
Setelah selesai bersiap, Briana segera pergi menuju cafe. Dia masih bingung memikirkan tentang kepala sikat gigi yang patah gara-gara efek kewarasannya yang mulai menurun. Sebenernya Briana sadar kalau itu semua terjadi karena dia yang terlalu gatal pada kisah percintaannya dengan Lu. Akan tetapi haruskah sampai seperti ini? Memalukan sekali. Briana sampai tak habis pikir karena memikirkan kelakuannya sendiri.
"Kalau seperti ini caranya, Julia akan mendapatkan banyak asupan rencana licik untuk mengerjaiku. Haisshhh, menyebalkan sekali. Kenapa sih aku jadi sebucin ini pada Lu. Padahal aku selalu menegur Julia yang sering kelewatan bersikap di depan Wildan, tapi aku sendiri malah mengikuti ilmu-ilmu sesatnya. Ini tidak benar," gumam Briana sambil menendangi batu kecil yang berada di jalanan. Dia berjalan sambil menunduk, tak berselera pamer kegilaan seperti waktu itu.
Duugggg
Briana memejamkan mata. Mencoba untuk tidak marah saat seseorang tiba-tiba berdiri menghadang jalan hingga membuat kepalanya terantuk tubuh orang ini. Karena sedang tidak mood untuk adu mulut, Briana memutuskan untuk bergeser ke samping kemudian lanjut melangkah. Namun, lagi-lagi orang ini menghadang jalannya. Kesal, segera dia mendongak kemudian menatap garang ke arah manusia yang sudah begitu berani memprovokasi.
"Apa kau sudah bosan hi ... Nyonya Jenny, apa yang sedang kau lakukan di sini?" Briana kaget begitu tahu siapa orang yang sedang berdiri di hadapannya. Ekor matanya kemudian bergerak memperhatikan ke sekeliling, mencari keberadaan para pria berbadan besar yang kemarin sempat berdebat dengannya. "Kau sendirian ya? Kemana para cebong berbadan raksasa itu?"
Karena tak kuat menahan rindu, pagi ini Jenny meminta izin pada Hendar untuk kembali datang ke tempat ini. Jenny beralasan ingin menemui gadis yang kemarin telah menolongnya. Awalnya Hendar tak mengizinkan, tapi setelah Jenny berjanji akan segera pulang ke rumah tanpa ada drama pingsan ataupun terluka, suaminya yang gahar itu akhirnya luluh. Namun untuk berjaga-jaga Hendar memerintahkan tiga orang penjaga untuk memastikan agar keadaannya baik-baik saja. Dan ketiga penjaga itu akan mengawasinya dari kejauhan. Tak mau berdebat, Jenny langsung mengiyakan. Dan di sinilah dia sekarang. Menunggu Briana datang sejak dari jam lima dini hari tadi. Sungguh perjuangan yang sangat tulus sekali, bukan? Tidak masalah. Selagi bisa bertatap muka dengan putrinya, tengah malam pun Jenny tak akan keberatan untuk menunggu.
"Nak, kemarin aku belum sempat mengucapkan terima kasih dan juga meminta maaf padamu. Jadi hari ini aku kembali datang untuk melakukannya," ucap Jenny dengan sangat lembut. Dia meraih kedua tangan Briana kemudian menggenggamnya seerat mungkin. "Terima kasih karena kemarin kau telah mengizinkan aku untuk memelukmu. Dan maaf, aku membuatmu takut. Saat melihatmu tiba-tiba saja naluri sebagai seorang ibu menjadi terketuk. Aku histeris oleh rasa yang muncul saat kita saling berbicara. Tolong maafkan aku ya?"
"Oh itu, tidak masalah. Santai," sahut Briana tak terlalu memusingkan permintaan maaf Nyonya Jenny. "Tapi Nyonya, kalau boleh tahu sebenarnya apa yang terjadi padamu. Kenapa kemarin kau terus berkata ingin bertemu dengan anakmu. Memangnya dia pergi kemana?"
"Dia tidak pergi kemana-mana,"
Karena sekarang anakku sedang berdiri di hadapanku. Briana, ini Ibu, Nak. Dua puluh tahun lamanya kita terpisah dan akhirnya sekarang kita bisa bertemu kembali. Kau cantik, dan matamu semakin indah. Ibu rindu sekali.
"Tidak kemana-mana? Kalau benar begitu kenapa anda terlihat aneh saat penjaga ingin mengajakmu pulang?" cecar Briana penuh selidik. Di tatapnya lekat-lekat wajah Nyonya Jenny yang begitu cantik. Aneh, dadanya bergetar. Seolah ada sesuatu yang menghubungkan mereka berdua. Briana kemudian menunduk, langsung tersadar darimana asal hubungan itu. Ternyata karena tangan mereka saling menggenggam. Pantas dadanya berdebar. Haihh.
"Aku telah kehilangan anakku ketika masih berusia lima tahun. Dia di culik, dan sampai sekarang tidak di ketahui keberadaan jasad maupun makamnya. Karena kemarin aku sedang kalut, aku mendadak jadi berpikir kalau kau adalah anakku yang hilang itu. Makanya aku menolak saat penjaga ingin membawaku pulang ke rumah," jawab Jenny sambil berusaha menyembunyikan senyum kecutnya. Padahal anak yang hilang itu sedang berdiri di hadapannya, tapi dia tak bisa berkata jujur. Sungguh sedih rasanya.
__ADS_1
Anaknya hilang di culik? Kenapa aku jadi ingat tentang Lu ya? Sejak dia dibawa kembali ke rumahnya, Lu terus bertanya apakah aku pernah menjadi korban penculikan atau tidak. Hihihi, kalau saja aku adalah anaknya Nyonya Jenny, Lu pasti akan sangat senang sekali karena sedari dulu kami memang telah di takdirkan untuk bersama. Manisnya.
Jenny terpesona melihat Briana yang sedang tersenyum-senyum tanpa sebab. Sangat cantik, dan mata itu terlihat semakin bersinar.
"Nak, siapa namamu? Sejak tadi kita terus mengobrol, tapi lupa untuk saling menyebutkan nama," ucap Jenny menanyakan nama putrinya. Bisa sajakan semenjak hilang nama Briana di ganti oleh orang yang telah merawatnya?
"Namaku Briana, Nyonya. Dan sekarang aku berusia dua puluh lima tahun," jawab Briana dengan jujur.
"B-Briana?"
Briana mengangguk. Dia lalu mengernyitkan kening saat merasakan tubuh Nyonya Jenny menegang begitu dia menyebutkan nama. Khawatir wanita ini terkena penyakit ayan, cepat-cepat Briana mengambil sisir dari dalam tas kemudian meminta Nyonya Jenny untuk menggigitnya.
"Nyonya, gigit sisir ini sekuatmu. Oke?" ucap Briana khawatir. Untuk orang-orang penderita penyakit ini, biasanya mereka akan menggigit lidah sampai putus jika sedang kambuh. Jadi sebisa mungkin Briana berusaha mencegah agar hal buruk tersebut jangan sampai terjadi. Bisa gawat nanti.
"K-kenapa kau memintaku menggigit sisir, Briana? Aku tidak mengidap penyakit ayan kalau kau mau tahu," sahut Jenny terbata. Bukan takut, tapi lebih ke menahan tawa. Bisa-bisanya gadis ini mengira dia sakit ayan hanya karena tubuhnya menegang kaku. Lucu sekali. Padahal Jenny seperti itu adalah karena merasa tak percaya nama gadis ini tetap Briana, eh gadis ini malah salah paham padanya. Menggemaskan sekali.
"Namamu cantik, sama seperti orangnya," puji Jenny mengalihkan rasa malu yang Briana rasa. "Kalau boleh tahu siapa yang memberikan nama itu?"
"Kakekku," jawab Briana yang sudah kembali bersikap seperti biasa. Sama sekali tak terlihat ada gurat berdosa di wajahnya setelah menganggap Nyonya Jenny sebagai seorang penyakitan. "Saat masih kecil aku di temukan mengambang di sungai. Dan sebelum sakit parah aku selalu menggumamkan nama Briana. Kakekku bilang dulu namaku Sintia. Karena takut aku mati kemudian menjadi arwah penasaran, namaku di ganti jadi Briana. Begitu!"
"Me-mengambang di sungai?" Suara Jenny bergetar. Tapi dia terus berusaha agar tetap tenang. Jenny takut Briana akan curiga. "Separah apa kondisimu waktu itu?"
"Ummm, aku tidak terlalu ingat dengan jelas. Saat itu terjadi aku baru berusia lima tahun, jadi hanya ada ingatan samar-samar saja sekarang. Intinya aku di namai Briana karena kakekku takut aku jadi hantu penasaran. Titik!"
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu barulah Briana ingat kalau dia sudah terlalu lama berada di sana. Tak mau di sembur oleh Julia karena datang terlambat, dia segera berpamitan pada Nyonya Jenny.
"Nyonya, obrolan kita sampai di sini dulu ya. Aku harus segera pergi bekerja. Tidak apa-apa, kan?"
"Kau bekerja di mana?" tanya Jenny langsung panik ketika di pamiti oleh Briana. Dia tak rela berpisah.
"Di cafe milik sahabatku." Briana menjawab sambil menatap heran akan reaksi Nyonya Jenny yang terlihat panik seperti ketakutan.
Aneh. Akukan cuma pamit berangkat bekerja, kenapa Nyonya Jenny bereaksi seolah aku ingin menjualnya? Wanita ini sebenarnya kenapa sih.
"Apa aku boleh ikut bekerja di sana juga? Aku ... aku bisa mencuci piring. Atau, atau jika tidak aku juga tak masalah diminta untuk menjadi tukang bersih-bersih. Apa saja, asalkan bisa terus sama-sama denganmu!" paksa Jenny menghiba. Entahlah, akal sehatnya seperti tidak berfungsi dengan baik sekarang. Terlalu takut untuknya berjauhan dengan gadis ini.
"Nyonya, kau itu sebenarnya kenapa. Jangan bilang kau jatuh cinta padaku ya?"
"Iya benar,"
"APAAAAA???"
Jenny mengerjapkan mata, kaget mendengar suara teriakan Briana. Sadar sudah salah bicara, dia segera meralatnya.
"Maksudku bukan begitu, Briana. Aku bukan jatuh cinta padamu, tapi aku menyayangimu seperti anakku sendiri. Tidak apa-apakan kalau seperti ini?"
Begitu Jenny selesai bicara, dia di buat terkaget-kaget saat Briana melesat pergi seperti angin hingga lenyap dari pandangan. Mematung diam seperti orang bodoh, itu yang terjadi pada Jenny sekarang. Tak lama setelah kekagetannya hilang, Jenny tak kuasa menahan diri untuk tidak tertawa. Dia sampai tak peduli akan tatapan aneh orang-orang yang memperhatikannya. Jenny terlalu gembira, hingga masa bodo dengan pandangan orang lain.
__ADS_1
"Ya Tuhan, Briana. Kau kenapa bisa selucu ini sih. Ibu kan hanya bilang ingin menyayangimu seperti anak Ibu, kenapa kau malah lari ketakutan. Memangnya salah kalau seorang ibu menyayangi putrinya sendiri? Ada-ada saja kau. Hahahaha,"....
***