Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Daun Muda


__ADS_3

"Lu, kau pergi kemana semalam. Kenapa tidak pulang?" cecar Helena sambil berjalan cepat menghampiri putranya yang baru pulang ke rumah. Dia lalu mengerutkan kening melihat seorang penjaga yang tengah membungkuk ke arahnya. "Siapa dia?"


"Penjaga ini adalah anak buahnya Tuan Hendar, Bu," jawab Gavriel.


"Hendar?"


"Jangan salah paham dulu. Tadi aku mengantarkan Briana ke sana. Karena aku tidak ingat jalan pulang, jadi penjaga ini diminta untuk mengantarkan aku setelah mengantar Briana ke cafe. Begitu."


Tiba-tiba seringai muncul di bibir Helena saat putranya mengaku lupa jalan pulang. Hohoho, sepertinya Gavriel belum tahu kalau dia dan suaminya telah mengetahui rahasia yang di sembunyikan olehnya.


Apa aku balik mengerjai Gavriel saja ya? Kan lumayan untuk mencicil balas dendam.


"Tuan Gavriel, Nyonya. Karena tugas saya sudah selesai, saya mohon pamit," ucap penjaga ingin segera pergi. Hatinya terus gelisah memikirkan kemungkinan bosnya diserang oleh Nona Briana. Dia resah.


"Oh, baiklah. Terima kasih banyak ya karena sudah mengantarkan anakku yang lupa jalan pulang," sahut Helena sengaja menekan kata lupa jalan pulang untuk menyindir Gavriel.


"Sama-sama, Nyonya. Kalau begitu saya permisi."


"Silahkan."


Sepeninggal si penjaga, Helena terus menatap lekat ke arah Gavriel. Dia tengah menimang apakah harus balas mengerjai anak kurang ajar ini atau malah memaksanya untuk menjelaskan. Helena bingung memilih keputusan mana yang lebih asik.


"Hmmm, tidak kusangka Erzan mempunyai mulut yang besar juga. Dia pasti sudah memberitahu Ayah dan Ibu kalau aku sebenarnya sudah sembuh. Iya, kan?" ucap Gavriel langsung sadar ada yang tidak beres dengan sikap sang ibu. Dan dia yakin betul kalau penyebabnya adalah mulut bocor sang adik. Pasti tebakannya tidak meleset. Tunggu saja.


"Adikmu sudah melakukan hal yang sangat benar, Gav. Jadi jangan menyalahkannya. Tahu!" omel Helena tak terima putra bungsunya dipersalahkan.


Nah, benarkan? Memang ya anak satu itu. Padahal rencananya Gavriel ingin memberitahu nanti saat semua orang sedang makan malam bersama. Tapi apa daya. Sepertinya alasan ini sengaja digunakan Erzan agar bisa segera terlepas dari beban tanggung jawab dalam mengurus perusahaan. Hmmm.

__ADS_1


"Gav, Ibu jadi penasaran kenapa saat sembuh kemarin kau tidak langsung memberitahu kami semua. Malah sibuk berpura-pura sampai Ibu harus rela patah tulang demi membongkar rahasiamu. Cepat jelaskan pada Ibu sekarang juga!" ucap Helena mendesak putranya untuk memberi penjelasan.


"Sebenarnya tidak ada alasan yang penting juga, Bu. Aku hanya ingin menyelesaikan teka-teki tentang siapa Briana. Dan rencananya aku baru akan memberitahu kalian semua setelah semua masalah ini selesai. Tapi apa mau di kata. Erzan sangat kejam. Dia tidak sekapal denganku!" sahut Gavriel sengaja mendramatisir keadaan agar perasaan ibunya tersentuh. Dengan begitu Gavriel bisa menggunakan kesempatan ini untuk menghasutnya.


Erzan, maaf. Sepertinya usahamu untuk bisa meninggalkan Under Group akan segera pupus. Karena apa? Karena aku masih ingin menghabiskan waktu bersama Briana. Jadi maaf-maaf saja kalau aku akan menggunakan Ibu untuk menahanmu di perusahaan. Hehehe.


"Kenapa kau bicara seolah Erzan telah melukaimu, Gav? Dia hanya memberitahu Ayah dan Ibu kalau kau sudah sembuh. Kenapa malah terlihat sedih. Seharusnya kau itu senang. Bagaimana sih!"


"Bagaimana aku bisa senang kalau ulahnya Erzan telah merusak rencanaku!" sahut Gavriel. "Niatnya malam ini aku ingin memberi kejutan pada kalian semua. Aku bahkan sudah siap mengatur acara makan malam yang sangat istimewa sekali demi untuk memberitahu Ayah dan Ibu kalau sekarang ingatanku sudah kembali semua. Tapi ya sudahlah, semuanya sudah terlanjur terjadi, aku bisa apa."


Helena tertegun. Jadi Gavriel berniat membuat kejutan untuk memberitahu semua orang tentang kesembuhannya? Ya ampun, kalau begini ceritanya sih Erzan sudah bisa di pastikan bersalah. Gara-gara mulut bocor anak itu Dary dan Helena jadi gagal mendapat kejutan. Tidak asik. Huh.


Khawatir putranya merasa sedih berkepanjangan, Helena segera memberinya pelukan. Dielusnya penuh sayang punggung Gavriel, mencoba untuk memberi penghiburan.


"Sudah ya jangan sedih lagi. Next time kan masih bisa memberi Ayah dan Ibu kejutan. Iya, kan?"


"Tapi momennya sudah tidak tepat lagi, Ibu."


"Tidak tepat apanya. Kaukan bisa memberi kejutan di saat ingin memberitahu hari pernikahanmu dengan Briana. Iya, kan?" sahut Helena sambil tersenyum semringah. Dia lalu mengurai pelukan, menatap penuh seksama ke wajah Gavriel yang terlihat murung. "Ngomong-ngomong Briana sudah tahu belum kalau kau sudah sembuh?"


"Belum, Ibu. Aku masih menunggu waktu yang tepat untuk memberitahunya."


"Nah, kebetulan. Kau gunakan kesempatan ini saja, Gav. Nanti Ayah dan Ibu akan berpura-pura kaget saat kau mengaku di hadapan kami semua. Dan jika memungkinkan, sekalian saja kau lamar Briana di sana. Aku yakin dia pasti tidak akan menolakmu!"


"Belum saatnya, Ibu. Masih ada satu kendala yang perlu di selesaikan terlebih dahulu agar semuanya tidak simpang siur. Dengan begini aku baru bisa tenang jika ingin menikahi Briana."


Helena mengerutkan kening. Kurang paham akan apa yang di maksud oleh Gavriel.

__ADS_1


"Saat ini kami semua tengah menunggu hasil tes DNA antara Briana dengan Tuan Hendar. Dan kemungkinan hasilnya baru akan keluar besok. Itupun jika Tuan Hendar berhasil memaksa dokter untuk mempercepat hasilnya. Jika tidak, maka di butuhkan waktu sekitar satu minggu lamanya!" Gavriel menjelaskan dengan mimik wajah yang sangat serius. Dia menarik nafas dalam-dalam sebelum lanjut berbicara. "Aku sebenarnya tidak masalah apakah hasilnya akan negatif atau positif. Karena siapapun Briana, aku pasti akan tetap menikahinya. Namun jika masalah ini tidak di selesaikan sampai ke akarnya, aku takut hal tersebut akan mengganggu fokus Briana. Aku tidak ingin melihatnya sedih dan juga dilema, Ibu. Aku mencintainya. Sakitnya Briana adalah sakitku juga."


"Keputusanmu sudah yang paling benar, Gav. Ibu setuju sekali. Penting bagi Briana untuk mengetahui kejelasan dari masalah ini supaya hubungan kalian nanti bisa tenang dan bahagia. Keputusan Ibu pun sama denganmu kalau Ibu hanya akan menerima Briana sebagai menantu di keluarga Anderson terlepas apakah dia bagian dari keluarga Origan atau bukan. Ibu sudah terlanjur sayang padanya," sahut Helena membenarkan keputusan putranya.


"Jadi?"


"Nanti begitu hasil tesnya keluar, kau langsung saja melamar Briana. Ibu tidak keberatan kok."


Gavriel tertawa. Sudah tak heran lagi akan keputusan ibunya. Teringat kalau sang ayah tidak ada di sana, Gavriel pun segera menanyakannya.


"Ayah di mana, Bu? Tumben sekali tidak kelihatan."


"Ayahmu pergi ke perusahaan. Katanya sih ada hal penting yang ingin dia katakan pada salah satu karyawan di sana," jawab Helena seraya memasang ekpresi kesal. Dia lalu bersedekap tangan. "Pamitnya sih seperti itu. Tapi siapa yang akan tahu kalau di perusahaan dia malah menemui daun muda yang masih segar. Secara, Ibu sekarang sudah tua. Keriput ada di mana-mana. Tak heran jika Ayahmu sampai menggatal pada wanita lain."


"Jangan berprasangka buruk dulu, Ibu. Bukankah selama ini Ibu tahu sendiri betapa Ayah adalah seorang laki-laki yang sangat setia? Aku ragu kalau Ayah berani menggatal di luaran sana,"


"Bela saja terus Ayahmu itu!"


Gavriel menghela nafas. Di peluknya wanita cantik yang tengah merajuk gara-gara salah memahami perkataannya. Gavriel lalu berbisik.


"Nanti kalau Ayah terbukti menggatal dengan daun muda, aku akan meminta Briana untuk membantingnya sampai patah tulang. Ibu tidak lupakan kalau Ibu memiliki calon menantu yang kekuatannya seperti samson?"


"Benar ya kau akan meminta Briana yang turun tangan?" ucap Helena dengan tatapan mata yang begitu terang. Dia lupa kalau calon mantunya punya kekuatan super.


"Iya,"


"Kau yang terbaik, Gavriel. Ibu sangat mencintaimu."

__ADS_1


Ayah, aku harap Ayah tidak melakukan sesuatu yang salah di luaran saja. Karena jika itu sampai terjadi, maka bersiaplah menghadapi amukan dari wanita-wanita mengerikan ini. Hmmm.


😂😂😂


__ADS_2