Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Hewan-Hewan Putih


__ADS_3

Karena tempo hari cafe di tinggal dalam keadaan seperti kapal pecah, hari ini Julia dan Briana harus rela melakukan pembersihan sambil sesekali menahan muntah. Sampah bertumpuk di mana-mana, dan piring kotor bercecer tak beraturan hingga menyebabkan bau tak sedap akibat sisa makanan yang belum sempat di buang. Sungguh sial sekali. Setelah kemarin bersenang-senang hidup di rumah mewah, hari ini mereka bagai terlempar ke tempat antah betantah di mana tempat itu sangat luar biasa kotor dan jorok. Menyebalkan. Iyuhhh.


"Kalau saja waktu itu kau tidak menyeretku pergi mencari Lu, hari ini aku pasti tidak akan berurusan dengan anak belatung ini. Hiii, menjijikkan sekali mereka!" gerutu Julia dengan suara yang cukup kuat. Sengaja dia melakukan hal itu supaya pelakunya merasa tersindir.


"Tutup mulutmu dan cepat bereskan semua kekacauan ini sebelum aku menangkap semua anak belatung lalu memasukannya ke dalam mulutmu. Mau?" ancam Briana dari arah depan. Telinganya mendengar jelas gerutuan Julia barusan. Jadi satu-satunya jalan untuk membuatnya tutup mulut adalah dengan memberi ancaman. Huh.


"Cihhh, ancam saja terooss!"


"Oh, jadi kau menantang ya?"


Briana kesal. Dia melepaskan sarung tangan kemudian berjalan cepat menghampiri Julia. Saat ingin menabok bokongnya, tiba-tiba saja melintas di pikiran Briana tentang kejadian manis di lokasi tempat Julia berdiri sekarang. Lu, pria idiot itu, di sini pertama kali mencium bibirnya. Ahh, mengingat kejadian manis tersebut membuat Briana jadi salah tingkah sendiri. Dia lalu menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri sambil menangkup kedua pipi.


Eh, kenapa aku tidak merasakan sakit ya? Briana tidak mungkin terkena stroke dadakan, kan? Aneh sekali.


Karena mendadak hening, Julia pun merasa penasaran. Segera dia berbalik menghadap ke belakang untuk melihat apa yang terjadi. Dan begitu dia berbalik, Julia dibuat ingin muntah melihat kelakuan Briana yang begitu menjijikkan. Dengan memakai apron berwarna kuning, wanita ini terus menggerakkan tubuhnya sambil tersenyum tidak jelas. Julia tidak tahan, lalu memutuskan untuk menjambak rambutnya.


Srreeett


"Yaaakkkk!"


Briana berteriak. Kaget sekali dia saat rambutnya tiba-tiba di jambak. Sambil memelototkan mata, Briana menatap garang ke arah Julia yang sedang menyeringai sambil bersedekap tangan.


"Bagaimana? Enak tidak saat terbangun dari hayalan? Sakit, kan?" ejek Julia merasa senang karena bisa menyerang lebih dulu. Lumayanlah.


"Tentu saja sakit, bodoh. Kau menjambak rambutku dengan sangat kuat. Dasar penindas!" sahut Briana menuduh Julia sebagai tukang bully.


"Hei, hati-hati dengan julukan itu ya!"


"Kenapa memangnya? Tidak terima? Mau marah? Bergulat saja bagaimana?"


Julia menelan ludah. Kalau sudah seperti ini lebih baik dia mengalah saja. Briana baru saja berpisah dengan Lu, dia bisa mati patah tulang jika wanita ini sampai mengamuk. Alhasil Julia memutuskan untuk langsung mengibarkan bendera putih. Dia menyerah saja.

__ADS_1


"Briana, ngomong-ngomong kenapa waktu itu Lu dan Wildan terus mencari tahu tentangmu ya? Aku jadi penasaran," tanya Julia sembari memasukkan sampah ke dalam plastik. Dia hampir saja muntah saat mencium aroma tak sedap dari sana. "Besok-besok tolong jangan pernah memaksaku pergi dengan meninggalkan cafe dalam keadaan kotor, Bri. Aku jera!"


"Kau bertanya atau mau mengomel? Cerewet sekali," sahut Briana jengah. Sambil menahan diri agar tidak muntah, dia membantu memasukkan sampah-sampah busuk ke dalam kantong. Setelah itu Briana mencari tempat duduk, merasa tak nyaman dengan perutnya yang tak henti bergejolak. "Julia, sekarang aku benar-benar menyesal telah mengajakmu pergi ke rumahnya Lu. Aku mual, tidak kuat lagi!"


Triiinngg


Di dalam kepala Julia, muncul penafsiran berbeda saat Briana mengeluhkan rasa mual yang menderanya. Sadar ada yang tidak beres di tubuh sahabatnya itu, Julia dengan cepat mencuci tangan lalu membimbingnya untuk berpindah duduk ke tempat yang lebih bersih. Setelah itu Julia berlari ke dapur guna mengambil air minum. Dan saat melakukannya, sesekali dia menoleh ke belakang sambil tersenyum lebar. Yappp, seperti biasa. Wanita bernama Julia ini memiliki pemikiran yang berada di atas rata-rata. Dia menanggapi rasa mual Briana sebagai gejala awal kehamilan. 😝😝


"Perhatikan suhu airnya dengan benar, Julia. Jangan sampai kau membuat bibit cendol yang ada di dalam perut Briana melepuh. Hati-hati," gumam Julia mengingatkan diri agar tidak sembarangan bertindak.


Sedangkan Briana, dia terheran-heran akan sikap aneh yang di tunjukkan oleh sahabatnya. Kendati demikian, dia memutuskan untuk diam saja. Briana penasaran rencana busuk apa yang coba dimainkan oleh wanita itu. Jadi dengan tenang dia duduk sambil terus memperhatikan Julia yang tengah berjalan ke arahnya sambil membawa air minum.


"Itu racun?" sarkas Briana. Dia menunjuk gelas dengan ekpresi wajah jengah.


"Hehehe, kalaupun ini adalah racun, maka aku akan meminumnya sendiri. Tenang saja, Briana. Minuman ini sangat aman untuk di konsumsi," jawab Julia tak merasa tersinggung. Dia kemudian meletakkan gelas berisi air hangat ke atas meja. "Nah, minumlah selagi hangat. Oke?"


"Julia, kau sebenarnya kenapa. Kenapa tiba-tiba kau berubah menjadi begitu perhatian. Bahkan sampai melayaniku seperti ratu. Apa yang kau inginkan, hem?" tanya Briana penuh selidik. Tengkuknya sampai meremang melihat senyum yang tersungging di bibir wanita ini. Sangat seram dan penuh dengan maksud terselubung.


Uhukk uhuukk uhuuuukk


Air yang ada di dalam mulut Briana langsung tersembur keluar begitu dia mendengar pertanyaan Julia. Briana terbatuk sampai air mengalir keluar dari lubang hidung. Sungguh, dia sama sekali tidak mengira kalau rasa mual yang tadi dirasakannya di tanggapi dengan cara yang berbeda oleh sahabatnya ini. Padahal rasa mual itu muncul karena Briana tak kuat menahan aroma busuk yang berasal dari tumpukan sampah. Akan tetapi kenapa wanita ini malah berpikir dirinya sedang hamil? Benar-benar bodoh. Memangnya manusia mana yang bisa langsung hamil hanya dalam sekali tusuk? Sementara dia dan Lu, astaga. Walaupun tidur di atas ranjang yang sama tapi mereka sama sekali tak melewati batasan. Briana masih perawan sampai detik ini. Ya Tuhan.


"Biasa saja batuknya, Briana. Aku tahu kau malu, tapi tidak sampai begini juga kali. Ingat ya, mulai sekarang kau harus berhati-hati. Usahakan untuk batuk dengan irama pelan supaya benih yang ada di dalam rahimmu tidak rontok. Mengerti?" ucap Julia sok menasehati seperti orang tua. Dia kini sudah berdiri di sebelah Briana sambil membantu menepuk punggungnya.


"Uhukk-uhuuukkk. Yakk Julia, kau sadar tidak dengan apa yang baru saja kau katakan?" tanya Briana masih dengan terbatuk. Ingin rasanya dia merebus otak wanita ini supaya berhenti berpikiran yang bukan-bukan. "Aku malu? Hamil? Benihnya rontok? Hah, ini gila. Kau benar-benar sudah gila, Julia. Astaga!"


"Ssstttt, wanita hamil dilarang berbicara kasar. Ingat, bayimu bisa merekam semua kata yang terucap keluar dari mulutmu. Jadi mulai sekarang kau jangan sembarangan bicara ya. Ini adalah petuah calon bibi dari bayi yang sedang kau kandung. Paham?" tegur Julia dengan mimik wajah yang begitu serius. Dia takut terjadi masalah.


Paaaaaaaaakkkkkkk


Kepala Julia langsung tertoleh ke samping setelah Briana menamparnya dengan kuat. Linglung, itu yang dia rasakan saat rasa panas menghampiri pipinya.

__ADS_1


"Julia, kali ini aku perlu membuatmu sadar. Asal kau tahu saja ya. Aku mual bukan karena sedang hamil, tapi aku mual karena tak tahan mencium aroma busuk dari sampah-sampah itu. Tolonglah, Julia. Tolong berhenti berpikir kalau aku adalah wanita rendahan yang bisa dengan mudah melemparkan tubuh pada pria yang kusukai. Aku tidak semurah itu kalau kau mau tahu!"


Kali ini amarah Briana benar-benar berada di titik tertinggi. Dia merasa sangat kesal karena Julia terus saja berpikiran kalau dia dan Lu telah melakukan sesuatu di luar batasan. Bukan kejam ataupun kasar, tapi Briana merasa kalau wanita ini perlu di beri sedikit pelajaran supaya tidak sembarangan berprasangka. Untung saja di cafe ini hanya ada mereka berdua. Jika ada orang lain yang ikut mendengar prasangkanya, di jamin orang tersebut pasti akan memandang Briana sebagai wanita murahan. Inilah kenapa dia tega menampar pipi Julia sebagai bentuk teguran darinya.


"B-Briana, k-kau betul-betul marah ya?" cicit Julia agak salah tingkah melihat emosi di diri sahabatnya. Dia lalu menggigit bibir begitu menyadari dosa-dosanya. Julia merasa sangat bersalah. Tak mau kesalah-pahaman ini terus berlanjut, cepat-cepat Julia memeluk Briana kemudian meminta maaf. Dia sadar kalau sikapnya memang sudah sangat keterlaluan. Jika tidak, Briana tidak mungkin jadi semarah ini. "Maafkan aku, Bri. Pikiranku terlalu dangkal untuk sekedar berpikiran sehat. Tapi sungguh, aku sama sekali tidak ada niat untuk mempermalukanmu. Insting kalau kau sedang hamil muncul begitu saja di dalam kepala, lalu dengan bodohnya aku menelan mentah-mentah pemikiran tersebut. Tolong maafkan aku ya. Aku tahu aku salah. Aku menyesal sekali,"


"Kita memang sahabat, Julia. Bahkan aku menganggapmu sudah seperti saudara kandungku sendiri. Tapi bukan berarti kau ku izinkan untuk selalu berpikiran mesum seperti ini, apalagi sekarang hatiku sedang sedih. Zaman boleh saja modern, tapi pandanganku tentang kehormatan seorang wanita tidak akan pernah bisa dirubah oleh apapun juga. Kau suka berpikir mesum, tapi aku tidak. Kau suka bergatalan, aku hanya sedikit melakukannya. Bukan aku munafik, aku hanya tak mau kehormatanku ternodai oleh na*su yang sifatnya hanya merusak dan sementara. Aku tidak seperti itu, Julia. Jadi tolong berhentilah berpikir kalau aku dan Lu telah membuat adonan cendol. Oke?"


Kedua sudut bibir Briana tertarik ke atas saat Julia mengangguk sambil terus memeluknya. Dia sangat menyayangi wanita ini, tapi ada kalanya perlu untuk dia bersikap tegas. Sambil menghela nafas, Briana mengelus rambut Julia penuh sayang. Dia tahu sahabatnya sudah menyesali kesalahannya.


"Bri?"


"Hm?"


"Marahnya sudah selesai belum?" Julia bertanya takut-takut.


"Kenapa memangnya? Kau mau membuat tensi darahku naik lagi?"


"Bukan seperti itu. Tapi ....


"Tapi apa?"


Julia mengurai pelukan. Dia lalu menunjuk ke bawah kakinya. "Aku merasa ada sesuatu sedang merayap di kakiku. Bisa tolong lihat benda apa itu? Aku ... geli."


Briana mengerjapkan mata. Tanpa mengatakan sepatah katapun, dia langsung melesat pergi meninggalkan Julia begitu saja. Setelah itu Briana menoleh, lalu membuat gerakan jurus menghilangkan diri saat Julia menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Dasar bedebah. Kenapa kau malah pergi meninggalkan aku saat kakiku di serang oleh anak belatung? Kau tidak berguna sekali, Briana. Setelah menamparku sekarang kau tega membiarkan aku menjadi korban. Benar-benar wanita kejam. Awas saja kau ya!" geram Julia dengan bibir gemetar.


Dan di detik selanjutnya, terdengar suara raungan yang sangat kuat saat Julia melihat hewan-hewan kecil berwarna putih merayap dengan penuh semangat di kakinya. Briana yang mendengar suara teriakan tersebut hanya bisa berdo'a saja semoga Julia tidak pingsan. Dia kemudian lanjut beres-beres tanpa mengindahkan suara teriakan Julia yang bertambah semakin kencang. Dan itu adalah bentuk peperangan yang sesungguhnya. Hmmm.


***

__ADS_1


__ADS_2