Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Igauan


__ADS_3

Kukuyuyuuuukkkk 😂😂


Seperti biasa, tepat pukul lima pagi Lu terbangun dari tidurnya. Dia kemudian menggeliat meregangkan otot di tubuhnya sambil menguap. Setelah nyawanya berkumpul semua barulah Lu duduk. Dia kemudian melihat ke arah ranjang, tersenyum tipis mendapati Briana yang tertidur seperti anak koala.


“Good morning orang baik,” bisik Lu tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Briana. Dan ini adalah waktu paling favorit semenjak Lu tinggal di rumah ini. Bisa melihat wajah natural Briana saat sedang tidur membuat perasaan Lu selalu terasa jauh lebih baik. Semacam suntikan vitamin di pagi hari, begitu pikirnya.


Puas memandangi kecantikan Briana, Lu memutuskan untuk segera bangun dan mandi karena dia masih memiliki tugas penting sebelum menemani Briana berangkat bekerja. Di dalam kamar mandi sesekali terdengar senandung lirih yang keluar dari mulutnya Lu. Suara senandung tersebut seolah ingin memberitahu embun pagi kalau perasaan Lu sedang sangat baik sekali. Dan hal tersebut terus berlangsung sampai Lu menyelesaikan ritualnya. Sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk, Lu pun keluar dari dalam kamar mandi.


Ceklek


“Ughhh Lu, kenapa kau baik sekali sih. Kau juga tampan. Aku suka,” igau Briana dalam mimpinya.


Kaget? Syok? Terkejut? Hohoho, itu sudah pasti. Bahkan Lu sampai diam terpaku saat dia mendengar igauan yang keluar dari mulut Briana. Tampan dan baik … ini Lu tidak salah dengar ‘kan? Briana menyebutnya tampan? Oh astaga. Rasanya jantung di dadanya Lu seperti tergelincir ke dalam perut saking senangnya dia mendengar pengakuan Briana. Ya meskipun hanya dalam bentuk igauan, yang jelas Lu bahagia sekali. Mungkinkah ini adalah pertanda kalau rasa sukanya tidak bertepuk sebelah tangan?


Ya Tuhan, kenapa bulu kudukku berdiri semua ya setelah mendengar igauan Briana? Dia menyukai ketampanan dan kebaikanku? Ya ampun aku senang sekali.


Sambil tersenyum-senyum tidak jelas, Lu melangkah mendekati Briana. Dia dengan sangat hati-hati duduk di tepi ranjang kemudian menatap wajahnya dengan tatapan yang begitu dalam. Jujur, igauan yang baru saja Lu dengar semakin membuat rasa sukanya kian bertambah. Dengan hati yang berbunga-bunga, Lu memberanikan diri untuk menyisir rambut Briana yang terlihat sedikit berantakan. Setelah itu Lu terkekeh pelan melihat Briana yang mengerucutkan bibir karena merasa ada yang mengusik tidurnya.


“Bri, kau tahu tidak. Aku selalu suka melihatmu saat sedang tidur seperti ini. Kau sangatlah manis saat sedang diam begini. Sungguh,” ucap Lu lirih.


Entah karena merasa terganggu atau bagaimana, tiba-tiba saja Briana kembali mengigaukan kata yang sama seperti yang tadi di dengar oleh Lu. Dan tentu saja hal tersebut membuat perasaan Lu kian melayang tinggi. Lu adalah pria normal. Jadi sangatlah wajar jika dia merasa speclees mendengar kata yang lebih merujuk pada kata pujian dari wanita yang dengan begitu baiknya bersedia menampung Lu yang tidak ingat siapa-siapa. Gemas mendengar Briana yang tak berhenti mengigau, dengan penuh keberanian Lu mendekatkan wajahnya untuk mengecup kening Briana. Awalnya hanya kecupan kilat saja. Namun rupanya hal tersebut tak membuat Lu merasa puas. Dia kembali mencium kening Briana hingga beberapa kali, dan berusaha menahan jeritan hatinya yang mendesak gara mencium bibir ranumnya saja.

__ADS_1


Tidak-tidak. Kau tidak boleh melecehkan Briana lewat cara rendahan seperti itu, Lu. Briana adalah wanita terhormat. Dan sebagai pria sejati kau dilarang keras merusak kesuciannya. Ingat Lu. Pria baik-baik tidak akan merusak kehormatan dari wanita yang di cintainya sampai waktunya tiba untuk kalian saling memadu kasih. Bertahanlah. Briana pasti akan sangat membencimu jika dia tahu kau telah melakukan hal tak senonoh kepadanya. Sadar!


Tak ingin terbujuk rayuan sesak dari setan yang ada di tubuhnya, dengan cepat Lu menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tak boleh menuruti rayuan sesat yang bisa merugikan Briana. Tidak boleh.


“Hufttttt,bagus, Lu. Kau berhasil melawan desakan n*fsu sesat itu. Pertahankan!” ucap Lu sambil menepuk dadanya sendiri.


Setelah berkata seperti itu sekali lagi Lu mencium kening Briana sebelum akhirnya dia mulai fokus membersihkan rumah. Pertama-tama yang dia lakukan adalah membereskan lokasi tempat tidurnya. Setelah itu Lu beralih mengumpulkan pakaian kotor miliknya dan juga milik Briana kemudian merendamnya dengan deterjen. Saat Lu hendak mengelap debu, dia kembali dibuat speclees saat Briana lagi-lagi mengigaukan kalimat yang sama. Mau tak mau suara igauan tersebut memancing Lu untuk kembali duduk di tepian ranjang. Sambil tersenyum lebar, Lu membelai pipi Briana yang begitu lembut. Dia kemudian membatin.


Briana, aku jatuh cinta padamu. Maaf, untuk yang satu ini aku tidak bisa menahan diri lagi. Kau terlalu manis untuk tidak kucintai. Sekali lagi maaf karena aku sudah jatuh cinta kepadamu. Aku benar-benar mencintaimu, dewi penolongku.


Merasa ada yang salah denga reaksi di tubuhnya, Lu memutuskan untuk segera menjauh dari Briana. Dia kemudian memilih untuk keluar saja agar perasaan aneh itu tidak semakin berkembang. Sambil melirik kesana kemari, Lu mulai melakukan pemanasan. Dia tentu saja belum lupa dengan ancaman Briana yang menyebut akan merebusnya jika berani memancing keributan lagi. Namun sehati-hati apapun Lu berusaha menghindari para tetangganya yang genit, kemunculannya di pagi itu tetap saja mengundang banyak pasang mata yang diam-diam mengintip. Tapi untunglah para tetangga itu kompak untuk tidak membuat kegaduhan. Mereka mana mungkin rela membiarkan hantu air tampan ini mati direbus hidup-hidup oleh Briana.


Tubuh Lu menegang. Mendadak bulu kuduknya meremang hebat saat dia mendengar suara deheman dari arah belakang. Tak mau menambah masalah, dengan cepat Lu merapihkan pakaiannya kemudian berbalik.


“Pagi-pagi begini kenapa kau sudah mencari penyakit sih, Lu. Kaukan tahu kalau tetangga kita itu sangat mata keranjang. Kenapa kau malah tebar pesona di depan rumah?” tegur Briana sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Jujur, dia sebenarnya tadi sempat terpana saat tak sengaja melihat bentuk tubuhnya Lu yang begitu kekar dan sehat. Namun dia memutuskan untuk menegur Lu ketika mendapati ada banyak sekali mata yang sedang mengintip. Kalian pasti tahulah ya siapa mereka.


“Aku bukan sedang mencari penyakit, Bri. Tapi aku sedang berolahraga untuk mencari keringat,” sahut Lu dengan sangat lembut.


“Kan bisa kau lakukan sambil beres-beres rumah. Aku tidak mau tanggung jawab ya kalau para suami yang tinggal di lingkungan ini kembali melakukan protes padamu. Kau belum lupakan dengan kejadian waktu itu?”


Setelah berkata seperti itu Briana buru-buru masuk ke dalam rumah. Tiba-tiba saja tubuhnya bereaksi aneh saat Lu terus menatapnya. Gugup, sedikit sih. Hehe.

__ADS_1


Hah? Gugup? Kenapa aku harus merasa gugup hanya karena di tatap oleh pria idiot itu? Sadar Briana, sadar. Kau ini kenapa sih?


Lu yang di tinggal masuk oleh Briana pun segera pergi menyusulnya. Dan dia merasa sangat kaget melihat Briana berdiri di belakang pintu sambil mengacak-acak rambutnya sendiri. Khawatir terjadi sesuatu, Lu berjalan mendekat kemudian bertanya ada apa.


“Bri, kau kenapa?”


“Ha?” Briana kaget. Dan dia langsung hilang fokus saat pandangannya bertabrakan dengan pandangan Lu. “L-Lu, k-kau bilang apa barusan? Aku tidak dengar.”


“Aku bertanya kau kenapa. Kau menggerak-gerakkan kepala sambil mengacak rambut. Ada apa, Bri? Kepalamu pusing?” sahut Lu kembali mengulang pertanyaannya. Dia menatap Briana dengan seksama.


“O-oh, kepala ya?”


Briana jadi salah tingkah sendiri karena kebodohanya dilihat langsung oleh Lu. Sambil menahan malu, Briana memikirkan cara untuk beralasan. Dia kemudian terpikir akan satu ide aneh yang bisa membuatnya terbebas dari kecurigaan Lu.


“Anu, kulit kepalaku tiba-tiba saja terasa sangat gatal. Mu-mungkin ada kutu yang sedang berolahraga di dalam sini,” ucap Briana sambil menunjuk kepalanya sendiri. “Maaf, aku ke kamar mandi dulu ya. Aku lupa belum gosok gigi.”


Lu tak bereaksi apa-apa saat Briana berlari masuk ke dalam kamar mandi kemudian menutup pintunya dengan cukup kuat. Dia kemudian melamun.


Memangnya sejak kapan kutu bisa berolahraga? Baru kali ini aku mendengar ada binatang yang mengerti tentang kesehatan. Hmmm.


***

__ADS_1


__ADS_2