
Dengan berat hati Lu melepas kepergian Briana yang kala itu kekeh menolak di antar olehnya. Padahal Lu berniat meninggalkan tanda agar sewaktu-waktu dia bisa pulang ke rumah kekasihnya itu. Namun, Briana tetaplah Briana yang keras kepala. Wanita itu memilih untuk pulang dengan menggunakan taksi saja meski sempat terjadi adu mulut dengan Julia. Yah, kalian pasti tahu sendirilah betapa gatalnya Julia jika sedang ada Wildan. Tapi setelah Briana melayangkan ancaman, wanita bergelar guru besar ilmu 21++ itu berubah jadi patuh dan tidak banyak bicara.
"Wildan, sesekali tolong datang kunjungi aku di cafe. Lihat, wanita ini terus saja membully-ku. Kau pasti khawatir aku akan terluka apa tidak, kan?" Julia dramatis. Dia lalu melambaikan tangan seraya memasang ekpresi tak berdaya saat mobil bergerak maju. "Selamat tinggal, Wildan. Sehat-sehat kau ya?"
Lu terus memperhatikan Wildan yang seperti sedang menahan senyum. Saat ini mereka tengah berada di rumah sakit tempat Lu melakukan terapi. Namun karena salah satu dokter datang terlambat, mereka memilih untuk menunggu di kantin sembari memesan kopi. Sekalian menghibur hati yang sedang sedih karena di tinggal kekasih.
"Jangan bilang kau tersenyum seperti itu karena sedang memikirkan Julia, Wil. Aku akan tertawa terbahak-bahak jika dugaanku sampai benar," sindir Lu sebelum menyeruput kopi miliknya. Setelah itu Lu melirik ke arah Wildan, terkekeh kecil saat pria itu menampakkan gelagat kikuk. "Kau tertangkap, Wildan. Kenapa? Mulai terpesona pada guru mesum itu ya?"
"Tuan Gavriel, tolong anda jangan salah mengartikan senyuman di bibir saya. Memang benar kalau saya sedang memikirkan Julia, tapi bukan dalam konteks kasmaran. Saya hanya merasa lucu saja mengingat kejadian sebelum dia dan Nona Briana pergi dari rumah. Julia begitu dramatis, membuat saya jadi ingin memiliki anak perempuan sepertinya," sahut Wildan menjelaskan agar sang atasan tidak salah paham. Namun, sedetik kemudian Wildan dibuat kaget akan sesuatu hal. Dia lalu menatap lekat pria di hadapannya. "Tuan, jangan bilang anda juga tidak ingat kalau saya sudah menikah dan istri saya sebentar lagi akan melahirkan anak pertama kami. Apa benar?"
"Hah?? Jadi kau sudah menikah?"
Kedua mata Lu membelalak lebar begitu tahu kalau Wildan ternyata sudah menikah. Petaka, ini benar-benar petaka. Bagaimana mungkin di usia Wildan yang masih begitu muda dia sudah mau mempunyai anak? Astaga. Kasihan sekali Julia. Wanita itu bisa jatuh pingsan jika sampai mengetahui fakta ini. Malang nian.
"Ya ampun, maaf, Tuan Gavriel. Saya lupa kalau anda sedang lupa ingatan," ucap Wildan seraya memukul keningnya pelan.
"Jadi benar kau sudah berkeluarga?" Lu kembali memastikan. "Kapan kau menikah?"
__ADS_1
"Sudah dari setahun yang lalu, Tuan. Dan anda adalah orang paling berjasa dalam pernikahan kami. Anda dengan begitu baiknya memberikan pesta pernikahan yang sangat luar biasa mewah. Juga dengan hadiah honeymoon ke luar negeri yang semua biayanya di tanggung oleh anda," jawab Wildan seraya tersenyum tipis. Dia jadi merindukan masa-masa pengantin baru dengan istri tercintanya.
"Ya ampun, malang sekali nasib Julia, Wil. Briana bilang padaku kalau dia sudah jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama kalian. Aku tidak bisa membayangkan betapa patah hatinya Julia jika tahu kalau pria yang di sukainya telah menikah dengan wanita lain. Bahkan sebentar lagi akan segera memiliki momongan. Heemmmm,"
Wildan meringis kecil. Mengenai perasaan Julia, dia sudah tahu sejak awal kalau wanita itu memang menaruh hati padanya. Akan tetapi Wildan sengaja membiarkan karena berpikir Julia hanya sekedar main-main saja. Juga karena Wildan merasa terhibur dengan segala tingkah polahnya yang alami dan tidak dibuat-buat. Dia sama sekali tidak ada niat ingin mempermainkan. Sungguh.
"Ya sudahlah tidak apa-apa. Lagipula Julia juga baru mulai menggatal, belum sepenuhnya gila karena menyukaimu. Jadi masih bisalah di siasati dengan menjodohkannya dengan Erzan," ucap Lu mencoba tak mengambil pusing masalah perasaan Julia. Dia kemudian menghela nafas berat saat teringat dengan Briana. "Wil, menurutmu ada kemungkinan tidak kalau Briana adalah anak dari hasil hubungan gelapnya Nyonya Jennny dengan pria lain? Hatiku terus saja berkata kalau mereka adalah pasangan ibu dan anak. Aku yakin itu!"
"Untuk yang satu ini saya rasa sangatlah mustahil, Tuan. Tuan Hendar bukan orang sembarangan, tidak mungkin wanita selemah Nyonya Jenny berani berbuat macam-macam di belakangnya. Jikapun benar ada kejadian seperti itu, saya rasa tidak mungkin Tuan Hendar masih mencintai Nyonya Jenny dengan begitu besar. Dugaan anda pasti salah!" sahut Wildan menyanggah dugaan atasannya. "Justru yang ada di dalam pikiran saya adalah tentang Nyonya Jenny yang sudah berstatus janda sebelum menikah dengan Tuan Hendar. Makanya Nyonya Jenny dan Nona Briana bisa terlihat mirip!"
"Entahlah, Wil. Teka-teki ini cukup memusingkan. Tapi yang jelas, suatu hari nanti aku pasti akan mendatangi mereka guna menanyakan masalah ini. Kasihan Briana. Selama ini dia tidak tahu kalau orangtuanya masih hidup. Dia pasti akan sangat bahagia jika aku bisa mempertemukan mereka kembali!"
"Oya, Wildan. Bagaimana dengan perusahaan? Apa benar dulu aku adalah orang di balik kesuksesan Under Group?"
Wildan mengangguk. Dia lalu melihat ke arah jam di pergelangan tangan, mengukur waktu kapan dia dan atasannya harus kembali ke ruangan dokter. "Tuan Gavriel, bagaimana kalau kita mengobrol sambil berjalan. Saya rasa dokter itu sudah menunggu kita di ruangan terapi."
"Baiklah. Ayo!"
__ADS_1
Lu dan Wildan melangkah keluar meninggalkan kantin rumah sakit. Paras mereka yang tampan sontak menarik perhatian para wanita yang kebetulan sedang datang berkunjung. Namun, baik Wildan maupun Lu, mereka sama-sama acuh tak mempedulikan tatapan penuh goda yang dilayangkan oleh para wanita itu. Hati mereka terkunci rapat, tak mau menerima salam dari orang baru. Jelaslah. Lu punya Briana, sedangkan Wildan punya istrinya yang sudah hampir melahirkan. Masing-masing dari mereka sudah mempunyai pawang, jadi mustahil masih akan tergoda dengan pesona dari luar.
"Di bawah kepemimpinan anda, Under Group berhasil memecahkan rekor besar dengan menyabet berbagai macam penghargaan sebagai perusahaan paling berpengaruh di dua tahun terakhir. Kemampuan anda dalam melobi saham sudah mendapat pengakuan dari banyak pihak. Dan juga di bawah arahan anda, ada sekitar sepuluh ribu orang yang bergantung pada Under Group, baik itu yang di pusat maupun yang di cabang. Seharusnya sih tahun ini kita bisa mendapatkan kembali gelar penghargaan itu karena dilihat dari presentase jumlah pekerja, anda berhasil membuka banyak pekerjaan untuk mereka yang kebanyakan adalah sarjana tak berpenghasilan. Namun, desas-desus tentang anda yang sedang sakit keras banyak di gunakan oleh pihak lain untuk mencela nama baik perusahaan. Itulah mengapa saya begitu gencar menjadwalkan terapi rutin dengan tujuan agar anda bisa segera pulih dan kembali menujukkan taring anda di hadapan semua orang. Saya tidak rela Under Group kehilangan ikonnya, Tuan!" ucap Wildan dengan mimik wajah yang begitu serius.
"Seberpengaruh itukah aku?" Lu syok. Tidak mengira kalau Gavriel memiliki latar belakang yang begitu menakjubkan. Luar biasa sekali pria itu.
"Benar sekali, Tuan Gavriel. Anda adalah ikon utamanya Under Group, juga adalah penopang ribuan nasib para pekerja. Jadi saya harap lekaslah sehat agar kita bisa bersama-sama membangun citra Under Group yang ingin di sisihkan dari dunia bisnis. Walaupun sekarang keadaan sedang tenang dan aman, rasa persaingan masih sangat jelas terasa. Saya dan Tuan Erzan bahkan masih menerima laporan kalau ada beberapa orang sedang sibuk menyelidiki tentang anda. Kami khawatir masalah akan semakin bertambah besar jika anda masih terjebak dengan keadaan ini, Tuan!" sahut Wildan prihatin. Besar harapan dia kalau sang atasan bisa sembuh secepatnya. Karena sehebat apapun kemampuannya, itu tetap tidak akan bisa mengalahkan kehebatan pria amnesia ini.
Kening Lu nampak mengerut kasar setelah dia mendengar perkataan Wildan. Serpihan demi serpihan ingatan mulai memenuhi rongga kepalanya. Namun, kali ini Lu harus bisa bertahan. Mati-matian dia menahan rasa sakit yang datang mendera, memfokuskan pikirannya untuk melihat apa saja isi di dalam serpihan ingatan itu.
"Tuan Gavriel, anda kenapa?" tanya Wildan cemas saat mendapati wajah atasannya sudah di banjiri keringat. Segera dia mendekat kemudian memegangi lengannya. "Anda baik-baik saja, Tuan?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang menyelami serpihan ingatan yang muncul di dalam kepalaku. Sepertinya perkataanmu tadi berhasil mengingatkanku akan sesuatu. Tapi ... ini sangat sakit!" jawab Lu dengan nafas terengah. Dadanya mulai sesak, gejala yang selalu dia rasa setiap kali ingin mengingat sesuatu.
"Jangan terlalu di paksakan, Tuan. Pelan-pelan saja. Atau tunggulah sampai kita berada di ruang terapi. Di sana ada dokter-dokter berpengalaman yang bisa menangani anda dengan baik. Bertahanlah!"
Dalam kondisi panik, Wildan bergegas memapah atasannya menuju ruang terapi. Dan sesampainya mereka di depan pintu, Wildan langsung berteriak memanggil dokter. Sedangkan Lu sendiri, saat ini dia sudah terombang-ambing antara sadar dan tidak sadar. Lu berusaha semampu mungkin untuk terus mempertahankan kesadarannya. Akan tetapi rasa sakit itu terlalu kuat mendera. Hingga pada akhirnya semua cahaya mulai meredup dan berubah menjadi gelap. Lu pingsan.
__ADS_1
***