Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Mencuri Ciuman


__ADS_3

"Mau ikut pulang ke rumah atau langsung ke cafe?" tanya Gavriel sambil membelai rambut Briana yang tengah berada di pelukannya. Saat ini mereka sedang di dalam mobil.


"Ke cafe saja, Lu. Kasihan Julia jika di biarkan bekerja sendiri di sana," jawab Briana.


"Biar sajalah. Sekali-kali harus belajar mandiri tanpa harus selalu kau pantau. Julia itukan sudah dewasa, sayang. Dia bukan anak kecil yang tidak bisa membedakan mana api dan mana air. Iyakan?"


"Memang benar sih, tapi tetap saja aku tidak bisa tenang membiarkan Julia membuka cafe seorang diri. Dia itu sangat ceroboh, Lu. Takutnya nanti bukan kaki ayam yang dia rebus, melainkan kakinya sendiri!"


Gavriel tergelak mendengar penuturan Briana. Memang benar kalau selama ini cafe bisa berjalan dengan baik adalah karena kerja keras kekasihnya. Julia anggaplah hanya numpang status saja. Dan itupun masih berada di bawah intimidasi kekasihnya ini. Hmmm.


Benar-benar penerusnya Tuan Hendar. Mudah sekali mengintimidasi orang.


"Lu, menurutmu mungkin tidak kalau aku adalah anak kandung Tuan Hendar dan Nyonya Jenny?" tanya Briana meminta pendapat. Dia lalu mendongak, menatap seksama wajah kekasihnya yang sangat tampan. "Kalau benar aku adalah anak mereka, itu artinya kau akan menjalin hubungan dengan anak seorang mafia. Kira-kira kau takut tidak?"


"Untuk apa aku takut. Walaupun mafia, kaliankan tetap seorang manusia. Yang kita makan dan kita pakai sama, jadi apanya yang harus di takutkan?" jawab Gavriel penuh logika. "Dan mengenai kemungkinan kau adalah anaknya Tuan Hendar dan Nyonya Jenny, aku berani bertaruh kalau kau memanglah anak mereka. Sikapmu sangat mirip dengan Tuan Hendar, sedangkan matamu hampir sama persis dengan mata Nyonya Jenny. Kau pasti menyadari hal ini juga, kan?"


"Iya sih. Sedari awal aku bertemu Nyonya Jenny, aku sebenarnya sudah merasa ada yang tidak benar dengan kesamaan mata kami. Tapi karena aku meyakini kalau kedua orangtuaku sudah meninggal dunia, aku berusaha untuk menepis perasaan tersebut. Aku tidak mau kecewa, Lu!"


Setelah suasana di rumah Tuan Hendar sedikit mencair, Briana langsung mengajak Gavriel pergi dari sana. Alasannya klise, sebal melihat sikap Tuan Hendar yang selalu gugup dan takut. Briana kesal pada ayahnya sendiri. 😂


"Sayang, nanti setelah hasil tes DNA-nya keluar apa kita masih bisa bermesraan seperti sekarang? Secara, Tuan Hendar pasti akan sangat ketat dalam menjagamu. Aku takut hubungan kita tidak bisa sebebas dulu," ucap Gavriel agak sedih memikirkan batasan yang mungkin saja diterapkan oleh ayah kandung Briana.


"Memang dia siapa berani mengatur-ngatur hidupku. Baru menjadi ayahku saja sudah berani mencari masalah. Kalau dia sampai nekad melakukannya, akan kubuat matanya merasakan tinjuan mautku. Enak saja. Cihhh!"


Pengawal yang sedang menyertir mobil langsung terbatuk mendengar bosnya yang ingin di hajar oleh anak sendiri. Andai yang bicara adalah orang lain, pengawal tersebut pasti sudah menghajarnya sampai mati. Akan tetapi yang barusan bicara adalah anak bosnya yang baru saja di temukan, cari mati namanya kalau dia berani menyentuhnya. Astaga.


"Hei Paman, kenapa kau. Tidak suka ya aku mengancam akan menghajar Tuan Hendar? Iya?" tanya Briana sambil mencolek bahu pengawal yang sedang fokus menyetir. Dia kemudian berdecak saat Lu menariknya agar duduk dengan benar. "Ck, apa sih, Lu. Tidak lihat ya kalau aku sedang bicara serius dengan Paman pengawal ini?"


"Sayang, jangan menggertaknya. Kasihan!" sahut Gavriel tak tega.


"Menggertak apa sih. Akukan cuma bertanya, bukan ingin memotong lehernya. Aneh kau!"

__ADS_1


Gavriel menelan ludah. Sedang si pengawal, jakunnya tampak bergerak naik turun dengan cepat. Ucapan yang keluar dari mulut wanita ini serasa menjadi kenyataan. Padahal wanita ini tidak melakukan apa-apa.


"Paman, kau itukan anak buahnya bos mafia. Kira-kira Tuan Hendar pernah tidak membunuh orang dengan tangannya sendiri?" tanya Briana penasaran.


"Kalau masalah ini setahu saya Tuan Hendar tidak pernah melakukannya, Nona. Beliau suka bermain halus. Ada banyak kaki tangannya yang bisa melakukan. Begitu," jawab pengawal takut-takut. Dia ngeri salah bicara. Bisa berabe nanti.


"Tapi pernah, kan?"


"T-tidak, Nona. Walaupun berstatus sebagai mafia, tapi Tuan Hendar tidak pernah membunuh orang dengan tangannya sendiri. Di komunitas kami ada aturannya juga di mana kami hanya boleh saling membunuh sesama mafia saja. Jika yang menyinggung kami adalah orang luar, palingan kami hanya akan menghajarnya sampai babak belur!"


Briana berdecak. Dia merasa kurang puas dengan jawaban pengawal ini. Saat ingin kembali memaksanya agar buka mulut, Briana dibuat kaget saat tubuhnya tiba-tiba ditarik ke belakang. Dia hampir saja memekik kencang jika Lu tidak mengecup bibirnya sekilas.


"Diam ya?"


"A-apa yang baru saja kau lakukan padaku, Lu? Kau ... kau menciumku?"


Ya ampun, kenapa aku jadi malu begini sih. Harusnya kan aku memukul Lu karena sudah mencuri ciuman dariku. Tapi ... ah, manis sekali. Aku suka.


"Kenapa minta maaf. Bukan baru kali ini juga kita berciuman. Aneh sekali," sahut Briana sambil menyentuh bibir yang baru saja mendapat serangan di siang bolong.


"Jadi kau suka kalau aku mencuri ciuman seperti tadi?" goda Gavriel sambil menaik-turunkan kedua alisnya.


"Suka, tapi tidak setiap hari juga. Sesekali bolehlah." Kepala Briana tertunduk. Agak malu-malu dia.


"Baiklah kalau begitu. Kau sendiri ya yang sudah memberikan izin. Awas kalau marah."


"Terserah akulah mau marah atau tidak. Mulut-mulutku, kenapa kau repot!"


Tepat ketika Briana selesai bicara, Gavriel langsung menggelitik pinggangnya. Sontak saja hal itu membuat Briana berteriak kegelian. Pengawal yang mengawasi lewat kaca spion tampak tersenyum melihat kelakuan dua sejoli di kursi belakang. Dia seakan terbawa oleh suasana gembira yang di buat oleh keduanya.


"Sudah Lu, sudah. Perutku sudah kaku!" teriak Briana dengan nafas terengah-engah.

__ADS_1


"Jadi hanya seperti ini kemampuanmu, hem? Lemah!" ejek Gavriel sembari menyeka keringat yang membanjir di kening Briana. Dia kemudian tertawa saat wanita ini mencubit perutnya.


"Berani sekali kau menyebutku lemah. Lupa ya kalau semalam akulah yang menjadi pemenang saat perang bantal. Hem?"


"Itu karena aku saja yang mengalah. Aku tidak benar-benar memakai tenagaku untuk mengerjaimu!"


"Halah, kalau kalah ya tetap saja kalah. Jangan mengelak."


"Apanya yang mengelak. Itu memang faktanya, sayang. Bagaimana sih."


Pertengkaran yang awalnya biasa-biasa saja, tiba-tiba beralih ke percakapan yang sarat akan kemesuman. Gavriel dan Briana seolah lupa kalau di dalam mobil ada orang lain yang juga ikut mendengarkan percakapan mesum mereka.


"Ekhmmm Tuan Gavriel, Nona Briana. Sepertinya pembicaraan kalian sudah mulai kelewat jalur. Tuan Hendar sudah berpesan kepada saya agar mengingatkan kalian untuk saling menjaga diri. Tolong kondisikan percakapan kalian!"


Sriinggggg


Mungkin seharusnya pengawal itu tahu kalau Briana adalah tipe manusia yang tidak suka urusan pribadinya di campuri. Terlebih lagi itu di sebabkan atas perintah seseorang. Segera tangan Briana melingkar di leher pengawal yang baru saja menegurnya. Dia ingin memberinya peringatan.


"Kau bilang apa barusan? Tuan Hendar memintamu untuk mengawasiku dan juga kekasihku?" tanya Briana sambil menyeringai lebar. "Dengar baik-baik ya. Selama ini tidak ada satupun orang yang berani menegur kami seperti yang kau lakukan barusan. Jadi aku sarankan lebih baik kau diam dan berpura-pura buta saja jika masih ingin hidup. Mengerti?"


"Me-mengerti, Nona. Saya mengerti!" jawab si pengawal ketakutan. Bayangkan saja. Dia di ancam oleh anak bosnya yang kebetulan sama-sama mempunyai sikap mengerikan. Siapalah yang tidak akan takut dan gemetar karenanya.


"Bagus. Sekarang cepat antarkan aku ke cafe. Melihatmu membuat emosiku jadi melonjak naik. Cepat!"


"B-baik, Nona. Saya akan segera mengantarkan Anda ke sana."


Briana mengangguk. Dia kembali duduk kemudian masuk ke pelukan Lu.


Awas saja kau, Tuan Hendar. Saat kita bertemu nanti aku pasti akan memintamu untuk menjelaskan masalah ini. Seenaknya saja meminta orang untuk mengawasi kebersamaanku dengan Lu. Walaupun kau adalah orangtuaku, aku tidak akan tinggal diam. Ini hidupku, dan Lu adalah kebahagiaanku. Siapapun tidak akan kubiarkan mengusik hubungan kami. Huh.


***

__ADS_1


__ADS_2