Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Pemandangan Hangat


__ADS_3

Sementara itu di dalam kamar, terlihat Lu yang sedang menggosok gigi bersama Briana. Sesekali mereka tampak saling goda dengan mencolek pinggang kemudian saling memeluk. Sungguh suatu pemandangan yang begitu hangat, sehangat cinta yang bersemi subur di hati mereka.


"Aku sudah selesai," ucap Briana setelah berkumur-kumur. Dia kemudian tersipu malu saat Lu menatapnya lekat dari arah cermin. "K-kau cepatlah bersihkan wajahmu. Ada busa di bagian ujung bibir. Cepat bersihkan."


"Bisa bantu aku membersihkannya?" Lu meminta sambil tersenyum tipis. Sengaja dia lakukan agar bisa menyimpan banyak momen dengan Briana. Besok pagi Briana sudah akan pulang, jadi dia ingin tidak mau melewatkan kesempatan sekecil apapun. Jadi apapun itu Lu akan berusaha membuat Briana semakin mencintainya.


"Memangnya kau tidak bisa membersihkannya sendiri apa?"


"Bisa, tapi aku ingin kau yang melakukannya. Aku ingin membuat kenangan sebanyak mungkin di setiap sudut rumah ini agar bisa selalu merasakan hadirmu di kala jauh. Boleh, kan?"


Hati wanita mana yang tidak akan meleleh ketika diperlakukan dengan begitu manis oleh kekasihnya. Dan begitu juga dengan yang sedang dirasakan Briana sekarang. Sambil tersenyum malu-malu dia menyalakan kran kemudian mengambil sedikit air dengan tangan. Dengan penuh perhatian Briana pun mulai membersihkan wajah Lu dari sisa busa bekas sikat gigi. Andai saja ada yang bisa mendengar, saat ini jantung Briana berpacu dengan kecepatan yang sangat tinggi. Debarannya begitu kuat, seolah mampu meruntuhkan segala organ yang tinggal di dalam tubuh.


Ya Tuhan, kenapa Lu menatapku sampai seperti itu? Dia tidak tahu apa ya kalau jantungku sudah hampir berpindah tempat karena tak kuat melihat tatapannya. Astaga, membuat orang gugup saja.


"Sudah se ... yakk, Lu. Apa yang kau lakukan?" Briana memekik kaget saat tubuhnya tiba-tiba di angkat kemudian di dudukkan di atas wastafel. Cepat-cepat Briana berpegangan pada bahunya Lu, dia takut jatuh. "Lu, cepat turunkan aku. Jangan beginilah. Kalau aku jatuh kemudian tulang ekor belakangku patah bagaimana? Mau kau punya kekasih cacat?"


"Jangan marah. Aku hanya ingin merekam momen indah sebanyak yang aku mau sebelum kau pergi. Kau tidak lupa kan kalau malam ini adalah malam terakhir kau menemaniku?" ucap Lu sembari membelai pipi Briana menggunakan jari telunjuk. Tatapannya sendu, seolah ingin menunjukkan pada dunia kalau dia sangat tidak rela berpisah dengan wanita ini. "Briana, tolong nanti sesekali datanglah menjengukku di sini. Keadaanku masih belum pulih, jadi aku tidak tahu jalan menuju rumahmu. Jikapun aku memaksa ingin datang ke sana, Wildan pasti tidak akan membiarkanku untuk pergi. Dia sedikit kejam dengan terus menjadwalkan jam terapi untukku. Tolong lakukan ini demi hubungan kita ya?"


Mendengar keluhan Lu membuat Briana tak kuasa untuk tidak tersenyum. Sambil menatapnya penuh cinta, dia merespon keluhannya itu dengan sesuatu yang membuat Lu tertunduk lesu.


"Wildan bersikap seperti itu adalah untuk kebaikanmu juga, Lu. Kau itukan punya tanggung jawab besar di perusahaan, jadi apapun caranya kau harus bisa pulih secepatnya. Jadi aku minta kau jangan rewel ya. Kasihan Wildan. Nanti dia bisa mati muda menghadapimu yang keras kepala dan juga Erzan yang hobi mengeluh. Setidaknya bersikaplah patuh sampai keadaanmu kembali normal seperti dulu. Oke?"


"Apa Wildan jauh lebih berharga di matamu ketimbang aku?" Lu sedih. Dia cemburu karena Briana lebih memikirkan perasaan Wildan alih-alih lebih mementingkan perasaannya. Sebagai pria normal wajar sajakan kalau dia merasa terduakan? Sedih

__ADS_1


sekali.


"Lu, kau kenapa bisa berpikir seperti itu, hem?" sahut Briana sambil terkekeh kecil. Dia lalu menyatukan keningnya dengan kening Lu. "Dasar pria idiot. Seumur-umur aku hidup, hanya kau satu-satunya pria yang bisa menjungkirbalikkan perasaanku. Jadi aku minta kau jangan pernah mencemburui pria lain karena aku tidak akan pernah membiarkan mereka bisa mendapatkan perhatianku. Oke?"


Seulas senyum manis langsung menghiasi bibir Lu setelah Briana meyakinkan kalau cintanya hanya untuk dia seorang. Karena posisi wajah mereka begitu dekat, Lu tanpa ragu menarik pelan leher Briana kemudian menempelkan bibir mereka. Briana tanggap. Dia segera mengalungkan tangan ke leher Lu kemudian memejamkan mata saat bibir basah pria ini mulai bergerak.


"Aku mencintaimu, Briana. Sangat amat mencintaimu," bisik Lu di sela-sela ciumannya. Dia kemudian tersenyum saat Briana hanya mengangguk ketika merespon ucapan cinta darinya. Setelah itu Lu kembali mel*mat bibir yang terlihat indah tanpa menggunakan apa-apa. Briana-nya cantik dengan penampilan alami, juga menakjubkan dengan caranya yang berbeda. Lu bangga memilikinya. Sungguh.


Lu dan Briana sama-sama terengah setelah beberapa menit larut dalam ciuman yang bergelora. Dengan penuh perhatian Lu mengusap bibir bawahnya yang sedikit membengkak, buah dari perbuatannya barusan.


"Tidur?"


"Kakiku lemas." Masih dengan terengah Briana mengakui keadaan tubuhnya yang memang sangat lemas. Padahal hanya ciuman, tapi kondisinya sudah seperti ini. Bagaimana nanti jika Lu sampai mengajaknya membuat adonan? Bisa-bisa Briana tidak bisa berjalan. Haih, memalukan.


"Aku akan menggendongmu. Jangan khawatir, kau punya aku,"


"Tunggu ya. Aku akan keluar sebentar," bisik Lu saat menyadari ada yang tidak beres. Dia kemudian tersenyum saat Briana balas berbisik dan meminta agar tidak terlalu lama meninggalkannya.


Setelah mengecup keningnya, Lu bergegas keluar dari dalam kamar. Dan sesampainya di sana Lu di buat kaget akan keberadaan sang ibu yang tengah menempel ke tembok seperti seekor cicak.


"Ibu, apa yang sedang Ibu lakukan di sini?" tanya Lu berusaha sabar.


Helena meringis. Sambil tersenyum kikuk, dia berbalik menghadap ke arah Lu. Bak seorang maling yang tertangkap basah sedang mencuri, Helena langsung menundukkan kepala saat putranya terus saja menatapnya lekat. Dia merasa bersalah, tapi cuma sedikit.

__ADS_1


"Apa Ibu tidak berniat menjawab pertanyaanku?"


"Emm Lu, maaf. Tadi itu Ibu tidak mempunyai niat untuk mengintip apa yang sedang kau lakukan di dalam kamar bersama Briana. Akan tetapi saat Ibu melihat pintu kamarmu yang tidak terkunci, tiba-tiba saja ada setan lewat kemudian berbisik memberitahu Ibu agar mengintip apa yang sedang kalian lakukan. Begitu," ucap Helena beralasan.


"Lalu apa yang Ibu lihat?" Lu bicara sambil menahan senyum. Ibunya ini benar-benar ya. Sepertinya virus 21++ di diri Julia sudah banyak ditularkan pada wanita ini. Haihh.


"Ibu belum melihat sesuatu yang panas-panas kok. Hanya, hanya melihat kalian berciuman saja tadi. Sungguh," jawab Helena jujur. Dia lalu memberanikan diri untuk menatap putranya. "Lu, jangan marah. Ibu hanya sudah tidak sabar ingin segera memiliki cucu. Kau tahu sendiri kan kalau Ibu itu tidak memiliki anak perempuan. Jadi Ibu sangat amat berharap kau dan Briana bisa segera menikah!"


Helena tahu kalau apa yang dilakukannya sudah sedikit kelewatan. Akan tetapi dia bisa apa. Suara hatinya begitu keras berteriak meminta agar putranya segera meresmikan hubungannya dengan Briana. Helena sudah tidak sabar ingin pamer kepada teman-temannya yang lain. Dia iri.


"Bu, menikah itu bukan perkara gampang. Apalagi sekarang kondisiku masih belum pulih sepenuhnya. Jadi aku minta tolong Ibu bersabar sebentar lagi ya. Aku janji nanti begitu aku sembuh, aku akan langsung membawa Briana masuk ke rumah ini sebagai bagian dari keluarga Anderson. Oke?" sahut Lu menghibur hati sang Ibu agar tidak sedih. Tak tega, dia kemudian memeluknya. Tersenyum saat wanita ini membalas pelukannya dengan begitu erat. "Dan juga tolong Ibu jangan pernah berpikir macam-macam seperti Julia. Bukankah aku sudah pernah bilang kalau aku tidak akan pernah melebihi batasan saat menyentuh Briana sebelum kami resmi menikah. Walaupun aku tidak bisa mengingat banyak hal, tapi aku bisa merasakan kalau Ayah dan Ibu telah mendidikku agar tumbuh menjadi pria yang taat dan bertanggung jawab dalam semua hal. Dan sekarang aku sedang melaksanakan didikan yang kalian beri dengan cara menjaga kehormatan seorang wanita. Ibu bisa mengerti itu, kan?"


"Iya Ibu tahu. Maaf ya karena Ibu sering lepas kontrol dengan terus berpikir yang tidak-tidak tentang kalian," sahut Helena tak merasa menyesal. Dia kemudian mengurai pelukan, menatap putranya penuh sayang. "Sekarang kau masuklah temani Briana di dalam. Kalian pasti ingin menghabiskan banyak waktu untuk mengobrol sebelum Briana pulang, kan?"


Lu mengangguk.


"Kalau begitu masuklah. Ibu juga akan segera pergi ke kamar untuk beristirahat."


"Baiklah. Selamat malam, Ibu. Selamat beristirahat."


"Selamat malam kembali, Nak. Tidurlah yang nyenyak,"


Setelah berpamitan, Lu segera masuk ke dalam kamar kemudian mengunci pintu. Dia kemudian menyunggingkan senyum ke arah Briana yang tengah berbaring memeluk guling.

__ADS_1


Jangan Ibu, aku saja sudah sangat tidak sabar ingin segera menanam benih di rahim Briana. Ya Tuhan, bantu aku supaya cepat sembuh. Berikan petunjuk agar aku bisa segera mengetahui ada hubungan apa antara Briana, anak laki-laki dalam mimpiku dan juga Nyonya Jenny. Aku sungguh penasaran sekali. Tolong bantu aku ....


***


__ADS_2