Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Panggilan Sayang


__ADS_3

Julia, Erzan, Dary, dan Helena terus memperhatikan Lu yang tengah bertopang dagu sambil menatap Briana. Aneh. Ada apa dengan dua manusia ini? Sejak keluar dari dalam kamar keduanya terus saja menunjukkan gelagat yang berbeda. Apa mungkin semalam telah terjadi gencatan senjata?


"Bibi, aku rasa tak lama lagi kau dan Paman Dary akan segera menimang cucu. Lihat. Gelagat Lu dan Briana sangat mencurigakan sekali. Aku yakin semalam mereka pasti sudah icip-icip tanpa sepengetahuan kita," bisik Julia sambil menoel tangan ibunya Erzan. Dia lalu terkikik jahil.


"Kalau memang benar semalam ada kejadian seperti itu, maka pagi ini akan menjadi awal yang baik untuk keluarga Anderson, Julia. Ah, Bibi jadi tidak sabar ingin segera mendengar pengakuan mereka. Hihi," sahut Helena penuh semangat. Dia ikut terkikik, tertular kejahilan dari gadis yang duduk di sebelahnya.


Hehehe, tentu saja ini adalah awal yang baik juga untukku, Bibi Helena. Karena jika Lu benar-benar berhasil menjinakkan wanita galak itu, maka gelar sebagai bibi dari pewaris keluarga Anderson akan segera menjadi milikku. Dengan begini kastaku akan naik satu tingkat. Lalu aku bisa menjadikan posisi penting ini untuk melamar Wildan. Ahay, aku jadi tidak sabar.


Erzan tampak menyipitkan mata saat melihat Julia dan ibunya saling berbisik sambil terkikik seperti orang gangguan jiwa. Dia yakin betul kalau kedua wanita ini sedang membicarakan sesuatu yang membuat bulu kuduk berdiri. Ini Erzan yakini setelah melihat sendiri ada senyum aneh yang menghiasi bibir keduanya. Julia dan ibunya ... mesum.


"Makan sayur yang banyak, Bi. Itu bagus untuk kulitmu," ucap Lu dengan penuh perhatian. Setelah melalui perdebatan panjang, akhirnya diputuskan kalau dia akan memanggil Briana dengan sebutan'Bi'. Bukan bibi ataupun b*bi ya, tapi ini adalah plesetan dari kata baby. Mengapa Bi? Karena Briana bilang dia tidak mau Julia mengolok-oloknya jika terlalu menampakkan hubungan baru mereka. Pelan-pelan saja, akunya.


"Bi?" beo Julia penuh goda. Dia lalu menyeringai sebelum melanjutkan perkataannya. "Apa itu semacam panggilan untuk binatang? B*bi mungkin?"


Uhukk uhukkk


Briana langsung tersedak mendengar perkataan Julia. Dia yang tengah memegang garpu rasanya ingin sekali menancapkan ke ubun-ubunnya detik itu juga. Sembarangan. Berani sekali dia menyebutnya b*bi. Benar-benar sahabat luknut. Ya ampun.


"Ck, Julia. Tidak sopan bicara seperti itu di meja makan!" tegur Lu sambil menyodorkan segelas air pada Briana. Dia lalu membantu menepuk pelan bagian belakang lehernya. "Pelan-pelan saja makannya. Ya?"


"Udududududu, yang paling tidak suka wanitanya di ejek. Jadi iri!" Julia kembali mengolok. Dan kali ini dia lakukan sambil menjejalkan sayur ke dalam mulutnya.


"Lu, apa kau masih menyimpan obat penenang? Tolong beri aku sebutir. Aku perlu menggunakan obat itu untuk menenangkan jiwa bebek yang sedang kerasukan di sana!" tanya Briana sembari menatap garang pada Julia. Tak lupa dia mengacungkan garpu pada wanita yang tengah asik mengunyah makanan. Sialan.


Lu tersenyum.

__ADS_1


"Ekhmm Briana, Julia. Tidak baik bertengkar saat sedang makan. Nanti gizi makanannya di ambil setan," ucap Dary mencoba melerai peperangan yang mulai tersulut. Dia lalu pura-pura berubah menjadi makhluk tak kasat mata saat semua wanita menatapnya tajam.


Astaga, ada apa dengan wanita-wanita ini? Memangnya salah ya menegur orang yang berprilaku tidak sopan saat sedang makan? Menyeramkan sekali mereka.


"Ayah, sudahlah. Lebih baik Ayah fokus pada sarapan Ayah saja, jangan mengurusi hal lain!" ucap Erzan iba melihat nasib sang ayah yang hampir menjadi sasaran ketiga wanita di rumah ini. Dan ketika para wanita itu berbalik menatap tajam dirinya, dengan santai Erzan menikmati sarapan. Masa bodo. "Hmmm, sayur ini enak sekali. Pasti Ibu kan yang memasaknya?"


Sebelum sempat Helena menjawab, Wildan datang merebut perhatian semua orang. Julia yang melihat sang tambatan hati muncul dengan setelan yang begitu rapi, dengan cepat mengelap mulut dengan tisu kemudian berdiri. Dia lalu menampilkan senyum terbaik ketika Wildan mengangguk sopan padanya.


"Hai, Wildan. Kau tampan sekali pagi ini. Mau pergi bekerja ya?" tanya Julia sok manis.


"Tidak. Wildan bukan ingin pergi bekerja, tapi dia mau berangkat mengemis di perempatan lampu merah!" celetuk Erzan jengkel melihat sikap Julia yang langsung berubah sok imut begitu Wildan datang. Matanya sakit melihat pemandangan menyebalkan itu.


"Hei, tolong jangan bicara sembarangan kau, Erzan!"


"Itu fakta. Tanya saja pada orangnya langsung kalau tidak percaya!"


"Terserah aku. Mulut-mulutku, kenapa kau sewot!" sahut Erzan enggan mengalah.


Tak mengindahkan pertengkaran antara Erzan dengan Julia, Lu beranjak dari duduknya kemudian mengajak Wildan pergi dari sana. Akan tetapi saat dia baru akan melangkah, tangannya ditarik oleh Briana.


"Mau kemana kau?" tanya Briana sambil mengunyah makanan yang ada di dalam mulut.


"Ada hal penting yang ingin ku bahas dengan Wildan. Kau tunggulah sebentar. Aku tidak akan lama. Oke?" jawab Lu seraya mengusap puncak kepala Briana penuh sayang.


"Apa penting sekali?"

__ADS_1


"Ya. Dan itu berhubungan dengan masa depan hubungan kita."


Blusssshhh


Wajah Briana berubah merah padam begitu mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan oleh Lu sebelum pria idiot itu pergi bersama Wildan. Setelahnya Briana menggigit ujung kuku sambil menggerakkan tubuh ke kanan dan ke kiri, mirip bocah lima tahun yang sedang kesenangan karena mendapat permen. Saking kasmarannya, Briana sampai lupa kalau di ruang makan dia tidak sedang sendirian. Ada Julia, Erzan, dan juga kedua orangtua Lu. Tapi dia tak mempedulikan hal tersebut. Briana sibuk dengan hatinya yang sedang berbunga-bunga. 😁


Sementara itu di ruang tamu, terlihat Lu yang sedang berbincang serius dengan Wildan. Hal yang mereka bahas adalah tentang sepasang suami istri yang Lu yakini adalah orangtua Briana.


"Cari tahu siapa mereka, Wil. Aku yakin mereka pasti memiliki hubungan dengan anak laki-laki yang muncul di dalam mimpiku. Termasuk dengan Briana juga. Mereka pasti terikat satu hubungan yang masih samar!" perintah Lu dengan mimik wajah yang begitu serius.


"Anda tenang saja, Tuan Gavriel. Sebelum anda memerintahkan untuk mencari tahu siapa mereka, saya sudah lebih dulu meminta seseorang untuk melakukan penyelidikan. Namun, ada sedikit kendala yang terjadi. Ternyata tidak mudah menembus keamanan pasangan itu, Tuan. Mereka bukan seseorang yang bisa sembarangan di sentuh!" ucap Wildan melaporkan hasil penyelidikan dari anak buahnya.


"Apa mereka orang besar?"


"Saya belum jelas mengenai hal ini. Tapi yang pasti kita tidak boleh sembarangan menyelidiki tentang latar belakang keluarga mereka. Rencananya nanti saya akan bertamu secara baik-baik guna menanyakan apakah mereka memiliki anak yang pernah menjadi korban penculikan atau tidak. Dengan begitu dokter yang mengobati anda bisa menyimpulkan apakah yang anda lihat adalah benar terjadi di sana atau hanya sekedar ilusi saja!"


Lu menghela nafas. Dia lalu menatap seksama ke arah Wildan. "Ingatanku tidak mungkin meleset, Wil. Dan aku berani bertaruh kalau sentuhan tangan anak itu rasanya sama persis dengan sentuhan tangan Briana. Mereka berdua saling berhubungan. Dan ini adalah fakta yang harus kau yakini. Entah itu memang Briana yang berpenampilan seperti anak laki-laki, atau adalah saudaranya yang hilang terpisah sejak bayi. Pokoknya aku tidak mau tahu. Kau harus segera membuktikan kebenaran dari hal ini. Harus!"


"Baik, Tuan Gavriel. Saya akan berusaha melakukan yang terbaik untuk menyelesaikan masalah ini!" sahut Wildan seraya mengangguk patuh. Sedetik kemudian terbersit satu pertanyaan mengganjal di hatinya. Dia lalu memutuskan untuk bertanya pada sang atasan. "Tuan Gavriel, jika seandainya anak itu adalah Nona Briana, apa yang akan anda lakukan kepadanya?"


"Menikahinya dan mengumumkan pada dunia kalau Briana adalah milikku!"


Satu jawaban tegas ini sukses membuat Wildan tercengang kaget. Bukan karena niat sang atasan yang ingin menikahi Nona Briana, tapi ....


Sikap tegas ini ... mungkinkah ingatan Tuan Gavriel sudah kembali? Ya Tuhan, semoga saja dugaanku memang benar. Anda selamat Tuan Erzan.

__ADS_1


***


__ADS_2