Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Rapat


__ADS_3

Sehari setelah kejadian dimana Lu berhutang ke tetangga, Briana terus mendiamkannya. Bahkan pada saat makan malampun Briana tak sekalipun menegur atau menjawab pertanyaan Lu. Briana masih kecewa, dia benci dengan apa yang dilakukan oleh Lu kemarin.


“Bri, apa kau yakin ingin tetap berangkat bekerja? Kau baru saja pulih. Istirahatlah dulu di rumah,” ucap Lu cemas ketika melihat Briana yang tengah bersiap hendak berangkat ke café.


Tak ada jawaban. Briana diam mengabaikan perkataan Lu. Meski sebenarnya tubuh Briana masih sedikit lemas, dia tetap memaksakan diri untuk berangkat bekerja. Terlalu malas bagi Briana untuk terus berada di dekat orang yang telah membuatnya merasa kecewa. Jadi Briana memutuskan untuk pergi ke cafenya Julia saja agar dia tidak melihat wajah pria idiot ini.


“Briana, aku tahu sikapku kemarin telah menyakiti perasaanmu. Tapi aku melakukan semua itu karena aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Sungguh, aku sama sekali tidak ada niat untuk melewati batasan hidupmu yang begitu anti dengan bantuan tangan dari orang lain. Kau harus percaya itu, Briana,” ucap Lu sambil menahan tangan Briana yang tengah berjalan menuju pintu. “Oke tidak apa-apa kalau kau marah padaku, aku bisa mengerti. Tapi tolong tetaplah di rumah. Kau belum sepenuhnya sehat, Briana. Aku khawatir sakitmu akan kembali kambuh kalau kau memaksakan diri untuk tetap bekerja. Aku khawatir.”


“Kau jangan menyusulku ke cafenya Julia. Kalau kau nekad datang ke sana, jangan salahkan aku kalau malam nanti aku akan mengusirmu pergi dari rumah ini. Paham?” ucap Briana sambil menghempaskan tangannya Lu. Setelah itu Briana buru-buru keluar dari rumah, tak memberi kesempatan untuk Lu bicara.


Sepeninggal Briana, Lu hanya berdiri diam di depan pintu sambil terus menarik nafas panjang. Gara-gara kecerobohan yang dia lakukan, sekarang Briana jadi marah seperti ini. Andai saja kemarin Lu lebih memilih untuk membangunkan Briana daripada berhutang kepada bibi tetangga, keadaan mereka pasti tidak akan seasing ini. Ingin menyesal tapi nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Lagipun yang dilakukan oleh Lu tidak sepenuhnya salah. Sebagai orang yang mengagumi sosok Briana, adalah hal yang sangat wajar bukan kalau Lu merasa cemas melihatnya yang sedang demam tinggi. Karena posisinya yang tidak memiliki uang sepeserpun, Lu terpaksa meminjam uang untuk membeli obat. Dan Lu yakin jika kalian berada di posisinya saat itu, kalian pasti akan melakukan hal yang sama juga bukan?


Apa yang harus aku lakukan ya agar Briana tidak terus mendiamkan aku seperti ini? Aku tidak suka. Melihatnya berteriak memarahi dan memakiku itu terasa jauh lebih baik daripada dia yang terus diam. Cepat pikirkan jalan keluarnya, Lu. Kau harus sesegera mungkin meluluhkan kemarahan Briana agar hubungan kalian bisa membaik lagi seperti semula. Tapi … apa yang harus kulakukan?


Bingung memikirkan jalan keluar, Lu memutuskan untuk keluar dari rumah. Dia perlu udara segar untuk menjernihkan pikirannya yang sedang buntu.Sambil berjalan mondar-mandir di depan rumah, Lu memikirkan berbagai macam cara yang bisa dia gunakan untuk meredam kemarahan Briana. Dan saking seriusnya Lu berpikir dia sampai tidak menyadari kalau para tetangga tengah memperhatikannya. Kali ini bukan hanya tim wanita saja, tapi tim suamipun ikut memperhatikan Lu yang terus berjalan kesana kemari seperti sedang menyetrika pakaian.


“Si hantu air itu kenapa ya?”

__ADS_1


“Ck, memangnya kau tidak lihat kalau si Lu sedang berjalan mondar-mandir?”


“Astaga, kalau itu aku juga tahu. Maksudku itu kenapa sikapnya Lu terlihat aneh sekali. Dan kenapa juga Lu tidak ikut pergi bekerja bersama Briana. Dia tertinggal atau sengaja tidak di ajak pergi?”


“Mana aku tahu. Akukan bukan ibunya.”


Para tetanga malah sibuk menerka ini dan itu sambil terus memperhatikan Lu. Karena rasa penasaran di benak mereka begitu besar, mereka kemudian memutuskan untuk menghampiri Lu saja. Lu yang tengah sibuk dengan pikirannya terlihat kaget saat para tetangga itu datang menghampiri. Cepat-cepat dia bergabung dengan tim suami untuk menghindari terjadinya gencatan senjata.


“Lu, tumben sekali kau tidak pergi bersama Briana. Kenapa? Kalian bertengkar?” tanya salah satu bibi tetangga dengan raut wajah yang begitu penasaran.


“Briana marah padaku, Bi,” jawab Lu jujur. “Gara-gara kemarin aku berhutang tanpa izinnya, Briana tak mau bicara lagi denganku. Dia bahkan melarangku ikut pergi ke café seperti biasanya. Dia … benar-benar sangat marah padaku!”


“Memang dasar ya si gadis galak itu. Lu berhutang kan demi menyelamatkan nyawanya. Kenapa dia malah memusuhi Lu. Kalau aku yang jadi Briana, aku pasti akan langsung sujud syukur karena mempunyai sepupu yang rela berhutang karena tak tega membangunkannya yang sedang demam. Briana sungguh tidak tahu diri sekali. Ingin sekali aku mencubit ginjalnya. Huh!”


“Bibi, tolong jangan memaki Briana. Aku tidak suka mendengarnya!” tegur Lu merasa tak terima saat bibi tetangga ini menyebut Briana sebagai orang yang tidak tahu diri.


Bisik-bisik tetanggapun mulai terdengar setelah mereka melihat Lu begitu tegas membela Briana. Lu yang melihat hal itupun hanya bisa diam membiarkan saja. Toh orang-orang ini tahunya Lu dan Briana adalah sepupu, jadi tidak mungkin mereka menggunjingkan sesuatu yang tidak-tidak. Iyakan teman-teman?

__ADS_1


“Paman, Bibi. Bisakah kalian membantuku mencari jalan keluar dari masalah ini? Aku sungguh merasa tidak tenang didiamkan seperti ini oleh Briana. Dia masih sakit, aku khawatir di tempat kerja dia akan merasa kelelahan jika tidak ada yang membantu. Kalian maukan menolongku?” tanya Lu yang akhirnya meminta bantuan dari para tetangga. Otaknya yang kecil tak kunjung menemukan jalan keluar, jadi dia terpaksa meminta bantuan dari orang-orang ini.


“Em memangnya bantuan seperti apa yang kau butuhkan dari kami, Lu?” tanya salah satu paman tetangga. Ekpresi wajahnya memperlihatkan kalau dia merasa tak tega melihat si hantu air memohon pertolongan.


“Aku ingin melakukan sesuatu yang bisa membuat Briana mau bicara lagi padaku. Apa kalian punya saran?”


Awalnya para tetangga merasa bingung saat Lu meminta saran dari mereka. Kemudian salah satu tim pria mengusulkan agar mereka membuat rapat dadakan saja untuk menentukan bantuan apa yang di inginkan oleh Lu. Setelah itu mereka semua berjongkok melingkar, termasuk juga dengan Lu. Satu-persatu dari mereka mulai memgeluarkan ide yang mungkin bisa meluluhkan kemarahan Briana. Dan setelah melalui perdebatan sengit, akhirnya di putuskan kalau Lu akan mengajak Briana makan malam bersama saja.


“Nah, Lu. Sekarang jalan keluarnya sudah kita temukan. Untuk menu makan malamnya biar kami saja yang menentukan. Kau cukup pikirkan bagaimana cara menghias rumahmu. Oke?’ ucap bibi tetangga sambil tersenyum lebar.


“Tapi Bibi, aku tidak punya uang untuk membeli hiasannya,” sahut Lu sedih.


“Jangan khawatir. Di sini kau itu tidak sendirian. Ada kami semua yang siap untuk membantu. Ya meskipun kami tidak terlalu menyukai Briana, tapi kami tidak mungkin membiarkan kalian terus bermusuhan. Jadi kau jangan cemas. Nanti kami akan memikirkan cara yang minim budget agar Briana tidak merasa kalau kami sedang mengasihaninya. Cihhh, dasar gadis keras kepala itu ya. Apa sih enaknya memiliki prinsip seperti itu? Dia itukan hidup di zaman milenial dimana orang-orang seperti kita lumrah jika ingin saling tolong menolong. Menyusahkan orang saja!”


“Sudah jangan mengeluh terus. Begitu-begitu berkat Briana jugalah lingkungan kita bisa kedatangan pria setampan Lu. Benarkan?”


Lu hanya diam mendengarkan para tetangga saling berbalas candaan. Dalam hatinya, Lu merasa bahagia sekali karena hidupnya di kelilingi oleh orang-orang baik. Kini dia hanya perlu memikirkan bagaimana cara agar rencana mereka bisa berjalan mulus. Lu sungguh sudah tidak tahan di abaikan seperti ini oleh Briana.

__ADS_1


Semoga saja rencana malam ini tidak membuat Briana bertambah semakin kesal padaku. Hmmm, kenapa dadaku jadi berdebar-debar begini ya? Aneh.


***


__ADS_2