Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Pesan Keramat


__ADS_3

Helena berjalan cepat menuju pintu saat pelayan memberitahukan kalau Gavriel, Briana dan Julia sudah pulang. Wajahnya terlihat sangat berseri-seri saat akan menyambut ketiganya. Hehe, kalian pasti sudah tahu bukan apa penyebabnya? Yap, benar sekali. Helena terlihat begitu senang karena dia telah menerima pesan keramat dari Julia. Bak mata-mata, Julia memberitahunya tentang adegan di mana Gavriel dan Briana yang sedang bermesraan di atas ranjang. Sebagai orangtua yang sudah sangat menginginkan cucu, jelas pesan tersebut membuat Helena merasa girang sekali. Dia bahkan sampai memerintahkan pelayan agar menyiapkan masakan yang bisa membuat rahim Briana bertambah semakin sehat. Siapa tahu saja cetakan cucunya sudah mulai terbentuk di dalam sana. Iyakan? Hehehe.


"Oh Ibu. Kenapa repot-repot membukakan pintu untuk kami? Kemana perginya para pelayan?" tanya Lu kaget saat mendapati kalau sang ibulah yang membukakan pintu rumah. Dia yang sedang menggandeng tangan Briana nampak mengerutkan kening karena merasa heran melihat sang ibu yang sedang tersenyum aneh sambil memandangi wajah kekasihnya.


Ibu kenapa ya? Sikapnya aneh sekali. Dia tidak sedang kerasukan 'kan?


"Bibi, kau kenapa memandangiku sambil tersenyum seperti itu. Memangnya ada yang aneh ya di wajahku?" tanya Briana bingung. Dia lalu mengusap wajahnya dengan satu tangan, memastikan kalau tidak ada kotoran burung di sana.


"Tidak kok. Sama sekali tidak ada yang aneh di wajahmu," jawab Helena. "Kau malah terlihat semakin cantik sejak menginap di rumah ini. Sungguh!"


"Oh, jadi maksud Bibi kemarin-kemarin itu aku jelek ya?" Di kepala Briana langsung keluar tanduk begitu mendengar jawaban ibunya Lu. Jangan lupa ya, kekesalan Briana masih belum hilang setelah tahu kalau ibunya Lu diam-diam menguntitnya. Jadi bukan salah Briana kalau dia bersikap sedikit galak pada wanita ini. Siapa suruh memprovokasinya, jadi ya sudah. Rasakan pembalasan ini. Haha.


"Bukan, bukan seperti itu maksud Bibi, Briana. Mau itu kemarin atau hari ini, kau tetaplah sangat cantik. Buktinya Lu begitu menyukaimu. Iyakan, Lu?" kilah Helena agak ngeri melihat perubahan suara di diri calon mantunya ini.


Julia iri. Jelas. Segera dia berdiri di hadapan ibunya Lu sambil berlagak bak seorang model terkenal.


"Jadi Bibi Helena, bagaimana denganku, hem? Apa aku cantik?" tanya Julia sombong. Dia acuh saja saat mendengar suara decakan bibir Briana.


"Tentu saja kau juga sangat cantik, Julia. Dan kecantikanmu akan semakin bertambah jika bersedia menikah dengan Erzan. Bagaimana?" jawab Helena kembali menyuarakan keinginannya untuk menjodohkan Julia dengan Erzan. Cinta hadir karena terbiasa. Dan Helena akan menggunakan cara ini untuk mencuci otak keduanya.


Dan begitu nama Erzan di sebut, hanya dalam sekejap Julia sudah menghilang dari pandangan semua orang. Wanita itu menggerutu dengan suara yang cukup keras, hingga membuat Briana dan ibunya Lu terkekeh kencang.


"Bu, Ibu serius ingin menjodohkan mereka berdua?" tanya Lu seraya menatap sang ibu penuh rasa penasaran.


"Kalau mereka mau sih Ibu serius-serius saja. Tapi Lu, kaukan tahu sendiri kalau adikmu itu seperti tidak pernah memiliki rasa pada wanita. Perhatikan saja kelakuannya saat sedang bersama Julia. Mereka mirip seperti anjing dan tikus. Selalu bertengkar di segala kesempatan. Hmmm," jawab Helena seraya menghela nafas panjang.


"Benci dan cinta bedanya hanya setipis tisu. Bibi jangan khawatir. Nanti lama-lama mereka juga akan luluh dengan sendirinya!" timpal Briana sambil tersenyum licik. Akhirnya. Akhirnya dia menemukan cara untuk membungkam mulut sahabatnya yang mesum itu. Lihat saja. Briana akan berjuang keras menjadi makcomblang untuk menyatukan mereka meskipun tahu kalau yang di sukai oleh Julia bukan Erzan, tapi Wildan.

__ADS_1


Lu yang menyadari ada niat jahat di diri kekasihnya hanya tersenyum membiarkan. Dia sudah terlalu hafal dengan prilaku saling balas dendam antar kedua wanita ini. Tak mau terus berdiri di depan pintu, Lu mengajak Briana dan ibunya masuk ke dalam rumah. Dia lalu mencium punggung tangan Briana saat melihatnya kikuk karena mereka berjalan sambil terus bergandengan.


"Ck, Lu. Ini rumah, bukan zebra cross. Cepat lepaskan tanganku," bisik Briana dengan lubang hidung yang sudah kembang kempis. Tulang di kakinya seperti berubah menjadi jeli karena pria idiot ini terus saja melakukan hal-hal manis tanpa mengenal tempat. Padahal di depan mereka ada Bibi Helena yang terus menoleh ke belakang memperhatikan mereka.


"Kenapa harus dilepaskan kalau tadi saja kita sudah melakukan ....


"Uhukk uhukkk. Ya ampuun, Ibu lupa memandikan monyet. Permisi ya. Kalian lanjutkan saja bermesraannya!" teriak Helena sambil berpura-pura terbatuk saat putranya hampir mengeluarkan kata-kata 21++. Agresif sekali. Masih hilang ingatan saja Gavriel sudah seperti ini, bagaimana kalau dia sembuh nanti. Helena yakin tidak butuh waktu lama untuk membuat Briana hamil.


Briana menatap aneh pada ibunya Lu yang langsung lari terbirit-birit sambil sesekali menoleh. Dan yang membuat keadaan semakin bertambah aneh lagi, wanita itu tiba-tiba mengintip dari balik tembok seraya menampilkan senyum yang sedikit mesum. Hal itu tentu saja membuat Briana merasa seperti sedang di curigai. Dia bagaikan maling yang tertangkap basah oleh pemilik rumah.


"Kenapa, hem?" tanya Lu sambil menatap lekat Briana yang tengah mengerutkan kening.


"Lu, Ibumu kenapa tiba-tiba bersikap seperti itu ya. Aneh sekali. Apa mungkin otaknya telah di cuci oleh Julia sehingga berpikiran yang bukan-bukan tentang kita?" sahut Briana menerka penyebab ibunya Lu bertingkah sedemikian rupa. Dia kemudian menoleh, langsung menelan ludah karena ternyata jarak wajahnya dengan wajah Lu begitu dekat. "L-Lu, k-kau kenapa begitu dekat dengan wajahku? K-kalau tadi gigi kita sampai beradu bagaimana? Mau kau menjadi pria ompong?"


"Bukankah sejak semalam gigi kita memang sudah beradu ya? Bahkan tadi kita mengulanginya lagi saat sedang berada di ruang terapi. Iyakan, Bi?" ledek Lu sambil mengedipkan sebelah mata.


Wajah Briana langsung menjadi merah padam saat Lu membahas tentang ciuman panas mereka. Sialan sekali pria idiot ini. Ternyata selain menjadi lebih agresif, Lu juga berubah menjadi mesum seperti Julia. Astaga.


"Jangan malu-malu. Kita inikan sudah dewasa. Selagi masih di batas wajar, aku rasa tidak ada salahnya untuk pasangan dewasa saling berciuman," ucap Lu tak mau membuat Briana merasa canggung.


"Harus ya di bahas sekarang?" tanya Briana sambil menggigit bibir. Rasa malunya seperti menembus ubun-ubun. Sungguh.


"Sebenarnya tidak harus juga sih. Tapi kalau kau ingin membahas di tempat yang sedikit lebih privasi, aku tidak keberatan untuk melakukannya di dalam kamar. Sekalian kita beradu gigi lagi. Aku suka!" jawab Lu penuh goda. Dia kemudian tertawa saat Briana mencubit pinggangnya. "Jangan marah. Aku hanya bercanda saja."


"Ck. Menyebalkan,"


"Jadi?"

__ADS_1


"Jadi apa?" Briana kembali tersipu.


"Mau melakukannya di dalam kamar tidak?"


"Sialan kau!"


Umpatan yang keluar dari dalam mulut Briana membuat Lu menjadi gemas sendiri. Dengan lembut ditariknya tubuh kekasihnya ini ke dalam pelukan. Sambil menciumi puncak kepalanya, Lu kembali menyampaikan betapa dia sangat menyintainya.


"Kau tahu Briana. Bertemu denganmu adalah hal terindah di hidupku. Sampai detik ini aku memang masih belum bisa mengingat kembali masa laluku. Akan tetapi aku sangatlah yakin kalau kau adalah keajaiban terbaik pemberian dari Tuhan. Aku mencintaimu, dan sangat ingin kau selalu ada bersamaku. Terima kasih karena malam itu kau telah memberikan tempat tinggal untukku. Jika tidak, aku pasti tidak akan menemukan kebahagiaan yang seperti ini!" aku Lu penuh tulus.


"Tolong jangan menebar syair, Lu. Tahu tidak. Bendungan ingusku sudah hampir jebol karena mendengar pengakuanmu!" keluh Briana yang merasa sangat terharu mendengar pengakuan dari pria idiot yang sedang memeluknya.


"Biarkan saja kalau mau jebol. Bajuku siap untuk menampung semua ingusmu," celetuk Lu asal.


"Mau ku patahkan kedua rahangmu?"


"Memangnya kau mau mempunyai kekasih cacat?"


"Tidak maulah."


"Jadi?"


"Aku tidak tahu." Suara Briana melemah. Dia kemudian tersenyum saat pelukan Lu terasa semakin erat. "Cepat sembuh, Lu. Aku tidak suka melihatmu kesakitan seperti tadi. Hatiku sakit."


Tak menjawab, Lu hanya mengangguk saja saat mendengar bisikan Briana. Dalam diamnya Lu terus berpikir dan meyakini kalau anak laki-laki itu adalah benar bernama Briana. Kini Lu hanya perlu menunggu laporan dari Wildan saja yang tengah mengumpulkan bukti tentang kebenaran ini.


Semoga saja saat pulang nanti Wildan membawakan kabar baik untukku. Semoga ....

__ADS_1


***


__ADS_2