Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Tak Berani Berkutik


__ADS_3

“Lu," ....


Briana langsung berlari ke arah Lu begitu melihat kekasihnya datang ke café. Dia tak lagi mengurusi kehadiran pria idiot itu yang datang tanpa membawa teman ataupun penjaga. Otaknya masih belum bisa di gunakan dengan baik setelah mengetahui fakta kalau dirinya adalah anak kandung dari Tuan Hendar dan Nyonya Jenny.


Greeepp


“Lu, ini mengerikan,” bisik Briana sambil membenamkan wajah di dada pria ini.


“Apanya yang mengerikan, hm?” tanya Gavriel. Dia lalu menganggukkan kepala ke arah Tuan dan Nyonya Origan yang tengah duduk di salah satu meja.


“Hasil tes DNA-nya sudah keluar. Dan hasilnya adalah positif. Aku ternyata benar anaknya Tuan Hendar dan Nyonya Jenny. Bagaimana ini?” jawab Briana lirih.


Gavriel menghela nafas. Tanpa melepaskan pelukan, Gavriel mengajak Briana untuk duduk bersama dengan kedua orangtua kandungnya. Dia tahu Briana masih syok atas kenyataan yang baru di dengarnya, begitu juga dengan Tuan Hendar. Jadi Gavriel berniat mengajak kedua orang ini untuk bicara dari hati ke hati.


“Duduklah. Mari kita bahas masalah ini supaya tidak ada kecanggungan di antara kalian. Oke?” bujuk Gavriel dengan sangat sabar.


“Haruskah?”


“Mereka orangtua kandungmu, sayang. Aku tahu kau terkejut atas hal ini, tapi fakta telah membuktikan kalau mereka adalah bagian dari hidupmu.”


Lama Briana merespon perkataan Lu sebelum akhirnya dia menganggukkan kepala. Setelah itu Briana melepaskan pelukan, beralih menatap bergantian ke arah Tuan Hendar dan Nyonya Jenny.


“Aku begini bukan karena kaget kalian adalah orangtuaku, tapi aku bingung memikirkan siapa orangtua yang selama ini di ceritakan oleh Kakek. Mungkinkah mereka adalah sepasang musang? Atau malah sepasang srigala? Aku syok memikirkan hal ini!” ucap Briana memberitahu semua orang alasan kenapa reaksinya seakan menolak untuk mengakui fakta yang ada.


Glukkk


Baik Jenny maupun Hendar, mereka sama-sama menelan ludah setelah mendengar pengakuan Briana. Sungguh, yang di ucapkan oleh gadis ini sangat jauh dari apa yang mereka bayangkan. Padahal tadi perasaan mereka sudah sangat hancur karena berpikir Briana enggan mengakui mereka sebagai orangtua kandung. Tapi apa yang baru saja mereka dengar? Astaga.


“J-jadi kau menerima hasil tes itu dengan lapang dada?” tanya Hendar hati-hati sekali.


“Memangnya apa yang harus aku lakukan selain menerimanya? Mengamuk? Atau kerasukan?” sahut Briana. “Aku bukan lagi anak remaja dengan emosi yang sangat labil. Karena hasil tesnya menyatakan kalau aku adalah anak kandung kalian, itu artinya kita adalah keluarga. Iyakan, Lu?”


“Iya, sayang. Kalian adalah keluarga,” sahut Gavriel sembari membelai rambut Briana. Dia lega karena kekasihnya bersedia menerima kedua orangtuanya tanpa harus membujuknya lebih dulu.


“Ekhmmm!”


Suara deheman Hendar membuat Briana langsung memicingkan mata. Seketika dia teringat dengan penjaga yang menegurnya ketika sedang bermesraan dengan Lu.


“Jangan coba-coba mengatur kehidupanku meski aku adalah anak kandungmu ya, Tuan Hendar. Karena sebelum bertemu dengan kalian, Lu sudah lebih dulu ada di hidupku. Dia pria baik-baik, tak pernah sekalipun mempunyai niat untuk merusak kehormatanku. Jadi jangan membatasi kebersamaan kami dengan alasan seorang ayah berhak melindungi putrinya. Paham?!” tegur Briana dengan lantang. Dia tak mau memberi ampun meski itu pada ayahnya sendiri.


Hendar menghela nafas.

__ADS_1


“Briana, bisa tidak kau memanggilku Ayah? Sebutan Tuan terlalu aneh untuk status kita yang adalah ayah dan anak,” ucap Hendar.


“Bisa-bisa saja asal kau mau berjanji jangan mengganggu hubunganku dengan Lu,” sahut Briana bernegosiasi.


“Aku hanya ingin ….


“Tadi sudah aku peringatkan bukan agar jangan memakai embel-embel seorang ayah?”


Jenny terkekeh. Lucu melihat interaksi antara mafia dan anak mafia. Sedangkan Gavriel, dia fokus memperhatikan Briana saja. Kekasihnya ini terlihat sangat bahagia meski mulutnya terus bicara ketus.


“Hah, kenapa siatuasinya jadi kaku begini ya?” gumam Briana. Dia kemudian menoleh, kaget karena ternyata Lu tengah memperhatikannya. “Kalau rindu bilang saja rindu. Jangan malah memelototiku seperti ini. Malu tahu,”


“Kau bahagia?”


Briana kicep.


“Apa sekarang kau bahagia karena mempunyai anggota keluarga yang lengkap?” tanya Gavriel lagi.


“K-kenapa kau bertanya seperti itu, Lu?” sahut Briana balik bertanya. Suaranya sedikit tercekat di tenggorokan. Mencoba menahan diri agar tidak menangis.


“Karena aku akan ikut bahagia jika kau bahagia,” jawab Gavriel.


“Selamat ya. Walaupun sedikit terlambat, tapi aku lega karena berhasil membawakan keadilan ini untukmu. Jangan merasa sendirian lagi ya, sayang. Karena sekarang kau sudah punya sandaran untuk berbagi keluh kesahmu.”


Mata Briana menjadi berkaca-kaca saat Lu bicara seperti itu padanya. Dia ingat betul bagaimana pria ini mengajarinya cara untuk lebib terbuka pada orang lain. Sesak, Briana kembali masuk ke dalam pelukannya. Dia menumpahkan segala kesedihan dan juga keharuan di sana.


“Hiksss, terima kasih. Terima kasih banyak karena kau sudah hadir di hidupku, Lu. Terima kasih juga karena kau tidak bosan mengajari bagaimana cara mencintai diri sendiri. Aku mencintaimu, Lu. Sangat,” aku Briana di sela-sela isak tangisnya.


“Begitupun aku, sayang. Aku seribu kali lebih mencintaimu,” sahut Gavriel kemudian mencium puncak kepala Briana. Dia abai meski di hadapannya ada sepasang suami istri yang sedang memperhatikan.


Melihat suaminya yang kegerahan menyaksikan kemesraan Gavriel dan putri mereka, segera Jenny menahannya yang ingin membuat ulah. Dia membisikkan sesuatu yang mana langsung membuat Hendar diam tak berkutik.


“Kalau kau berani merusuh, aku berani menjamin kalau Briana akan membencimu sampai mati. Mau?”


Haihhh, tidak ku sangka ternyata berat juga memikul beban sebagai orangtua. Nasib-nasib, punya istripun tak bisa membela. Malah mengeluarkan ancaman yang membuatku mati kutu. Kalau sudah begini aku mana mungkin berani menjauhkan Gavriel dari Briana. Atau aku tunggu ada kesempatan saja ya baru bicara dengannya. Aku tidak rela dia bermesraan seperti ini dengan putriku. Aku tidak rela.


“Sudah ya jangan menangis lagi. Hari ini adalah hari bahagiamu, jadi kau harus tersenyum. Oke?” ucap Gavriel sembari menyeka air mata di wajah Briana. Setelah itu dia menarik kedua sudut bibir Briana hingga membentuk satu senyuman. “Kau yang paling cantik saat sedang tersenyum seperti ini. Aku suka.”


“Ck, kondisikan mulutmu, Lu. Di sini ada Ayah dan Ibuku,” tukas Briana malu-malu. Dia sampai tak sadar telah menyebut Tuan Hendar dan Nyonya Jenny sebagai ayah dan ibu.


“Biar saja. Biar sekalian mereka tahu kalau putri mereka adalah wanita paling cantik di muka bumi ini,” sahut Gavriel dengan terang-terangan.

__ADS_1


Briana langsung menoleh ke arah lain saat Gavriel menggodanya. Seluruh tulang yang ada di badan serasa melebur semua. Lemah, tak berdaya.


“Oya, di mana Julia? Tumben sekali dia tak setor wajah di sini,” tanya Gavriel sambil celingukan mencari keeberadaan wanita yang sangat mahir melakukan transaksi gelap. Sementara tangannya terus saja menggenggam tangan Briana.


“Wanita mata duitan itu sedang menyetorkan uang ke bank. Mungkin sekarang dia sudah dalam perjalanan pulang,” jawab Briana sambil mend*sah kesal.


“Menyetor uang?”


“Kami yang memberikan uang itu pada Julia, Gav. Ya hanya sebagai ungkapan terima kasih kecil kami karena sudah membantu menjaga Briana selama ini,” timpal Jenny ikut bicara.


“Apa banyak, Nyonya?”


Sudut bibir Gavriel berkedut. Jika banyak, dia yakin sekali pasti tadi terjadi perebutan harta gono-gini antara Julia dengan Briana.


“Hanya satu koper saja,” jawab Jenny.


“A-apa? S-satu koper?”


Woaahh, Julia benar-benar memenangkan banyak jackpot. Sudah kaya raya dia sekarang.


“Iya. Dan kemungkinan kami masih akan memberinya hadiah lain jika memang di perlukan. Benar begitukan, Bri?”


“Selama aku bisa lebih kaya dari Julia, maka aku terserah kalian saja,” sahut Briana malas-malasan.


“Kau yakin?” Gavriel bertanya sambil menaik-turunkan kedua alisnya. Ingin menggodanya.


“Ck, jangan memantik api, Lu. Sekarang aku sedang dalam suasana hati yang tenang, jangan menambahkan bensin. Tahu?”


“Baiklah-baiklah.”


Setelah itu perhatian semua orang beralih pada seorang wanita yang baru saja keluar dari dalam mobil. Wanita itu muncul dengan memakai kaca mata hitam dan di jaga oleh dua orang pengawal. Sepertinya wanita ini bukan wanita biasa. Hmmm.


“Tiba-tiba saja aku ingin mematahkan kaki wanita itu. Apa boleh?” tanya Briana gemas sendiri melihat kelakuan Julia. Siapa yang anak orang kaya, tapi siapa juga yang berlagak seperti Nona. Haih.


“Daripada kau mematahkan kaki Julia lebih baik kau peluk aku saja, sayang. Itu jauh lebih bermanfaat daripada harus buang-buang tenaga. Iyakan?” seloroh Gavriel dengan entengnya.


“Oke, siapa takut.”


Kulit wajah Hendar terus berubah-ubah dari putih ke merah, merah ke ungu, ungu ke putih lagi, dan begitu seterusnya. Ingin marah, tapi takut terkena amukan Briana. Tidak marah, tapi hatinya dongkol melihat Gavriel yang terus mengumbar kemesraan di hadapannya. Hendar dilema. Dia tak berkutik di bawah keturunannya sendiri.


***

__ADS_1


__ADS_2