Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Perang Batin


__ADS_3

"Briana, Lu dan Nyonya Jenny pergi kemana ya? Sudah selama ini tapi kenapa mereka belum kembali juga. Mereka tidak sedang chek-in di hotel depan sana, kan?" tanya Julia sambil menatap ke arah jalan. Dia kini sedang berdiri di depan pintu masuk cafe sambil membawa nampan. Julia baru saja mengantarkan pesanan seorang pelanggan.


Glumpraaaanggg


Beberapa pengunjung cafe yang sedang sibuk dengan makanan mereka sampai tersedak gara-gara mendengar suara tutup panci yang di banting ke lantai. Sedangkan Julia, dia langsung memegangi dada, memeriksa apakah jantungnya berhenti berdetak atau tidak karena kaget mendengar suara yang begitu keras. Setelah memastikan kalau jantungnya aman, dengan gerakan yang sangat amat pelan Julia menoleh ke belakang. Dia lalu menelan ludah saat mendapati Briana yang tengah menatapnya sambil membawa teplon.


Ah, teplon lagi teplon lagi. Apa Briana tidak bisa menemukan senjata lain selain benda keras itu? Kalau begini ceritanya sih keamanan kepala dan bokongku sedang terancam bahaya besar. Apa aku pura-pura pingsan saja ya?


Rasanya Briana gondok sekali mendengar perkataan Julia yang menyebut kalau Lu melakukan chek-in di hotel bersama Nyonya Jenny. Sungguh, mulut wanita ini benar-benar tida ada remnya. Padahal cafe sedang ramai, tapi Julia sama sekali tidak mau memfilter omongannya. Jika orang-orang ini sampai berpikiran buruk tentang kekasihnya bagaimana. Kan gawat. Karena kesal, Briana dengan kuat membanting tutup panci yang terbuat dari bahan stenlis hingga menimbulkan suara yang sangat luar biasa nyaring. Dia jengkel.


"Nona Briana, bisa tidak kau tenang sedikit. Kami semua sedang makan. Kalau kami sampai meninggal gara-gara tersedak bagaimana?" protes salah satu tamu yang wajahnya merah padam setelah tersedak tulang ikan.


Briana menoleh. "Tuan, apa kau mau ku banting juga seperti tutup panci ini?"


"Tentu saja tidak."


"Kalau begitu diamlah dan habiskan makananmu. Jangan ikut campur dengan masalahku dan Julia. Mengerti?"


"Baiklah."


Sadar akan segera terjadi peperangan besar antara pegawai dan bos cafe, ah bukan, eh entahlah. Para pengunjung itu bingung mana yang bos dan mana yang menjadi pegawai. Intinya sekarang semua orang sibuk mengatur posisi meja mereka agar bisa menyaksikan langsung pergulatan sengit yang akan terjadi di antara kedua wanita ini. Sudah pemandangan biasa, jadi mereka tak kaget lagi.


"Julia, aku tahu kau begitu menggemari sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal erotis. Akan tetapi aku tidak bisa menerima ketika kau berpikiran buruk tentang kekasihku. Kau tahu kenapa?" tanya Briana sambil berjalan menuju titik di mana Julia berdiri sekarang. Di tangannya ada teplon, senjata yang paling sering dia gunakan untuk menghajar sahabatnya yang kelewat mesum itu.


"K-kenapa?" sahut Julia sambil menelan ludah. Dia ingin kabur, tapi kakinya seperti tumbuh akar yang mana membuatnya tidak bisa bergerak.


"Karena Lu bahkan tak pernah mau menyentuhku. Jadi mustahil kalau dia berani melakukan chek-in dengan wanita lain. Terlebih lagi wanita yang kau maksud usianya jauh lebih tua dariku. Lu-ku bukan pria penggemar wanita tua ya!"


"Y-ya sudah sih kalau memang seperti itu. Akukan hanya mengira-ngira saja, jadi belum tentu benar. Kenapa kau harus marah?"

__ADS_1


"Kenapa harus marah?"


Briana menyeringai. Julia yang melihat hal itupun menjadi semakin panik. Dia lalu melihat ke arah para pengunjung yang malah asik menonton sambil menikmati makanan mereka. Sangat sialan sekali. Sudah tahu Julia sedang berada dalam bahaya, tapi kenapa tidak ada satupun yang datang menolong. Dasar kejam.


"Kenapa, hem? Takut?"


Bosan terus di intimidasi, Julia akhirnya berontak. Dia berkacak pinggang sambil menatap kesal pada Briana yang sedang berdiri sambil memukulkan teplon ke telapak tangannya.


"Dengar ya, Bri. Yang namanya n*fsu itu datang tanpa mengenal usia. Lagipula wajar sajakan aku berkata seperti itu. Lu dan Nyonya Jenny pergi berdua sejak tadi dan belum kembali sampai sekarang. Masa kau sebagai kekasihnya tidak merasa khawatir sih?" ucap Julia cetus. Dia lalu kembali menambahkan bumbu untuk menghasut pikiran sahabatnya. "Kalau aku jadi kau, aku pasti sudah menelpon atau mencari keberadaan mereka. Bisa sajakan di belakangmu mereka main mata? Sudah banyak kasus seperti ini terjadi di luaran sana, Briana. Jadi aku ingatkan sebaiknya kau jangan sampai lengah kalau tidak mau Lu di gondol oleh Nyonya Jenny. Sudah sana cepat cari di mana kekasihmu berada!"


Hah? Masa sih Lu dan Nyonya Jenny berani berbuat gila di belakangku. Tidak mungkin. Lu yang aku kenal adalah pria yang pandai menjaga kehormatan wanita. Dia tidak mungkin selingkuh dengan Nyonya Jenny. Tidak mungkin.


Saat Briana sedang perang batin akibat terhasut omongan Julia, terlihat Lu keluar dari dalam mobil milik seseorang. Pria itu berjalan cepat menuju cafe, yang mana membuat Briana mengerutkan keningnya heran. Dia lalu memberikan teplon pada Julia dan langsung menghampirinya.


"Lu, mana Nyonya Jenny? Kalian kenapa lama sekali. Darimana saja?" cecar Briana.


"Sayang, Nyonya Jenny pingsan dan sekarang berada di rumah sakit. Bisakah kau ikut pergi denganku? Ada sesuatu hal yang harus kau ketahui tentang Nyonya Jenny," ucap Gavriel sembari menggenggam kedua tangan Briana. Sudah saatnya kekasihnya ini tahu tentang latar belakang keluarga kandungnya. Dan Gavriel juga berniat mengakui bahwa dirinya sudah lama sembuh.


Julia dan Briana kompak memekik kaget begitu mendengar perkataan Gavriel. Tahu kalau keadaan sedang darurat, Julia buru-buru meminta para pengunjung untuk segera menghabiskan makanan mereka. Dia akan menutup cafe dan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk wanita itu.


"Apa yang telah terjadi sampai Nyonya Jenny bisa di bawa ke rumah sakit, Lu? Kau berbuat kurang ajar padanya apa bagaimana?" tanya Briana yang tiba-tiba dilanda perasaan cemas. Walau baru mengenal sebentar, tapi Briana menyayangi Nyonya Jenny. Terlebih lagi wanita itu terus menganggapnya sebagai anak sendiri, membuat Briana jadi merasa sedih sekaligus cemas.


"Sayang, tolong jangan berpikiran yang macam-macam dulu. Tadi saat aku dan Nyonya Jenny sedang bicara, dia tiba-tiba histeris saat mengetahui sesuatu. Mungkin karena terlalu syok kondisi Nyonya Jenny langsung drop. Kebetulan tadi suaminya juga datang. Jadi kami langsung membawanya pergi ke rumah sakit. Begitu," jawab Gavriel dengan tenang menjelaskan. Dia lalu menarik tubuh Briana dan membawanya ke dalam pelukan. Gavriel lega karena telah berhasil mendapatkan keadilan untuk kekasihnya ini. "Jangan khawatir. Nyonya Jenny baik-baik saja. Dia hanya terlalu syok, makanya jatuh pingsan."


"Memangnya semengerikan apa sih kabar yang Nyonya Jenny dengar sampai dia jadi seperti ini?" tanya Julia penasaran.


"Sebenarnya bukan kabar yang mengerikan, tapi lebih ke rahasia yang tak sengaja terungkap," jawab Gavriel sambil tersenyum penuh maksud. Dia lalu mengelus rambut Briana yang hanya diam di pelukannya. Mungkin kekasihnya ini bisa merasakan kalau ibu kandungnya sedang tidak baik-baik saja. Karena bagaimanapun antara Nyonya Jenny dan Briana ada ikatan batin yang sangat kuat.


"Rahasia?" Briana mendongak. "Rahasia apa, Lu?"

__ADS_1


"Aku tidak bisa menjelaskannya di sini, sayang. Tunggu setelah kita datang ke rumah sakit saja baru kau akan mendengar sendiri rahasia apa yang aku maksud."


"Lu, apa yang sebenarnya sedang terjadi? Kenapa aku merasa kalau kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku? Kau punya anak dengan wanita lain apa bagaimana?"


Pandangan Julia langsung berubah galak begitu dia mendengar perkataan Briana. Kalau benar Lu mempunyai anak dengan wanita lain, Julia bersumpah akan menghajarnya sampai babak belur. Dia tidak terima posisinya sebagai calon bibi dari anak konglomerat di geser oleh orang lain.


"Ya ampun, sayang. Tadikan aku sudah bilang jangan berpikiran yang buruk-buruk dulu terhadapku. Rahasia itu sama sekali tidak ada hubungannya denganku. Semuanya murni antara kau, Nyonya Jenny dan juga Tuan Hendar, suaminya. Jadi tolong buang jauh-jauh pemikiran itu ya. Aku hanya mencintaimu seorang, mustahil ada wanita lain di hatiku. Apalagi sampai memiliki anak dari wanita yang bukan dirimu. Itu tidak mungkin dan tidak akan pernah terjadi, sayang," sahut Gavriel agak syok di tuduh kalau dirinya memiliki anak dengan wanita lain.


"Rahasia antara aku, Nyonya Jenny dan suaminya? Ini, ini apa maksudnya, Lu. Bicaralah yang jelas!"


Briana tiba-tiba saja merasa resah. Bagaimana bisa ada rahasia di antara dirinya dengan Nyonya Jenny dan suaminya. Mereka kan tidak saling kenal, bagaimana bisa muncul rahasia seperti ini. Aneh sekali.


Aneh. Kenapa Lu bilang kalau di antara Briana, Nyonya Jenny dan suaminya ada rahasia ya. Apa mungkin Briana sebenarnya adalah anak mereka yang hilang? Wahhh, kalau ini benar, artinya aku akan mempunyai sahabat yang adalah anak seorang mafia. Luar biasa. Selain akan menjadi bibi dari anak konglomerat, aku juga akan mempunyai dukungan kuat dari para gengster. Dengan begini Wildan pasti tidak akan berani menolak untuk menjadikan aku sebagai wanita keduanya. Hahai.


"Sayang, lebih baik sekarang kita pergi ke rumah sakit saja. Nanti biar Nyonya Jenny dan juga Tuan Hendar yang menjelaskannya padamu. Aku hanya orang lain, jadi tidak berhak untuk mengatakannya. Ya?" ucap Gavriel sembari menangkup wajah Briana yang terlihat panik. "Jangan takut. Rahasia ini tidak seburuk yang kau pikir. Percayalah, semua akan indah pada waktunya. Oke?"


"Aku bingung, Lu." Briana menggigit bibir bawahnya. "Aku tidak mengerti kenapa di antara kami bisa tiba-tiba ada rahasia. Ini membuatku sangat luar biasa bingung. Sungguh!"


"Kau tidak perlu merasa bingung, Briana. Santai saja. Lebih baik kita semua segera pergi ke rumah sakit saja seperti yang dibilang oleh Lu barusan. Dengan begitu kau baru akan tahu ada rahasia apa di antara kalian bertiga. Benarkan, Lu?" timpal Julia sambil tersenyum lebar. Entah kenapa otaknya selalu lancar jika berurusan dengan sesuatu yang berbau kasta dan harta. Hehehe.


"Lalu cafe ini bagaimana? Kasihan para pengunjung yang masih makan," ucap Briana lirih.


"Akan segera ku usir."


Dan benar saja. Julia benar-benar mengusir para pengunjung yang masih tersisa. Dia bahkan tak peduli meski beberapa di antara mereka ada yang belum membayar. Biar saja. Toh jaminan kekayaannya sudah ada di tangan Briana dan Gavriel. Jadi ya sudah, Julia santai saja. Dompetnya aman. Hahaha.


Setelah sedikit beberes, barulah Gavriel, Briana dan Julia pergi meninggalkan cafe. Mereka bertiga bergegas pergi menuju rumah sakit tempat Nyonya Jenny dirawat. Jika dalam perjalanan Briana banyak diam dan merenung, Julia malah terlihat semringah sekali. Dia sudah tidak sabar ingin segera mendengar fakta kalau sahabatnya adalah benar anak mafia.


Kalau di pikir-pikir kenapa hidupku berkah sekali ya. Apa ini adalah buah kebaikan karena aku mau berbaik hati menampung Briana? Ya ampun. Kalau memang benar begitu sebaiknya mulai sekarang aku cari saja orang-orang yang sedang kesulitan lalu menampung dan memberi mereka pekerjaan. Siapa tahu di antara mereka adalah tuan putri yang terbuang. Akukan bisa untung banyak nanti. Hahahaha.

__ADS_1


***


__ADS_2