Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Julukan Nyeleneh


__ADS_3

Tok tok tok


"Masuk!"


Pintu terbuka. Masuklah Wildan sambil membawa sesuatu di tangannya. Gavriel yang melihat hal itupun langsung berjalan mendekat. Dia lalu meminta berkas yang di bawa oleh Wildan.


"Masih belum ada informasi yang bisa membuktikan kalau Nyonya Jenny pernah memiliki suatu hubungan dengan pria lain sebelum menikah dengan Tuan Hendar, Tuan. Semua fakta mengarah kalau Kellen Origan adalah anak pertamanya!" ucap Wildan memberitahukan informasi yang dia dapat dari orang suruhannya.


"Hmmmm, kalau memang begitu artinya ada rahasia yang menjadi tembok pembatas sehingga Nyonya Jenny memberi nama Briana sebagai Kellen Origan. Atau ... apa mungkin sebelumnya Nyonya Jenny pernah mendapat ancaman dari seseorang?" sahut Gavriel menerka-nerka. Dia lalu membaca informasi yang tertulis di dalam berkas, merasa aneh karena di sana Nyonya Jenny di nyatakan masih berstatus gadis sebelum akhirnya dinikahi oleh Tuan Hendar. "Kenapa masalah ini jadi berbelit sekali ya. Jelas-jelas Briana dan Kellen adalah orang yang sama, tapi kenapa identitas mereka dibedakan?"


Setelah itu Gavriel termangu diam memikirkan perkataan Briana yang menyebut kalau Nyonya Jenny tiba-tiba muncul dan mengganggunya. Dan karena hal inilah Gavriel sampai meminta Wildan datang membawakan berkas tersebut. Gavriel tidak bisa tidur. Pikirannya gelisah memikirkan kenapa Nyonya Jenny bisa tahu tentang Briana. Benarkah ini hanya kebetulan semata, atau ada alasan lain yang mendasarinya? Entahlah, Gavriel masih belum bisa memastikan.


"Tuan Gavriel, mungkinkah ada masalah lain yang ingin anda bicarakan dengan saya? Anda terlihat seperti sedang gelisah. Ada apa?" tanya Wildan penasaran. Di perhatikannya dengan seksama pria tampan yang sedang termangu diam di hadapannya.


"Tadi aku menelpon Briana. Dia bilang Nyonya Jenny tiba-tiba muncul dan mengganggunya. Wanita itu bahkan sampai membuka kedai minuman hanya demi bisa berbicara dengannya. Menurutmu ini aneh tidak, Wil?" sahut Gavriel balik bertanya.


"Apa? Jadi Nyonya Jenny dan Nona Briana sudah bertemu?"


Wildan memekik kaget. Dia sama sekali tak menyangka kalau ibu dan anak itu sudah lebih dulu bertemu sebelum sempat atasannya mempertemukan mereka. Bena-benar di luar dugaan.


"Tuan Gavriel, apa Nona Briana sudah tahu kalau Nyonya Jenny adalah ibunya?" tanya Wildan penuh penasaran.


"Aku rasa Briana belum tahu kalau Nyonya Jenny adalah ibunya. Briana bilang dia merasa tidak nyaman saat Nyonya Jenny mengaku menyukainya. Kau tahu sendirilah seperti apa perangai wanita itu. Dia paling tidak bisa percaya pada orang baru," jawab Gavriel seraya meng*lum senyum. Dia merasa lucu saat membayangkan ekpresi Briana yang ketakutan saat Nyonya Jenny bilang menyukainya. Pasti menggemaskan sekali. "Kadang jika di pikir-pikir rentetan rahasia ini cukup menggelitik hati juga ya, Wil. Aku tidak sengaja di tolong oleh wanita yang dulunya pernah sama-sama menjadi korban penculikan. Lalu setelahnya aku juga di tolong oleh keluarga si wanita ini. Lanjut lagi si wanita bertemu dengan keluarganya yang kebetulan sedang kita selidiki. Cukup unik, bukan?"

__ADS_1


"Iya, Tuan. Tuhan benar-benar telah menyiapkan skenario yang sangat unik di dalam hidup anda. Ya meskipun awal cerita ini harus dimulai oleh kenangan yang sedikit buruk," jawab Wildan sambil tersenyum kecil.


Dua orang pria yang usianya tidak terlalu jauh itu sama-sama terkekeh lucu saat mereka membicarakan tentang skenario Tuhan yang tidak bisa di tebak. Hingga tak di sadari oleh keduanya ada bayangan hitam yang sedang mengendap-endap bersembunyi di balik pintu yang masih sedikit terbuka. Erzan, dialah si bayangan hitam tersebut. Merasa lelah setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan, Erzan tiba-tiba saja merasa lapar. Dia lalu memutuskan pergi ke dapur dan untuk apakah ada sisa makanan atau tidak. Namun ketika dia melewati ruang kerja milik sang kakak, Erzan di buat penasaran oleh suara tawa pelan yang berasal dari dalam ruangan tersebut. Khawatir ada maling yang menyelinap masuk, dia memutuskan untuk mengintip.


Eh, itukan Kak Gavriel dan Wildan. Apa yang sedang mereka bicarakan malam-malam begini? Mencurigakan sekali. Sebaiknya aku hampiri saja mereka.


Tak kuat menahan rasa penasaran, dengan gerakan yang sangat cepat Erzan melompat masuk ke dalam ruangan. Sontak perbuatannya itu membuat kedua orang di dalamnya terperanjat kaget. Bahkan Wildan sampai hampir jatuh terjerengkang saking kagetnya dia.


"Astaga, Tuan Erzan. Apa yang barusan anda lakukan? Kalau saya dan Tuan Gavriel sampai mati jantungan bagaimana?" tegur Wildan sambil mengelus dada. Benar-benar ya anak satu ini. Ada saja tingkahnya yang membuat orang sakit kepala.


"Hei, Wildan. Seharusnya yang bertanya seperti itu aku, bukan kau. Sudah tahu aku sedang mengejuti kalian, kenapa malah protes. Siapa suruh bersikap mencurigakan, jadi jangan salahkan aku kalau aku merasa penasaran," sahut Erzan enggan di salahkan. Dia lalu memicingkan mata sambil menatap sang kakak yang hanya diam tak berusik. "Kak Gavriel, lama-lama aku jadi curiga padamu. Dari gelagat yang kulihat tadi sepertinya kau itu sudah sembuh. Juga dari sikapmu sekarang. Kau memasang ekpresi tenang seperti yang biasa kakakku tunjukkan. Bilang padaku, kau sebenarnya sudah sembuh, kan? Amnesiamu sudah tidak ada lagi, kan?"


Gavriel agak kaget saat Erzan bertanya seperti itu kepadanya. Tak ingin kesembuhannya terbongkar, dengan cepat Gavriel memikirkan alasan lain.


"Kau jangan sembarangan bicara, Er. Kalau memang benar aku sudah sembuh, maka aku akan sangat bersyukur sekali kepada Tuhan. Akan tetapi yang kau katakan tidaklah benar. Aku masih belum bisa mengingat semua tentang diriku. Tahu," jawab Gavriel seraya memasang ekpresi semeyakinkan mungkin. "Tapi ngomong-ngomong kenapa kau bisa begitu yakin kalau aku sudah sembuh? Apa seseorang memberitahumu?"


Merasa di curigai, Wildan segera menggeleng pelan sambil menatap atasannya. Dia sama sekali tak memberitahu siapapun kalau atasannya ini sudah sembuh. Bahkan pada istrinya saja Wildan bungkam. Tapi kenapa sekarang dia malah di curigai? Kan aneh.


"Kak Gavriel, kita ini saudara sekandung. Tanpa harus ada yang memberitahuku pun aku bisa merasakan kalau kau itu sudah tidak sakit lagi. Buktinya tadi kau memperlihatkan ekpresi tenang seperti yang sering kau tunjukkan saat sedang sehat. Jadi wajar saja kalau aku berpikir seperti itu. Iya, kan?" sahut Erzan dengan entengnya.


"Hmmm, kau ini mengageti orang saja."


"Kenapa musti kaget? Memangnya kau tidak mau sembuh ya, Kak?"

__ADS_1


"Sembarang. Bicara apa kau?" tegur Gavriel kemudian berdecak kesal. Mulut adiknya benar-benar ya. Erzan lupa atau bagaimana kalau ucapan itu adalah doa. Menyebalkan.


"Ya sudah sih jangan sewot-sewot begitu. Lagipula tidak ada salahnya juga kan aku bertanya seperti itu. Untung si ninja warrior itu sedang tidak ada di sini. Kalau ada, aku berani menjamin Briana pasti akan menyelidikimu sampai ke usus dua belas jarimu juga. Mau ku adukan padanya?" ancam Erzan sembari menyeringai lebar. Ternyata rasanya


enak juga bisa mengancam orang lain seperti ini. Hehehe.


Sebelah alis Gavriel tertarik ke atas mendengar sebutan nyeleneh yang Erzan peruntukan bagi Briana. "Ninja warrior? Kau pikir kekasihku itu apa, Er? Pahlawan di dalam komik?"


"Loh, kan memang benar kalau Briana itu sikapnya seperti ninja warrior, Kak. Kau tidak mungkin lupa pada nasib kedua penjaga yang waktu itu di hajar olehnya, kan? Juga saat Briana menjambak rambutku karena berpikir aku telah menyakitimu. Dengan kekuatan sebesar itu sudah sewajarnya aku menyebut Briana sebagai wanita ninja warrior. Benar tidak, Wil?"


"Saya tidak tahu, Tuan. Terserah anda saja ingin menyebut Nona Briana apa. Saya tidak ikut campur," sahut Wildan mengamankan diri.


Erzan berdecih. Kentara sekali cara Wildan melindungi diri. Tak terima, Erzan akhirnya membongkar sebutan nyeleneh lain yang Wildan sematkan untuk wanita kuat itu.


"Kak, aku masih mending menganggap Briana sebagai wanita ninja warrior. Sementara Wildan, hah. Dia menyebut kekasihmu dengan panggilan wanita halilintar. Sebutan ini jauh lebih konyol lagi. Tahu tidak?"


Kriik kriik kriikk


Erzan, Wildan, dan juga Gavriel sama-sama terdiam setelahnya. Namun sedetik kemudian, gelak tawa meledak memenuhi seisi ruangan tersebut. Ninja warrior dan wanita halilintar, astaga. Sehebat apakah manusia bernama Briana itu sampai bisa mendapatkan dua julukan nyeleneh seperti ini? Astaga, lucu sekali.


Masing-masing dari Erzan dan Wildan sudah memiliki julukan tersendiri untuk Briana. Lalu aku apa? Kekasih yang manis seperti gula pasirkah? Ahahahahahaha, kenapa aku jadi ikut-ikutan konyol seperti mereka. Kalau Briana tahu, dia pasti akan langsung merajuk. Hemmm.


***

__ADS_1


__ADS_2