Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Hasil Tes


__ADS_3

Hendar menatap bergantian pada tiga orang yang sedang duduk di hadapannya. Sedangkan Jenny, wanita itu tak henti menghela nafas panjang. Mungkin terkena gejala asma setelah menyaksikan kebrutalan putrinya.


"Siapa yang akan bicara lebih dulu?" tanya Hendar penuh nada intimidasi.


"Briana, Paman," sahut Julia. "Dia yang menjadi tukang bully di sini. Iya, kan?"


"Benar. Nona ini yang ingin menebas kepalaku tadi," imbuh pria yang hampir meregang nyawa gara-gara memaksa ingin makan di cafe ini.


Di pojokkan oleh kedua orang ini membuat Briana merasa kesal. Akan tetapi dia tak mempunyai niat untuk membela diri. Dia sedikit segan akan rasa intimidasi yang menguar di diri Tuan Hendar. Bukan takut ya, bukan. Awas saja kalau kalian sampai salah mengartikan.


"Jadi Briana, apa alasanmu membuat gaduh di cafe ini?" tanya Hendar mulai mencecar putrinya.


"Ingin saja."


"Hanya ingin?"


"Julia yang memulai," sahut Briana. Dia kemudian menoleh, menatap datar pada sahabatnya yang berpura-pura memasang wajah tertindas. "Sebagai pemilik cafe dia telah bertindak semena-mena pada karyawannya. Sudah tahu cafe sedang ramai pelanggan, Julia malah asik berleha memikirkan hal-hal mesum. Wajar aku marah dan ingin mencincangnya. Lalu untuk laki-laki ini ... dia juga sama bersalahnya seperti Julia. Sudah tahu kami sedang adu urat, tapi dengan songongnya dia muncul dan merecoki pertengkaran kami. Jadi aku menakut-nakuti akan menggorok lehernya supaya dia pergi mencari cafe lain. Begitu!"


"Aku hanya kelaparan, Tuan. Makanya asal masuk ke cafe ini tanpa mencari tahu dulu kalau pemilik dan pegawai cafe ini suka sekali bertengkar. Aku bukan orang sini, jadi aku tidak tahu kebiasaan mereka."


"Dan akupun punya alasan sendiri mengapa membiarkan Briana bekerja sendirian. Siapa suruh mencuri hak milikku. Merajuklah aku jadinya," ucap Julia ikut membela diri.


"Mencuri hak milikmu? Maksudnya bagaimana?" tanya Jenny penasaran.


Julia menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Nyonya Jenny.


"Begini, Nyonya. Tadikan ada pengawal yang datang mengantarkan hadiah untukku. Nah, dengan senang hati aku menerimanya. Akan tetapi Briana tiba-tiba mengklaim kalau sebagian dari hadiah itu adalah miliknya. Aku kesal, makanya kubiarkan dia kerja sendirian. Begitu ceritanya, Nyonya."


Pandangan Jenny dan Hendar langsung tertuju pada putri mereka. Bukan marah, tapi sedih. Semiskin itukah putri mereka sampai-sampai merampas uang yang mereka hadiahkan untuk Julia?


"Kalian jangan berpikiran yang macam-macam. Alasan kenapa aku menyita sebagian uang pemberian kalian adalah karena itu bukan haknya Julia. Sejak kecil aku dirawat oleh Kakekku, dan kami baru bertemu setelah aku masuk perguruan tinggi. Jadi Julia sama sekali tidak ada andil apa-apa dalam masa kecilku. Itulah sebabnya aku meminta sebagian uang itu untuk membalas jasa Kakekku. Tidak salah, kan?" ucap Briana dengan gamblang menjelaskan. Dia tak mau di cap sebagai perempuan yang gila uang. Tidak mau.


"Ambillah kalau begitu," ucap Hendar menahan rasa perih di hati.


Wajah Julia langsung memelas. Sedangkan Briana, senyum manis langsung terbit di bibirnya.

__ADS_1


"Tuan Hendar, aku bagaimana?"


"Nanti kukirim lagi."


Kali ini giliran wajah Briana yang terlihat memelas. Sedangkan Julia, wajahnya tampak bersinar terang mengalahkan terangnya sinar matahari.


"Briana?"


Hendar memanggil putrinya dengan nada yang sangat amat lembut. Setelah memberi sedikit ancaman, Hendar akhirnya bisa mendapatkan hasil tes lebih cepat dari waktu yang di perkirakan. Dan tujuannya datang ke cafe ini adalah ingin membuka hasil tes tersebut bersama-sama dengan putrinya.


"Kalau bicara itu jangan sepotong-sepotong, Tuan Hendar. Lanjutkan!" tegur Briana yang tiba-tiba merasa gelisah. Dia bisa menyadari dengan jelas kalau kedatangan Nyonya Jenny dan Tuan Hendar adalah karena sesuatu hal.


"Aku sudah mendapatkan hasil tes DNA kita berdua. Dan ini, silahkan kau yang membukanya lebih dulu," ucap Hendar sembari meletakkan kertas di atas meja.


"Kenapa aku?"


"Karena kau anak."


"Bukankah seharusnya yang lebih tua yang di dulukan?" tanya Briana sambil menelan ludah. Tanpa sadar dia menggenggam tangan Julia erat sekali. Gugup begitu tahu kalau hasil tes DNA itu sudah keluar.


"Kau saja, Tuan Hendar," ucap Briana sembari menggeser kertas ke hadapan Tuan Hendar.


"Kau sajalah," tukas Hendar kembali mendorong kertas ke depan Briana. Dia gugup setengah mati sekarang. Sungguh.


"Kau!"


"Kau!"


"Arggghhhh, apa-apaan kalian ini. Hanya membuka kertas saja takutnya seperti sedang mengundi siapa yang akan dicambuk oleh malaikat maut dulu. Heran!" omel Julia jengkel sendiri melihat drama menyebalkan yang sedang tayang di hadapannya. Dia lalu menatap bergantian pada dua orang yang kini diam pura-pura tak tahu. "Biar aku saja yang membukanya. Menunggu kalian yang membuka bisa sampai kiamat dunia ini."


Segera Julia mengambil kertas tersebut kemudian membukanya. Jika tadi dia berlagak sok berani, mendadak sekarang jantung Julia seperti mau copot saat kertas itu berada di tangannya. Dia lalu berniat memberikannya pada Briana, tapi wanita ini malah langsung melengos dan pura-pura menjadi patung. Beralih pada Tuan Hendar, mafia itu malah berpura-pura sudah mati. Kaku, tegang, dan tidak berkedip. Benar-benar menjengkelkan.


"Oho, aku tidak mau!" ucap Jenny buru-buru menolak saat Julia menatapnya.


"Haihh, kenapa sih dengan kalian. Giliran susahnya saja selalu aku yang di tumbalkan. Pokoknya aku baru mau membaca kertas ini kalau ada hadiahnya," protes Julia kesal dan juga gugup. Keningnya sampai mengeluarkan keringat dingin saking dia stres membayangkan hasil dari tes DNA tersebut.

__ADS_1


"Uangmu aku kembalikan semua. Sungguh!" seru Briana.


"Aku akan menambahkan lagi untukmu!" imbuh Hendar ikut berpartisipasi memberikan hadiah.


"Aku akan mengajakmu pergi berbelanja sampai puas!" Jenny ikut juga.


Briana, Hendar dan juga Jenny sama-sama menganggukkan kepala mereka untuk meyakinkan Julia supaya mau membaca hasil tes tersebut. Para tamu yang kebetulan masih ada di sana juga ikut merasa tegang menunggu detik-detik Julia membacakan isi dari kertas yang di takuti oleh ketiga orang itu.


Whaaatttt??? Omegat, jadi Briana benar adalah anak mafia? Luar biasa. Kekayaannya mendarah daging sampai ke tulang belulangnya. Hahah, aku kaya.


Sebelah alis Briana terangkat ke atas melihat Julia yang malah tersenyum seperti orang gila alih-alih membacakan hasil dari tes tersebut. Paham ada yang tidak beres, Briana kembali mengacungkan pisau yang masih berada di tangannya. Tapi dia dibuat terkejut saat tamu yang tadi hampir dia tebas tiba-tiba meloncat dan berlari keluar dari cafe. Sangat aneh.


"Kenapa dia yang lari?" tanya Jenny agak bleng.


"Dia takut Briana akan kembali menyasar padanya mungkin," sahut Hendar yang sama kagetnya melihat tindakan tamu itu.


"Ya sudahlah biarkan saja."


Tahu kalau pisau itu sudah terpampang di depan mata, segera Julia membacakan hasil tesnya.


"Ekhmm-ekhmmm, baiklah semua. Mohon bersiap karena aku akan segera membacakan hasilnya!"


"Ck, tidak usah banyak drama. Perutku mulas mendengar suaramu!" ejek Briana. Padahal sendirinya mulas karena terlalu gugup.


"Baiklah." Julia tersenyum lebar. "Selamat sahabatku. Hasil tes ini membuktikan kalau kau adalah putri kandung Tuan Hendar dan Nyonya Jenny. Yeyyyy!"


Hening. Tidak ada yang bertepuk tangan begitu Julia selesai membacakan isinya.


"Eh, kenapa kalian diam saja? Kaget atau bagaimana?"


Bukannya menjawab, Briana malah beranjak menuju dapur. Sedangkan Hendar dan Jenny, mereka hanya diam tak tahu harus bagaimana.


Jadi benar aku adalah anak mereka? Lalu orangtua yang Kakek sebutkan ini orangtuanya siapa? Tidak mungkin mereka adalah sepasang binatang, kan?


***

__ADS_1


__ADS_2