
Setelah sampai di café, Gavriel memutuskan untuk singgah terlebih dahulu. Dia membiarkan Wildan menyusul Erzan ke perusahaan, sekaligus menghindari bentrokan parah antara Briana dan Julia. Ya, setelah insiden yang terjadi di mobil tadi, kedua wanita ini tak mau bicara. Keduanya saling diam, juga berusaha menghindar saat tak sengaja berpapasan. Melihat hal itupun Gavriel merasa cemas. Jadi dia memutuskan untuk mengawasi mereka berdua karena khawatir terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.
Dari kejauhan, sebuah mobil mewah tampak bergerak mendekat menuju café. Gavriel yang meras atak asing dengan mobil tersbeutpun tampak menyipitkan mata. Dia lalu terpaku diam begitu mengetahui siapa pemilik mobil tersebut. Tuan Hendar. Si mafia itu kini tengah membukakan pintu mobil untuk istrinya, Nyonya Jenny. Raut wajah keduanya terlihat berseri-seri, mirip pasangan yang baru saja menikah.
“Sayang, lihatlah siapa yang datang,” ucap Gavriel saat Briana lewat di depannya.
“Siapa?”
Briana menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Gavriel. Sebelah alisnya terangkat ke atas, merasa heran melihat cara berjalan Nyonya Jenny yang seperti kodok.
Apa sebegitu parahnya perkelahian antara Nyonya Jenny dengan wanita berdada mercon itu ya? Mungkinkah tulang kakinya ada yang geser?
Sementara itu di luar café, Jenny hanya tersenyum saja saat Hendar menggandeng tangannya. Semalam begitu mereka sampai di hotel, suaminya ini langsung menagih janji. Dan tentu saja Jenny memenuhi janjinya dengan sepenuh hati. Tidak di sangka. Meski sudah libur panjang selama dua puluh tahun, stamina suaminya ini sama sekali tak berkurang. Jika saja semalam Jenny tak merengek kelelahan, Jenny berani jamin kalau Hendar pasti akan menyiksanya sampai pagi. Tapi untunglah suaminya itu mau mendengarkan dan mengizinkannya untuk istirahat.
“Hari ini kedai tidak usah buka. Kau kelelahan, jadi istirahat saja di café. Oke?” ucap Hendar dengan penuh perhatian. Dia lalu mencium kening Jenny penuh sayang. “Maaf aku tidak bisa menemanimu. Sekarang aku harus segera berangkat ke perusahaan. Kau tidak marah, kan?”
“Tidak, pergilah. Dan kalau kau tidak sempat menjemputku, perintahkan saja satu pengawal untuk datang kemari. Atau jika tidak aku bisa meminta Julia dan Briana untuk mengantarku pulang,” jawab Jenny.
“Mana boleh seperti itu, sayang. Sesibuk apapun nanti, aku akan tetap datang untuk menjempumu. Aku tidak mau melakukan kebodohan yang sama lagi seperti dulu. Cukup sekali saja, tidak dengan kedua atau ketiga kali!”
“Ya sudah terserah kau saja ingin bagaimana.” Jenny tersenyum. “Kalau begitu aku masuk ke dalam dulu ya. Aku harus segera membantu mereka bersiap di café. Kau berhati-hatilah di jalan."
__ADS_1
Hendar mengangguk. Sebelum pergi, sekali lagi dia mencium kening Jenny. Pagi ini benar-benar menjadi pagi yang paling indah di hidup Hendar setelah dua puluh tahun yang begitu menyiksa jiwa dan raga. Rasanya dia seperti terlahir kembali setelah semalam dia dan Jenny berbuka puasa. Hahaa.
Melihat Nyonya Jenny yang baru saja bermesraan dengan suaminya membuat dugaan Briana jadi berubah. Dia pikir penyebab keanehan yang dilihatnya adalah akibat perkelahian antara Nyonya Jenny dengan wanita yang menggoda Lu. Tapi yang terjadi barusan membuat Briana yakin kalau Nyonya Jenny bukan berkelahi dengan wanita itu, melainkan dengan suaminya sendiri. Biasalah, belah duren.
“Oh, Briana. Selamat pagi,” sapa Jenny agak kaget melihat keberadaan Briana. Dia lalu menatap seksama ke arah pria yang berdiri di samping putrinya. “Apa kau kekasihnya Briana? Gavriel?”
“Benar, Nyonya. Tapi namaku bukan Gavriel, Lu,” jawab Gavriel masih memainkan kepura-puraannya. Belum waktunya Briana tahu kalau dia sebenarnya sudah sembuh.
“Oh benar, namamu Lu,” sahut Jenny.
“Nyonya Jenny, ada apa dengan cara berjalanmu? Apa semalam ada rudal yang memaksa masuk ke tempat persembunyian di area terlarang?”
Jenny, Briana dan juga Gavriel langsung membelalakkan mata mendengar pertanyaan Julia. Segera mereka bertiga menoleh ke arahnya. Tak habis pikir mengapa lidah wanita satu ini selalu saja menemukan kosakata aneh yang berbau 21++.
“Pertanyaanmu tidak salah, Julia. Hanya penempatan kosakatanya saja yang sedikit kurang pas,” sahut Gavriel. Dia tahu Briana sedang tidak mau bicara dengan wanita mesum itu, jadi Gavriel putuskan dia saja yang menjawab pertanyaan Julia.
“Tidak jelas bagaimana. Bukankah kau juga melihat sendiri ya kalau cara berjalannya Nyonya Jenny itu sangat aneh? Heran,”
Jenny terlihat kikuk mendengar perkataan frontal Julia. Wajarlah. Setelah dua puluh tahun tak pernah berhubungan badan dengan Hendar, sekalinya berhubungan rasa sakitnya hampir sama seperti ketika dia masih perawan. Dan penyebab mengapa langkah Jenny terlihat aneh adalah karena dia yang merasa pegal dan juga perih di antara dua kaki. Kalian pasti bisalah ya membayangkan seperti apa rasa perih dan pegal itu. Hmmmm.
“Nyonya Jenny, abaikan pertanyaan dari orang tak penting itu. Sekarang lebih baik kau beritahu aku saja apakah semalam kau berhasil menemukan keberadaan wanita itu atau tidak. Aku penasaran sekali. Sungguh!” ucap Briana mengakhiri suasana canggung yang terjadi gara-gara mulut Julia. Beruntung karena sekarang mereka sedang tidak saling bicara. Kalau tidak, Briana pasti sudah menjejalkan sepatu ke dalam mulutnya yang jorok itu.
__ADS_1
“Semalam aku dan suamiku berhasil menemukan keberadaan wanita itu, Briana. Awalnya sih dia menolak untuk buka mulut dan kekeh mengakui kalau dia dalah kekasihnya Gavriel. Akan tetapi setelah di ancam oleh Hendar, wanita itu akhirnya bersedia membuka mulut dan menyebut kalau dia diminta oleh seseorang yang bekerja di Under Group. Orang ini ingin memastikan apakah benar Gavriel sedang sakit keras atau tidak. Wanita itu juga mengaku kalau orang yang mempekerjakannya berjanji akan menikahinya begitu rencana mereka berjalan lancar. Begitu!” sahut Jenny menceritakan dengan sangat detail tentang kejadian semalam.
“Apa kau merekam detik-detik pengakuan wanita itu?”
“Ya, aku merekamnya. Tunggu sebentar,”
Melihat Nyonya Jenny yang ingin mengambil ponsel dari dalam tas, Julia buru-buru mendekat di sebelah Briana. Dia lupa kalau mereka sedang tidak akur saking penasarannya Julia dengan kelanjutan cerita Nyonya Jenny. Sedangkan Gavriel, dia hanya diam saja sambil sesekali menelan ludah. Tak bisa Gavriel bayangkan setakut apa wanita itu saat di ancam oleh Tuan Hendar. Pasti seluruh tubuhnya gemetar hebat.
Aku harap wanita itu adalah satu-satunya orang yang berani mencari masalah dengan salah satu dari ketiga wanita mengerikan ini. Sungguh, adalah kesialan bagi siapa saja yang berani mengusik salah satunya. Hanya dengan menyenggol Briana dan Julia saja sudah pasti mereka tidak akan bisa tenang. Apalagi sekarang ada Nyonya Jenny dan Tuan Hendar. Hmmm, aku tidak menyangka kalau kekasihku adalah anak mafia. Ya ampun.
“Waahhh, suamimu keren sekali, Nyonya Jenny. Kalau aku jadi dirimu, aku pasti sudah memintanya agar mencekik leher si dada mercon sampai lidahnya terjulur keluar. Rasakan itu. Hahahaa!” ucap Julia heboh sendiri saat melihat rekaman di ponsel Nyonya Jenny. Dia tidak sadar kalau tangannya sudah berada di bahu Briana.
“Singkirkan tanganmu sebelum aku mematahkannya!” kesal Briana tak mau bahunya di sentuh oleh sahabatnya yang bermuka tembok ini. Dia masih jengkel.
“Ck, galak sekali sih. Sudahlah, Bri. Untuk apa kita bermusuhan hanya karena hal sepele. Lagipula akukan baru berencana, belum tentu terkabul juga. Jangan berlebihanlah!”
“Berlebihan kepalamu. Yakk Julia, dengar kata-kataku dengan baik ya. Kalau kau hanya menggatal biasa, aku mungkin masih bisa meaafkan. Tapi tadi, kau dengan gamblangnya berkata di depan Wildan ingin menjadi orang ketiga. Sebagai sahabat, aku benar-benar merasa sangat malu, Julia. Malu. Tahu kau!”
Mulut Jenny ternganga lebar begitu mendengar perkataan Briana yang menyebut kalau Julia ingin menjadi orang ketiga di dalam hubungannya Wildan. Woaaaahhh, sungguh. Baru sekali ini Jenny mendengar ada wanita cantik yang dengan sukarela menyerahkan diri untuk menjadi seorang pelakor. Luar biasa. Luaarrr biasaaa.
Tak mempedulikan kemarahan Briana, Julia malah asik sendiri menonton video yang masih berjalan. Masa bodo. Selamanya Julia akan tetep mengejar Wildan sampai merasa bosan sendiri. Haha.
__ADS_1
***