Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Penyuka Donat Bolong


__ADS_3

"Kau kenapa, Bri? Di kejar setan atau debcolektor?" tanya Julia seraya menatap heran ke arah Briana yang sedang membungkuk dengan nafas terengah-engah. Dia yang kala itu tengah mengelap meja tak berniat untuk membantu sekedar mengambilkan air minum untuk sahabatnya. Biar saja. Derita di tanggung sendiri-sendiri. 😎


Briana tak langsung menjawab pertanyaan Julia. Nafasnya sesak setelah berlari kencang gara-gara menghindari Nyonya Jenny. Wanita itu ... astaga. Briana sungguh tak habis pikir kalau Nyonya Jenny ternyata jatuh cinta padanya. Mengerikan. Bagian tubuh mana yang telah menarik perhatian wanita itu? Heran.


"Hmmm, dari gelagat panikmu seperti kau sedang di kejar penagih hutang. Benar, kan?"


"Kalau tidak tahu apa masalahnya lebih baik kau diam saja, Julia. Fokus pada kerjaanmu saja sana daripada nanti sepatuku melayang masuk ke dalam mulutmu. Mau?" ancam Briana jengah mendengar celotehan Julia yang sangat membuat tensi darah melonjak naik. Sudah tahu dia sedang kelelahan, masih saja memancing keributan. Herman.


"Bagaimana aku bisa tahu kalau kau saja tidak mau memberitahuku? Aneh!" sungut Julia. Dia bergerak menjauh agar tangan Briana tak bisa menjangkaunya. Hehehe.


"Buta ya? Tidak lihat aku sedang terengah-engah? Perlu ku pindahkan biji matamu tepat di depan lubang hidungku agar kau tahu kalau aku sedang kesulitan bernafas? Iya?"


Krikk kriikk kriikkk


Julia dan Briana sama-sama saling menatap sengit. Yang satunya kesal karena sahabatnya tak paham akan apa yang terjadi, sedang yang satunya lagi kesal karena disebut buta. Haihhh. Roman-romannya sebentar lagi akan segera terjadi badai peperangan.


"Permisi. Apa cafenya sudah buka?"


Seorang pelanggan datang menghancurkan ketegangan yang sedang terjadi di antara dua wanita yang adalah pekerja dan pemilik cafe. Sama-sama mendengus, Briana melenggang masuk ke dalam cafe tanpa menghiraukan pelanggan yang tadi berdiri di belakangnya. Sedang Julia, wanita itu menarik nafas dalam-dalam kemudian menyunggingkan senyum pada si pelanggan.


"Nyonya, tidakkah kau melihat kalau cafe ini baru saja buka? Terima kasih banyak kau sudah mau datang kemari, tapi aku sarankan kau sebaiknya makan di tempat lain saja. Karyawanku saja baru datang. Memangnya kau mau menunggu sampai kami selesai bersiap? Kalau tidak takut lambungmu bocor aku sih tidak masalah. Bagaimana?" tanya Julia dengan sangat ramah menawarkan opsi.


"Oh, aku pergi saja," jawab si pelanggan sambil menelan ludah. Dia kemudian berbalik pergi sambil menggumam pelan. "Gila. Penjual macam apa yang berani mengatai pembeli sampai sekasar itu. Lambung bocor? Astaga. Aku benar-benar sudah salah mendatangi tempat makan. Huhhh!"

__ADS_1


Wajah Julia terlihat sangat datar saat dia mendengar gumaman pelanggan yang sudah pergi dari hadapannya. Sayang yang dia pegang hanya kanebo basah. Kalau saja itu adalah balok, dia pasti akan langsung melemparnya ke kepala orang itu. Dasar sialan.


"Sabar Julia, sabar. Orang sabar suaminya kaya raya. Sabar," ujar Julia sambil menarik dan membuang nafas. Dia kembali sibuk dengan pekerjaan tanpa menghiraukan bunyi gaduh dari arah dapur.


Karena berjalan sambil mengomel, Briana tak sengaja jatuh terjerembab karena kakinya terpeleset. Segala panci dan stenlis langsung terbang berhamburan hingga menimbulkan suara yang cukup berisik di sana. Dengan posisi jatuh di mana bokongnya mendarat lebih dulu, sudah bisa di pastikan kalau Briana menderita rasa sakit yang cukup menyebalkan. Bokongnya kebas, membuatnya jadi sulit berdiri.


"Sebenarnya ada apa dengan hari ini. Kenapa kesialan terus datang menghampiriku!" gerutu Briana sambil mengernyit menahan sakit. Dia kemudian mencoba untuk berdiri, menahan semampu mungkin agar tidak berteriak meminta bantuan dari Julia. "Dasar sahabat laknat. Sudah tahu ada suara aneh dari arah dapur, bukannya datang menolong dia malah asik sendiri dengan pekerjaannya. Awas saja kau, Julia. Aku pasti akan membalasnya!"


Setelah berhasil berdiri, tangan Briana meraih pinggiran kulkas agar tidak jatuh lagi. Dan ketika akan berbalik, dia di kejutkan oleh kemunculan Julia yang entah kapan sudah berdiri di belakangnya.


"Yakkkk! Apa-apaan kau, Julia. Bukannya tadi kau sedang berada di depan ya?" pekik Briana sambil mengelus dada. Benar-benar ya makhluk satu ini.


"Di sini ada hiburan yang menyenangkan, sayang jika harus dilewatkan. Jadi ya sudah aku menonton saja di sini," sahut Julia dengan santainya. Dia lalu tersenyum miring melihat sahabatnya langsung memasang wajah seperti akan mengamuk. "Kau baru saja jatuh. Kalau banyak bergerak bisa-bisa tulang ekormu patah. Tidak takut aku akan mengguna-gunai Lu supaya jatuh cinta padaku saat kau menjadi wanita cacat, hem?"


"Sialan. Astaga Julia!"


"Bri, kau belum menjawab pertanyaanku yang tadi!" ucap Julia sambil menatap penuh selidik ke arah Briana yang kini tengah menyender di pintu kulkas. "Jelaskan kenapa kau bisa berlarian seperti orang di kejar setan. Kau tidak sedang bermasalah dengan penagih hutang, kan?"


"Yang benar sajalah kalau mau bicara, Julia. Lagipula memangnya kau pernah melihatku bermasalah dengan para penagih hutang? Sekalipun ada, itu pasti kau pelakunya," jawab Briana. Dia lalu membuang nafas berat, merasa agak aneh saat ingin menceritakan pertemuannya dengan Nyonya Jenny. Tapi jika dia tidak memberitahu Julia, bisa-bisa wanita ini mengacuhkannya seperti tadi. Briana tahu Julia sedang khawatir, makanya bersikap jahat seperti itu. Tak mau menutupi, Briana akhirnya memutuskan untuk bercerita. "Julia, kemarin saat aku dalam perjalanan pulang ke rumah, aku bertemu seorang wanita aneh yang menganggapku sebagai anaknya. Dan barusan barusan wanita itu kembali datang menemuiku. Dia lalu ....


"Lalu?"


"Emm itu,"

__ADS_1


"Apa, Briana? Bicara yang jelas!" sentak Julia. Segera dia datang mendekat kemudian memutar tubuh Briana hingga beberapa kali. Dia ingin memastikan apakah sahabatnya terluka atau tidak. "Sebelah mana yang sakit? Apa yang dilakukan wanita itu? Beritahu aku. Kita pergi visum sekarang juga. Ayo!"


Kedua alis Briana saling bertaut melihat kelakuan Julia yang memperlakukannya seperti korban kekerasan. Tak tahan, dia menjewer telinga wanita ini kemudian mensejajarkan wajah mereka.


"Aku baik-baik saja, bodoh."


Sial. Aku jadi malu sudah bersikap agresif pada wanita ini. Briana-Briana, tapi syukurlah kalau kau baik-baik saja. Lega rasanya.


"Wanita aneh itu bernama Nyonya Jenny. Kemarin dia tak sengaja menabrakku kemudian memelukku sampai ketiduran. Awalnya sih aku tidak berpikir macam-macam padanya, justru malah kasihan karena dia depresi setelah anaknya hilang di culik. Akan tetapi hari ini ada yang berbeda dengan dirinya. Dia meminta maaf dan berterima kasih, juga bersikap seolah kami sangat akrab. Karena tidak ada yang aneh, aku mau-mau saja saat dia memperlakukanku dengan lembut. Tapi siapa yang akan menyangka kalau Nyonya Jenny ternyata menyimpan perasaan lebih padaku. Dia bilang dia mencintaiku, Julia. Nyonya Jenny penyuka sesama donat bolong!"


Rahang Julia serasa berpindah tempat begitu dia mendengar cerita Briana. Yang benar saja sahabatnya di taksir oleh sesama wanita. Apa jangan-jangan mata wanita itu sudah katarak sampai tidak bisa membedakan mana wanita yang layak dan tidak layak? Astaga. Terlalu menggelikan. Dia yang sudah berteman lama dengan Briana saja tak pernah terfikir ke arah sana. Lalu bagaimana bisa seseorang yang baru sekali bertemu bisa langsung suka?


"Aku benci mengakui ini. Tapi jujur, ada rasa aneh saat aku menatap wajahnya. Ini bukan karena aku menyukainya ya, bukan. Aku ... aku hanya merasa kalau antara aku dan wanita itu ada ... ada hubungan." Tatapan mata Briana menyendu. Dia bukan orang bodoh yang tidak bisa merasakan ada hal aneh di diri Nyonya Jenny. Terlebih lagi setelah Briana menceritakan tentang kejadian di masa kecilnya, membuat dia jadi berpikir kalau Nyonya Jenny mengetahui sesuatu tentangnya. "Julia, hatiku terus berdesir saat tanganku di genggam olehnya. Mungkinkah aku mengalami kelainan?"


Tahu kalau Briana tidak sedang bercanda, Julia memposisikan diri sebagai teman yang baik. Dia menggerakkan tangan ke arah pintu masuk cafe lalu mengusir pelanggan yang ingin masuk. Suasana sedang tidak baik, jadi Julia tidak mau menerima pelanggan dulu. Gampang kalau masalah rejeki, yang penting sahabatnya harus di utamakan dulu.


"Kenapa aku jadi seperti ini ya, Julia? Padahal tadi aku sangat ketakutan saat Nyonya Jenny bilang kalau dia mencintaiku!" keluh Briana merasa heran akan reaksi tubuhnya. "Wajarkah? Atau jangan-jangan aku juga telah jatuh cinta padanya? Sialan!"


"Jangan terlalu di pikirkan, Bri. Kau jadi seperti ini mungkin karena terpengaruh perpisahanmu dengan Lu. Makanya kau jadi terbawa perasaan saat ada orang lain mengatakan cinta kepadamu. Tidak usah panik. Oke?" hibur Julia kemudian mengelus pelan bahu Briana. "Dengar ya. Aku tahu kau sedih, tapi jangan jadikan kesedihanmu sebagai kelemahan diri. Kau tidak sendiri, Briana. Ada aku yang selalu siap menjadi sandaranmu. Oke?"


"Kenapa kau jadi baik sekali setiap aku sedang sedih, Julia? Apa jangan-jangan kau sengaja melakukannya untuk mengerjaiku?" seloroh Briana dengan mata yang mulai memanas. Saat sedang seperti ini, dia bersumpah dengan suka rela menganggap Julia bak bidadari tak bersayap.


"Sepertinya rasa sakit di bokongmu sudah sembuh. Mau kubuat tambah sakit lagi tidak? Kebetulan talenan daging yang waktu itu kupesan sudah sampai. Lumayanlah untuk bahan percobaan!"

__ADS_1


Julia memicingkan mata melihat sudut bibir Briana tak berhenti berkedut. Setelah itu mereka tersenyum, perlahan-lahan tertawa, hingga akhirnya tertawa terbahak-bahak. Agak aneh memang cara mereka dalam berteman. Sebentar akur, sebentar perang. Namun, di balik itu semua Julia sebenarnya sangatlah menyayangi Briana. Kasih sayangnya begitu besar, karena sejak awal dia sudah sangat mengenal tentang seluk beluk sahabatnya ini. Begitu pun sebaliknya. Briana teramat menyayangi Julia. Walau dia sering bersikap brutal padanya, tapi Briana akan selalu menjadi garda terdepan jika sampai ada orang yang berani memaki ataupun menyakiti sahabatnya. Pokoknya pertemanan mereka sangat unik, Seunik kisah cinta mereka yang sebentar lagi akan segera memasuki babak baru.


***


__ADS_2