Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Sinyal Kematian


__ADS_3

Saat café sedang sepi, Julia mendesak Briana untuk segera menghubungi Lu. Dia sudah tidak sabar ingin mendengar pengakuan cinta mereka. Sungguh.😎


“Ck, Julia. Kau ini kenapa sih! Aku yang ingin menelpon Lu tapi kenapa malah kau yang sibuk. Heran!” omel Briana sewot saat tangannya terus ditarik oleh Julia.


“Sudahlah jangan banyak protes. Lebih baik sekarang kau telpon Lu saja kemudian katakan padanya kalau kau sangat menderita berpisah dengannya. Siapa tahu dengan begitu amnesianya Lu bisa langsung sembuh. Iya ‘kan?” sahut Julia tak menggubris ocehan Briana. Tujuannya satu, memastikan kalau posisinya sebagai bibi seorang pewaris bisa secepatnya terlaksana. Juga karena Julia memiliki maksud lain agar bisa semakin dekat dengan Wildan. Hehehe, kalian pasti sudah tahu bukan kalau Julia telah jatuh cinta pada Wildan di pandangan pertama mereka? 😎


Briana kembali berdecak. Sambil menggerutu tidak jelas, Briana mengambil ponsel dari dalam tas kemudian menatap lama ke arah layarnya. Mendadak Briana jadi merasa gugup untuk menghubungi Erzan. Dia tidak tahu percakapan macam apa yang akan dia lakukan dengan Lu begitu panggilan tersambung nanti.


Sebaiknya aku memanggil Lu dengan sebutan Lu atau Gavriel saja ya? Aku takut ingatannya sudah pulih dan panggilan Lu akan membuatnya merasa tidak nyaman. Ah, kenapa aku jadi bingung begini sih. Sadar Briana, sadar. Kau itu bukan gadis remaja yang suka bertingkah malu-malu kucing saat sedang kasmaran. Yang tegas, bodoh. Tunjukkan sikapmu yang seperti biasanya sajalah. Oke?


Julia nampak mengerungkan kedua alisnya melihat Briana yang malah memelototi layar ponselnya dalam diam. Entah apa yang sedang di pikirkan oleh sahabatnya ini, Julia tidak tahu. Tak mau menunggu lebih lama, Julia langsung merebut ponsel dari tangan Briana kemudian mencari kontak nomor milik Erzan.


“Yakkk Julia, apa yang ingin kau lakukan dengan ponselku hah? Cepat kembalikan!” teriak Briana panik saat ponselnya tiba-tiba berpindah tangan dengan cepat.


“Kau terlalu lama mengulur waktu, Briana. Jadi biar aku saja yang mewakilkanmu untuk menghubungi Lu. Kalau tidak begitu pantatku bisa di tumbuhi rambut gara-gara menunggumu yang malah diam melamunkan dosa!” sahut Julia sambil menyeringai penuh kemenangan.


“Melamunkan dosa kepalamu lah. Sudah cepat kembalikan ponselku. Biar aku saja yang menghubungi Erzan!”


Tiba-tiba saja Julia menyunggingkan senyum yang sangat mengerikan saat panggilan sudah terlanjur terhubung sebelum sempat Briana merebut kembali ponsel miliknya. Syok melihatnya, Briana membeku seketika. Nyawanya seperti berpindah alam saat ada suara yang menyapa dari dalam telepon.


“Akhirnya ya kau menghubungiku juga, Briana. Kenapa? Apa kau penasaran dengan kabar kakakku?” tanya Erzan dari dalam telepon. Jelas sekali kalau dia bertanya sambil tertawa angkuh.


“Berhenti membual, Erzan. Lebih baik sekarang kau berikan ponselmu pada Lu. Briana sudah hampir mati kering karena merindukannya!” sahut Julia tanpa mempedulikan wajah Briana yang sudah berganti dari putih menjadi merah, dan dari merah menjadi pucat pasi. Malu mungkin. Hahahaha. Siapa suruh bergerak lambat, jadi jangan salahkan Julia kalau dia langsung memberitahu Erzan tentang penderitaannya selama seminggu terakhir ini.


“Kau benar-benar wanita yang sangat picik, Julia. Awas saja kau!” geram Briana tanpa bisa berbuat apa-apa. Rasa malunya sudah tembus dari lubang pantat sampai ke ubun-ubun gara-gara ulah sahabatnya yang sedikit gila. Ya Tuhan ….


“Bri, harusnya kau itu bersyukur karena aku telah berkoban banyak dengan menanyakan kabar Lu pada Erzan. Kalau tidak, sampai cacing punya kakipun kau tidak akan berani untuk menghubunginya. Jadi sekarang lebih baik kau persiapkan dirimu saja untuk mengakui perasaanmu pada Lu!” sahut Julia dengan gamblangnya. Dia benar-benar tidak mempedulikan perubahan warna di wajah Briana yang mirip seperti lampu disko.


Bibir Briana sampai gemetar hebat saking kesalnya dia mendengar ocehan Julia yang bicara asal tanpa mempedulikan kalau ponselnya masih terhubung panggilan dengan Erzan. Jika kalian memiliki teman seperti Julia, kira-kira apa yang akan kalian lakukan terhadapnya? Tolong bagi tahu pendapat kalian di kolom komentar ya man-teman. 😭

__ADS_1


“Ekhmm-ekhmmm!” Erzan berdehem dari dalam telepon. “Julia, Briana. Bisa tidak kalian jangan malah sibuk berdebat sendiri dan mengabaikan aku seolah aku ini adalah makluk tak kasat mata? Panggilannya masih tersambung dengan lancar ya kalau kalian mau tahu. Bagaimana sih!”


Julia langsung menepuk keningnya dengan kuat begitu tersadar kalau dia masih terhubung dengan Erzan. Tak mau melewatkan kesempatan yang ada, Julia kembali meminta Erzan agar menyerahkan ponselnya kepada Lu. Dia tentu tahu kalau Briana ingin segera mendengar suara dari pria yang sudah seminggu ini dirindukannya.


“Erzan, mana Lu? Cepat berikan ponselmu kepadanya. Kau itu tidak penting. Tahu?”


“Yaaa Julia, sarkas sekali ya kata-katamu. Kau pikir nomor siapa yang sedang kau hubungi, hem?” kesal Erzan saat Julia menyebutnya tidak penting. Benar-benar ya. “Sekarang aku sedang menjalani siksaan di kantor. Jadi aku tidak sedang bersama Kak Gavriel. Tapi kalau Briana benar-benar sangat tidak tahan ingin segera mengobrol dengan kakakku, aku sarankan kau sebaiknya menelpon Wildan sa …..


Panggilan langsung diputus sepihak oleh Julia begitu dia tahu kalau Erzan tidak sedang bersama Lu. Dan tanpa pikir panjang dia segera mencari nomor kontaknya Wildan di ponsel Briana. Tidak tanggung-tanggung, Julia menghubungi Wildan lewat panggilan video yang mana itu membuat jantung Briana seperti akan terlempar keluar dari mulutnya.


“Bri, bagaimana dengan penampilanku? Aku sudah cantik belum?” tanya Julia sambil memonyong-monyongkan bibirnya ke depan kamera. Dia harus tampil cantik supaya Wildan terpesona begitu melihatnya.


“Julia, barusan aku mengasah tiga buah pisau pemotong daging di dapur. Perlukah aku mengetes ketajamannya dengan cara menggorok lehermu?” tanya Briana frustasi akan apa yang dilakukan oleh Julia. Dia sampai sesak nafas sendiri melihat Julia yang malah sibuk membenahi riasannya di saat jantung Briana sudah hampir meledak.


“Eih kau ini apa-apaan sih. Aku bertanya begini karena aku tidak mau Wildan mati jantungan karena melihat riasanku yang tidak sempurna. Bagaimana sih!” sahut Julia bersungut-sungut. Dia lalu memicingkan mata saat mendapati kalau di kening Briana banyak bermunculan butiran keringat. Iseng, Julia pun mengejeknya. “Duhhh yang gugup karena akan melakukan video call dengan pria pujaan hatinya. Sampai-sampai di keningnya banyak bermunculan keringat sebesar biji durian. Kenapa? Apa kau sebegitu bahagianya ingin mengobrol dengan Lu?”


Tepat setelah Briana mengancam akan menyiram mulut Julia dengan air got, Wildan merespon panggilan itu. Segera Briana menegakkan tubuhnya karena gugup membayangkan kalau dia dan Lu akan segera bertatap muka.


“Halo, Julia. Ada apa?” tanya Wildan seraya menatap seksama ke arah kamera ponselnya.


Ditatap seperti itu oleh Wildan membuat Julia jadi salah tingkah sendiri. Briana yang melihat Julia bertingkah seperti ulat bulu segera menendang pelan kakinya. Dan syukurlah tindakannya itu mendapat respon yang cukup baik dari Julia.


“Ekhmmm, hai Wildan. Apa kabar?” sapa Julia seraya menampilkan senyum manis yang dimilikinya. “Begini, aku menghubungimu karena Briana ingin berbicara dengan Lu. Bisakah kau memberikan ponselmu kepadanya? Kasihan Briana. Dia …..


Paakkkkk


“Aduuhhhh!” pekik Julia kaget saat Briana tiba-tiba menggeplak lengannya dengan kuat.


“Akan kurontokkan semua gigimu setelah ini, Julia. Jangan macam-macam kau!” geram Briana dengan suara pelan. Sudah tahu dia gugupnya setengah mati, masih saja Julia bicara melantur pada Wildan. Kesallah dia.

__ADS_1


“Ck, tidak asik!”


“Julia, maaf. Saat ini aku sedang tidak bersama Tuan Gavriel. Tolong sampaikan pada Nona Briana kalau nanti aku akan langsung menghubunginya kembali setelah urusanku selesai. Sekarang aku harus segera pergi untuk menyelesaikan masalah di sini. Tidak apa-apakan kalau panggilan ini kumatikan?”


“O-oh, t-tidak apa-apa, Wildan. Kau … kau sibuklah dulu dengan pekerjaanmu. Aku akan menunggu,” sahut Briana dengan cepat merebut ponselnya dari tangan Julia. Dia tidak akan membiarkan Julia mengatakan sesuatu yang tidak-tidak lagi pada Wildan. Tidak akan.


“Sekali lagi saya minta maaf, Nona Briana. Nanti begitu urusan saya selesai, saya akan langsung memberitahu Tuan Gavriel agar menghubungi anda. Kalau begitu saya matikan dulu panggilannya. Selamat sore,”


“Iya, selamat sore,” sahut Briana sambil tertunduk lesu. Dia merasa sedikit kecewa karena gagal mendengar suaranya Lu.


Melihat Briana yang kecewa membuat Julia mengurungkan niat untuk melakukan protes. Bak seorang tetua, Julia memegang kedua bahu Briana kemudian memaksa agar menatapnya.


“Apa sih?”


“Bri, perjuanganmu baru saja dimulai. Jadi jangan merasa kecewa karena kau gagal berbicara dengan Lu. Bukankah tadi Wildan sudah berjanji akan kembali menghubungimu setelah pekerjaannya selesai dilakukan? Jangan cemas. Kau pasti akan segera mendengar kabarnya Lu. Oke?” ucap Julia sok bijak.


“Hmmmmm,”


“Ham hem ham hem. Dengar tidak yang aku katakan barusan?”


“Iya dengar,”


“Good girl.”


Briana menatap lekat pada Julia. Dia lalu menyeringai jahat.


Astaga, itu sinyal kematian. Sebaiknya aku segera pergi melarikan diri saja sebelum Briana benar-benar merontokkan semua gigi di dalam mulutku. Ya ampun, dia seram sekali sih.


***

__ADS_1


__ADS_2