
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
Julia langsung menyipitkan matanya curiga saat dia melihat ada dua orang pria yang terus memperhatikan ke arah cafenya. Khawatir kedua pria tersebut adalah orang jahat, Julia memutuskan untuk menghampiri mereka. Namun dia melakukannya dengan cara berputar arah agar bisa mengageti mereka dari belakang. Ingin lepas dari kejahilan Julia? Hohoho, tentu saja tidak bisa.
“Sepertinya kemarin kita salah melihat orang. Mustahil Tuan Gavriel berada di café itu,”
“Salah atau tidak yang penting sekarang kita harus memastikan terlebih dahulu apakah orang itu benar adalah Tuan Gavriel atau bukan. Kau lupa ya kalau Tuan Wildan masih menunggu informasi dari kita berdua?”
“Iya aku tahu, tapi sampai sekarang orang itu masih belum menampakkan batang hidungnya juga. Apa tidak sebaiknya kita mencari di tempat lain saja? Siapa tahu semalam orang itu hanya sekedar lewat. Kemungkinan seperti ini bisa saja terjadi bukan?”
“Diamlah. Suara hatiku mengatakan kalau Tuan Gavriel pasti bekerja di salah satu toko yang ada di tempat ini. Dan café itu, aku akan tetap mengawasinya sampai aku mendapat jawaban apakah Tuan Gavriel ada di sana atau tidak!”
Kedua pria ini sama sekali tidak menyadari kalau di belakang mereka ada seorang wanita yang tengah menguping pembicaraan mereka. Julia yang mengetahui kalau kedua pria tersebut memang tengah mengawasi café miliknya, tah tahan lagi untuk terus diam. Julia meradang. Dia lalu dengan ganas menyepak pantat kedua pria tersebut kemudian berkacak pinggang saat keduanya berbalik dan menatapnya heran.
“Nona, apa-apaan kau? Kenapa kau menyepak bokong kami?” protes salah satu pria merasa tak terima atas perlakuan yang baru saja diterimanya.
“Apa-apaan kalian bilang?”
Julia emosi. Dia segera menyingsingkan kedua lengan bajunya kemudian melangkah mau ke depan. Tanpa merasa takut sedikitpun, Julia memarahi kedua pria tersebut. “Dengar ya kalian para penjahat. Yang sedang kalian awasi itu adalah café milikku. Dan di tempatku tidak ada orang yang bernama Tuan Gavriel. Berani-beraninya ya kalian menebar modus bodong seperti ini. Sudah bosan bernafas atau bagaimana hah?!”
“A-apa? Modus bodong?”
“Iya. Kenapa memangnya?” sengit Briana. “Sekarang lebih baik kalian segera pergi dari sini sebelum sahabatku datang. Jika dia sampai mengetahui tujuan kalian, dia pasti akan langsung mengamuk kemudian menghajar kalian sampai babak belur. Cepat pergi!”
Kedua mata Julia melotot besar saat kedua pria ini terlihat marah karena di usir pergi. Dan di saat yang bersamaan Lu dan Briana datang. Melihat sahabatnya sedang dikeroyok oleh dua orang pria, Briana dengan cepat melemparkan tasnya kepada Lu kemudian berlari menghampiri Julia. Tanpa ada babibu lagi Briana menerjang dada salah satu pria itu kemudian menjambak rambut pria yang lainnya dengan brutal.
__ADS_1
Buggghhhhh
“Brengsek. Berani-beraninya ya kalian mengeroyok temanku. Hadapi aku dulu jika mampu!” teriak Briana dengan mata berkilat marah.
Apa kalian penasaran dengan reaksi Lu dan Julia melihat Briana yang dengan brutalnya menumbangkan dua orang pria sekaligus? Mereka terdiam syok dengan mulut menganga lebar. Dan tidak hanya mereka saja. Bahkan orang-orang yang sedang berlalu lalang di sana sampai berhenti untuk sekedar menonton aksi Briana yang begitu menakjubkan. Bagi sebagian orang yang sudah mengenal seperti apa watak Briana, mereka dengan cepat mengambil ponsel kemudian merekam apa yang sedang terjadi. Aksi Briana sangat keren, begitu pikir orang-orang itu.
“Ughhhh, kau baik-baik saja?” tanya salah satu pria membantu temannya yang terkapar di tanah sambil memegangi dada.
“Ak-aku tidak bisa bernafas,” sahutnya lirih. “Dadaku sakit sekali.”
“Kita pergi ke dokter sekarang. Hati-hati, aku akan membantumu berdiri.”
Lu langsung berlari membantu kedua pria itu setelah tersadar dari keterkejutannya. Mengabaikan tatapan Briana yang begitu galak, Lu dengan baiknya membantu memapah pria yang wajahnya sudah sangat pucat seperti mayat. Dan ketika Lu hendak melangkah, dia dibuat bingung saat kedua pria itu hanya berdiri diam sambil menatapnya tak berkedip.
“Tuan, ada apa?” tanya Lu heran.
“O-oh, tidak apa-apa. Tidak apa-apa,” sahut salah satu pria dengan suara tergagap. “Em Tuan, kalau boleh tahu dimana kau tinggal?”
“Benar!” imbuh Briana.
“T-Tuan, itu sama sekali tidak benar. Kami bukan tukang hipnotis. Kami hanya sedang ….
“Sedang apa hah? Sedang mencari mangsa, iya?”
Lu segera meminta Briana agar diam dulu. Setelah itu Lu menatap bergantian ke arah dua orang pria yang entah mengapa terlihat begitu segan terhadapnya. “Tuan-Tuan, sebelumnya aku ingin meminta maaf karena aku tidak bisa memberitahukan dimana alamat tempat tinggalku pada kalian. Ini privasi, dan aku takut nantinya hal ini akan membahayakan keselamatan orang lain. Akan tetapi jika kalian merasa ada yang ingin di sampaikan padaku, kalian bisa menemuiku di café itu. Aku bekerja di sana!” ucap Lu sambil menunjuk café milik Julia. Begini lebih baik daripada Lu harus memberitahukan rumah Briana kepada kedua pria ini. Dia bisa mati di gantung nanti jika kedua pria ini sampai melakukan hal yang salah di rumah Briana.
Kedua pria itu tampak saling melempar pandangan setelah diberitahu kalau orang yang sedang mereka cari ternyata memang bekerja di café. Setelah itu mereka sama-sama menganggukkan kepala sambil tersenyum penuh kelegaan. Tugas selesai, dan kini mereka tinggal mengambil bonus dari Tuan Dary. Untung saja hadiah yang di berikan sangat menggiurkan sehingga mereka bisa sedikit melupakan perlakuan bar-bar dari dua orang wanita yang ada di hadapan mereka. Kalau tidak, hmmm.
“Kalau begitu kami permisi dulu, Tuan.”
__ADS_1
“Eh tunggu. Biar aku membantu membawa temanmu ke rumah sakit. Sepertinya dia sangat kesakitan,” cegah Lu khawatir.
“Tidak usah, Tuan. Mobil kami berada tak jauh dari sini, saya bisa membawanya sendirian ke rumah sakit. Jangan cemas.”
“Benar tidak apa-apa?”
“Tidak, Tuan. Sungguh.”
“Ya sudahlah kalau begitu. Kalian berhati-hatilah.”
Jika Lu menatap kepergian dua orang pria itu dengan pandangan khawatir, lain halnya dengan sikap yang di tunjukkan oleh Julia dan Briana. Sepeninggal kedua pria tersebut mereka langsung menatap Lu dengan tatapan yang sangat galak. Hal ini membuat orang-orang yang masih berkerumun segera pergi melarikan diri dari sana. Sepertinya mereka sadar kalau sebentar lagi akan terjadi bencana besar.
“Kenapa kalian menatapku seperti itu?” tanya Lu dengan polosnya. Dia lalu menatap bergantian ke arah Julia dan Briana, merasa heran dengan tingkah keduanya.
“Lu, kau sadar tidak dengan apa yang barusaja kau lakukan?” sahut Briana balik bertanya.
“Memangnya apa yang aku lakukan, Bri? Akukan hanya ingin membantu pria yang tadi kau hajar. Salah ya?” jawab Lu.
“Salah. Tentu saja itu sangat salah!” sembur Briana. Dia lalu berdecak, tak habis pikir dengan tindakan Lu yang dengan santainya malah melepaskan kedua penjahat itu. Padahal Briana sudah susah payah menumbangkan mereka, tapi Lu? Haihh. Benar-benar menjengkelkan. “Lu, tadi itu harusnya kau tidak membiarkan mereka pergi begitu saja. Aku masih belum tahu apa motif mereka mengeroyok Julia. Kau ini bagaimana sih!”
“Bri, mereka datang untuk mencari orang yang bernama Tuan Gavriel. Karena mereka terus memperhatikan café kita, ya sudah aku hampiri saja. Eh mereka malah marah dan seperti ingin memakanku. Untung kalian cepat datang. Kalau tidak, mereka pasti sudah lebih dulu menghajarku!” timpal Julia menjelaskan kronologi kejadiannya.
“Mereka bukan orang jahat, Julia. Dari penjelasanmu sepertinya mereka hanya salah mengira saja kalau orang yang mereka cari bekerja di cafemu. Jangan salah paham dulu!” sanggah Lu tak membiarkan Julia salah memahami kedua pria tadi.
Julia dan Briana terdiam. Mereka kemudian memperhatikan Lu yang kini tengah berjalan masuk ke dalam café.
“Bri, apa kau sedang memikirkan hal sama denganku?” tanya Julia.
“Iya. Pemikiran kita sama,” jawab Briana lirih.
__ADS_1
Dan … tiba-tiba saja ada awan mendung datang menyelimuti wajah Briana.
***