
Antara sadar dan tidak sadar, samar-samar Lu seperti melihat Briaan yang sedang duduk di sebelahnya. Dia kemudian tersenyum sambil melambaikan tangan pada wanita yang begitu dirindukannya selama satu minggu terakhir ini. Ya, benar. Lu bahkan hampir menjadi gila karena setiap akan tidur dia selalu mengajak pita rambut Briana untuk mengobrol. Aneh bukan?
“Briana, kau datang sayang?”ujar Lu pelan.
Helena dengan sepenuh hati meraih lambaian tangan Gavriel yang mengira kalau dia adalah Briana. Dia lalu menggenggam tangan Gavriel sambil memberitahukan kalau dia bukan orang yang sedang di carinya.
“Lu, ini Ibu, Nak. Bukan Briana,” ucap Helena pelan. Dia kemudian tersenyum kecil saat Gavriel berusaha menajamkan penglihatannya. “Ini Ibu, sayang. Kenapa? Apa kau sedang merindukan Briana sehingga mengira kalau Ibu adalah dia?”
Keliru. Lagi-lagi Lu keliru menganggap ibunya sebagai Briana. Mungkinkah ini terjadi karena dia yang terlalu merindukan gadis itu? Bisa saja. Ini sudah satu minggu berlalu sejak hari di mana Lu berpisah dengan Briana. Jadi wajar sajakan kalau dia sampai salah mengenali orang?
Sambil memegangi kepalanya yang masih sedikit berdenyut, Lu berusaha untuk duduk. Dia kemudian mengucapkan terima kasih pada ibunya yang sigap membantu menata bantal di belakang tubuhnya.
“Terima kasih, Bu. Maaf merepotkanmu.”
“Ck, merepotkan apa. Sudah seharusnya seorang Ibu merawat putranya yang sedang sakit,” sahut Helena sembari merapihkan selimut di atas tubuhnya Gavriel. Setelah itu Helena menatapnya lekat, menelisik apakah putranya baik-baik saja atau tidak.
“Ada apa, Bu? Kenapa menatapku sampai seperti itu? Apa ada sesuatu yang salah di wajahku?” tanya Lu bingung. Dia lalu meraba wajahnya untuk memastikan apakah ada yang salah atau tidak di sana.
“Lu, bolehkah Ibu menanyakan sesuatu kepadamu?”
Kening Lu mengerut. Dia kemudian mengangguk mempersilahkan sang ibu untuk bertanya padanya. Agak sedikit menegangkan sebenarnya karena sekarang ibunya menunjukkan eskpresi serius di mana baru kali ini Lu melihatnya. Mendadak dia jadi merasa khawatir. Dia takut ibunya akan memintanya agar melupakan Briana gara-gara tadi dia salah mengenali orang. Itu bisa saja terjadi bukan?
“Apa Briana sudah menghubungimu?” tanya Helena ingin tahu. Dia penasaran sekali apakah calon menantunya sudah menunjukkan pergerakan atau belum. Jika belum, Helena berniat mengatur siasat baru supaya Briana tak lagi merasa ragu untuk menelpon Gavriel.
“Belum, Ibu. Tapi entah jika pada Wildan dan Erzan. Karena saat aku akan dibawa pergi ke rumah ini, aku meminta Wildan dan Erzan agar memberikan nomor ponsel mereka pada Briana. Siapa tahu dia menghubungiku lewat mereka. Akukan tidak punya ponsel,” jawab Lu sedikit kaget mendengar pertanyaan ibunya. Lu kira apa tadi. Hmmmm, membuat jantung berdebar saja.
“Em begitu ya?”
Gawat. Kenapa aku bisa lupa ya kalau Gavriel belum punya ponsel sendiri? Kalau begini ceritanya berarti ada kemungkinan kalau Briana menghubungi Erzan ataupun Wildan. Sebaiknya aku tanya mereka saja. Siapa tahu dugaan Gavriel benar adanya kalau Briana menelpon di ponsel salah satu dari mereka. Ya benar, aku harus mencaritahu kebenaran ini. Kasihan Briana.
__ADS_1
Tanpa banyak berkata lagi Helena segera melakukan pemeriksaan. Dan orang pertama yang di hubunginya adalah Erzan, putra keduanya yang masih belum kembali dari perusahaan.
“Halo Erzan, Ibu ingin bertanya apakah Briana ada menelponmu hari ini?” tanya Helena begitu panggilan tersambung. Dia lalu menyalakan tombol loudspeaker saat Gavriel memajukan tubuhnya. Sepertinya Gavriel juga ingin mendengar kepastian dari Erzan. Xixixi, lucu sekali.
“Bu, tidak bisakah Ibu menanyakan bagaimana keadaanku sekarang? Tahu tidak kalau sekarang aku benar-benar akan berubah menjadi zombie karena semua pekerjaan yang tidak ada habisnya ini!” keluh Erzan yang merasa tak terima sang ibu malah menanyakan tentang Briana alih-alih bertanya tentang kabarnya. “Tadi sore Julia dan Briana menelponku. Mereka menanyakan tentang Kak Gavriel. Tapi karena Kak Gavriel tidak sedang bersamaku, aku meminta mereka untuk menghubungi Wildan saja. Ibu tanyakan saja padanya. Aku sibuk!”
Klik. Panggilan langsung diputus oleh Erzan setelah dia memberitahukan kalau benar Briana telah menghubunginya. Dan sontak saja hal ini membuat Lu merasa senang sekali. Dia lalu meminta sang Ibu untuk segera menghubungi Wildan guna menanyakan apakah Briana menghubunginya atau tidak.
Ceklek
Sebelum sempat sang ibu membuat panggilan pintu kamar Gavriel sudah lebih dulu terbuka. Kemudian masuklah Wildan bersama dengan ayahnya. Lu yang melihatnya pun langsung menunjukkan sikap tak sabaran yang mana membuat sang ibu terkikik pelan. Lu acuh. Bertanya pada Wildan jauh lebih penting ketimbang mempedulikan sikap ibunya.
“Wah, ada apa ini, Lu? Kenapa kau terlihat senang sekali melihat kedatangan Ayah dan Wildan?” tanya Dary penasaran. Dia lalu menatap istrinya yang tengah tertawa sambil menutup mulut. “Sayang, apa yang sedang kau lakukan dengan Lu? Tolong beritahukan padaku. Oke?”
“Kau tanyakan saja pada yang bersangkutan, Dary. Aku sedang tidak bisa bicara banyak sekarang,” jawab Helena yang masih ingin tertawa. Tidak Gavriel tidak Briana, sikap keduanya benar-benar membuat hati Helena merasa tergelitik sekali. Yang satunya menangis sesenggukan gara-gara merindukan Gavriel, sedang yang satunya lagi sudah tak sabaran mendengar kepastian apakah Briana menelpon Wildan atau tidak. Sungguh suatu hubungan yang sangat manis sekali, bukan?
“Ayah, aku ingin bicara dengan Wildan. Bolehkan?” sahut Lu balik bertanya.
“Oh, silahkan saja,” jawab Dary. Dia lalu meminta Wildan untuk datang mendekat.
Segera Wildan berdiri di samping ranjang kemudian menyapa atasannya yang tengah menatapnya dengan pandangan aneh. Dalam hati, Wildan menebak-nebak ada apakah gerangan.
“Wildan, apa hari ini Briana menghubungimu? Erzan bilang tadi dia meminta Briana untuk menelpon ke nomormu saja,” tanya Lu dengan ekpresi wajah seperti bocah yang sedang menunggu jatah mainan.
“Astaga, kenapa saya lupa memberitahukan hal ini kepada anda. Ya Tuhan!” pekik Wildan sambil menepuk keningnya sendiri. Dia baru ingat kalau tadi Nona Briana telah menghubunginya. Tadi sesampainya di rumah ini Wildan langsung berbincang serius dengan Tuan Dary, jadi dia tidak sengaja melupakan janji yang telah dibuatnya saat Nona Briana menelpon.
Tak mau mengecewakan atasannya, segera Wildan merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. Setelah itu dia mencari nomor Nona Briana sebelum akhirnya Wildan memberikan ponselnya pada atasannya.
“Tuan Gavriel, saya benar-benar minta maaf atas kelalaian ini. Saya tidak sengaja lupa untuk memberitahu anda kalau tadi sore Nona Briana menelpon saya. Tolong maafkan saya, Tuan,” ucap Wildan merasa tak enak hati akan kelalaian yang tak sengaja dia lakukan.
__ADS_1
“Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti kalau kau pasti tidak sengaja lupa untuk memberitahuku. Yang terpenting sekarang aku sudah tahu kalau Briana menelpon. Itu sudah lebih daripada cukup,” sahut Lu maklum akan ketidaksengajaan yang dilakukan oleh Wildan. Lu tahu kalau Wildan sangatlah sibuk membantu Erzan mengurus perusahaan, jadi wajar saja kalau dia lupa untuk memberitahunya.
“Saya benar-benar tidak sengaja melakukannya, Tuan Gavriel. Sungguh!”
“Iya tidak apa-apa. Aku tahu kau tidak hanya sedang memikirkan hal ini saja. Jangan khawatir, aku sama sekali tidak marah padamu,”
“Terima kasih banyak, Tuan,” sahut Wildan seraya menghela nafas lega.
Dary tampak meng*lum senyum melihat putranya yang begitu antusias menunggu Briana menjawab panggilan. Dia kemudian menoleh saat mendengar suara kikikan tertahan yang keluar dari mulut istrinya.
“Pasti kau kan yang memanas-manasi Gavriel?” bisik Dary.
“Aku hanya ingin memastikan kalau Briana tidak salah menghubungi orang, Dary. Dan tadi saat Gavriel sadar dia kembali mengira kalau aku adalah Briana. Jadi ya sudah sekalian saja aku tanyakan padanya apakah Briana sudah menghubunginya atau belum. Saat itu aku baru menyadari kalau Gavriel tidak punya ponsel. Lucu sekali bukan?” sahut Helena sambil terus memperhatikan gerak-gerak Gavriel. Dan sepertinya panggilan itu masih belum mendapat respon karena Gavriel terlihat lesu. “Oho, sepertinya ada yang tidak mulus dari rencana ini, Dary. Lihat, Briana masih belum menerima panggilan putra kita. Apa jangan-jangan dia sedang sibuk ya?”
“Mungkin saja. Briana kan pegawai café, bisa saja dia sedang sibuk melayani pelanggan yang datang. Kau hiburlah Gavriel agar dia tidak terlalu merasa kecewa. Beritahu dia kalau Briana hanya sedang sibuk, bukan mengabaikannya,”
“Umm baiklah,”
Dan benar saja. Di panggilan ketiga Briana masih belum merespon panggilan Lu. Lesu, itu sudah pasti. Namun Lu mengerti penyebab mengapa Briana tidak langsung menjawab telepon. Di jam sekarang biasanya café sedang ramai-ramainya, dan kemungkinan besar Briana sedang sangat sibuk sehingga tidak mempedulikan dering ponselnya.
“Jangan berburuk sangka dulu pada Briana, Lu. Bisa sajakan kalau sekarang Briana sedang sibuk melayani pelanggan? Jadi tunggulah sebentar. Ibu yakin dia pasti akan langsung menghubungimu kembali begitu ada waktu senggang. Ya?” hibur Helena sembari mengelus pelan bahunya Gavriel.
“Iya Ibu, aku juga tahu kalau Briana tidak akan mungkin mengabaikan aku tanpa sebab. Dia dan Julia pasti sedang sibuk melayani para tamu yang datang ke café,” sahut Lu seraya tersenyum kecut. Padahal dia sudah tidak sabar ingin segera mendengar suara Briana. Tapi apa mau dikata, sepertinya Lu harus sedikit bersabar menunggu Briana selesai dengan pekerjaannya dulu.
“Ya sudah kalau begitu kita mengobrolkan hal lain saja sambil menunggu Briana menelpon balik. Tidak apa-apa ‘kan?”
Lu mengangguk. Dia kemudian mulai terhanyut oleh topik yang dibahas oleh Wildan dan ayahnya. Sementara Helena, dia terus saja menahan diri agar tidak kembali tertawa melihat ekpresi di wajah Gavriel yang terlihat sangat kasihan. Setidakberdaya inikah seorang Gavriel Anderson hanya karena panggilannya tidak di jawab oleh gadis yang di sukainya? Ya ampun, pasangan ini benar-benar sangat menggemaskan. Membuat Helena kesulitan untuk tidak mengedutkan kedua sudut bibirnya. 😂
***
__ADS_1