Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Mesin Capit


__ADS_3

📢📢📢 MINTA DUKUNGANNYA YA BESTIE UNTUK NOVEL INI YANG SEDANG MENGIKUTI LOMBA #100%KEKASIH IDEAL 💜


***


Julia menatap Lu dan Briana yang berjalan beriringan saat pergi meninggalkan café miliknya. Andai saja kedua orang ini adalah pasangan yang normal, Julia yakin Briana pasti akan sangat beruntung memiliki pasangan seperti Lu. Memang tidak di pungkiri kalau Lu sendiri terlihat seperti seorang pria idiot karena tak bisa mengingat tentang siapa dirinya. Namun, di balik itu semua Lu ternyata menyimpan sesuatu kelebihan yang sangat berharga. Kenapa berharga? Karena selain dia yang lupa ingatan, Lu begitu pandai memainkan strategi marketing dalam bisnis. Ini terbukti dari ramainya café milik Julia setelah Lu menyarankannya beberapa cara untuk mempromosikan makanan yang di jual di café ini. Meski sebelumnya café Julia tidak terlalu sepi pengunjung, tapi setelah Lu memintanya agar menerapkan cara promosi yang baik, pundi-pundi uang semakin banyak terkumpul. Bahkan selama tiga hari ini keuntungan yang di peroleh café melebihi penghasilan selama satu minggu lamanya. Luar biasa sekali bukan?


“Hmmm, Lu-Lu. Aku jadi semakin penasaran dengan latar belakangmu. Kalau di perhatikan baik-baik, aku rasa kau itu terlahir dari keluarga berlatar belakang pengusaha. Karena jika tidak, kau mana mungkin mengetahui strategi seperti ini. Tapi ya sudahlah, anggap saja kalau aku sedang ketiban durian runtuh karena sahabatku menemukan orang lupa ingatan yang pintar. Jadi aku dan Briana bisa sedikit terbantu berkat kepintaranmu itu. Hehe,” ujar Julia yang akhirnya malah mensyukuri apa yang di alami oleh Lu. Bukan kejam, dia hanya mengatakan yang sesuai dengan fakta yang ada saja. Sungguh.


Sementara itu Lu dan Briana, saat ini keduanya berjalan dalam diam. Namun ketika mereka melewati sebuah toko, Lu tiba-tiba saja berhenti. Dan hal ini tentu saja membuat Briana merasa tak senang. Segera dia menatapnya dengan pandangan curiga.


“Kita masih belum sampai, Lu. Jadi untuk apa kau berhenti di sini?”


“Briana, apa itu?” tanya Lu seraya menunjuk satu kotak besar yang terpasang di depan sebuah toko. Raut wajahnya menampakkan betapa dia sangat amat penasaran terhadap isi kotak tersebut.


Briana segera melihat ke arah yang di tunjuk oleh Lu. Setelah itu dia menarik nafas panjang. Tak habis pikir karena Lu menghentikan langkahnya hanya karena sebuah mesin pencapit boneka. Malas meladeni keinginan Lu, Briana memutuskan untuk kembali melanjutkan langkahnya. Namun baru juga dia hendak melangkah, Lu sudah lebih dulu menarik tangannya menuju depan toko tempat mesin pencapit berada. Awalnya Briana ingin mengumpat, tapi dia urungkan ketika melihat Lu yang langsung menempelkan wajahnya dan menatap penuh kagum segerombolan boneka gurita berwarna merah muda yang ada di dalam kotak mesin pencapit. Jujur, itu pemandangan yang lucu karena wajahnya Lu mirip cicak raksasa yang sedang mengintai musuh.


“Uwaahhh, lihatlah Briana. Boneka-boneka ini sangat lucu. Kau suka tidak?” tanya Lu dengan begitu gembira. Pertama kali dalam hidupnya Lu merasa sangat amat takjub melihat hal seperti ini. Sungguh.


“Aku bukan bocah lima tahun yang menyukai hal-hal seperti ini, Lu. Sudahlah ayo kita pulang. Aku lelah dan ingin segera memeluk bantal gulingku,” jawab Briana dengan wajah cemberut.

__ADS_1


“Apa boneka-boneka ini di jual?”


“Tentu saja itu di jual. Kau pikir untuk apa pemilik toko memasang mesin pencapit di sini kalau bukan untuk mendapatkan uang? Yang benar saja kau!”


Lu menoleh. “Ayo kita beli dua ekor gurita, Bri. Masing-masing dari kita akan memiliki satu ekor sebagai teman tidur. Bagaimana?”


Jtaaakkkkk


Satu buah jitakan setengah kuat berhasil mendarat sempurna di keningnya Lu. “Dengar ya, Lu. Kotak ini dinamakan permainan capit boneka. Dan gurita-gurita yang ada di dalam sini tidak boleh kita beli menggunakan uang, tapi kita di haruskan membeli koin kemudian memainkan game-nya. Baru setelahnya kita bisa mendapatkan gurita ini, itupun jika kita beruntung. Kalau tidak, maka uang kita hanya akan melayang sia-sia. Paham?”


“Jadi?”


“Jadi kau bilang?”


“Aku ingin memainkan game ini, Bri. Tolong belikan koin untukku. Ya?” rengek Lu dengan tatapan penuh harap.


“Yakkk kau ….


“Aku janji besok aku akan lebih giat lagi membantumu di café. Oke?”

__ADS_1


Briana membuang nafas dengan kasar mendengar cara Lu merengek padanya. Sambil bersungut-sungut, Briana terpaksa menuruti keinginan Lu dengan membelikannya koin untuk bermain capit boneka. Mungkin bagi orang lain uang sekecil ini tidak ada artinya, tapi bagi Briana ini adalah suatu pemborosan yang nyata karena mereka menggunakannya untuk sesuatu hal yang tidak berguna. Akan tetapi mengingat kebaikan Lu selama beberapa hari ini, Briana tak tega juga untuk tidak memenuhi keinginannya. Alhasil di belilah koin game tersebut kemudian Briana berikan separuhnya pada Lu yang sudah terlihat sangat tidak sabar ingin segera memainkan game capit boneka itu.


“Bagaimana cara memainkannya, Bri? Tolong ajar aku ya?” ucap Lu yang kebingungan karena tidak mengerti bagaimana cara memainkan gamenya.


“Haihhh, kau memang paling pintar membuatku kerepotan, Lu,” sahut Briana seraya memicingkan matanya. Setelah itu dia meminta Lu memperhatikan mulai dari cara memasukkan koin kemudian memegang tombol kendali untuk mulai memainkan gamenya. “Sudah faham belum?”


“Sudah,”


“Ya sudah kalau begitu mainkan gamenya sekarang. Tunggu apalagi kau!” omel Briana dengan cetus.


Lu mengangguk. Dia lalu mengikuti cara-cara yang telah di ajarkan oleh Briana. Awalnya Lu pikir permainan ini adalah hal yang sangat mudah untuknya bisa mendapatkan dua ekor gurita. Namun, pada kenyataannya itu adalah hal yang sangat luar biasa sulit. Bahkan ketika koin yang Lu miliki tinggal tersisa satu, dia masih belum bisa mendapatkan satupun boneka. Hal ini tentu saja membuat Briana menjadi gemas sendiri. Dia lalu menggeser paksa Lu ke samping kemudian menggantikannya bermain game. Sambil terus berceloteh seakan dia lebih pintar dari Lu, Briana terus saja gagal memasukkan boneka ke dalam lubang yang ada di sana. Dan pada akhirnya, orang yang fokus memainkan permainan tersebut bukanlah Lu, melainkan Briana. Dia seakan lupa denga ucapannya sendiri yang menyebut kalau Briana bukan bocah lima tahun yang suka memainkan hal-hal semacam ini. Lawak sekali bukan?


“Sial. Kenapa tidak ada satupun boneka yang berhasil aku dapatkan? Apa jangan-jangan pemilik toko ini sengaja merenggangkan mesin capitnya agar tidak ada orang yang bisa memenangkan game ini? Curang sekali dia!” gerutu Briana saat dia kehabisan koin game.


“Beli koinnya lagi, Bri. Apapun yang terjadi kita harus bisa membawa pulang dua ekor guritanya!” sahut Lu yang juga merasa tak terima mereka gagal memainkan game tersebut.


“Ide bagus. Tunggu sebentar.”


Briana kembali masuk ke dalam toko untuk membeli koin. Dia yang awalnya berpikir kalau game ini hanya membuang-buang uangnya saja, berakhir dengan Briana yang ketagihan bermain sendiri. Sementara Lu sendiri, dia fokus memberikan semangat agar Briana bisa memenangkan boneka gurita yang di inginkannya.

__ADS_1


Kau kenapa lucu sekali, Briana. Di awal tadi kau bilang tidak menyukai permainan seperti ini. Tapi sekarang malah kau yang terlihat sangat bahagia saat memainkannya. Aku suka sekali melihatmu saat sedang tersenyum seperti ini, Bri. Kau jadi terlihat manis sekali. Sungguh.


***


__ADS_2