dia tidak kerasukan saat melihat makanan-makanan ini. Semoga saja.
Eugghhhh
Tepat ketika Lu akan menikmati suapan pertamanya, terdengar suara lenguhan pelan dari arah ranjang. Lu yang mendengar hal itupun bergegas menghampiri Briana kemudian menempelkan tangan ke keningnya. “Panasnya sudah hilang. Syukurlah,”
“Lu?”
“Ya?”
Briana mengerjap-ngerjapkan mata. Dia agak kaget ketika membuka mata ada seorang pria tampan di hadapannya. Dan jujur saja Briana merasa agak kikuk ketika pria tampan ini tiba-tiba memegang keningnya. Namun setelah nyawanya berkumpul semua, Briana akhirnya tersadar kalau pria yang dia anggap tampan ternyata adalah Lu, si pria idiot yang tengah memporak-porandakan ketenangan hidupnya.
“Ada apa, Bri? Apa kau membutuhkan sesuatu?” tanya Lu saat Briana hanya diam saja.
“Aku kenapa?” sahut Briana balik bertanya. Dia kemudian menoleh, agak kaget ketika mendapati ada handuk kecil yang terendam air di dalam gayung mandi. “Aku … demam?”
“Iya, Bri. Jam tiga tadi tubuhmu tiba-tiba panas tinggi. Karena waktu masih dini hari, jadi aku memutuskan untuk mengompresmu dulu. Dan syukurlah sekarang suhu tubuhmu sudah kembali normal setelah aku memberimu obat penurun panas,” jawab Lu jujur. Dia lalu menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Melihat Lu yang terlihat begitu tenang entah mengapa membuat perasaan Briana terasa tidak nyaman. Dia kemudian berusaha untuk duduk, mengambil ponsel di atas meja lalu menghubungi Julia.
“Halo, Bri? Bagaimana keadaanmu sekarang? Kau belum pindah dunia bukan?” cecar Julia dari dalam telepon. "Tadi Lu yang memberitahuku kalau kau sedang sakit. Jangan curiga."
“Ck, aku ini hanya demam, Julia. Aku bukan terkena virus mematikan yang membuatku harus berpindah ke dunia lain. Keterlaluan sekali kau!” omel Briana sembari memijit pinggiran kepalanya yang terasa pening. Ekor matanya kemudian melirik memperhatikan Lu yang tengah menikmati makan siangnya dengan begitu lahap. Tanpa sadar Briana tersenyum. “Oya, Julia. Hari ini aku izin tidak masuk bekerja dulu ya. Tubuhku masih terasa lemas. Aku takut nantinya malah akan membuatmu repot kalau memaksakan diri datang ke café. Tidak apa-apa ‘kan?”
“Heish, kau ini bicara apa, Briana. Kita adalah sahabat, tidak mungkinlah aku setega itu padamu. Lebih baik kau istirahat dulu di rumah. Baru nanti setelah sembuh kau bisa kembali bekerja di café. Oke?”
Briana tampak tersenyum saat Julia terus menasehatinya. Tak lama setelahnya pembicaraan merekapun berakhir. Briana lalu memainkan ponsel sembari menatap Lu yang barusaja menghabiskan makanan siangnya. “Sudah kenyang?”
Lu mengangguk. Dia kemudian meletakkan piring di atas meja sebelum akhirnya mengajak Briana untuk bicara. “Bri, kau lapar tidak? Atau kau ingin mandi dulu?”
“Aku lapar dan aku juga ingin mandi. Tapi Lu, sebelum aku melakukan itu semua kau harus jawab dulu pertanyaanku,” sahut Briana. Dia lalu menunjuk setumpuk obat yang ada di atas meja. “Tolong beritahu aku darimana kau mendapatkan semua obat ini. Seingatku kotak P3K di rumah kita tidak ada isinya, lalu darimana kau bisa mendapatkan semua obat-obat tersebut? Ayo jawab!”
“Obat-obat ini aku dapatkan dari apotek, Bri,” jawab Lu dengan jujur. Saat ini dadanya berdebar dengan kuat, Lu ngeri melihat cara Briana menatapnya.
Briana memicingkan mata. “Darimana kau mendapatkan uang untuk membeli obat di apotek? Kau tidak mungkin mencuri uang dari dalam dompetku ‘kan?”
“Tidak. Aku mana mungkin berani melakukannya,” sahut Lu seraya mengibaskan tangan di depan wajah Briana. “Karena pagi tadi aku tak tega membangunkanmu, aku terpaksa meminjam uang dari Bibi tetangga untuk membeli obat-obat ini. Kau sedang sakit dan aku tidak punya uang sama sekali. Jadi aku … berhutang!”
“A-APA? BERHUTANG?”
Briana syok, tentu saja. Seumur-umur Briana hidup, tak pernah sekalipun Briana berani berhutang. Tapi Lu? Astaga. Ini tidak bisa di biarkan. Bagaimana mungkin pria idiot ini berani meminjam uang kepada tetangga yang jelas-jelas adalah musuh bebuyutan Briana? Waahhh, ini gila. Briana tak bisa menerimanya. Tidak bisa.
__ADS_1
“Bri, kau mau kemana?” tanya Lu kebingungan melihat Briana yang langsung melompat turun dari ranjang kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
“Diam di sana dan jangan kemana-mana!” teriak Briana. “Astaga, Lu. Bisa tidak sih kau membiarkan aku tenang sebentar. Brengsek!”
Sambil terus menggerutu dengan suara yang tidak jelas, Briana mencuci muka dan menggosok giginya. Dia tidak peduli meski kepalanya terasa pusing dan juga berat. Tujuan Briana satu. Segera pergi ke rumah tetangganya untuk mengembalikan uang yang telah di pinjam oleh Lu. Briana tak terima di kasihani seperti ini terlepas dari alasan Lu berhutang.
“Ikut aku sekarang!” ucap Briana sambil mengeluarkan dompet dari dalam tas.
Melihat Lu yang hanya menatapnya dengan ekpresi kebingungan, dengan marah Briana menarik tangan Lu dan membawanya keluar. Briana kemudian meminta Lu menunjukkan pada siapa dia berhutang. Dan setelah tahu, Briana pun menyeret Lu pergi ke sana.
Tok tok tok
“Berapa uang yang kau pinjam?” tanya Briana sambil menatap tajam ke arah Lu.
“Hanya sedikit,” jawab Lu takut-takut.
“Sedikitnya berapa?”
Lu segera memberitahu Briana berapa jumlah hutang yang dia miliki. Bersamaan dengan itu, si pemilik rumah membuka pintu. Melihat kalau calon menantunya datang berkunjung, si bibi tetanggapun langsung memekik heboh. Namun ketika si bibi tetangga hendak memanggil putrinya, dengan marah Briana mencegahnya.
“Kau kenapa, Briana? Apa saat demam tadi tubuhmu dirasuki setan?” tanya si bibi tetangga keheranan.
“Bibi, kita to the point saja. Aku datang kemari ingin mengembalikan uang yang pagi tadi di pinjam oleh Lu. Ini uangnya,” sahut Briana sambil menyodorkan uang. Dia lalu meraih tangan si bibi tetangga saat wanita ini hanya diam saja. “Terima kasih karena sudah bersedia meminjamkan uang Bibi pada Lu. Akan tetapi jika lain kali Lu kembali berhutang pada bibi, tolong jangan berikan uang kepadanya karena aku lebih baik mati daripada harus menerima belas kasihan dari orang lain. Permisi!”
__ADS_1
Setelah berkata seperti ini Briana pun pulang. Dia mengabaikan Lu yang terus memanggil dan mengejarnya. Briana kesal. Dia benar-benar merasa sangat kecewa melihat sikap Lu yang dengan mudahnya mengemis bantuan dari orang lain. Walaupun sebenarnya tindakan Lu tidak salah sepenuhnya, tapi di mata Briana hal tersebut tetap tidak bisa di terima. Alasannya satu, Briana benci hidup di bawah kepedulian dan belas kasihan dari orang lain. Dan prinsip ini sudah sangat melekat di dalam tubuhnya sejak dulu. Jadi wajar sajakan kalau sekarang Briana merasa kecewa terhadap Lu?
***