
“Nah, itu dia manusianya!” pekik Julia seraya mengelus dada begitu dia melihat Briana yang tengah berlari kecil menuju café.
Hampir saja Julia melapor pada polisi jika Briana tak juga menampakkan batang hidungnya. Dia takut sekali kalau sahabatnya itu mati gara-gara terlambat datang ke café setelah semalam mereka mabuk bersama. Walaupun sudah seminggu terlewat, Briana masih saja menggalaukan Lu, yang mana hal itu membuat Julia jadi merasa tidak tenang. Bukan, Julia bukan khawatir Briana akan gila, bukan itu. Tapi dia takut gagal menjadi bibi dari anak konglomerat keluarga Anderson. Karena jika Briana sampai kehilangan kewarasannya, sudah bisa dipastikan kalau Gavriel tidak akan mungkin menikahinya. Sedangkan jalan satu-satunya agar Julia bisa mendapat suntikan dana adalah dengan memasukkan sahabatnya ke dalam daftar anggota keluarga itu. Jadi wajar sajakan kalau Julia begitu mengkhawatirkan asetnya?
Hosshh hosshh hosshhh
Briana bernafas terengah-engah sambil memegangi lututnya begitu dia sampai di hadapan Julia. Sungguh, berlarian seperti ini sangatlah melelahkan. Briana kapok melakukannya.
“Kau kenapa, Bri? Dikejar anjing atau dikejar orang gila?” tanya Julia iseng.
“Lebih baik kau diam saja atau aku akan menyumpal mulutmu menggunakan kaos kakiku yang sudah basah keringat. Menyebalkan!” jawab Briana kesal. Dia kemudian berdiri tegak sebelum menatap aneh pada Julia yang seperti sedang menahan senyumnya. “Kenapa kau? Cacingan?”
“Yakkk!”
Julia berteriak.
“Tidak usah berteriak sekuat itu. Aku tidak tuli ya,”
“Cihhhh, giliran aku saja yang berteriak, kau langsung menegurku. Coba kau yang berteriak. Bahkan malaikat yang menegur sekalipun kau tidak akan mungkin mengalah. Dasar curang kau, Bri!” sungut Julia tak terima di pelototi oleh Briana. Segera dia melipat tangan di depan dada sambil mengerucutkan bibir.
Briana berdecih. Tanpa babibu lagi, dia melenggang masuk ke dalam café kemudian menyimpan tasnya di laci meja. Mengabaikan Julia yang masih merajuk, Briana bersenandung dengan riangnya sambil berjalan menuju dapur. Dia lalu menyiapkan barang-barang dan juga sayuran di atas meja kemudian beralih memanaskan sup yang sebelumnya sudah dimasak oleh Julia. Bahagia, itu yang sedang Briana rasakan sekarang. Setelah tadi dia mendapat saran dari wanita yang tak di kenalnya, mendadak kegundahan di diri Briana lenyap seketika. Kesedihan yang dia rasa sejak berhari-hari yang lalu hilang entah kemana, tergantikan oleh rasa lega yang sangat luar biasa besar. Biarlah jika nanti Julia akan menyebutnya plin-plan, Briana tak peduli. Yang paling penting sekarang Briana wajib memperjuangkan kebahagiannya meskipun dia sendiri tidak tahu akan seperti apa hasil dari perjuangannya itu.
Woaaahhh, sialan sekali wanita satu itu. Kenapa Briana tega mengabaikan aku yang sedang merajuk? Otaknya tidak mungkin sedang konslet ‘kan?
Khawatir Briana melakukan sesuatu yang aneh-aneh di dapur, Julia bergegas pergi menyusul. Dan sesampainya di sana Julia dibuat terheran-heran melihat sikap sahabatnya yang terkesan santai seperti hari biasa. Penasaran akan perubahan sikap tersebut, Julia pun memutuskan untuk bertanya. Dia melangkah pelan kemudian berdiri di samping Briana yang tengah bersiul sambil mengaduk sup di atas kompor.
__ADS_1
“Panasnya normal,” gumam Julia setelah menempelkan punggung tangannya ke kening Briana. Dia kemudian beralih menempelkan punggung tangannya ke bagian bokong untuk mengukur suhu panas di bagian sana. “Syukurlah. Kau tidak sedang demam ternyata,”
“Bisa tidak kau jangan memancing kekesalanku, Julia?” protes Briana tak terima dirinya disamakan dengan bokong Julia yang tidak terlalu montok itu. Kurang ajar sekali bukan anak manusia satu ini? Menguji emosi saja. Huh.
“Hehehe, maaflah. Jangan marah,” sahut Julia sambil tersenyum lebar.
“Maaf-maaf. Kau pikir aku ini Tuhan apa seenaknya kau meminta maaf!”
“Lalu aku harus melakukan apa Briana kalau bukan meminta maaf padamu?”
“Mana aku tahu. Itu urusanmu ya,”
“Ck,” Julia berdecak. Dia lalu menelisik penuh curiga pada Briana yang kembali bersiul riang setelah berdebat dengannya. "Bri, ngomong-ngomong kenapa hari ini kau terlihat berbeda sekali ya. Wajahmu terlihat bahagia dan suasan hatimu sepertinya sudah tidak seburuk kemarin. Ada apa? Apa tadi saat kau sedang dalam perjalanan ke café kau bertemu dengan Lu?”
Briana menoleh. Dia lalu menyeringai jahat mendapati Julia yang tengah menatapnya dengan mimik wajah yang begitu penasaran.
“Mana ada mulutku ember, Bri. Kau jangan firnah ya,” elak Julia enggan mengakui. Dia lalu kembali membujuk agar Briana bersedia memberitahukan apa yang terjadi. “Ayolah, Briana. Cepat beritahu aku apa yang sebenarnya terjadi padamu. Aku inikan sahabatmu, masa iya sih kau mau main rahasia-rahasiaan denganku. Kan tidak lucu?”
“Lalu?”
“Beritahu aku. Oke?”
“Tidak akan!”
“Pleasee,” ….
__ADS_1
“No no no no!"
Briana mematikan kompor. Dia lalu berjalan menuju tempat cuci piring untuk membersihkan tangannya. Sedangkan Julia, dia terus mengekori Briana sambil meletakkan dagu di atas bahunya. Bodo amat. Apapun akan Julia lakukan demi agar Briana bersedia membuka mulut meskipun usahanya ini cukup mengancam nyawa.
“Aku akan menelpon Lu!” ucap Briana seraya meng*lum senyum.
“Whaaattt!”
Julia syok. Matanya sampai membeliak sebesar jengkol saking kagetnya dia mendengar ucapan Briana yang barusaja mengatakan ingin menelpon Lu. Sungguh, rasanya jiwa Julia seperti pindah ke alam lain begitu tersadar kalau gelarnya sebagai calon bibi dari pewaris keluarga Anderson tidak jadi batal. Seketika pikiran Julia langsung berkelana membayangkan bagaimana nanti dia akan di sanjung oleh banyak orang karena sahabatnya akan menjadi Nyonya Anderson. Hahahaha.
Plaaakkk
“Aku tahu ya apa yang ada di dalam pikiranmu sekarang!” omel Briana setelah menggeplak kening Julia. Benar-benar ya. Begitu dia berkataa akan menelpon Lu, Julia langsung memasang ekpresi yang sangat licik. Sebagai orang yang sudah sangat lama mengenalnya, Briana jelas tahu halusinasi macam apa yang tengah bergumul di dalam otak sahabatnya ini. Ya ampuuunn.
“Hehehe,”
Briana menghela nafas panjang. “Julia, aku tidak peduli meski setelah ini kau akan menyebutku sebagai wanita yang tidak setia pada prinsip yang pernah kukatakan sendiri. Masa bodo, aku tidak peduli. Sejak Lu kembali ke keluarganya, aku merasa kalau hidupku benar-benar sangat menyedihkan. Aku kesepian dan aku merasa sangat amat kehilangannya. Jadi setelah aku menerima masukan dari ahli yang sangat bijak tentang perasaan, aku memutuskan untuk memberitahu Lu kalau aku merindukannya. Terlepas akan seperti apa reaksinya nanti, itu urusan belakangan. Yang terpenting aku hanya ingin mengikuti apa kata hatiku saja. Dan jika seandainya nanti Lu memberikan respon yang berbeda dari apa yang aku inginkan, saat itulah aku akan langsung menghentikan perasaanku agar tidak berkembang lebih jauh. Karena yang sedang kualami sekarang bukan lagi tentang gengsi, tapi tentang hati. Paham?”
“Yesss! Aku sangat setuju dengan keputusanmu, Briana. Akhirnya ya kau sadar juga. Kau itu harusnya tahu kalau cinta sangatlah simpel. Jika suka maka perjuangkan. Tapi jika tidak, ya cari saja pria lain saja. Mudah ‘kan?” sahut Julia heboh. Karirnya sebagai bibi dari pewaris keluarga Anderson sebentar lagi pasti akan segera melejit. Dia hanya perlu meracuni pikiran Briana dengan sesuatu yang sedikit berbau keagresifan agar Briana tak mundur lagi untuk menyatakan perasaannya kepada Lu. Sambil tersenyum penuh kemenangan, Julia iseng menyenggol lengan Briana. “Kenapa tidak dari kemarin saja sih kau sadarnya, Bri. Jadikan aku tidak perlu melihatmu menggalau seperti orang gila dan juga menguras uang di ATM-ku hanya untuk menemanimu minum,”
“Haihhhh, aku mana tahu akan mengambil keputusan seperti ini, Julia. Kemarin-kemarin aku memang terlalu naif meyakini kalau aku akan baik-baik saja dengan perasaanku yang terpendam. Namun apa mau di kata, cinta membuat hidupku tersiksa. Tapi terima kasih banyak ya karena kau terus berada di sampingku saat aku sedang mengalami masa tersulit di hidupku!” sahut Briana seraya melayangkan tatapan penuh bangga pada sahabatnya yang agak mesum ini. Dia merasa berhutang budi kepadanya.
“Bukankah guna sahabat memang seperti itu ya? Lagipula kita ini sudah kenal dari lama. Kalau bukan aku lalu siapa yang akan menjagamu di dunia ini, hem?”
Terharu, Briana langsung menghambur memeluk Julia. Jika hari-hari kemarin mereka terlihat seperti anjing dan kucing yang tak pernah akur, kali ini mereka benar-benar terlihat mirip dengan manusia. Seperti itulah persahabatan yang terjalin antara Julia dengan Briana. Ada kalanya mereka bertengkar hebat karena sesuatu hal hingga membuat lubang di dinding sebagai media penghubung saat mereka sedang bekerja. Namun ada kalanya juga mereka terlihat waras seperti manusia lainnya. Satu pelajaran penting yang bisa kita ambil dari hubungan mereka. Bahwasanya orang yang pantas kita sebut sebagai sahabat adalah dia yang tidak akan pernah meninggalkan dikala kita tertimpa masalah dan kesulitan. Dan pastinya yang rela mengorek uangnya demi agar bisa membuat kita tersenyum kembali. Hahahhaha. 😎😎😎
__ADS_1
***