
Briana berdiri cemas sambil terus memperhatikan Lu yang sedang menjalani terapi hipnotis. Di sebelahnya ada Julia yang juga terlihat cemas, sama sepertinya.
"Bri, kenapa Lu terlihat seperti sedang kesakitan ya? Dia tidak sekarat 'kan?" bisik Julia dengan kening yang sudah di banjiri keringat. Rasanya dia seperti sedang berada di medan perang menyaksikan bagaimana pria idiot itu terlihat gelisah saat sedang melakukan terapi pengobatan.
"Lebih baik kau diam saja, Julia. Sudah tahu aku sedang cemas, malah bicara yang tidak-tidak. Kau ini sebenarnya musuhku atau sahabatku sih?" sungut Briana tak terima saat Julia menganggap Lu sedang sekarat. Enak saja. Baru juga beberapa jam mereka berpacaran, masa iya dia harus di tinggal mati. Kan tidak lucu.
"Tentu saja aku adalah sahabatmu, Briana. Kalau tidak, aku mana mungkin mau menemanimu di sini. Tahu."
"Kalau begitu diamlah. Jangan menambah beban pikiran!"
"Iya-iya. Galak sekali,"
Briana menoleh. Dia lalu memicingkan mata saat Julia tak berhenti menggumam. Kesal, Briana mencubit pinggang Julia hingga membuatnya memekik kencang. Bersamaan dengan itu Lu tiba-tiba Lu bangun dengan nafas terengah-engah.
"Briana," Lu lemah. Dia butuh energinya sekarang juga.
Hampir saja kepala Julia terbentur dinding saat Briana dengan brutal mendorong tubuhnya ke samping begitu Lu memanggilnya. Namun ketika Julia hendak mengomel, dia dibuat terharu oleh pemandangan yang ada di hadapannya. Lu dan Briana, kedua manusia itu kini tengah saling memeluk. Dan Julia tahu benar kalau pelukan itu bukan sentuhan yang mengandung makna 21++, melainkan sentuhan kepedulian dari seorang wanita pada seorang pria. Oke baiklah. Kali ini otak Julia sedang bersih. Jadi dia memutuskan untuk tidak berpikir aneh-aneh ataupun memancing keributan dulu.
"Aku melihat anak laki-laki itu lagi. Dan kepalaku rasanya sangat sakit seperti mau pecah," ucap Lu mengadu pada kekasihnya. Dia lalu memejamkan mata, menikmati betapa pelukan ini sangat berpengaruh besar untuk keadaannya.
"Jangan terlalu di paksakan, Lu. Pelan-pelan saja. Oke?" sahut Briana sambil terus mengelus punggung Lu yang basah keringat. Dia merasa sangat tidak tega sekali mendengar deru nafasnya yang begitu memburu.
Kasihan Lu. Dia pasti tertekan sekali dengan kondisinya. Belum lagi tentang mimpi itu. Heran. Sebenarnya siapa sih anak laki-laki yang terus-terusan dilihatnya. Sayang sekali dia hanya muncul di dalam mimpi. Kalau aku bisa bertatap muka langsung dengannya, aku pasti akan menangkapnya kemudian mencincangnya sampai halus. Berani-beraninya anak kecil itu membuat kekasihku menderita. Huh. Eh tunggu-tunggu. Kekasih? Aaaaa, kenapa aku jadi malu begini ya. Aku dan Lu ... ya ampun, kami sudah berpacaran ternyata. Hehehehe.
Untung saja tidak ada orang yang bisa mendengar isi pikiran Briana. Kalau ada, mereka pasti akan merasa geli sendiri saat tahu kalau gadis brutal ini bersikap malu-malu kucing begitu teringat dengan hubungan barunya.
__ADS_1
"Jangan pergi lagi. Ya?" bisik Lu seraya menengadah. Dia kemudian mengulurkan satu tangan untuk mengelus pipi wanita yang baru semalam resmi menjadi kekasihnya. "Di sini saja. Temani aku melewati masa sulit ini. Aku butuh kau, Briana. Aku butuh kehadiranmu untuk menyelesaikan sesuatu yang masih belum usai. Bisa?"
"Kau jangan minta yang aneh-aneh, Lu. Jika aku terus berada di sisimu nanti siapa yang akan membantu Julia menjaga cafe? Lagipula kita ini tidak seharusnya tinggal serumah. Kita bukan suami istri. Tahu?" tegur Briana menolak keinginan Lu. Bukan menolak sih, tapi lebih tepatnya memberi sinyal lain pada pria idiot ini. Hehehe, kalian pasti tahulah itu sinyal apa.
Mendengar sahabatnya yang menolak untuk tinggal di keluarga Anderson, seketika membuat darah di tubuh Julia mendidih. Bodoh sekali wanita ini. Jelas-jelas di tawari sesuatu yang sangat berharga, malah di tolak dengan alasan ingin membantu menjaga cafe. Tidak bisa di biarkan. Julia harus turun tangan.
"Briana, mulai hari ini kau di pecat!"
Briana menoleh. Dia menatap Julia seraya menaikkan satu alisnya ke atas. "Sejak kapan kau memiliki keberanian untuk memecatku, Julia? Sudah bosan hidup atau bagaimana?"
"Ya pokoknya kau di pecat. Jadi mulai sekarang kau sudah tidak perlu lagi datang ke cafe karena aku akan mencari pegawai baru yang lebih ramah lingkungan," sahut Julia agak ketar ketir melihat cara Briana menatapnya.
"Lebih ramah lingkungan?" Briana menyeringai. "Kau yakin ada orang yang mempunyai spek seperti itu, hem? Yakin orang itu tidak akan kabur melarikan diri karena mempunyai bos bodoh sepertimu? Tidak takut cafe malah akan kacau balau jika di huni oleh orang-orang tidak kompeten sepertimu dan seperti pegawai yang kau sebut ramah lingkungan? Iya?"
"Em em, ya tidak seperti itu juga. Aku bisa kok mencari orang yang kehebatannya hampir sama denganmu,"
Para dokter nampak tercengang kaget mendengar percakapan kedua wanita yang ada di dalam ruangan itu. Tidak menyangka kalau kedua wanita ini akan berbicara dengan kalimat yang cukup mengerikan untuk di dengar. Sedangkan Lu, pria itu hanya diam membiarkan saja Briana dan Julia bertengkar. Dia sudah tidak merasa heran karena memang seperti inilah cara mereka berteman.
"Briana, pokoknya aku tidak mau lagi menerimamu bekerja di cafeku. Kau ... kau tinggal saja bersama Lu. Iyakan, Lu?" ucap Julia tak kuat lagi menghadapi ancaman sahabatnya yang semakin tidak manusiawi. Masa iya dia di ancam akan di masukkan ke dalam mesin cuci kemudian di giling bersamaan dengan pakaian kotor yang di pungut dari tempat pembuangan sampah. Kan tidak lucu.
"Yakkk kau!"
Briana mendorong Lu agar melepaskan tubuhnya kemudian berbalik hendak menghajar Julia. Dia sudah tidak tahan lagi. Wanita bodoh itu harus segera di beri pelajaran agar mulutnya tidak sembarangan memecat orang. Tapi baru juga Briana selangkah maju ke depan, tangannya sudah lebih dulu disentak ke belakang. Sontak saja hal itu membuatnya jatuh ke ranjang.
"Owhh, mataku. Astaga dokter, ayo kita pergi. Ruangan ini penuh dengan adegan 21++. Ayo cepat keluar!" pekik Julia sambil memelototkan mata melihat Briana terbaring di ranjang dengan Lu sedikit menimpa tubuhnya. Luar biasa. Pria idiot itu ternyata agresif juga. Hahaha.
__ADS_1
"Nona, apa yang sedang kau lakukan. Kau yang mengajak kami keluar tapi kenapa kau malah sibuk menonton adegan 21++ itu. Bagaimana sih!" protes salah satu dokter sambil menatap heran pada wanita yang sedang fokus melihat ke arah ranjang.
"Oh iya. Maaf-maaf aku lupa," sahut Julia seraya menampilkan senyum polos. Dia lalu menggiring para dokter untuk segera meninggalkan kamar, memberi waktu pada Lu dan Briana mencetak adonan cendol.
Kenapa aku yang berdebar-debar ya? Kan yang sedang bermesraan Lu dan Briana, tapi kenapa jadi aku yang merasa tidak sabar? Hm, sepertinya akan menjadi sangat seru kalau aku mengabari Bibi Helena dan melaporkan hal ini padanya. Aku yakin Bibi Helena pasti girang sekali mendengarnya. Hehehe.
Sepeninggal Julia dan para dokter, Lu masih enggan untuk beranjak dari atas tubuh Briana. Posisinya memang tidak sepenuhnya menimpa tubuh Briana, tapi cukup membuat darah di tubuh Lu berdesir kuat saat wajah mereka saling berhadapan dalam jarak yang sangat dekat.
"L-Lu, k-kau kenapa jadi agresif sekali sih. Malulah sedikit," ucap Briana terbata. Perutnya sampai mulas saking gugupnya menghadapi sikap pria idiot ini yang semakin meraja dan berkuasa.
"Di ruangan ini hanya ada kita berdua, Bi. Apa yang harus dimalukan?" sahut Lu memanggil Briana dengan sebutan Bi. Dia kemudian merapihkan anak rambut yang menjuntai hampir menutupi sebelah mata Briana. Lu tersenyum. "Aku tidak akan memaksa. Kalau memang kau lebih berat menemani Julia, maka temanilah dia. Tapi kau harus janji sesekali akan datang menjengukku. Ya?"
"Bu-bukan begitu maksudku. Aku hanya, hanya ....
Dasar tidak peka. Akukan sudah memberinya kode. Kenapa masih tidak paham juga sih. Menyebalkan.
"Tidak apa-apa, aku bisa mengerti. Tapi malam ini kau menginap lagi ya? Besok baru pulang. Oke?"
"Terserah kau sajalah." Briana sedikit sewot.
"Marah, hem?"
"Tidaklah. Kenapa juga aku harus marah. Heh,"
Lu tersenyum. Dia tidak mengerti kenapa wanita ini bisa begitu menggemaskan. Tak tahan melihatnya, perlahan-lahan Lu mulai mendekatkan bibirnya ke depan bibir Briana. Matanya kemudian terpejam saat bibir mereka mulai menyatu.
__ADS_1
Aku mencintaimu, Bi ....
***