Wanita Kesayangan Sang Presdir

Wanita Kesayangan Sang Presdir
Tak Bisa Berkata-kata


__ADS_3

“Lelah sekali,” gumam Briana sambil memijit leher belakangnya. Dia melangkah gontai menuju rumah, berusaha mengabaikan kepala para tetangga yang menyembul keluar dari balik pagar.


Apa-apaanlah mereka ini. Kurang kerjaan atau bagaimana? Heran.


Sambil menggerutu dalam hati, Briana melepaskan sepatu kemudian menyusunnya dengan rapi di atas rak. Setelah itu Briana menyenderkan kepalanya ke daun pintu, merasa sangat lemas meski saat di café tadi Briana lebih banyak duduk ketimbang bekerja. Beruntung café tidak terlalu ramai, jadi Briana tidak perlu merasa bersalah karena membiarkan Julia repot sendirian.


Ceklek


“Briana, kau sudah pulang?” tanya Lu sambil menatap Briana yang tengah memelototkan mata kepadanya.


“Lu, bisa tidak sih kau jangan menggangguku sebentar saja. Sudah tahu aku sedang menyenderkan kepalaku ke pintu, kenapa kau malah membukanya. Kalau tadi aku jatuh bagaimana? Mau kau bertanggung jawab?" amuk Briana jengkel. Benar-benar ya pria idiot ini. Paling pandai dalam hal membuat orang kesal. Huh.


“Maaf, Bri. Aku tidak tahu kalau kau sedang menyender di pintu ini. Aku pikir kau maling yang ingin mencuri sepatu. Makanya aku buru-buru keluar untuk memastikan kalau sepatu-sepatu kita tidak hilang,” sahut Lu sambil menatap tak tega ke arah Briana yang terlihat begitu kelelahan.


Teringat dengan makan malam yang telah di sediakan olehnya dan para tetangga, Lu pun segera menarik tangan Briana dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Dia abai saja ketika Briana terus berontak hendak melarikan diri. Tepat ketika Briana ingin mengumpat, Lu memberitahu tentang kejutan kecil yang telah di siapkannya.


“Bri, lihat apa yang sudah kusiapkan untukmu. Taraaa,” ….

__ADS_1


Pertama-tama yang dilakukan Briana adalah memejamkan mata sambil menarik nafas sepanjang mungkin. Sedetik kemudian dia kembali membuka mata dan langsung melihat ke arah depan. Untuk beberapa saat, Briana di buat terpaku dengan apa yang ada di hadapannya. Dia tak bisa berkata-kata. Sungguh. Meja makan yang biasanya terlihat biasa saja kini terlihat sangat jauh berbeda. Di atas meja itu ada banyak sekali jenis hidangan makanan dan juga buah-buahan. Lalu di sisi kanan dan kirinya di hiasi dengan lilin yang menyala. Tak hanya itu saja. Di bagian tengah meja ada vas bunga berisi mawar berwarna merah dan putih tertata dengan begitu indahnya. Cantik, itu kesan pertama yang muncul di hati Briana ketika melihat hal tersebut. Sederhana memang, tapi hal ini mampu meninggalkan kesan mendalam di hati Briana yang tak pernah mendapatkan perlakuan manis seperti ini. Dan jujur, Briana terharu.


“Lu, ini ….


“Briana, makan malam ini aku persiapkan khusus untukmu. Dan juga aku ingin meminta maaf karena kemarin telah menyinggung perasaanmu. Saat kau mendiamkanku, jujur aku merasa sedih sekali. Kau tahu bukan kalau sekarang aku hanya memilikimu saja? Jadi dengan adanya makan malam sederhana ini aku ingin kita berbaikan lagi seperti waktu itu. Dan aku janji aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi di lain hari. I’m promise,” ucap Lu sambil mengangkat kedua jarinya ke atas. Ini dia pelajari dari bibi tetangga. Bibi tetangga menyebutkan kalau berjanji sambil mengacungkan dua jari ke atas sangatlah ampuh untuk meluluhkan hati wanita. Begitu katanya.


Mungkin jika hal ini terjadi pada orang lain, hati orang tersebut pasti akan langsung meleleh begitu melihat sikapnya Lu yang memang sangat manis. Akan tetapi Briana, dia tak serta-merta langsung terbujuk perkataan Lu. Di awal tadi Briana memang sempat terpesona. Namun begitu dia menyadari sesuatu hal, rasa terpesona di diri Briana langsung lenyap seketika. Kecurigaan Briana muncul saat dia memikirkan darimana Lu mendapatkan uang untuk menyiapkan ini semua. Pria idiot ini tidak mungkin berhutang lagikan?


“Lu, aku sungguh ingin berterima kasih dengan caramu meminta maaf padaku. Akan tetapi bisakah kau menjelaskan padaku darimana kau bisa menyiapkan makan malam semewah ini?” cecar Briana penuh selidik.


“J-jadi kau kembali memanfaatkan kepedulian mereka hanya untuk … astaga, Lu. Harus berapa kali aku katakan kalau aku itu tidak suka menerima belas kasihan dari orang lain. Kau mengerti tidak sih?!”


Antara ingin mengamuk dan menangis, Briana hanya bisa menggelengkan kepalanya setelah tahu kalau Lu menyiapkan ini semua karena bekerjasama dengan para tetangganya. Lu yang melihat raut kemarahan di diri Briana pun berusaha untuk memberi penjelasan. Dia lalu memberanikan diri mengajak Briana duduk sebelum menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


“Bri, aku tahu kau sangat tidak suka melibatkan orang lain dalam kehidupanmu. Tapi ketahuilah, aku dan para tetangga sangat tulus saat menyiapkan ini semua untukmu. Benar kalau kita sebaiknya jangan mudah bergantung hidup dari rasa peduli dan juga rasa kasihan dari orang lain. Akan tetapi dalam hal ini kau salah jika beranggapan seperti itu,” ucap Lu dengan sabar menjelaskan. “Briana, ada kalanya kita hidup membutuhka uluran tangan dari orang lain. Dan itu tidak harus dalam bentuk finansial saja. Contohnya sekarang. Kau mendiamkan aku hanya karena aku berhutang pada tetangga. Padahal itu aku lakukan karena aku sedang sangat mengkhawatirkanmu. Lalu makan malam ini? Makan malam ini susah payah kami siapkan dengan tujuan agar kau bisa mengerti kalau kami semua peduli kepadamu. Tuhan menciptakan banyak manusia dengan tujuan agar kita bisa mudah bersosialisasi. Jadi tidak ada salahnya kalau kita saling berbagi kebaikan.”


Mulut Briana terkunci rapat saat dia mendengar penjelasan Lu. Dia merasa tersihir melihat betapa lembutnya Lu dalam menyampaikan perkataannya. Sebagai orang yang terlahir dengan otak yang sempurna, Briana jelas tahu kalau perkataan Lu sama sekali tidak salah. Prinsipnya yang menolak belas kasihan dari orang lain hanyalah bentuk usaha untuk membentengi diri agar nantinya Briana tidak mudah bergantung pada orang selain dirinya sendiri. Briana tak mau kecewa. Itu alasannya.

__ADS_1


“Briana,aku melakukan semua ini tidak secara cuma-cuma kok. Aku juga sadar diri dengan tidak memanfaatkan kebaikan para tetangga kita. Kau jangan cemas. Saat sedang menyiapkan semua ini aku telah berjanji kalau aku akan selalu siap dimintai bantuan oleh mereka kapanpun mereka mau. Dan aku menganggap hal tersebut sebagai timbal balik atas kebaikan yang telah mereka berikan padaku. Mereka adalah orang-orang berhati tulus, Briana. Mereka semua sayang padamu,” ucap Lu sambil mengelus-elus pipi Briana. Dia kemudian tersenyum kecil melihat Briana yang tak menolak sentuhannya.


“Haruskah aku berterima kasih pada kalian?” tanya Briana terharu. Tanpa sadar hatinya meleleh mendapat perlakuan yang begitu manis dari Lu. Bahkan kemarahan dan rasa lemas di tubuh Briana hilang entah kemana karena dia yang begitu terhanyut akan tutur kata Lu yang begitu mengena di hati.


“Kau tidak perlu melakukannya, Bri. Cukup dengan kau bersedia memaafkanku, maka kami semua sudah merasa sangat senang. Rasa lelah kami terbayar sempurna kalau kau sudah tidak marah lagi. Sungguh,” jawab Lu sepenuh hati meyakinkan Briana kalau dia hanya butuh maaf darinya saja.


“Benarkah?”


Lu mengangguk.


“Aku memaafkanmu,” ucap Briana malu-malu. Sulit bagi Briana untuk tidak memaafkan kesalahan pria di hadapannya ini setelah mendengar penjelasannya yang begitu menghangatkan hati.


“Terima kasih,” sahut Lu sambil menghela nafas lega. Akhirnya usahanya bersama para tetangga tidak berakhir sia-sia. Sungguh melegakan.


Tanpa sepengetahuan Lu dan Briana, diam-diam para tetangga menguping di luar rumah. Mereka penasaran apakah Briana akan mengamuk atau tidak setelah tahu kalau makan malam itu merekalah yang menyiapkan. Namun karena keadaan rumah itu terlihat tenang-tenang saja, mereka menyimpulkan kalau Lu dan Briana tidak terlibat gencatan senjata. Mereka semua kemudian memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing dengan perasaan gembira.


***

__ADS_1


__ADS_2