
"Makanan datang!" ucap Julia sambil tersenyum lebar pada sepasang pelanggan yang sedang sibuk pacaran. Sengaja dia melakukan hal ini untuk mengganggu keduanya.
"Nona Julia, tidak bisakah kau sedikit memelankan suaramu? Kalau tadi aku sampai salah membelai bagian tubuh kekasihku bagaimana?" protes si pelanggan. Dia lalu membantu meniup mata pasangannya yang tak sengaja kena colok akibat ulah iseng si pemilik cafe.
"Wahai Tuan, ketahuilah. Ini cafe, bukan hotel yang bisa kau dan kekasihmu gunakan untuk saling membelai. Jadi maaf-maaf saja kalau aku mengacaukan kencan kalian. Siapa suruh bermesraan di atas penderitaanku yang belum memiliki pasangan. Jadi ya sudah, terima saja apa yang terjadi barusan. Oke?" sahut Julia dengan santainya.
"Haihhh, untung saja makanan yang di jual cafe ini enak. Kalau tidak, aku pasti tidak akan kembali lagi ke kemari. Kau sangat usil. Tahu?"
"Oh, begitu ya?"
Mata Julia menyipit dan bibirnya menampilkan smirk tipis yang sangat mengerikan. "Kau kembali ke cafe ini karena makanannya yang enak atau karena terpesona pada kecantikanku dan Briana, hem? Jujur saja, aku tidak marah kok."
Dan benar saja. Kejahilan Julia mengakibatkan pasangan kekasih itu bertengkar hebat. Si wanita merasa cemburu karena mendengar perkataannya. Alih-alih merasa bersalah, Julia malah melenggang setelah memantik keributan. Dia suka sekali. Heheh.
Di dapur, Briana yang mendengar suara gaduh di depan segera mengintip dari lubang dinding. Begitu melihat apa yang terjadi, dia langsung menghela nafas panjang. Pasti Julia penyebabnya.
"Aku sungguh heran dengan wanita satu itu. Bisa-bisanya dia mengadu domba pelanggannya sendiri. Apa dia tidak takut nama cafe ini akan menjadi jelek jika pasangan itu sampai menyebarkan hal tidak baik di luaran sana. Heran!" gumam Briana seraya berdecak pelan. Dia kemudian menoleh, menatap datar pada wanita yang dengan riangnya bersenandung tanpa merasa berdosa sama sekali. "Ekhmm-ekhmmm. Sudah puas bermainnya?"
Langkah Julia langsung terhenti. Dia kemudian menoleh ke samping.
"Oh, kau ternyata. Aku pikir siapa yang bicara," ucap Julia. Dia lalu mengibaskan rambut. "Aku tahu kau ingin memarahiku. Iya, kan?"
"Aku bukan ingin memarahimu, tapi aku sangat ingin merontokkan gigimu," sahut Briana. "Sudah tahu pria itu adalah pelanggan tetap di sini. Kenapa kau malah mengganggunya? Kalau dia sampai marah lalu menyebarkan gosip yang tidak jelas tentang cafe ini bagaimana? Mau kau jatuh bangkrut?"
__ADS_1
"Itu tidak akan mungkin terjadi, sayangku!"
"Yakin?"
"Tentu saja. Kan aku punya kau yang siap bertempur kapan saja!" jawab Julia dengan begitu percaya diri. Dia meletakkan nampan di atas meja kemudian menghampiri Briana yang tengah berdiri di samping lubang rahasia mereka. Sambil merangkul bahunya, Julia meyakinkan Briana kalau pelanggan yang tadi dia ganggu tidak akan mungkin berani membuat masalah. "Lagipula ya, Briana. Selama ini memangnya pernah ada pelanggan yang berani berkoar-koar hal buruk tentang cafe ini. Tidak, kan? Dan jikapun hal tersebut sampai terjadi, aku tidak perlu mempermasalahkannya. Karena apa? Karena kau pasti akan langsung mengejar orang itu menggunakan pisau pemotong daging. Asal tahu saja ya. Orang-orang sudah banyak yang mempertanyakan siapa sebenarnya pemilik cafe ini. Kau tidak mungkin lupa kan sering menjadikan aku sebagai pelayan dan kau bersikap seperti pemilik?"
Briana diam memikirkan ucapan Julia. Benar juga. Selama ini dialah yang mati-matian menjaga cafe ini. Briana bahkan tak ragu berurusan dengan pihak kepolisian gara-gara pernah hampir menebas kepala orang yang menyebar gosip buruk kalau sop daging yang di jual di cafe ini berasal dari daging manusia. Gila saja. Sekejam-kejamnya Briana, tak pernah terbersit niat untuk berjualan dengan cara yang begitu menjijikkan. Wajarlah jika dia mengamuk kemudian mencari keberadaan di penyebar gosip sambil membawa pisau daging yang sudah dia asah setajam mungkin. Dan sejak hari itu, sudah tidak ada satupun orang yang berani macam-macam dengan cafe ini lagi. Bahkan setelah keadaan cafe yang semakin bertambah ramai setelah Lu mempromosikannya dengan cara yang begitu keren, tidak ada yang berani bersuara. Semuanya diam, hanya berani berbisik-bisik di belakang.
"Tapi tenang saja, Briana. Nanti setelah kau dan Lu menikah, kau pasti akan menjadi bos yang jauh lebih kaya dariku. Percayalah!"
"Bilang saja kau ingin meminta suntikan dana. Iya, kan?" sahut Briana langsung paham apa yang di inginkan oleh sahabatnya.
"Hehehe, tahu saja kau,"
"Aku tidak buta. Juga karena aku sudah sangat hafal dengan kelicikanmu."
Kriikk kriikk krikk
Matilah. Bagaimana ini? Kenapa aku malah kelepasan bicara tentang uang pemberian Lu? Haduhhhh, apa yang harus aku lakukan sekarang? Briana pasti akan membunuhku. Tidak-tidak, aku tidak boleh mati konyol di tangannya. Wildan bisa jadi perjaka tua kalau aku sampai menjadi almarhum. Run Julia, Run. Dalam hitungan ketiga larilah sejauh yang kau mampu. Satu, dua tiga ....
"Mau lari kemana kau, hah?" tanya Briana dingin sambil menarik rambut panjang Julia. Dia sudah kelewat hafal dengan kelakuan wanita satu ini. Jadi begitu mendengar ada omongan yang mengganjal, dia langsung membuat langkah cepat untuk mencegah agar wanita ini tidak bisa pergi melarikan diri sebelum melakukan penjelasan.
"Hehehe, itu. Di luar ada pelanggan baru, aku mau melayani mereka dulu. Tidak apa-apa, kan?" jawab Julia sambil menelan ludah.
__ADS_1
"Tentu saja tidak apa-apa. Tapi setelah kau menjelaskan padaku tentang uang tiga dijit itu. Jika tidak, jangan harap kau bisa lepas dari cengkeraman tanganku. Mengerti?"
Julia terus menelan ludah. Susah-susah dia membuat perjanjian dengan Lu, sekarang malah dia sendiri yang membuka mulut. Mau tak mau Julia harus memberi penjelasan pada wanita brutal ini jika ingin lepas dari cengkeramannya. Jika tidak, sampai lebaran monyet sekalipun Briana pasti tidak akan mau melepaskannya.
"Kalau tidak salah tadi masih ada sisa bara bekas aku membakar ikan. Apa perlu aku membakar kakimu sekalian supaya bara itu tidak mubadzir?" Briana mulai mengancam. Tubuhnya seperti terbakar api neraka saking dia kesal melihat wanita ini tak kunjung bicara.
"Ck!"
Merasa terdesak, Julia dengan sangat terpaksa akhirnya memberitahukan tentang konspirasi gelap yang dia lakukan bersama Lu. Sambil terus meramalkan doa keselamatan dalam hati, Julia mulai bicara.
"Aku melakukan transaksi dengan menjual video aibmu kepada Lu. Tadinya aku hanya meminta sedikit bayaran, tapi siapa sangka Lu malah mentransfer uang sebanyak tiga dijit ke rekeningku. Karena takut ketahuan akhirnya aku membuat perjanjian dengan kekasihmu itu. Aku bersedia memberitahu Lu tentang semua hal yang kau lakukan dengan syarat dia tidak boleh memberitahukan masalah ini kepadamu. Begitu!"
Hening. Briana diam. Nyawanya serasa berpindah alam begitu mendengar penuturan Julia. Bolehkah dia menghabisi sahabat yang tega menjual videonya demi mendapatkan keuntungan pribadi?
"Briana, jangan marahlah. Lagipula yang aku kirimkan pada Lu bukan aibmu. Semua foto dan video yang aku kirim berisi sisi manis dan juga menggemaskan yang bisa membuat hubungan kalian bertambah semakin hangat. Aku tidak bohong. Sungguh!" ucap Julia ketar ketir sendiri melihat kebungkaman Briana. Dia takut wanita ini akan berubah menjadi manusia kanibal kemudian menyantapnya hidup-hidup.
"Lari dan bersembunyilah sejauh yang kau bisa, Julia. Kalau aku sampai mendapatkanmu, yang sedang kau pikirkan sekarang akan benar-benar menjadi kenyataan. Pergilah. Pergi sebelum aku berubah pikiran. Sekarang!" usir Briana sambil mendengus kasar menahan emosi.
"Lalu cafe ini bagaimana?" panik Julia.
"Aku bilang pergi, Julia. Satu!"
Wiiiinngggg
__ADS_1
Tanpa mempedulikan pelanggan yang sedang ramai berdatangan ke cafe, Julia melesat seperti angin begitu Briana mulai berhitung. Dia berlari tanpa berani menoleh ke belakang, takut kalau-kalau ada pisau daging yang terbang mengejarnya. 😁😁😁
***