Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Tak Seburuk Yang Dikira


__ADS_3

Sebelah alis Briana terangkat ke atas melihat Erzan yang pulang sambil menggerutu. Dia yang kala itu tengah menyuapi Gavriel potongan buah hanya acuh saja ketika calon adik iparnya ikut duduk bergabung dengan mereka.


"Ada apa?" tanya Gavriel santai. Kalau bukan pekerjaan kantor, pasti Julia yang menyebabkan adiknya kesal. Sudah biasa.


"Kak, sebenarnya Julia itu tipe wanita yang seperti apa sih. Heran. Bisa-bisanya ya dia menuduhku sebagai pengemis. Memangnya dia tidak bisa melihat penampilanku yang sebegini rapi apa. Membuat orang jengkel saja!" tanya Erzan memberitahu sang kakak tentang Julia. Sungguh, level kejengkelannya benar-benar sudah menembus langit. Erzan tidak tahan jika tidak menyuarakan isi hatinya.


Nah benarkan tebakan Gavriel?


"Mungkin karena tampangmu memang cocok di sebut sebagai pengemis, Er. Makanya Julia mengataimu seperti itu," ucap Gavriel sembari menahan tawa. Dia kemudian membuka mulut saat Briana ingin menyuapkan potongan melon ke mulutnya. "Terima kasih, sayang. Kau baik sekali."


"Jangan sampai rasa terima kasihmu ada maksud di baliknya ya," sahut Briana sambil memicingkan mata.


"Memangnya kenapa kalau ada udang di balik batu?"


"Mau aku goreng udangnya."


"Tega?"


"Tidaklah. Gila saja kekasih setampan dirimu aku goreng di dalam minyak panas. Tapi bisa saja sih itu terjadi kalau kau sampai berani main mata pada wanita lain. Aku bersumpah tidak akan membiarkanmu hidup normal lagi!"


Gavriel terkekeh. Tangannya terulur mengelus pipi Briana penuh sayang. Ah, wanita ini.


"Duniaku sekarang sudah penuh dengan dirimu, sayang. Hanya Briana, Briana, Briana, dan Briana saja yang aku ingat dan aku lihat. Jikapun ada wanita lain, itu adalah Ibu, Julia, ibumu, dan terakhir adalah istrinya Wildan. Selain mereka semuanya hanyalah alien yang sangat jelek. Sudah puas?"


"Lumayan." Briana memalingkan muka ke arah lain sembari meng*lum senyum. Hatinya meleleh seperti es krim setelah mendengar penuturan Gavriel.


"Ciihh, masih bisa malu-malu kau rupanya. Baru tahu aku!" sindir Erzan cetus. Dia bersedekap tangan, menatap bergantian pada pasangan bucin yang sibuk bermesraan di hadapannya. "Melihat kebucinan kalian lama-lama membuat otakku menjadi tumpul. Amit-amit!"


"Kalau iri itu langsung bilang saja, Er. Tidak perlu malu!" celetuk Briana dengan santainya.


"Apa? Iri? Hahahaha!"


Tawa Erzan terdengar sumbang. Sangat jelas terdengar kalau dia sedang menahan kesal. Meski begitu, Briana tak berniat untuk berhenti bermesraan dengan Gavriel. Masa bodo. Kekasih kekasihnya, kenapa dia harus mempedulikan apa kata orang. Terlebih lagi orang itu adalah Erzan. Semakinlah gencar dia melakukan pamer dengan harapan bocah kemarin sore ini akan mimisan karena kejengkelan. Membayangkan kesenangan ini membuat Briana jadi tambah bersemangat. Dia dengan sengaja merebahkan kepala ke dada Gavriel sambil menatap Erzan penuh ejek.

__ADS_1


"Apa lihat-lihat? Tidak punya sandaran ya? Kasihan,"


"Briana, tolong berhentilah mengejekku!" sergah Erzan muak.


"Sebenarnya tidak ada yang mengejek. Kau saja yang merasa terejek," sahut Briana enggan kalah.


Erzan membuang nafas kasar. Di tatapnya lekat sang kakak yang hanya senyum-senyum saja sambil menciumi puncak kepala Briana.


Haih, aku benar-benar bisa gila melihat pasangan bucin ini. Apa aku pisahkan mereka saja ya supaya kesehatan mataku tetap terjaga. Huh.


"Jangan coba-coba memikirkan sesuatu yang bertujuan memisahkan aku dengan kakakmu ya, Er. Kau akan ku cor di dalam tong jika berani melakukannya!" ancam Briana dengan mata menyipit tajam. Walau tak memiliki ilmu cenayang, tapi dia bisa merasakan kalau Erzan sedang merencanakan niat jahat di dalam pikirannya.


Gluukk


Kali ini bukan Erzan saja yang terkejut mendengar omongan Briana, tapi Gavriel juga. Dia sampai menangkup wajah Briana lalu menatapnya dengan sangat seksama.


"Sayang, kenapa kau bicara seperti itu? Ancaman yang ingin kau lakukan sudah masuk ke tindak kriminal. Kau tidak boleh sembarangan bicara!" tegur Gavriel.


"Jadi kau lebih memilih untuk berpisah dariku?"


"Lalu?"


Tahu kekasihnya kesal, buru-buru Gavriel memasang senyum manis sejuta wat agar masalah tidak semakin panjang. Setelah itu Gavriel beralih menatap Erzan, mencoba mengirim kode agar adiknya jangan banyak bicara dulu.


Cihhh, lagi-lagi aku yang menjadi korban. Padahal tadi Briana yang mengancam akan mengecorku di dalam tong, tapi kenapa sekarang malah aku yang di pelototi oleh Kak Gavriel. Aneh.


"Ngomong-ngomong di mana tadi kau bertemu dengan Julia, Er?" tanya Briana saat moodnya sudah kembali normal.


"Di mall." Erzan menarik nafas. "Dia sedang memeloroti uangnya Nyonya Jenny. Lagaknya seperti dialah yang menjadi anak konglomerat itu. Padahal bukan."


"Jangan mengatai sahabatku seperti itu. Kau tidak tahu saja sebesar apa pengorbanan yang pernah Julia lakukan untukku!" sergah Briana langsung menegur Erzan yang baru saja menjelekkan Julia. Dia tak terima. "Penampilan luar Julia memang terkesan menyebalkan dan juga menjijikkan. Akan tetapi saat aku sedang terpojok oleh sesuatu hal, dia akan menjadi garda paling depan untuk membela dan mendukungku. Asal kau tahu saja ya. Julia rela membuang cita-citanya demi agar bisa terus menemani aku yang kala itu tak sanggup mengambil kuliah dengan jurusan yang ku mau. Dan pada akhirnya dia membuka cafe juga demi agar aku tidak di semena-menakan orang lain. Aku miskin, yatim piatu pula. Julia adalah pilar terkuat yang menopangku selama ini. Jadi tolong kau jangan pernah sekalipun menghinanya. Karena hanya aku seorang yang boleh melakukan hal itu. Aku menyayangi Julia sama seperti aku menyayangi nyawaku sendiri. Tahu?!"


Sunyi. Bahkan Dary dan Helena yang baru saja ingin ikut bergabung dengan putra-putra mereka sampai berhenti melangkah saat Briana menceritakan betapa penting peran Julia dalam hidupnya. Benar-benar mengejutkan. Mereka sama sekali tak menyangka kalau wanita sinting seperti Julia ternyata mempunyai hati yang begitu baik.

__ADS_1


Kalau memang benar begitu adanya maka aku harus segera menjodohkan Erzan dengan Julia. Keluarga ini pasti akan semakin berkah jika mempunyai dua menantu yang sama-sama hebat dalam bidangnya. Hmmm.


"Kau mungkin sudah salah memahami sikap Julia yang terkesan memanfaatkan keadaan. Walau pemikiranmu tak bisa di anggap salah, tapi percayalah kalau Julia sebenarnya sedang mencari tahu sesuatu. Dia hanya sedang memastikan saja kalau aku tidak akan diperlakukan buruk oleh Ayah dan Ibu. Karena bagaimana pun mereka adalah orang asing di mata kami berdua!" lanjut Briana sambil tersenyum tipis saat menceritakan tentang kebaikan sahabatnya.


"Darimana kau tahu kalau Julia tidak benar-benar sedang memanfaatkan keadaan?" tanya Erzan agak speechless setelah mengetahui kebaikan Julia. Dia kaget. Sungguh.


"Aku mengenalnya lebih baik dari siapapun." Briana menatap Gavriel. "Saat Julia menjual videoku padamu, dia tak menghabiskan uang transaksi itu untuk dirinya sendiri. Julia membelikan beberapa barang mahal untukku, juga mengajakku makan enak. Dia tahu betul kalau aku tidak akan menerima pemberiannya jika dalam bentuk uang, makanya sengaja membelanjakan aku dengan beberapa barang mahal. Jangan kalian kira dia adalah tipe teman yang tamak. Julia tidak seperti itu. Kami memang selalu adu gulat, tapi sebenarnya kami sama-sama saling menyayangi."


"Hmmm, aku jadi iri dengan persahabatan kalian. Boleh gabung tidak?" tanya Gavriel iseng menggoda.


"Kau sudah bergabung sejak ingatanmu belum kembali, Gav. Lupa apa bagaimana?" jawab Briana.


"Mana mungkin aku melupakan kebersamaan kita yang begitu berkesan, sayang. Kau dan Julia tentu saja telah menempati ruang khusus di dalam hatiku."


"Apa kau mempunyai rencana untuk selingkuh dengan sahabatku sendiri?"


"Em mungkin."


Erzan terbelalak kaget mendengar perkataan sang kakak. Sedangkan kedua orangtuanya, mereka hampir melemparkan sepatu ke kepala Gavriel jika ia tidak segera menyelesaikan perkataannya.


"Perselingkuhan itu baru bisa terjadi jika Julia meninggal kemudian terlahir kembali sebagai kembaranmu. Jika tidak, maka selamanya hanya akan ada namamu seorang di hatiku!"


"Aku mual mendengar bualanmu, Gav," ejek Briana dengan pipi bersemu merah. Dia tersipu.


"Kalau begitu aku akan mencari bualan lain yang bisa membuatmu langsung muntah saja. Bagaimana?"


"Boleh mengumpat tidak?"


"Tidak. Bilang cinta dan rindu baru boleh."


Briana tertawa. Dia lalu memeluk Gavriel penuh sayang, sangat suka dengan cara pria ini memperlakukannya.


Jadi seperti itu ya watak asli Julia. Ternyata dia tidak seburuk yang aku kira. Jadi penasaran.

__ADS_1


****


__ADS_2