Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Fakta Mengejutkan


__ADS_3

Hendar berlari seperti orang kesetanan begitu mendapat telepon dari Jenny. Orang-orang yang melihat atasan mereka berlarian seperti itu jadi bertanya-tanya dalam hati. Gerangan apakah yang terjadi? Siapa orang yang sudah dengan berani membuat mafia itu tersinggung? Cari masalah saja.


“Bawa orang-orangku sebanyak mungkin. Seseorang sudah lancang membuat istriku menangis. SEKARANG!” teriak Hendar kepada para pengawal yang berjaga di luar gedung. Dia lalu mengumpat kasar, tak peduli meski di hadapannya ada banyak sekali orang yang terkejut.


“Baik, Tuan!”


Segera Hendar masuk ke dalam mobil lalu memerintahkan sopir untuk langsung menuju suatu tempat. Mungkin jika hanya telepon biasa Hendar tidak akan sepanik ini. Akan tetapi tadi Jenny menelpon sambil menangis sesenggukan. Bahkan istrinya itu tidak mengatakan sepatah katapun kepadanya, membuat Hendar dilanda panik yang sangat luar biasa besar. Sebenarnya tadi itu Hendar sedang meeting bersama para klien, tapi begitu dia mendengar suara tangisan Jenny dia sudah tidak mempedulikan pekerjaannya lagi. Masa bodo walaupun dia harus rugi banyak, Hendar tak peduli. Dia sudah berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi, jadi tanpa pikir panjang langsung berlari meninggalkan ruang meeting lalu bergegas pergi dari perusahaan. Beruntung Hendar sudah mengaktifkan GPS di ponsel Jenny, jadi dia bisa dengan mudah melacak keberadaannya.


“Cepat sedikit, bodoh. Kalau istriku sampai kenaap-napa kau yang akan menanggung akibatnya. Cepat!” teriak Hendar sambil memukul kursi belakang yang di duduki sopir. Pikirannya kalut. Dia sangat takut Jenny terluka.


“Ini sudah yang paling cepat, Tuan Hendar!” sahut sopir ikut panik saat di teriaki oleh bosnya.


“Arghhhhh, brengsek!”


Iring-iringan mobil Hendar dan anak buahnya menarik banyak perhatian dari para pengguna jalan. Sebagian dari mereka ada yang berbaik hati membiarkan mereka lewat terlebih dahulu. Namun sebagian lagi ada yang masa bodo. Hendar yang memang sedang panik langsung tersulut emosi ketika sebuah mobil dengan santainya menghadang di tengah jalan. Dengan mata berkilat marah, Hendar menurunkan kaca mobil lalu menyembulkan kepalanya keluar.


“B*ngsat, cepat menyingkir dari jalanan sebelum aku meledakkan mobilmu. Cepat!”


Si pemilik mobil langsung ketakutan begitu mendengar suara teriakan tersebut. Segera dia mencari posisi yang tepat untuk menyelamatkan diri. Dia menyesal karena tadi sudah bersikap masa bodo. Bagaimana tidak menyesal. Orang-orang yang menyembulkan kepala dari iring-iringan mobil itu berteriak sambil mengacungkan senjata ke arahnya. Siapalah yang tidak takut jika berada dalam posisi seperti itu.


“Yakk, kau ini kura-kura atau seorang sopir sih. Lambat sekali kau!” umpat Hendar kembali panik.

__ADS_1


“Sebentar lagi kita akan segera sampai, Tuan. Bersabarlah!”


“Coba sekali lagi kau berani memintaku untuk sabar. Percaya tidak kalau aku akan meledakkan kepalamu saat ini juga, hah!”


“M-maaf, Tuan. Saya salah,”


“Jangan meminta maaf. Lebih baik kau segera antarkan aku ke tempat di mana istriku berada. Aku sudah tidak tahan berada di dalam mobil jelek ini. Cepatlah!”


Si sopir langsung menganggukkan kepala. Semampu dia menginjak gas mobil agar bosnya berhenti marah-marah. Hingga tak berapa lama kemudian sampailah mereka di tempat yang di tuju. Tanpa menunggu mobil benar-benar berhenti, Hendar sudah lebih dulu melompat keluar kemudian berlari kencang menuju dua orang yang sedang duduk di sebuah kursi panjang. Dan kedua mata Hendar langsung memerah begitu dia melihat siapa yang sedang duduk bersama istrinya.


“Gavriel. Lancang kau!” teriak Hendar murka. Di belakangnya berlarian para penjaga berseragam hitam yang langsung menodongkan senjata mereka.


Astaga, apa-apaan mereka. Nyonya Jenny hanya menangis tapi kenapa yang datang harus sebanyak ini. Mereka mau pergi berperang apa bagaimana? Dasar mafia.


“Sayang, kau kenapa? Apa bajingan ini telah menyakitimu?” tanya Hendar sambil mendekap erat-erat tubuh Jenny yang bergetar hebat. Dia lalu melayangkan tatapan membunuh ke arah Gavriel yang terlihat biasa-biasa saja setelah membuat istrinya menangis seperti ini.


Tadi setelah Gavriel memberitahunya kalau Hendar sama sekali tak menolak jika memiliki anak perempuan, seketika tangis Jenny pecah. Tanpa pikir panjang dia langsung menelpon Hendar. Tapi karena terlalu kaget, Jenny tidak bisa mengatakan apapun kepada pria ini. Dia hanya menangis, yang mana membuat suaminya langsung datang kemari dalam waktu yang terhitung sangat singkat.


“Gavriel, aku pernah memberimu izin untuk bicara dengan istriku, tapi aku tidak pernah berkata kalau kau boleh membuatnya menangis. Dan hari ini kau lancang melewati batasan yang telah kuberi. Matilah kau!” geram Hendar sambil terus mengelus punggung Jenny yang masih terisak di pelukannya. Dia tak terima istrinya di perlakukan seperti ini. Hendar tak terima.


“Tuan Hendar, sepertinya kau sudah salah paham padaku. Nyonya Jenny menangis bukan karena tersakiti olehku, tapi dia menangis karena terkejut setelah mendengar satu kebenaran tentang rahasia yang selama ini di sembunyikan olehnya!” sahut Gavriel dengan tenang. Walau jantungnya sudah hampir copot melihat puluhan senjata tertodong ke arahnya, tapi Gavriel tetap berusaha bersikap santai. Dia masih punya Briana sebagai pelindung dari dewa kematian. Hehe.

__ADS_1


“Salah paham? Apa maksudmu?”


Hendar menatap Gavriel dengan alis mengerut. Dia bingung saat pria ini menyebutkan tentang rahasia yang selama ini di sembunyikan oleh Jenny.


“Nyonya Jenny, kau atau aku yang akan memberitahu kebenaran ini pada Tuan Hendar?” tanya Gavriel seraya menatap kasihan pada wanita yang masih menangis sesenggukan.


“A-aku saja,” jawab Jenny. Dia melepaskan diri dari pelukan Hendar kemudian meraih kedua tangannya. Masih sambil terisak, Jenny menguatkan diri untuk memberitahu Hendar tentang anak mereka. “Hendar, jika seandainya waktu itu bayi yang kulahirkan berjenis kelamin perempuan, apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan menjual bayi itu pada orang lain?”


“Omong kosong! Sayang, kau ini bicara apa. Aku sangat mencintaimu dan juga anak kita. Kau pikir aku sudah gila apa membuang darah dagingku sendiri. Entah itu laki-laki atau perempuan, selagi mereka terlahir dari rahimmu maka aku akan mencintai mereka seperti aku mencintaimu juga. Jadi tolong jangan menanyakan sesuatu yang tidak masuk akal begini. Karena di mataku tidak ada bedanya mau itu laki-laki atau perempuan. Mengerti?” jawab Hendar kaget mendengar pertanyaan Jenny. Sedetik kemudian Hendar tiba-tiba menyadari sesuatu hal. Dia lalu menelan ludah. Tak percaya dengan pemikiran yang muncul di dalam kepalanya. “Sayang, bukankah kau hanya melahirkan Kellen seorang? Kau … kau tidak mungkin melahirkan bayi kembar yang satunya berjenis kelamin perempuan, kan?”


“Hendar, Kellen, dia … dia sebenarnya bukan bayi laki-laki. Kellen, dia perempuan. Aku terpaksa berbohong karena Ayah dan Ibu memberitahuku kalau kau akan membuang anak kita jika aku sampai melahirkan bayi yang bukan berjenis kelamin laki-laki. Maafkan aku, Hendar. Aku dan dokter terpaksa menipu kalian semua demi menyelamatkan nyawa Brianandita. Aku tidak mau dipisahkan dengannya. Aku takut kau akan merebutnya dariku. Aku takut. Maaf!”


Detik itu rasanya Hendar seperti tersengat listrik jutaan volt begitu Jenny memberitahukan rahasia yang di maksud oleh Gavriel. Sungguh, tak sedikitpun dia mengira kalau anak yang selama ini dia anggap sebagai seorang jagoan, ternyata adalah seorang anak perempuan. Dan yang lebih membuatnya syok adalah fitnah yang dilakukan oleh kedua orangtuanya. Tega sekali mereka. Memang apa salahnya kalau Jenny melahirkan anak perempuan? Bukankah bayi itu adalah cucu mereka juga?


“T-tunggu, B-Brianandita? Ma-maksudnya … Briana? Dia ….


Dengan terbata-bata Hendar menyebutkan satu nama cantik yang memang adalah nama yang sedari dulu sudah dia dan Jenny sematkan jika mereka mempunya anak perempuan. Pantas saja istrinya menjadi begitu bersemangat sekali setelah bertemu dengan wanita yang bernama Briana. Ternyata wanita itu adalah ….


“Hiksss, kau benar, Hendar. Briana adalah Brianandita, putri kita. Maafkan aku karena sudah menutupi kebenaran ini darimu. Aku tak berdaya menghadapi ketakutanku waktu itu. Aku benar-benar sangat takut kau akan memberikan Briana pada orang lain. Jadi dengan di bantu oleh dokter, aku mengganti nama Brianandita Origan menjadi Kellen Origan. Tolong jangan membenciku, Hendar. Aku hanya seorang Ibu yang takut dipisahkan dari anaknya,” ucap Jenny sambil memegangi dadanya yang terasa sakit. Matanya berkunang-kunang, rasa takut itu kembali membayang di pelupuk mata.


Belum sempat Hendar tersadar dari keterkejutannya, dia di buat kaget oleh teriakan Gavriel. Jenny pingsan. Istrinya terjatuh tepat di bawah kakinya. Karena terlalu syok, Hendar tak bereaksi apapun saat Gavriel dan anak buahnya membopong tubuh lemah Jenny kemudian membawanya masuk ke dalam mobil. Dia kaku di tempat.

__ADS_1


J-jadi anakku masih hidup? Kellen … bukan, Briana. Dia putriku?


***


__ADS_2